Taushiyah

Pesantren, Santri dan Politik

“Kebaikan seorang santri tidak dilihat ketika dia berada di Pondok, melainkan setelah dia menjadi alumni. Kamu tinggal buktikan hari ini, bahwa kamu santri yang baik”

KH. Abdurrahman Wahid (Gusdur)

Kita sering mendengar kata “Pesantren”, yang menurut para ahli adalah sebuah tempat berkumpulnya para santri, atau secara segi bahasa pesantren sendiri merupakan kata serapan dari santri itu sendiri dengan menambahkan imbuhan pe- dan –an , yang bisa simpulkan asal katanya ialah pesantrian, sehingga bertransformasi menjadi pesantren. Namun yang menjadi banyak perdebatan adalah apakah makna santri itu sendiri?
Kata santri menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti (1) orang yg mendalami agama Islam; (2) orang yang beribadat dengan sungguh-sungguh (orang yg saleh); (3)Orang yang mendalami pengajiannya dalam agama islam dengan berguru ketempat yang jauh seperti pesantren dan lain sebagainya.

Berpindahnya hidup manusia dari tempat tinggalnya bersama orangtua kemudian hidup di kobong/kamar untuk bertujuan menuntut ilmu. Namun adapula yang tetap menetap berdomisili di sekitaran wilayah pesantren tinggal di rumah bersama orangtuanya namun ikut berkegiatan di seputaran pesantren biasanya dikatakan santri kalong. Bersantri merupakan sebuah pilihan calon santri juga para orang tua. Yang ingin membentuk dirinya untuk lebih baik dalam memengarungi peradaban masyarakat, bangsa bahkan Dunia tentunya ridho Alloh SWT.

Di abad 21 ini Pesantren juga mengalami pergeseran di lihat dari sudut pandang manapun, bahkan di era modern ini bermunculan pesantren-pesantren modern yang variatif model, metode, sesuai dengan kemajuan zaman. Berbeda dengan pesantren tradisional yang masih memelihara culture serta model, metode, cara hidup sampai pola makan pun masih terjaga dengan lestari.

Pada intinya nyantri di sebuah pesantren tradisional ataupun di pesantren modern adalah yang paling penting bagaimana ketika santri sudah pulang ke masyarakat mampu beriringan mengubah peradaban yang lebih baik.

Santri di tunggu oleh masyarakat
Kepulangan seorang santri dirindukan, ditunggu-tunggu oleh masyarakat itulah kata yang menggambarkan fenomena bagaimana suatu kampung atau daerah yang menanti-nanti kepulangan santri yang sudah bertahun-tahun bahkan belasan tahun hingga puluhan tahun menimba ilmu di sebuah pesantren atau di berbagai pesantren yang diharapkan masyarakat bukan hanya bagaimana kumpul kangen bersama keluarga namun ada nilai lebih merindukan seorang santri. Santri di tuntut bagaimana memperbaiki keadaan umat. Bukan hanya memakmurkan masjid, mengajar ngaji, mendidik ahlak namun jauh dari pada itu. Santri harus mampu beradaptasi mengubah keadaan dalam segala aspek kehidupan peradaban umat manusia kearah lebih baik.

Tidak sedikit santri berprofesi pejabat negara, dokter, perawat, guru, tentara, anggota polisi, pedagang, aktif di berbagai organisasi dan profesi yang lainya bahkan santri saat ini dituntut melek terhadap keadaan politik. Profesi-profesi itu bukan berarti meninggalkan tujuan dari pada pesantren namun itulah tugas santri dalam mengabdikan diri mengharapkan ridho Alloh.

Memperbaiki keadaan umat menjadi tugas umat manusia, namun santri di anggap orang paling tepat, orang yang ahli untuk mengemban amanah itu. Sekalipun seorang santri terjun ke dunia politik tidak perlu alergi mendengar hal itu, karena itu bagian dari pada memperbaiki umat.

Penulis :

Repy Hapyan, S.Pd.

Alumnus Pondok Pesantren Pulosari Limbangan Garut
S1 PPKN Universitas Pasundan Bandung
S2 PPKN Sekolah Pascasarjana UPI Bandung

Tampilkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Close
Close
%d blogger menyukai ini: