Said Aqil: Dakwah Nabi Prioritaskan Kedamaian

180


Cirebon, NU Online
Selama tiga belas tahun dakwah di Mekkah, tak satupun dari 360 berhala di sekiling Ka’bah yang tergores oleh tangan Rasulullah. Baru setelah terjadi pembebasan Mekkah (Fathu Makkah) tahun 8 H, penduduk dengan kesadaran penuh membersihkan Masjidil Haram dari berhala-berhala yang dulu mereka sembah.
Demikian disampaikan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj dalam taushiyah malam Seminar Internasional “Peran Ulama Pesantren dalam Mengatasi Terorisme Global” di Hotel Apita Green Cirebon, Sabtu (18/3).
Menurut Kiai Said, sejarah ini tidak menunjukkan bahwa Nabi menyetujui pemberhalaan, melainkan menegaskan bahwa perdamaian merupakan tahapan mutlak dalam proses menuju keimanan.

Fathu Makkah berlangsung tanpa pertumpahan darah. Bahkan dalam posisi super kuat saat itu Nabi justru membuka maaf bagi siapapun yang beriktikad baik membangun kemaslahatan bersama.
“Ini namanya al-amnu qabla l-iman (prioritaskan kondisi aman sebelum keimanan), atau al-mu’asyarah qabla l-aqidah (prioritaskan pergaulan sebelum aqidah),” urainya.
Kenyataan ini, demikian Kiai Said, didukung surat Ali Imran (159) yang menggambarkan bahwa jalan dakwah yang kasar akan selalu berbuah pada penolakan. Tak hanya itu, Nabi juga diperintahkan memberi maaf dan memohonkan ampun kepada Allah, serta mengakomodir partisipasi mereka dalam forum musyawarah.
“Tidak ada dendam pada musuh-musuh lama. Ini menunjukkan kebesaran Islam dan kebesaran Nabi,” tandasnya.

2 COMMENTS

  1. Tidak ada peperangan yang menguntungkan, tidak ada perpecahan yang menyenangkan. Buang jauh saling curiga, damai dan sejahtera yang kami damba.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here