Sekelumit Tentang Niat Puasa Ramadhan

293

Bismillahirrahmânirrahîn,

Sebagaimana halnya ibadah badaniyah yang lain, puasa Ramadhan tidak akan sah apabila tidak memakai niat. Nash dengan terang menjelaskan betapa pentingnya niat untuk membedakan antara ibadah dengan perbuatan biasa lainnya. Tercakup di dalamnya adalah ibadah puasa, terdapat beberapa nash yang mengupas akan wajibnya niat dalam puasa.

Itu menurut mayoritas ulama, lain hal menurut Tabi`in `Athâ’, Tabi`in Mujâhid (w. 104 H), dan Zufar bin Hudzayl (w. 158 H) salah satu fâqih Hanafiyah. Menurut mereka, jika saja puasa Ramadhan itu muta`ayyinan, yaitu jika dilakukan oleh orang yang sehat, tidak sedang dalam perjalanan jauh, dan pada bulan Ramadhan, maka puasa tersebut sah dengan tanpa niat. Adapun untuk puasa wajib lainnya, seperti puasa Nadzar dan puasa Kifarat, semua ulama sepakat bahwa untuk keabsahannya diperlukan niat.

Meski demikian, al Karkhiy menolak jika dikatakan bahwa Zufar menilai sah puasa Ramadhan tanpa niat, menurutnya pendapat Zufar itu mirip dengan pendapat Malikiyah, yaitu membolehkan puasa Ramadhan hanya dengan satu kali niat, cukup di awal bulan. Bahkan konon katanya, di masa tuanya Zufar menarik kembali pendapatnya tersebut. Demikian disampaikan Prof. Dr. `Umar Sulayman al-Asyqar dalam disertasinya yang telah diterbitkan dengan judul Al-Niyât fiy al-`Ibâdât.

Sifat Niat Puasa Ramadhan

Umumnya dalam niat ibadah wajib, ada 3 anasir yang harus dipenuhi demi keabsahan niat tersebut, yaitu qashda l-fi`iy, ta`yîn dan fardhiyah. Yang dimaksud dengan qashd al-fi`iy adalah perbuatan apa yang akan dilakukan itu? Apakah wudhu, shalat, puasa, atau lainnya? Kemudian yang dimaksud dengan ta`yîn adalah menentukan identitas ibadah tersebut, apakah zhuhur, maghrib kalau shalat, atau ramadhan, nazar kalau puasa. Dan yang dimaksud dengan fardhiyah adalah menyebutkan bahwasanya yang akan dilakukan itu hukumnya fardhu.

Namun khusus niat puasa Ramadhan, dalam pendapat (wajh) yang paling benar (ashah) cukup hanya dengan qashd al-fi`liy dan ta`yîn saja tanpa perlu dengan fardhiyah. Ulama Syâfi`iyah yang berpendapat seperti ini di antaranya Abû `Aliy bin Abiy Hurayrah (w. 345 H), sehingga niat puasa Ramadhan itu cukup dengan: (نَوَيْت صَوْمَ رَمَضَانَ) ” Niat saya puasa Ramadhan”.

Berbeda dengan pendapat gurunya, yaitu Abû Ishâq al-Marwaziy (w. 340 H), beliau justeru menyaratkan harus adanya fardhiyah, sehingga niatnya menjadi “Niat saya puasa fardhu Ramadhan” (نَوَيْت صَوْمَ فَرْضِ رَمَضَانَ). Dan ini merupakan pendapat mayoritas ulama, yaitu Mâlikiyah, Hanabilah, dan juga Zhahiriyah. Adapun niat puasa Ramadhan yang lengkap adalah:

  (نَوَيْت صَوْم غَد عَن أَدَاء فرض رَمَضَان هَذِه السّنة لله تَعَالَى).

“Niat saya puasa besok untuk menjalankan kefardhuan Ramadhan tahun ini karena Allah Ta`ala”.

Sedangkan menurut pendapat Abû Hanîfah (w. 150 H), niat puasa Ramadhan cukup dengan niat puasa secara mutlak, bahkan dengan niat puasa sunat pun bisa sepanjang itu dilakukan pada bulan Ramadhan.

