Setelah menunggu kurang lebih 40 tahun, akhirnya warga Nahdlatul Ulama  Kabupaten Bandung mempunyai media silaturahmi dan komunikasi yang berisi informasi tentang kegiatan warga Nahdliyyin di Kab. Bandung, ajaran Islam Ahlussunah wal Jama’ah, profil tokoh NU Kab. Bandung, profil pesantren Kab. Bandung, resensi buku, dan informasi lain yang berkaitan dengan tradisi Islam Ahlussunah wal Jama’ah.

Dan prestasi yang cukup mengagumkan dilakukan oleh kepengurusan PCNU Kab. Bandung masa khidmat 2011 – 2016 yakni peresmian Website dan Buletin ini oleh tokoh NU Nasional dan Internasional, yang sempat diidzinkan bertemu dengan Muammar Khadafi Presiden Libia sebelum meninggal, yaitu KH. Hasyim Muzadi Rois PBNU.

Kegiatan peresmian Website dan Buletin Nahdliyatuna ini dimeriahkan oleh Grup Nasyid Sholawat Irsad Miftahurrohman dari Pesantren Miftahurrohman Ciborerang Sangkanhurip Katapang. Grup Nasyid dengan vokalis Nina dan Lia dan personal para anggota IPNU dan IPPNU Kecamatan Katapang ini dalam penampilannya melantunkan “Sholatun Bissalam”, “Alhamdulillah” dan “Ya Hanana”.

Penampilan grup yang selama tiga tahun berturut-turut 2009 s.d 2011 menjuarai  sholawat MTQ tingkat desa dan kecamatan Katapang ini dan sebagai juara pertama pada festival shalawat se-Kabupaten Bandung yang diselenggarakan oleh PC. Fatayat NU Kab. Bandung tahun 2012 ini cukup mempesona dan menjanjikan, membuat para hadirin memberikan tepuk tangan yang meriah atas penampilannya. 

Di samping Grup Nasyid dan Sholawat Irsad Miftahurrohman dalam kegiatan ini juga ditampilkan pula Ikatan Pencak Silat Nahdlatul Ulama Pagar Nusa Kab. Bandung di bawah pimpinan Ki Dede Sumpena. Perguruan Silat yang pernah tampil di acara Soft Launching Festival dan Kerjurnas Pencak Silat Pagar Nusa di Musium Fatahillah Jakarta ini, menampilkan Ibing Masal dengan thema Bhineka Tunggal Ika, Rampak Kendang thema “Idiologi Bangsa Pancasila”. Penampilan anak-anak yang ngibing dengan gesit dan kompak membuat penonton berdecak kagum dan bertepuk tangan.

Perguruan Silat yang pernah juga ditampilkan di Kerjurnas Pencak silat dalam rangka Saresehan dan Silaturahmi Pendekar Pagar Nusa Tingkat Nasional di Bekasi mempunyai vokalis seorang Qari’ah, Hj. Ida Maryamah yang pernah meraih juara I MTQ Tingkat Provinsi Jabar, dan pernah juga meraih juara ke 2 MTQ tingkat nasional di NTB. Suaranya yang merdu membawakan sholawat dengan diiringi kendang, terompet dan gong yang serasi membuat kegiatan NU kali ini bebeda dengan kegiatan-kegiatan sebelumnya.

Bapak Bupati Kab. Bandung pun dibuat terpesona dengan penampilan Perguruan Pencak Silat ini yang  menyambutnya dengan lagu favoritnya sabilulungan, sehingga dalam sambutannya Bapak Bupati memberikan apresiasi terhadap penampilan Perguruan Pencak Silat ini.

Sebelum menandatangani piagam peresmian Website dan Buletin Nahdliyatuna PCNU Kab. Bandung,  KH. Hasyim Muzadi memberikan tausiyah yang menjelaskan dan menguraikan tentang “keruwetan” dan keterpurukan yang terjadi di Indonesia sekarang ini. Beliau mengatakan, hal ini terjadi karena tidak selarasnya antara agama dan Negara. Sebenarnya, Nahdlatul Ulama sejak Muktamar ke 27 di Situbondo tahun 1983, yang mengharuskan kembali ke Khittah, para ulama NU sepakat bahwa penyebaran agama ini harus disesuaikan dengan kondisi Negara, Agama harus diselaraskan dengan Negara, tidak dihadap-hadapkan, melakukan dakwah ini harus bil hal sehingga secara  perlahan Negara akan menjalankan syari’at Muhammad saw.

Pancasila tidak perlu diributkan, karena Pancasila bukan agama dan agama bukan pancasila. Pancasila hanya filsafat Negara RI,  landasan berbangsa dan bernegara, dan isi pancasila tidak ada yang bertentangan dengan agama sehingga tidak perlu ditinggalkan dan dijelek-jelekan.

NU berusaha menyelaraskan antara agama dan Negara, dan kalau tidak dengan cara NU dalam mengatur Negara Republik Indonesia ini maka akan terjadi pertentangan antara agama dengan Negara, bentrok antara sesama umat Islam dan bentrok antara umat beragama. Karena itu NU adalah pengawal, “azimat” Negara Indonesia.

