Puasa Depan, Kita Beda Lagi (Prediksi Awal Ramadhan 1433 H)

465

Ramadhan tahun 2012 M/1433 H., masih jauh di depan. Namun tidak ada salahnya bila kita coba menganalisa berbagai kemungkinan yang akan terjadi untuk bulan tersebut, kenapa? Karena kita tahu, bahwasanya kontroversi awal bulan Ramadhan atau awal bulan Syawal, juga awal bulan Dzulhijjah selalu menjadi objek bahasan yang tidak pernah hilang gregetnya. Terutama demi mempertajam ingatan kita terhadap disiplin ilmu hisab falak.

 

Tentu kita masih ingat, bagaimana pada saat penentuan hari Lebaran Idul Fitri atau awal Syawal, masyarakat sempat dibuat deg-degan menyaksikan siaran langsung sidang itsbat yang direlay oleh beberapa stasiun tv swasta. Begitu keluar putusan, serentak beragam komentar dari mulai yang ringan-ringan saja, sampai yang sangat berat (kalau boleh kita sebut sebagai hujatan) melayang menyikapi hasil sidang tersebut. Kondisi itu seolah diperparah oleh “kecerobohan” Pemerintah yang terlebih dahulu telah memampang keterangan hari raya idul fitri dalam kalendernya ke hari Selasa, 30 Agustus 2011. Sementara hasil sidang itsbat menyatakan bahwa hari raya idul fitri jatuh pada hari Rabu, 31 Agustus 2011., dengan ini berarti Pemerintah menganulir kalendernya sendiri, yang tanpa disadari telah memicu berbagai permasalahan, dari mulai yang paling ringan; seperti resiko basinya gule dan ketupat yang tanggung dimasak di malam lebaran yang “tidak jadi”, sampai permasalahan yang lumayan berat, yaitu bertengkarnya beberapa orang akibat “rebutan” hari lebaran.

Kembali ke pokok bahasan, untuk Ramadhan 1433 H yang akan berlangsung mulai bulan Juli sampai bulan Agustus 2012 M., pada penetapan awal bulannya (memulai puasa) nampak sangat berpotensi menimbulkan perbedaan, terutama antara penganut madzhab wujûdul hilâl (Muhammadiyah) dengan penganut madzhab imkân al ru`yah (Pemerintah, NU dan Persis[1]).

Berikut data hasil hisab untuk penentuan awal bulan Ramadhan 1433 H., dengan markas perhitungan Bandung. Penulis menggunakan dua sistem hisab, yaitu yang bersifat tahqîqiy (akurasi tinggi) dan taqrîbiy (akurasi rendah). Untuk yang tahqîqiy digunakan software Mooncalc (Prof. Dr. Mansur Ahmad) yang dikomparasikan dengan Starry Night Pro Plus v. 6.4.3., serta untuk yang taqrîbiy menggunakan kitab Fath Ra`ûf al Mannân.

Ijtimak akhir bulan Sya`ban 1433 H., terjadi pada hari Kamis, 19 Juli 2012 M., tepatnya pukul 11:25:09 WIB. Pada hari tersebut,

Matahari Terbenam (Maghrib)              : 17:48:54

Tinggi Hilal Saat Matahari Terbenam : 1° 38′ 33”

Elongasi                                                           : 4° 51′ 13”

Umur Hilal Saat Matahari Terbenam  : 6 Jam 25 Menit

Cahaya Hilal                                                  : 0.21%

Posisi Hilal                                                     : 286° 18′ 25”

Posisi Matahari                                           : 290° 46′ 38”

Menimbang bahwasanya kriteria imkân al ru`yah yang telah disepakati bersama antara Menteri-menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia dan Singapura (MABIMS) adalah menetapkan awal bulan Hijriyah terjadi jika:

  • Pada saat Matahari terbenam, ketinggian Hilal minimal 2°, dan
  • Sudut elongasi (jarak lengkung) Hilal-Matahari minimal 3°, atau
  • Pada saat Hilal terbenam, usianya minimal 8 jam, dihitung sejak saat ijtimak.

Sedangkan ketinggian Hilal pada saat matahari terbenam hari Kamis, 19 Juli 2012 adalah 1° 38′ 33” (berarti kurang dari 2°), juga Umur Hilal baru 6 Jam 25 Menit (berarti kurang dari 8 Jam), meskipun elongasi telah melampaui 3°, maka pada saat itu berdasar kriteria MABIMS, Hilal tidak mungkin dapat dilihat. Sehingga awal bulan Ramadhan baru dimulai dari malam Sabtu, 21 Juli 2012.