Selanjutnya para ulama berbeda pendapat, tentang apakah niat puasa Ramadhan hanya berlaku untuk satu hari saja atau berlaku pula untuk hari selanjutnya? Dalam hal ini Imam Mâlik (w. 179 H), Imam Ishâq bin Râhwayh (w. 238 H), dan satu riwayat dari Imam Hambali (w. 241 H) berpendapat bahwasanya niat puasa Ramadhan cukup sekali di awal bulan saja, karena menurut mereka puasa satu bulan itu merupakan satu kesatuan. Sedangkan menurut Imam Abû Hanîfah, Imam al-Syâfi`iy (w. 204 H), dan satu riwayat dari Imam Hambali, niat puasa Ramadhan hanya berlaku untuk satu hari saja, dan inilah pendapat yang paling kuat.

Waktu Niat Puasa Ramadhan

Jika kembali pada definisi niat, seperti dikemukakan oleh Imam al-Qasthalâniy (w. 923 H) dalam kitabnya Irsyâd al Sâriy, mengutip pendapatnya Imam al-Mawardiy (w. 450 H), yaitu qashd al-syay’ muqtaranan bi fi`lih (bermaksud terhadap sesuatu yang disertai dengan mengerjakannya), maka ketika maksud tersebut muncul lebih dulu tanpa disertai dengan mengerjakannya, ia hanya disebut sebagai `azam (rencana) saja. Oleh karena itu, waktunya niat wudhu adalah pada saat memulai wudhu (dalam al-Umm, Imam al-Syâfi`iy membolehkan niat wudhu didahulukan dari membasuh muka, yaitu semenjak membasuh kedua telapak tangan)[1], waktunya niat shalat adalah pada saat memulai shalat, dst.

Tetapi khusus untuk ibadah puasa, maka niatnya tidak mesti disertai dengan mengerjakan puasa tersebut. Penyebabnya adalah teramat sulit untuk membersamakan antara niat puasa dengan mengerjakan puasa, karena sebagaimana dimaklum, pekerjaan puasa itu adalah imsâk (menahan) dari apa pun yang dapat membatalkannya, dimulai sejak terbit matahari hingga terbenam matahari. Seandainya harus bersamaan, maka dapat dibayangkan bagaimana repotnya umat Islam setiap menjelang subuh ia harus siaga menunggu terbitnya fajar demi membersamakan antara niat dengan pekerjaannya. Oleh karena itu, para ulama bersepakat tentang bolehnya mendahulukan niat puasa dari mengerjakan puasanya itu sendiri, selama niat tersebut dilakukan pada waktu malam hari, sesuai dengan hadis mawqûf sahih yang dikeluarkan oleh Imam al-Nasâ’iy (w. 303 H), Imam al-Dârimiy (w. 255 H), Imam al- Bayhaqiy (w. 458 H), Imam Ibn Khuzaymah (w. 311 H):[2]

مَنْ لَمْ يُبَيِّتِ الصِّيَامَ مِنَ اللَّيْلِ، فَلَا صِيَامَ لَهُ

Artinya: “Barang siapa tidak niat puasa di malam hari, maka puasa tersebut tidak sah baginya”.

Tidak ada beda, apakah niat dilakukan pada awal malam, tengah malam, atau akhir malam, semuanya sah dilakukan. Meskipun ada sebagian ashhâb Syâfi`iyah yang berpendapat bahwa niat baru sah jika dilakukan mulai setengah malam terakhir saja. Demikian diungkapkan oleh Imam al-Rûyâniy dalam kitabnya Bahr al-Madzhab.

Namun jika niat puasa Ramadhan diakhirkan dari terbit fajar, mayoritas ulama tidak membolehkannya, termasuk di dalamnya Imam Mâlik, Imam Syâfi`iy, Imam Hambali, Imam Ishaq Râhwayh, Imam Dâwud, dll., kecuali menurut Imam Abû Hanîfah, beliau membolehkan niat puasa Ramadhan dilakukan selepas terbenam matahari hingga tengah hari.

