P.KyaiDalam pembahasan tata tertib Muktamar NU ke-33 (2/7/2015) terjadi perdebatan dalam tata cara pemilihan Ketua Umum Tanfidziah dan Rois Aam, terutama tentang Ahlul Halli Wal Aqdi yang diwacanakan akan digunakan dalam pemilihan Rois Aam.

Untuk mengatasi masalah perbedaan dalam Ahlul Halli Wal Aqdi, Ketua Umum PP PERGUNU KH. Asep Saifuddin Chalim, MA agar dikembalikan permasalan tersebut kepada ulama yang tidak mempunyai kepentingan dan memiliki karakter ‘afif, ‘alim, ‘ainul bashiroh sekurang-kurangnya tiga orang. Pada kesempatan itu juga beliau memandang KH. Maimun Zubair, KH. Nawawi Abdul Jalil Sidogiri dan KH Mustofa Bisri laik untuk mengatasi masalah perbedaan dalam Ahlul Halli Wal Aqdi.
“Kembalikan permasalan Ahlul Halli wal Aqdi kepada ulama yang tidak mempunyai kepentingan dan memiliki ‘afif, ‘alim, ‘ainul bashiroh sekurang-kurangnya tiga orang, yaitu; KH. Maimun Zubair, KH. Nawawi Abdul Jalil Sidogiri dan KH. Mustofa Bisri Jombang bisa ditambahi ulama lainnya yg memiliki karakter tersebut” tutur Kyai Asep
Sementara itu, Sekretaris Pergunu Jawa Barat H. Saepuloh, M.Pd mengharapkan agar setiap peserta Muktamar untuk menyampaikan pendapatnya dengan senantiasa dilandasi dengan prinsip tasamuh, tawasut, tawajun dan ‘adalah.
“Setiap muktamirin seharusnya menyampaikan pendapat dan sarannya senantiasa dilandasi dengan prinsip tasamuh, tawasut, tawajun, dan ‘adalah” tutur Saepuloh

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.