Perkawinan Wanita Hamil Zina

1086

Ekses negatif (mafsadat) era globalisasi komunikasi tanpa batas seperti sekarang ini, telah banyak menelan korban. Terutama para remaja, akibat pergaulan bebas sering ditemukan kasus anak perempuan usia sekolah mengalami hamil di luar nikah. Ini sudah barang tentu menjadi masalah pelik bagi kedua orang tuanya. Sebagai tindak lanjut orang tua ketika mengalami kasus tersebut, umumnya mereka menikahkan anak perempuannya tersebut sesegera mungkin. Yang menjadi pertanyaan,
a. Bolehkan perempuan hamil zina dinikahkan?
b. Kalau boleh apakah bisa kepada siapa saja dinikahkannya?
c. Bagaimana nasab anak yang dikandung tersebut kepada laki-laki yang menikahi ibu kandungnya?


Jawaban:
a. Boleh
b. Para ulama sepakat membolehkan perkawinan antar pezina. Namun bila wanita pezina dinikahkan dengan yang bukan pezina, terdapat perbedaan pendapat, yang mana menurut Tabi`în Hasan al-Bashriy, status zina dapat memfasakh pernikahan tersebut. Sedangkan mayoritas ulama membolehkannya, ini karena mereka memosisikan QS. Al-Nûr:3 sebagai sekedar pencelaan saja (الذمّ), bukan sebagai pengharaman (التحريم).
Adapun secara rinci terdapat perbedaan pendapat sebagai berikut:
1) Boleh dinikahkan serta di-dukhûl kapan saja, sedang hamil maupun tidak, namun makruh di- dukhûl bila sedang hamil, ini menurut ulama Syafi`iyah.
2) Boleh dinikahkan kapan saja, tetapi kalau hamil tidak boleh di-dukhûl sebelum melahirkan, ini pendapatnya ulama Hanafiyah kecuali Abû Yusûf, dan Ibn Hadâd al-Kanâniy dari golongan Syâfi`iyah.
3) Tidak boleh dinikahkan sebelum istibrâ’ apakah dengan 3 kali haid atau sampai melahirkan, ini pendapatnya ulama Mâlikiyah dan ditambah harus taubat dulu menurut ulama Hanâbilah.
4) Tidak boleh dinikahkan bila sedang hamil saja, ini pendapatnya Abû Yusûf dan Zufar.
c. Adapun nasab anak tersebut bila si ibunya dinikahkan dengan yang menghamilinya, maka dinasabkan ke suaminya jika anak lahir di atas 6 bulan atau kurang dari 4 tahun pasca pernikahan, namun tidak dinasabkan ke suaminya jika anak lahir kurang dari enam bulan pasca pernikahan, kecuali apabila si suami melakukan ikrar pengakuan anak. Namun bila dinikahkannya bukan kepada yang menghamilinya, maka jika anak lahir di atas 6 bulan pasca pernikahan, anak tersebut secara zhahir saja dinasabkan kepada suaminya, dan ia wajib menafikannya (tidak mengakui anak).
Ibarat:
• Fiqh al Islâmiy wa Adillatuh, IX/6648-6650:

 

يحل بالاتفاق للزاني أن يتزوج بالزانية التي زنى بها، فإن جاءت بولد بعد مضي ستة أشهر من وقت العقد عليها، ثبت نسبه منه، وإن جاءت به لأقل من ستة أشهر من وقت العقد لا يثبت نسبه منه، إلا إذا قال: إن الولد منه، ولم يصرح بأنه من الزنا. إن هذا الإقرار بالولد يثبت به نسبه منه لاحتمال عقد سابق أو دخول بشبهة، حملاً لحال المسلم على الصلاح وستراً على الأعراض.
أما زواج غير الزاني بالمزني بها، فقال قوم كالحسن البصري: إن الزنا يفسخ النكاح. وقال الجمهور: يجوز الزواج بالمزني بها.

• Al-Bayân, X/148.
 

وإن تزوج امرأة، وأتت بولد لأقل من ستة أشهر من حين العقد.. انتفى عنه بغير لعان؛ لأن أقل مدة الحمل ستة أشهر بالإجماع، فيعلم أنها علقت به قبل حدوث الفراش.

 
• Mughniy al-Muhtâj, V/61.
 

تنبيه: سكت المصنف عن القذف وقال البغوي: إن تيقن مع ذلك زناها قذفها ولاعن وإلا فلا يجوز؛ لجواز كون الولد من وطء شبهة، وطريقه كما قال الزركشي، أن يقول: هذا الولد ليس مني وإنما هو من غيري، وأطلق وجوب نفي الولد، ومحله إذا كان يلحقه ظاهرا.

