Tidak perlu pimpinan NU mencalonkan diri menjadi pejabat politik, cukup saja pengurus NU menyiapkan konsep bagi pejabat politik yang harus dijalankan pada saat menduduki jabatan itu, ujar Prof. Dr. Said Aqil Siroj, MA. dalam pengarahannya di arena Musyawarah Kerja Wilayah PWNU Jawa Barat di Pondok Pesantren Darul Falah Cihampelas Kabupaten Bandung Barat, Minggu 30 Desember 2012.

Dengan berlangsungnya “hajat politik” diberbagai daerah, baik pemilihan Bupati/Walikota maupun pemilihan Gubernur bahkan sebentar lagi pemilihan Presiden. Ketua PBNU, Prof. Said Aqil tetap tegas dengan prinsipnya, sesuai dengan apa yang beliau katakan pada saat Muktamar di Makasar bahwa beliau tidak akan mencalonkan dan tidak mau dicalonkan dalam pemilihan presiden sehingga dia berharap kepada semua Ketua NU di Provinsi dan Kabupaten/Kota untuk tidak mencalonkan diri dan atau  tidak mau dicalonkan sebagai Gubernur, Walikota/Bupati.

NU cukup memberikan konsep menjalankan pemerintahan kepada para Gubernur, Bupati/Walikota yang memimpin daerah. Konsep ini tidak terlalu sulit jika para pengurus NU menengok  kembali ke Pesantren sebagai awal keberangkatan NU, karena di pesantren segala yang dibutuhkan oleh sang pemimpin ada. Ilmu, amal, disiplin, ketaatan. Seorang pemimpin harus punya ilmu yang mumpuni; ilmu dunia dan ilmu akhirat, semuanya ada di pesantren. Amal, pesantren tidak hanya sekedar terori tapi harus dipraktekan dalam kehidupan sehari-hari, haram dan halal sudah jelas diajarkan dalam berbagai kitab sehingga tindakan kriminal minim karena santri mengamalkan ilmu yang dipelajarinya.

Disiplin, kehidupan pesantren mengharuskan seorang santri berdisiplin diri, bangun tidur, jadwal pengajian yang harus diikuti, shalat berjama’ah tepat waktu, termasuk kapan masak dan mandi harus disiplin, jika tidak, akan ketinggalan kegiatan pengajian dan tentu tidak akan mendapatkan ilmu yang dicari.

Ketaatan dalam pesantren sesuatu yang harus dilaksanakan. Titah kyai tidak pernah dilanggar oleh santri sejak masuk pesantren sampai dia pulang kampung dan membuka pesantren, ketaatan ini perlu dipunyai oleh seorang pemimpin taat kepada atasan atau taat kepada aturan akan menyelematkan dirinya dan rakyatnya.

NU cukup membina masyarakat dalam menyiapkan generasi yatafaqqahuna fi al-din. Dengan berbekal kekuatan masyarakat NU bisa menguasai negara ini. Dengan berdasarkan ajaran Islam kita bisa membawa kesejahteraan dan kemajuan bagi masyarakat Indonesia karena Islam ini ajaran kemajuan, Islam ajaran kemanusiaan sehingga memposisikan manusia pada posisinya sebagai makhluk Allah yang tehormat dan mulia. Spirit kemajuan dan kemanusiaan ajaran Islam ini harus diimplementasikan oleh pemimpin dalam menjalankan roda pemerintahannya, mengajak dan membawa masyarakat kepada kemajuan adalah ajaran Islam yang harus dilaksanakan tanpa harus menindas manusia lain dan melanggar aturan negara.

Menurut Nahdlatul Ulama, aturan negara Republik Indonesia ini sudah sesuai dengan ajaran Islam karena yang mendirikan negara ini adalah para ulama yang mengerti ajaran Islam, para pemimpin sekarang tinggal malaksanakannya dengan benar, maka bangsa ini akan maju dan sejahtera.

Negara RI dengan jumlah penduduk 250 juta orang yang mayoritas ummat Islam. Seharusnya, jumlah penduduk yang banyak dengan menganut ajaran agama yang mengandung prinsip kemanusiaan dan kemajuan, harus bisa menguasai dunia. Orang Yahudi yang berjumlah 16 juta saja bisa menguasai dunia secara ekonomi dan politik. Coba kita perhatikan kebijakan ekonomi yang dibuat oleh kelompok Yahudi, bank-bank di dunia jika akan mencetak uang negaranya maka harus mempunyai cadangan US dolar sesuai jumlah yang ditentukan oleh Bank dunia yang dikuasai Yahudi. Kebijakan politik dikendalikan Yahudi melalui PBB, jika dunia mengecam Israel maka salah satu dari Amerika, Perancis atau Inggris mereka akan mengeluarkan hak vetonya untuk membela Israel. Dan jika mereka berpendapat bahwa satu negara akan merugikan kekuasaan politiknya maka tanpa segan mereka akan menyerangnya tanpa mendengar protes dari negara lainnya, apalagi negara Soviet sudah mereka acak-acak, seperti yang mereka lakukan terhadap Iran, Irak, Afghanistan, Suriah dan lainnya.

Oleh karena itu, pengurus NU di berbagai tingkatan harus tafaqquh fi al-din dalam berbagai aspek. NKRI harus dipertahankan, menurut NU  mencintai dan membela tanah air adalah wajib karena orang yang tidak punya tanah air maka dia tidak punya sejarah. Membela agama adalah membela tanah air. Prof. Aqil Siroj dalam menutup kata sambutannya mengatakan bahwa kita harus bangga menjadi orang NU sebab kita “Ashhabul haq” karena kita hidup berdasarkan ajaran dan aturan yang benar, benar menurut aturan agama dan benar menurut aturan negara.

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.