Beberapa Masalah Terkait

Setelah mafhum bahwasanya niat puasa dapat dilakukan kapan saja selama dalam kurun malam hari, mulai setelah terbenam matahari hingga sebelum terbit fajar, selanjutnya timbul pertanyaan jika saja di awal malam telah niat puasa, kemudian  makan minum, atau melakukan hubungan suami istri, atau tidur dan bangun sebelum terbit fajar, apakah ia harus niat lagi atau tidak? Diceritakan bahwa jawabannya menurut Imam Abû Ishaq al-Marwaziy, niat tersebut harus diulangi, karena berarti telah melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan niat puasa. Namun jawaban tersebut menurut Imam al-Mawardiy adalah salah, baik secara madzhab maupun sejara argumentasi. Dan yang benar adalah sesuai qawl Imam al-Syâfi`iy yang mengatakan niat tersebut tidak perlu diulangi. Bahkan diceritakan pula bahwasanya ketika kabar tentang pendapat tersebut sampai kepada Imam al-Isthakhriy, beliau menyuruh taubat kepada yang berpendapat seperti itu, jika tidak maka ia berhak untuk dibunuh, karena berarti telah mengingkari ijmak. Namun menurut Imam al-Rûyâniy, semua itu hanya cerita belaka yang tidak bisa dipastikan kebenarannya, karena tidak ditemukan referensinya dalam kitab apa pun.

Kemudian jika sedari malam sudah niat puasa, namun di siang hari ia niat membatalkannya, maka menurut pendapat yang paling kuat, puasa tersebut tidak batal dengan sendirinya sebelum yang bersangkutan melakukan pembatalan puasa, seperti makan, minum atau jimak.

Seandainya tidak niat puasa, namun sebelum terbit fajar telah makan sahur (tasahhar), maka jika pada saat makan sahur itu di dalam pikirannya terbersit amalan “puasa Ramadhan”, dengan makan sahurnya tersebut sudah dianggap niat puasa. Demikian dijelaskan oleh Imam Ibn Rif`ah (w. 710 H) dalam kitabnya Kifâyah al-Nabîh, juga dipaparkan oleh Syaikh Zakariyâ al-Anshâriy (w. 926 H) dalam kitabnya Asnâ al Mathâlib sebagai penegasan dari pernyataan Syaikh Isma`îl al-Muqriy (w. 837 H) dalam kitabnya Rawdh al-Thâlib. Namun jika hanya makan sahur saja dengan maksud supaya kuat puasa, maka hal tersebut disepakati ketidakabsahannya sebagai niat, demikian dikemukakan oleh Imam al-Rûyâniy.

Apabila merasa ragu, apakah niatnya itu dilakukan sebelum terbit fajar atau setelahnya? Maka berarti niatnya itu tidak sah, karena berarti muncul keraguan pada saat sedang niat, dan keraguan itu ada dalam niatnya. Namun jika telah niat kemudian ragu apakah telah terbit fajar atau belum, maka sah niatnya, karena berarti ragunya itu bukan pada keberadaan niatnya, namun pada masalah telah terbit fajar atau belum.

Kemudian jika di siang hari muncul keraguan apakah pada malam hari telah niat atau belum, kemudian setelah lewat sebagian besar siang hari ingat bahwasanya telah niat, maka puasa tersebut dinyatakan sah, demikian menurut Imam Zakariyâ al-Anshâriy.

Jika lupa niat di malam hari, maka demi keabsahan puasa tersebut, segeralah niat puasa sebelum tengah hari dengan niat taqlîd kepada Imam Hanafiy. Atau untuk jaga-jaga seandainya lupa niat puasa sampai lewat tengah hari, maka disarankan taqlîd kepada Imam Mâlik dengan niat puasa Ramadhan untuk sebulan penuh di malam pertama bulan Ramadhan.

Alhamdulillah, demikian dari singkatnya tulisan ini, semoga ada manfaat yang dapat diambil. Kesalahan sangat mungkin ditemukan, untuk itu saran perbaikan ditunggu penulis.


[1] Lebih detail, Imam al-Mawardiy membagi waktu niat ke dalam empat kategori, yaitu Istihbâb, Jawâz, Fasâd, dan Ikhtilâf (al-Hâwiy al-Kabîr, I/106-108)

[2] Terdapat hadis dengan redaksi lain yang dikeluarkan oleh ashhâb al sunan lainnya, namun dengan makna yang sama.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here