Para ulama dan aktivis pergerakan menyadari bahwa membangkitkan bangsa yang sedang terjajah itu tidak cukup dengan hanya membangkitkan badannya, dengan mendirikan organisasi sosial. Tetapi haruslah didahului dengan membangun jiwanya, dan membangunkan kesadarannya dan mencerdaskan pikirannya. Karena itu, setelah didirikan Nahdlatul Wathon tahun 1916, KH. Wahab Hasbullah dan para ulama pesantren lain masih membutuhkan organisasi baru sebagai langkah untuk membangkitkan pemikran dan jiwa kalangan kaum santri dan bangsa Indonesia pada umumnya.

Tepat pada 7 Oktober 1918 atau 2 muharram 1337 H. didirikanlah organisasi baru bernama Tasjwiroel Afkar (Musyawarah atau dialog pemikiran). Keberadaan Nahdlatul Wathon dan Tasywirul Afkar memiliki kaitan sejarah sangat erat. Tidak hanya dekat masa kelahirannya tetapi juga sangat dekat visi dan misinya, yaitu penyadaran bangsa. Sebab itu, Tasywirul Afkar ini juga disebut dengan Nahdlatul Fikr (Gerakan Pemikiran) sebagai respon terhadap ghazwul fikr (perang pemikiran) yang gencar dilakukan Belanda bersamaan dengan berdirinya sekolah Belanda yang menyebarkan paham positivisme dan materialisme yang mengarah pada ateisme.

Walaupun Tasywirul Afkar merupakan kelanjutan dari Nahdlatul Wathan, namun keduanya memiliki latar belakang sejarah yang sedikit berbeda. Kalau Nahdlatul Wathan didirikan saat jayanya Sarekat Islam (SI), karena itu keterkaitannya dengan organisasi Islam yang dipimpin Cokroaminoto itu erat sekali. Bahkan beberapa orang SI dan Muhammadiyah seperti Mas Manshur menjadi anggota Nahdlatul Wathan ini.

Sementara Tasywirul Afkar didirikan saat pesatnya perkembangan Budi Utomo, sehingga banyak kiai pesantren yang terlibat dalam kegiatan Budi Utomo, termasuk Kiai Wahab hasbullah sendiri. Sebagai organisasi yang berorientasi nasionalis yang didirikan dan dipimpin oleh dr Soetomo, dokter lulusan STOVIA yang memiliki apresiasi sangat tinggi pada pendidikan pada pendidikan pesantren, bahkan menganggap pesantren sebagi bentuk pendidikan paling relevan dan paling tepat untuk bangsa Indonesia. Untuk mengkaji dan memajukan dunia pesantren itu Budi Utomo membuat organisasi yang diberi nama Soerjo Soemirat (Matahari bersinar). Anggotanya dari berbagai kalangan Islam yang ada dalam Budi Utomo yang terdiri dari berbagai kiai pesantren.

Dengan semakin berkembangnya Soerjo Soemirat itu maka para ulama yang dipimpin KH. Wahab Hasbullah pada tahun 1918 membentuk kajian khusus mengenai perkembangan pemikiran Islam yang dinamakan Tasywirul Afkar. Organisasi ini didirikan agar bisa melakukan terobosan lebih dalam dunia pesantren. Lama kelamaan organisasi ini berdiri sendiri dan terpisah dengan Soerjo Soemirat maupun Boedi Utomo. Pengaruh nasionalisme organisasi itu pada dunia pesantren cukup besar, dan merupakan rintisan awal terjadinya aliansi Islam (NU) dengan nasionalisme di Indonesia yang jejaknya bisa dilihat hingga sekarang.

Dengan dibentuknya Tasywirul Afkar, berbagai pelajaran baik pengetahuan agama maupun pengetahuan umum dibahas sehingga kecerdasan kaum santri semakin meningkat, di saat yang sama mereka juga semakin sadar politik dan semakin bertenaga dalam dunia pergerakan. Dengan adanya kesiapan intelektual dan mental seperti itu, kaum santri semakin percaya diri, sehingga dengan mudah mampu mengintegrasikan diri mereka dengan pergerakan nasional, yang selama ini banyak dipegang oleh para aktivis didikan Belanda.

Berbagai bentuk lembaga pendidikan didirikan oleh Tasywirul Afkar antara lain pendidikan aliyah, kemudian pendidikan khusus orang dewasa yang dibuka pada malam hari. Selain itu juga dibuka pendidikan kelompok miskin yang tidak dipungut sumbangan sedikitpun. Meskipun dijelaskan bahwa Tasywirul Afkar bukan gerakan politik tetapi pendidikan dan perdagangan, namun pengetahuan yang diberikan dengan sendirinya membangkitkan kesadaran politik peserta pendidikan.

Untuk membiayai gerakan organisasi yang anti Belanda ini tidak mungkin bersumber dari kolonial, seperti organisasi lain. Oleh karena itu, Tasywirul Afkar berusaha mendanai kegiatannya sendiri dengan mendirikan Syirkatoel Amaliah (usaha bersama) dengan modal awal syirkah ini sebesar 10.000 gulden. Untuk memperoleh modal dengan menjual saham kepada anggota dengan harga 10 gulden per lembar. Hasil usaha ini selain untuk meningkatkan ekonomi warga juga untuk memnbiayai Tasywirul Afkar dalam usaha mendidik dan menyadarkan bangsa.

Dengan bersatunya kaum santri dan kaum nasionalis itulah, pada masa perjuangan kemerdekaan, keduanya menjadi kekuatan besar yang mampu menggempur penjajah. Pada perkembangan selanjutnya, sebagaimana Nahdlatul Wathon, Tasywirul Afkar ini kemudian juga berkembang menjadi madrasah, di Surabaya yang masih berdiri dan berjalan hingga sekarang.

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.