 
• Bughyah al Mustarsyidîn, 235.

نكح حاملاً من الزنا فولدت كاملاً كان له أربعة أحوال ، إما منتف عن الزوج ظاهراً وباطناً من غير ملاعنة ، وهو المولود لدون ستة أشهر من إمكان الاجتماع بعد العقد أو لأكثر من أربع سنين من آخر إمكان الاجتماع ، وإما لاحق به وتثبت له الأحكام إرثاً وغيره ظاهراً ، ويلزمه نفيه بأن ولدته لأكثر من الستة وأقل من الأربع السنين ، وعلم الزوج أو غلب على ظنه أنه ليس منه بأن لم يطأ بعد العقد ولم تستدخل ماءه ، أو ولدت لدون ستة أشهر من وطئه ، أو لأكثر من أربع سنين منه ، أو لأكثر من ستة أشهر بعد استبرائه لها بحيضة وثم قرينة بزناها ، ويأثم حينئذ بترك النفي بل هو كبيرة ، وورد أن تركه كفر ، وإما لاحق به ظاهراً أيضاً ، لكن لا يلزمه نفيه إذا ظن أنه ليس منه بلا غلبة ، بأن استبرأها بعد الوطء وولدت به لأكثر من ستة أشهر بعده وثم ريبة بزناها ، إذ الاستبراء أمارة ظاهرة على أنه ليس منه لكن يندب تركه لأن الحامل قد تحيض ، وإما لاحق به ويحرم نفيه بل هو كبيرة ، وورد أنه كفر إن غلب على ظنه أنه منه ، أو استوى الأمران بأن ولدته لستة أشهر فأكثر إلى أربع سنين من وطئه ، ولم يستبرئها بعده أو استبرأها وولدت بعده بأقل من الستة ، بل يلحقه بحكم الفراش ، كما لو علم زناها واحتمل كون الحمل منه أو من الزنا ، ولا عبرة بريبة يجدها من غير قرينة ، فالحاصل أن المولود على فراش الزوج لاحق به مطلقاً إن أمكن كونه منه ، ولا ينتفي عنه إلا باللعان والنفي ، تارة يجب ، وتارة يحرم ، وتارة يجوز ، ولا عبرة بإقرار المرأة بالزنا ، وإن صدقها الزوج وظهرت أماراته.

Suasana menjelang pelaksanaan Bahtsul Masa`il tingkat PC NU Kab, Bandung yang diselenggarakan di PP. Al-Husaeni Ciparay Bandung.

17 COMMENTS

  1. sebagai seorang muslim/ marga NU yang berada di negara Indonesia tentunya kita tidak boleh melupakan begitu saja produk hukum yang di keluarkan oleh legislatif melalui perjuangan panjang tokoh2 ulama di Senayan walaupun masih banyak kekurangan dan timbul pro kontra.
    walau pun masih banyak kelemahan produk hukum yang dihasilkan oleh wakil kita di senayan, sebagai seorang muslim kita sudah sepantasnya apresiasi perjuangan mereka dengan mengambil rujukan dari produk legislasi tersebut.
    membahas perkawinan wanita hamil akibat zina perlu di perhatikan produk hukum walaupun produknya bukan undang-undang hanya inpres vide pasal 53 Kompilasi Hukum ISlam.

    • oke sepaham, kang admin perlu juga pertanyaan selanjutnya (d) yaitu ketika yang menikahi perempuan tersebut yang menghamilinya dan yang tidak menghamilinya bagimana relevansinya dengan perwalian dan kewarisan? mohon percerahannya karena banyak pertanyaan di masyarakat.