Di dalam Fiqih Syafi’iyah yang diamalkan oleh warga NU, jika tidak ada penjelasannya dalam Al-Qur’an dan Hadits Rasul maka diberi kebebasan kepada manusia untuk mengaturnya asal tidak bertentangan dengan syari’at yang ada dalam Al-Qur’an dan Hadits. Jika adat kebiasaan masyarakat baik maka harus dipelihara, jika jelek harus diperbaiki dan jika tidak bisa diperbaiki maka tinggalkan. Seperti gotong royong yang jadi kebiasaan masyarakat Indonesia sebelum Islam datang maka pelihara dan teruskan. Ada juga kebiasaan masyarakat Indonesia menghormati leluhurnya dengan menyimpan lampu dan makanan di bawah dipan. Kemudian mereka meminta kepada dewa-dewa untuk keselamatan leluhurnya. Maka  ketika para ulama NU (Wali Songo) datang mereka tidak melarang adat kebiasaan penghormatan kepada leluhur tapi caranya diganti. Yang asalnya menyimpan lampu dan makanan di bawah dipan diganti dengan memberikan makanan ke tetangga, dan permintaan kepada para dewa diganti dengan bacaan tahlil, tasbih, tahmid dan takbir. Akhirnya, mereka masuk Islam karena merasa adatnya  dihormati, dan tidak dilarang.

Belakangan ini muncul  kelompok yang membawa tatacara lain yang ingin mengurus Negara, berbeda dengan tata cara NU. Tapi akibatnya, tata cara baru ini mengakibatkan bentrok antara pemeluk agama, konflik sesama umat Islam bahkan saling mengkafirkan. Kalau dahulu ulama mengislamkan orang kafir sekarang mereka mengkafirkan orang Islam, hanya karena berbeda tatacara pemahaman dan pengamalan ibadah.

Padahal menurut Imam Syafi’i, syari’at itu perintah yang harus dilaksanakan sementara adat kebiasaan adalah pilihan, kalau cocok laksanakan, kalau tidak tinggalkan. Jadi kalau ada perbedaan dalam menyikapi adat tidak perlu ribut dan saling mengkafirkan. Jangan sampai terjadi pembakaran rumah ibadat dan saling membunuh.

Coba perhatikan waktu Rasulullah saw. mengurus masyarakat di Madinah yang terdiri dari mayoritas Muslim dan minoritas masyarakat Kristen, Yahudi, penyembah berhala. Rasul saw. membuat peraturan yang harus memperlakukan umat minoritas dilayani dengan baik sepanjang tidak mengganggu.

Perhatikan juga pidato Rasulullah saw. ketika akan “Futuh Makah”, “Jangan bunuh anak-anak, hormati wanitanya, pelihara orang tua, jangan rusak pohon, jangan bakar gereja dan sinagog. Tidak ada sedikitpun perintah untuk melakukan kekerasan terhadap orang yang tidak seiman. Ajaran Islam itulah yang dijalankan oleh NU dinegara kesatuan Republik Indonesia ini.

Untuk itu, sudah sewajarnya dan sepantasnya NU harus kita pertahankan, harus kita rawat, harus kita kembangkan dan harus kita bela, karena NU mengajarkan kita menjadi seorang Muslim yang baik dan benar menurut Allah dan menurut sesama manusia. NU yang menyebarkan Islam yang sesuai dengan tradisi Indonesia dan berjuang untuk Indonesia.

Maka sudah sepantasnya pula Negara dan pemerintah yang sedang berkuasa dari pusat sampai daerah memelihara dan mensejahterakan warga NU, para pengurus NU dan memelihara masjid dan pesantren yang berisi orang NU dan mengamalkan tradisi Islam Ahlussunah wal Jama’ah. Karena mereka inilah yang akan menjaga dan memelihara Negara Kesatuan Republik Indonesia. Jika NU hilang di negara ini maka konflik akan berkobar, NKRI akan tercabik-cabik.

Di akhir ceramahnya KH. Hasyim Muzadi meminta kepada para pengurus agar lebih dahulu mengamalkan apa yang dikatakan dan dihimbaukan kepada warga agar mendapatkan barokah dan program bisa berjalan dengan lancar. Jika Pengurus NU menganjurkan warga untuk menjaga masjid dan pesantren maka Pengurus NU harus terlebih dahulu melaksanakannya. Jika  Pengurus NU menghimbau warga berzakat dan berinfaq ke LazisNU maka para Pengurus NU harus terlebih dahulu mengeluarkan zakat dan infaq melalui LAZISNU.

Akhirnya, kegiatan Launching Website & Buletin PCNU Kab. Bandung yang dilaksanakan pada hari Kamis, 19 April 2012 di Gedung Ormas Islam Soreang Kabupaten Bandung ini ditutup dengan do’a yang dipimpin oleh KH. A. Shobir salah satu sesepuh Pondok Pesantren Baitul Arqom Pacet.

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.