BeritaIslam NusantaraKegiatan

Rabithah Ma’ahid Islamiyyah Nahdlatul Ulama (RMI-NU Kab. Bandung) selenggarakan Istighosah dan Tabligh Akbar

Berita | 30 Desember 2018

Bandung, 29 Desember 2018 jam 18.00 WIB Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI-NU) Kab. Bandung menyelenggarakan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan Istighotsah. kegiatan ini dihadiri oleh Tokoh-tokoh NU se-Kab. Bandung, jajaran pengurus PCNU Kab. Bandung, pimpinan Lembaga dan Banom NU Kab. Bandung, para pejabat di lingkungan Kab. Bandung, para kyai-kyai Pondok pesantren se-Kab. Bandung, Babinsa, Babinkamtibmas, anggota dan Caleg DPRD kab. Bandung dan undangan lainnya. Antusias warga NU kab. Bandung untuk datang di acara peringatan ini sangatlah baik, mereka datang berbondong bondong untuk mendengarkan tausiyah yang disampaikan oleh pembicara Drs. Habib Umar Assegaf, MA (Pengasuh Pondok Pesantren As-Taqofah Kab. Bandung)

Ketua RMI-NU Kab. Bandung, KH. Tata M. Tasdiq, SH, dalam sambutannya menyampaikan bahwa dalam sistem pendidikan nasional, pesantren
menempati posisi yang tidak kalah penting dibanding dengan lembaga-lembaga
pendidikan lainnya. Oleh sebab itu, di era otonomi pendidikan sekarang ini menghendaki pondok pesantren memainkan peranannya secara maksimal.

Dengan demikian pondok pesantren yang memiliki potensi besar dalam bidang pendidikan, keagamaan, dan sosial itu dapat ditingkatkan peran dan partisipasinya
secara lebih aktif lagi, dalam rangka pemberdayaan masyarakat.

Di antara peranan pondok pesantren tersebut adalah sebagai agen perubahan
sosial, agen pembangunan, dan pusat keunggulan. Oleh karena itu, pesantren pada era otonomi pendidikan seperti ini tidak hanya berfungsi sebagai lembaga
tafaqquh fiddini, tetapi juga berfungsi sebagai lembaga kontrol sosial terhadap perubahan- perubahan nilai, budaya, dan norma sosial yang terjadi di masyarakat
kita.

Peran dan fungsi ini dapat diwujudkan jika pesantren secara terus menerus mengembangkan diri, baik secara kelembagaan, kurikulum, metode, pendanaan,
maupun dalam penyediaan prasarana dan sarana.

Pengembangan itu dapat berlangsung secara serentak, tetapi harus tetap diperhatikan bahwa pengembangan SDM harus menjadi prioritas. Sebab, betapapun baiknya keseluruhan perangkat keras dan lunak suatu lembaga pendidikan, tetapi jika tidak didukung oleh SDM yang unggul, akan sulit dapat mencapai tujuan. “pungkasnya”.

Dalam isi tausiyahnya, Habib Umar Assegaf, menyampaikan tentang
makna dalam peringatan Maulid Nabi, bahwa dengan adanya peringatan maulid nabi, umat Islam diharapkan bisa mengingat kembali betapa gigih perjuangan rasul dalam merintis dan mengembangkan ajaran Islam di tengah tradisi dan budaya Arab yang waktu itu dalam keadaan jahiliyah.

Satu hal yang harus dilakukan umat Muslim ketika merayakan maulid nabi adalah meneladani sikap dan perbuatan, terutama akhlak mulia nan agung dari baginda nabi besar Muhammad saw.

Bukan hanya seremonial belaka, perayaan itu mestinya diresapi dalam hati yang begitu dalam dan mencoba untuk meneladani dan mempraktikkan akhlak mulia dari nabi.

Dalam hal ibadah, akhlak mulia dan agung dari nabi itulah yang harus ditiru, dicontoh dan diteladani. Padahal kita tahu, Islam sebagai agama yang dibawa nabi Muhammad adalah rahmatan lil alamin.

Artinya, Islam membawa rahmat bagi alam semesta, bukan hanya umat Muslim saja atau manusia saja, tetapi semua makhluk seperti hewan, tumbuh-tumbuhan, dan alamnya.

Dengan adanya maulid, manusia atau umat Muslim diharapkan bisa tergugah kembali untuk selalu berikhtiar secara konstan dalam meneladani dan mengamalkan ajaran-ajaran serta akhlak baginda nabi Muhammad SAW.

Tags
Tampilkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Close
Close
%d blogger menyukai ini: