Resensi: Meninggalkan Madzhab adalah Bid`ah

213

Satu lagi kitab yang secara cerdik merangkai pendapat para ulama salaf dan khalaf, mutaqaddimin dan muta`akhirin, membeberkan kesalahan sekelompok muslim yang senantiasa menghardik saudaranya sesama muslim dengan sebutan ahli bid`ah, hanya karena ia memilih menyandarkan faham keagamaannya ke dalam sebuah madzhab. Dalam kitab ini, diungkap dengan jelas bahwa yang sebenar-benarnya bid`ah adalah justeru mereka yang berani meninggalkan alur madzhab.

Hanya dengan ketebalan 33 halaman, memang kitab ini tergolong sangat tipis jika dibandingkan dengan kitab-kitab lain yang berbicara masalah bid`ah. Namun meski demikian, banyaknya ilmu yang dapat diraih setelah membaca kitab ini, ternyata sangat tidak sebanding dengan sedikitnya jumlah halaman.

Melalui kitab ini, kita disuguhi pengetahuan bahwa Imam Ahmad (w. 241) berkali-kali mencacat perilaku orang-orang yang berani mengamalkan agamanya tanpa mau merujuk kepada salah satu madzhab. Menurut beliau, jika saja ada orang yang menganggap dirinya tidak pernah bertaklid, maka itu tiada lain merupakan ucapan orang fasik di sisi Allah SWT dan Rasul-Nya.

Ketika banyak orang yang merasa bangga bahwa ia sudah berpegang langsung terhadap Hadis, tanpa perlu menghiraukan ahli fiqh, maka sejatinya mereka itu telah tergelincir dalam kesesatan. Sebagaimana dinyatakan oleh Imam Ibn Wahhab (w. 197 H) dan Imam Sufyan bin `Uyaynah (w. 198 H), bahwasanya (semata berpegang kepada) Hadis itu dapat menyesatkan, kecuali bagi para ulama dan fuqaha, yaitu orang-orang yang sarat pengetahuan fiqhnya.

Sedemikian pentingnya memperhatikan fiqh (pemahaman dan pengamalan), hingga periwayat Hadis sekaliber Tabi`in Imam Ibrahim al Nakha`iy (w. 196) pun (gurunya para Imam Hadis yang enam, yaitu Bukhariy, Muslim, Abu Dawud, al Turmudziy, al Nasa`iy dan Ibn Majah) berkata: “Jika saya melihat ada Sahabat yang dalam wudlunya membasuh kedua tangan hanya sampai pergelangan, maka saya akan menurutinya, meskipun saya meriwayatkan hadis sahih yang menjelaskan bahwa membasuh tangan itu sampai sikut”. Dari sini tercermin, bahwa hadis sahih itu tidak lagi memiliki otoritas ketika tidak sejalan dengan fiqh.

Salah satu yang penting disimak adalah apa yang dikatakan oleh Imam Nawawi (w. 676 H) atas riwayat Imam Ibn Khuzaymah (w. 311 H), seorang ahli Hadis bermadzhab Syafi`iy, ketika ia ditanya apakah Imam al Syafi`iy (w. 204 H) meninggalkan Hadis sahih dalam kitab-kitabnya? Maka ia menjawab, bahwa Imam al Syafi`iy tidak pernah meninggalkan Hadis sahih dalam kitabnya, hanya saja beliau sangat hati-hati, sehingga ada Hadis sahih tetapi menurut beliau memiliki masalah dalam beberapa aspeknya, sehingga tidak dapat diamalkan.

Intinya, kitab ini sangat penting untuk kita baca, minimal sebagai perisai tatkala dituduh ahli bid`ah karena setia terhadap madzahibul arba`ah.

Harry Yuniardi

(Ketua PC LTN NU Kab. Bandung)

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here