Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yakub, MA: Warga Nahdliyin Harus Menjadi Umat yang Moderat

553

Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yakub, MABanjaran (30/03/14). Konferensi & musyawarah ranting Nahdlatul Ulama Sekecamatan Banjaran yang dimulai sejak pagi hari minggu, 30 Maret 2014, di kompleks Pondok Pesantren Darul Hikam Kiangroke Banjaran, Alhamdulillah, berjalan dengan lancar, meskipun sedikit terganggu dengan riuh kampanye yang berlalu-lalang di jalan raya. Siang hari, bada zhuhur dilanjut dengan halaqah ilmiyah dalam rangka penguatan keaswajaan berbasis pemahaman hadis, yang menghadirkan pembicara, seorang ahli hadis Indonesia, yaitu Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yakub, MA.

Selain dihadiri oleh pengurus NU ranting sekecamatan Banjaran, ibu-ibu jemaah pengajian rutin Darul Hikam, juga dihadiri Kasubag Kementerian Agama Kabupaten Bandung, Sekretaris Kecamatan Banjaran. Adapun dari unsur pengurus PC NU Kabupaten Bandung, diwakili oleh Sekretaris Umum, H. Usep Dedi Rostandi, MA.
Dalam acara tersebut, Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yakub, yang sekaligus sebagai Rais Syuriah PBNU, juga Imam Besar Masjid Istiqlal, Ketua MUI Pusat Bidang Fatwa, serta sederet jabatan lainnya, memaparkan tentang misi utama warga Nahdliyin sebagai umat Islam yang moderat (wasathiyah) demi mengais kasih sayang Allâh. Ia tidak boleh menjadi bagian dari gerakan ekstrimis, baik ekstrim kanan, terlebih ekstrim kiri. Karena, sebagaimana termaktub dalam al-Qur’an (2:143), kasih sayang Allâh (ra’ûf rahîm) itu hanya dijanjikan bagi mereka yang berlaku moderat, dan menjadi tolok ukur bagi siapa yang benar-benar mengikuti jejak Rasulullâh.
Sesuai keahlian pembicara, beliau yang nota bene adalah Guru Besar Ilmu Hadis di Institut Ilmu Al-Qur’an, serta pengasuh Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darus Sunnah, juga menjelaskan banyak materi terkait tentang permasalahan hadis Nabi. Diawali dengan pemetaan kondisi pemahaman di wilayah Bandung, oleh moderator Harry Yuniardi, M.Ag., bahwa terdapat beberapa gelintir orang yang mengklaim ahli hadis, namun sangat ceroboh dalam melakukan penelaahan terhadap hadis, hingga rawi tsiqah malah dinilai daif, hadis sahih malah dinilai daif. Beliau menjelaskan, bahwa untuk menjadi seorang kritikus hadis, tidak cukup dengan hanya bermodal sedikit kemampuan bahasa arab, karena itu malah hanya akan menjerumuskan dirinya ke dalam jurang kegelapan.
Sebagai contoh, beliau menggambarkan betapa kacaunya penilaian al-Albani ketika mengkritisi hadis-hadis, tidak sedikit hadis yang terdapat dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim yang dinilai daif, serta tidak sedikit penilaiannya yang malah bertolak belakang satu sama lain.
Selanjutnya, menanggapi pertanyaan dari Ketua Tanfidz MWC Kecamatan Banjaran, KH. Lili Ahmad Hariri, tentang siapa sebenarnya yang dimaksud dengan Ahlu Sunnah wal Jama`ah, beliau dengan mengutip hadis menjelaskan, bahwa mereka itu adalah siapa pun yang benar-benar menjadi pengikut Nabi serta para sahabatnya.
Pola dialog yang menjadi ciri khas pengajian beliau, membuat para peserta halaqah tampak semakin bersemangat menyimak setiap penjelasan yang beliau uraikan. Namun sayang, waktu juga lah yang menghakimi kami semua untuk mesti segera berpisah. Masih banyak para peserta yang penasaran ingin mengajukan pertanyaan, semoga di lain kesempatan beliau dapat dihadirkan kembali di tengah-tengah warga Nahdliyin Kecamatan Banjaran. Amîn…!
 
 
 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here