  2. Jazakallah atas tanggapannya, Pak Ahid!
    Tidak ada perbedaan signifikan antara KHI dgn Kitab-kitab yang kami gunakan sebagai referensi BM, karena memang KHI itu merujuk ke 38 kitab fiqh yang jadi referensi BM. Bahkan jawaban BM ini, penulis fikir jauh lebih hati-hati terutama dalam hal status anaknya.
    Hanya saja ada beberapa yang perlu dicermati lebih dalam dari redaksi KHI tsb.
    Dalam kasus Kawin Hamil Ps. 53 (1) Seorang wanita hamil di luar nikah, dapat dikwinkan dengan pria yang menghamilinya.
    Nah, dari frasa “dapat“, yang berarti tidak “ilzam“, maka ia dapat pula dikawinkan dgn pria lain bukan yg menghamilinya.
    Sedangkan dalam hal status anak, menurut KHI Ps. 99 (a), anak yang sah adalah anak yang dilahirkan dalam atau akibat perkawinan yang sah.
    Dari frasa “dalam“, dapat diartikan bahwa setiap anak yang lahir dalam perkawinan yang sah, walau itu hasil pembuahan di luar nikah, maka secara mutlak menjadi anak sah dari pasangan tersebut. Namun menurut jawaban BM, itu tidak mutlak, melainkan tergantung kapan anak tsb lahir, apa kurang dari 6 bulan pasca perkawinan, atau lebih?
    Demikian tanggapan dari kami….

  3. betul, untuk masalah wali dan warisnya tolong dilengkapi, karena itu semua merup[akan akibat dari keterangan diatas, baik menurut ulama yang membolehkan dengan syarat atau tanpa syarat, bahkan untuk ulama yang tidak membolehkan pun perlu lebih dijelaskan lagi,… trimks
    ini sangat membantu, …

  4. kebetulan, kita barusan diskusi dengan teman2 tentang itu ketika di membuka web terjawab pertanyaan tentang hukum pernikahannya, tapi untuk masalah wali dan warisnya belum, … terimks,…

    • Jazakallahu Pak Epul,
      Untuk masalah wali dan waris, karena hukum tersebut adalah turunan dari hukum nasab, maksudnya ada hak wali dan waris karena ada nasab, maka utnuk hukum wali dan waris hanya tinggal menyimpulkan saja dari keterangan tersebut.
      Detailnya,
      1. Jika A (wanita hamil) dikawinkan dengan B (pria yg menghamili), kemudian lahir anak, maka:
      a. Menurut KHI; Anak tersebut mutlak bernasab ke si A dan si B.
      b. Menurut Fiqh; Bila anak tersebut lahir sebelum 6 bln pasca perkawinan, maka anak tsb hanya bernasab ke si A saja, kecuali bila si B melakukan ikrar yg menyatakan bahwa anak tsb adalah anaknya, tapi bila lahirnya lebih dari 6 bln pasca perkawinan, maka anak tsb bernasab ke si A juga ke si B.
      2. Jika A (wanita hamil) dikawinkan dengan C (pria bukan yg menghamilinya), maka anak tsb mutlak hanya bernasab kepada si A.
      Kemudian setelah jelas nasabnya, maka yang berhak menjadi walinya adalah ayah nasabnya, kalau tidak bernasab kepada ayahnya (karena bukan anak kandung), maka yang menjadi wali adalah wali hakim. Demikian pula dengan hak warisnya.
      Mungkin itu penjelasan dari admin, bila masih dirasa kurang jelas, mangga kita lanjut diskusinya….Allahu A`lam…..

        • Sama-sama Kang, mungkin ini sebagian referensinya:
          1. Untuk Wali Nikah:
          a. Hasyiyah al Syarqawiy, II/226.
          b. KHI Ps. 23 (1)
          2. Untuk waris:
          a. Al Hawiy al Kabir, IX/218-219.
          b. HR. al Turmudziy «أيُّما رجل عاهر بحرة أو أمة، فالولد ولد الزنا، لا يرث ولايورث»
          c. KHI Ps.171 (c)

  5. Assalaamu’alaikum wr.wb,,,,
    untuk jawaban tentang ilhaqnya anak hasil zina,,saya tidak sefaham,,karena hukumnya mutlak tidak bisa di ilhakkan kepada yg menghamilinya,,baik itu di nikahi sebelum 6 bulan atau yg lainnya,,, dan ini ada kesalahan pemahaman dalil kalau menurut saya,,, kalau tidak salah,,saya juga ikutan bahtsul masaail masalah ini lho,,,,, tapi kok jawabannya jadi berbeda ya? ‘afwan,, mohon dikaji ulang dalilnya

    • Wa`alakukussalam,
      Terima kasih atas komentarnya Kang Ceng Anoom, untuk referensinya berikut saya kutipkan:


      يحل بالاتفاق للزاني أن يتزوج بالزانية التي زنى بها
      ، فإن جاءت بولد بعد مضي ستة أشهر من وقت العقد عليها، ثبت نسبه منه، وإن جاءت به لأقل من ستة أشهر من وقت العقد لا يثبت نسبه منه