Kemungkinan Perbedaan

Meski berdasarkan kriteria imkân al ru`yah, awal Ramadhan 1433 H akan dimulai dari malam Sabtu, 21 Juli 2012 M. Namun potensi perbedaan dalam mengawali Ramadlan tahun ini sangat terbuka. Bukan saja dari pihak penganut madzhab wujûd al hilâl, yaitu Muhammadiyah. Bahkan dari kalangan sekelompok kecil muslim tradisionalis pun memiliki potensi berbeda.

Dalam perspektif Muhammadiyah yang memakai kriteria wujûd al hilâl, ketika ketinggian hilal sudaf positif diatas ufuk, berapa pun nilainya, maka mulai malam tersebut sudah masuk awal bulan baru. Dan karena pada saat itu ketinggian hilal sudah positif 1° 38′ 33”, maka malam Jumat tersebut sudah masuk sebagai awal bulan Ramadlan, sehingga puasa sudah dimulai sejak hari Jumat, 20 Juli 2012 M.

Lain hal dengan perspektif muslim tradisionalis, potensi perbedaan ini dipicu oleh kebiasaan yang bersangkutan dalam menggunakan piranti penghisabnya. Jika saja dalam proses penghisabannya menggunakan piranti kitab-kitab klasik yang natijah hisabnya bersifat taqrîbiy, seperti menggunakan kitab Sulâm al Nayrirayn, Fath al Ra’ûf al Mannân, Badî`ah al Mitsâl, dll., maka hasil perhitungannya akan berbeda dengan yang menggunakan sistem hisab tahqîqiy. Seperti contoh, hisab yang dilakukan via Fath Ra’ûf al Mannân, menghasilkan ketinggian Hilal sebesar 3° 48′, yang artinya telah melampaui kriteria imkân al ru`yah MABIMS. Sehingga berdasarkan natijah tersebut, penggunanya dapat menyimpulkan bahwa Hilal pada malam tersebut sudah dapat dilihat, maka awal bulan Ramadlan akan dimulai dari malam Jumat, 20 Juli 2012 M.

Kesimpulannya, untuk mengawali bulan Ramadhan 1433 H., hampir bisa dipastikan akan terdapat dua penetapan yang berbeda. Yang pertama menetapkan awal Ramadlan pada hari Sabtu, 21 Juli 2012 M., kelompok ini diwakili oleh Pemerintah, NU, Persis (mungkin). Dan yang kedua menetapkan awal Ramadlan pada hari Jumat, 20 Juli 2012 M., kelompok ini diwakili oleh Muhammadiyah dan sebagian ormas Islam yang mengikuti penetapan Arab Saudi (berdasarkan kalender Ummul Qurâ, awal Ramadlan adalah hari Jumat, 20 Juli 2012 M).

Penyebab Lain Perbedaan

Simulasi Astronomi Langit Bandung, maghrib Kamis, 19 Juli 2012 M (klik gambar untuk tampilan lebih besar)

Di samping penyebab perbedaan dari aspek hisab yang telah dipaparkan di atas, ada kemungkinan lain yang bisa menjadi faktor penyebab timbulnya perbedaan, yaitu munculnya klaim rukyat hilal. Di awal sudah dijelaskan bahwasanya dengan ketinggian hilal yang di bawah 2°, maka hilal tidak mungkin (not possible) dirukyat. Namun meski demikian, klaim melihat hilal itu sering saja muncul meski dalam keadaan tidak mungkin. Di antara penyebabnya, kalau dalam riwayat para sahabat Nabi SAW., ketika ia mengaku telah melihat hilal sementara sahabat lain justeru sama sekali tidak ada yg melihat, setelah diteliti ternyata yang dilihat oleh sahabat tersebut bukanlah Hilal, melainkan alis matanya yang telah beruban. Atau bahkan burung-burung yang beterbangan di kejauhan. Dan yang sering terjadi adalah kesalahan identifikasi benda langit lain yang dianggap Hilal.

Untuk kasus penentuan awal Ramadhan 1433 H ini, pada saat matahari terbenam, Kamis 19 Juli 2012 M, memang hilal berada dalam ketinggian yang minimal. Namun seperti tampak dalam citra yang diambil melalui software simulasi Starry Night, terdapat objek langit lain yang dapat mengecoh perukyat, terutama yang masih awam, seolah-olah itu dianggap Hilal. Benda tersebut tiada lain adalah planet Merkurius yang berada pada ketinggian 13° lebih di atas ufuk. Dalam budaya Tiongkok, Merkurius dikenal dengan naam “bintang air”. Ia dapat terlihat oleh mata telanjang pada waktu subuh atau pada waktu magrib. Oleh karenanya pada saat rukyat hilal dilakukan (magrib), ia bisa saja mengecoh orang hingga diangapnya sebagai Hilal, lalu muncul lah klaim rukyat Hilal yang dapat meramaikan peta khilafiyah dalam mengawali puasa tahun ini.

Seperti telah disinggung di atas, penyebab lain timbulnya perbedaan dalam mengawali puasa, ditambah riuhnya melalui “kontribusi” beberapa kelompok ormas Islam yang senantiasa mengikuti dan mentaati penetapan awal bulan dari Pemerintah Kerajaan Arab Saudi (KSA), kelompok tersebut di antaranya adalah Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan Dewan Dakwah Islamiyah (DDI). Walaupun ormas yang disebut terakhir, kabarnya telah mengubah kebijakannya setelah diceramahi oleh salah seorang Mufti KSA, dari mengikuti penetapan KSA menjadi mengikuti penetapan Pemerintah RI demi menjaga ukhuwah.

Kekacauan Kalender Kerajaan Arab Saudi

Entah kenapa, beberapa orang, baik kelompok maupun personal, masih saja menilai bahwa putusan pemerintah KSA adalah yang paling layak untuk diikuti. Mereka seolah apriori terhadap kenyataan bahwa penetapan yang dibuat oleh KSA banyak sekali menyisakan kejanggalan yang teramat sangat.

Di pertengahan tahun 2005, penulis, ketika menyusun tesis Program Study Hukum dan Pranata Sosial Islam di UIN Bandung, yang berjudul “Dampak Hukum Kontroversi Penetapan Hari Wukuf Arafah terhadap Keabsahan Ibadah Haji (Study Perbandingan antara Penetapan KSA dengan AUASS tentang Hari Wukuf Arafah 1425 H)”, dalam wawancara melalui email dengan Presiden Islamic Crescent observation project (ICOP) yang sekaligus sebagai Wakil Presiden Arab Union for Astronomy and Space Sciences (AUASS), Dr. Muhammad Syawkat `Awdah, beliau menyampaikan data analisanya yang menyatakan bahwa selama kurun tahun 1980-2004 M/1400-1425 H, tingkat kesalahan dalam penetapan awal bulan Hijriyah (terutama Ramadlan, Syawal dan Dzulhijjah) ternyata sangat dominan sekali, sehingga penetapan yang benarnya tidak pernah melebihi dari 23%.

Beberapa contoh kasus kesalahan yang sangat kontroversial, penulis angkat dalam tesis tersebut. Intinya, dalam tataran ini, ternyata tidak semua kebijakan pemerintah KSA tersebut layak untuk dijadikan rujukan. Dan ini diakui juga oleh para peneliti senior di lembaga King Abdul Azeez City for Science and Space, Prof. Dr. Shaleh al Sa`ab.

Penutup

Meskipun secara hisab tahqîqiy hampir dapat dipastikan bahwasanya penetapan awal Ramadlan 1433 H adalah mulai hari Sabtu, 21 Juli 2012 M., namun sebagai warga Nahdliyin kita tetap menungguh hasil penetapan Pemerintah RI yang akan digodok dalam sidang itsbat selepas masuknya seluruh laporan rukyah dari 30 titik lebih, biasanya sekitar jam 19.00 WIB. Dan yang paling utama adalah senantiasa cool dalam menyikapi setiap persoalan…!

Harry Yuniardi, M. Ag[break]Sukasari Indah, 14 Mei 2012 M.



[1] Khusus untuk Persis, penulis belum tahu kebijakan untuk tahun ini, karena Persis beberapa kali mengubah kriteria awal bulan yang diikutinya. Namun untuk tahun kemarin kebijakannya mengikuti kriteria imkân al ru`yah.

5 COMMENTS

  1. pami leres pas ngahisabna : dua nilaina, pami kirang pas : hiji panginten nya nilaina………sok sanaos benten nu penting mah ulah teu saraum we nya……

    • Henteu otomatis kitu kang, saupami ti awal oge tos uninga bahwa sistem hisab nu dianggena tos teu akurat kumargi mung nganggo tabel taqribiy nu teu kantos dikoreksi, sareng kateuakuratan eta teh tos diakui ku sadaya ahli hisab/astronomy modern (di NU alhamdulillah pabalatak ahlina, sanaos bid`ah…hehe), namun kumargi terlalu fanatik keukeuh teras nganggo eta kitab, maka teu gaduh pahala, bahkan tiasa dianggap nyasarkeun pami dibuka ka masyarakat mah. Allahu a`lam…!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here