Sunan Kalijaga, Luku dan Pacul

180

“ Dengan hati girang dan mengucap syukur, para petani berduyun-duyun menghadap Kanjeng Sunan (Kalijaga). Bahkan (Sunan Kalijaga) dianggap guru dan pemimpin sejati, pemimpin yang sungguh-sungguh memperhatikan rakyatnya. Dengan girang dan tulus ikhlas pula para petani itu memeluk agama Islam seperti yang dikehendaki Kanjeng Sunan. Berkat cita-cita yang tinggi, kebesaran hati dan kemauan yang kuat tercapailah cita-cita Kanjeng Sunan Kalijaga. “

Catatan itu aslinya berasal dari kitab Cupu Manik Astagina berkenaan dengan keberhasilan dakwah Walisongo, khususnya Sunan Kalijaga. Beliau sering digambarkan sebagai sosok yang unik dan berbeda dengan para sunan lainnya. Dalam berpakaian misalnya, Sunan Kalijaga sering diceritakan menggunakan pakaian khas Jawa berwarna hitam lengkap dengan blangkon di kepala. Atau seringkali Beliau menggunakan pakaian rancangannya sendiri, baju “Taqwa Ant(r)akusumah” yang berkancing lima atau enam.
Sunan Kalijaga juga dikenal salah satu sunan yang sering mengajarkan cara dan falsafah hidup dalam Islam menggunakan simbol-simbol yang mudah diingat bahkan digunakan sehari-hari dan barangkali akan sulit dilupakan, diantaranya mengajarkan falsafah “luku/bajak” dan “pacul”. Kedua benda tersebut adalah benda yang sangat akrab dalam kehidupan para petani sehari-hari.
Sebelum mulai bercocok tanam, biasanya para petani akan mengolah tanah sawah mereka dengan terlebih dahulu melukunya atau membajaknya dengan sebuah alat yang bernama luku/bajak.  Kanjeng Sunan mengajarkan bahwa ada 7 (tujuh) bagian dari luku yang memiliki falsafahnya masing-masing.

  • Pada sebuah luku ada bagian yang namanya pegangan. Bagian ini berarti sebuah bekal untuk menjalani hidup dan menggapai cita-cita mulia berbahagia di dunia dan akhirat. Bekal itu tidak lain adalah ilmu.
  • Bagian kedua adalah pancadan. Pancadan berasal dari kata mancad yang berarti bertindak atau tepatnya dalam konteks ini, mengamalkan ilmu yang telah kita miliki sebagai bekal perjalanan mengarungi hidup di dunia dan kelak menggapai akhirat. Bersegera mengamalkannya dan tidak menunda-nunda.
  • Bagian yang ketiga adalah tanding yang berarti membanding-bandingkan. Dalam bahasa saat ini, mungkin tepatnya adalah instrospeksi diri dan meneliti kembali apa yang telah kita lakukan dan amalkan, apakah sudah benar atau malah menyimpang.
  • Bagian keempat dari luku adalah singkal yang diambil dari kata metu sing akal. Setelah melakukan instrospeksi dan meneliti, carilah cara untuk mengatasi dan memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ditemui.
  • Kelima, adalah bagian yang disebut kejen yang artinya kasawijen dan berarti pemusatan. Kita mungkin mengenalnya dengan fokus, dan fokus selalu disertai dengan  kesungguhan dan tekad. Maka, kuatkanlah tekad dan kesungguhan dalam menjalani hidup untuk mengejar cita-cita kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.
  • Bagian lainnya adalah olang-aling yang diartikan sebagai penutup atau penghalang. Jika kita berhasil dalam menjalani suluk atau perjalanan dari bagian luku yang pertama hingga yang kelima, maka hijab atau penghalang yang merintangi cita-cita kita pun akan mulai terangkat sehingga keberhasilanpun seolah-olah telah tampak di depan mata.
  • Bagian luku yang terakhir adalah racuk yang diartikan dengan ngarah sing pucuk. Maksudnya, inginkanlah yang terbaik, lakukanlah yang terbaik untuk memperoleh hasil yang terbaik pula.

Untuk menyelesaikan proses pengolahan tanah sawah, setelah meluku atau membajak biasanya ada sudut-sudut tajam dari petak-petak sawah yang tidak terjangkau oleh luku atau bajak. Para petani biasa menggunakan pacul untuk menyelesaikannya. Pacul, dalam falsafah Sunan Kalijaga memiliki 3 (tiga) bagian yang memiliki artinya sendiri.

  • Bagian pertama adalah pacul yang diartikan ngipatake kang muncul. Dalam mengejar cita-cita kehidupan yang baik di dunia dan akhirat, biasanya tidak luput dari munculnya godaan, ujian dan cobaan. Waspadai dan berusahalah untuk mengatasinya.
  • Bagian kedua adalah bawak yang berasal dari obahing awak yang berarti menggerakkan badan. Untuk mengatasi  godaan, ujian dan cobaan tidak dapat dengan hanya berpangku tangan, namun harus dengan usaha dan kerja keras.
  • Bagian terakhir adalah doran yang diartikan ngedonga marang Pangeran. Berdoalah kepada Allah SWT, akuilah kekurangan dan kelemahan kita agar Ia memasukkan kita dalam perlindungan Nya serta berkenan melimpahkan belas kasihan dan pertolongan Nya kepada kita yang tengah berusaha mencapai cita-cita kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

Dalam falsafah luku dan paculnya, Sunan Kalijaga membuat benda-benda tersebut ‘berbicara’ kepada kita dan mengajarkan sesuatu kepada kita. Di balik wujudnya yang sederhana dan saat ini mungkin mulai dilupakan orang, ditemui falsafah-falsafah hidup yang berharga.
Sumber utama : Buku “Mengislamkan Tanah Jawa”, Mizan, Widji S.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here