      Fiqhul Islamiy wa Adillatuh, IX/6648.
      Kami rasa sudah jelas sekali ibaratnya. Kalau m’khadz yg digunakannya yg dr Bughyah memang multi interpretable, walau mnrt saya sdh cukup jelas sebagaimana digunakan pula sebagai jawaban atas masail yg sama dgn jawaban yg sama oleh tim bhtsul masail lain dari NU Jatim juga Lajnah Muraja`ah Fiqhiyah PP. Sidogiri, mereka semua menggunakan ibarat dr Bughyah itu.
      Kemudian kami menambahkan dgn ibarat dr Fiqhul Islamiy yg lebih jelas dan clear dr anasir multiinterpretable.
      Wassalm

    • Kemudian ttg “kesalah pahaman dalil” yang dimaksud kang ceng, silahkan jelaskan di sini, barangkali bisa kita diskusikan selanjutnya…tafadldlal…!

      • coba di lihat didalam kitab bughiyyah bab Ta’ziir,, dan didalam kitab Atsnal Mathoolib bab Miirootsu waladizzina,, dan juga dalam kitab fiqih lainnya,,, sebaiknya kita lihat dulu tingkatan qoul terlebih dahulu,, apakah dalam Fiqhul Islam sudah Mu’tamad atau tidak??? kalau untuk yg menghamili atau yg menzinahinya walaupu di nikahi tetap tidak bisa ilhaq walaupun ada jeda waktu seperti ‘ibarat di atas,, kecuali untuk yg tidak menghamilinya,,,, sebaiknya kita bertemu kembali kang,,untuk membahas sampai tuntas,,,, ‘afwan

        • Tolong di tulis mantuqnya kang, terutama yg dr Asnal Mathalib. Mengenai kapabilitas penukilan Prof. Dr. Wahbah al Zuhayli, saya pikir tidak perlu diragukan lagi, beliau itu pakar fiqh muqaran, penyimpulannya sudah tepat menrt saya, beliau sebutkan bahwa itu telah disepakati oleh para ulama madzhab, dan diforum2 bahtsul masail yg lain juga sama kesimpulannya seperti itu. Justeru saya merasa heran, kenapa kepada org yg tidak menghamilinya bisa ada nasab jika nikah, tapi kepada yg menghamilinya tidak? Jadi apa alasannya, orang yg menghamili jika kawin dengan yg dihamilinya tidak bisa ada nasab ke anaknya meski ia lahir lebih dr 6 bln pasca perkawinan?
          Bahkan kalau mnrt ibn Sirrin, jika saja yg menghamilinya itu telah dihukum sesuai syariat Islam (had zina), maka tanpa nikah pun, anak hasil zina tsb dinasabkan ke yg menghamili tsb.
          Ini sy kutipkan lagi pendapat Imam Hanafiy ttg perkawinan yng menghamili dr kitab Al-Mughni nya Ibn Qudamah (VI/345):

          وروى علي بن عاصم، عن أبي حنيفة، أنه قال: لا أرى بأسا إذا زنى الرجل بالمرأة فحملت منه، أن يتزوجها مع حملها، ويستر عليها، والولد ولد له.

        • Aya tambihan deui kang:

          (سُئِلَ) فِي الزَّانِي إذَا أَرَادَ أَنْ يَنْكِحَ مَزْنِيَّتَهُ الْحُبْلَى مِنْهُ هَلْ يَصِحُّ؟
          (الْجَوَابُ) : نَعَمْ وَيَحِلُّ لَهُ وَطْؤُهَا وَالْوَلَدُ لَهُ وَتَلْزَمُهُ النَّفَقَةُ. (أَقُولُ) لَيْسَ هَذَا عَلَى إطْلَاقِهِ بَلْ هُوَ فِيمَا إذَا وَلَدَتْ لِسِتَّةِ أَشْهُرٍ فَأَكْثَرَ…اهـ.
          (العقود الدرية في تنقيح الفتاوى الحامدية, 1\83)

          وقال فقيه الكوفة إبراهيم النخعي: ” يلحق الولد بالزاني بأحد أمرين؛ إن أقيم عليه الحد، أو ملك الموطوءة بالزواج أو ملك اليمين “.

          • kieu we kang,,supados langkung jelas berbicara hukumna,,mendingan atur jadwal,, urang musyawarah,, anu teu mu’tamad mah tong di lebetkeun atuh kang

          • Dupi nu dimaksad teu mu`taamd ku akang teh kumaha? Kauningan tina hasil bahsul masail PWNU Jawa Timur, Pst. Lirboyo, Pst. Al-Anwar Sarang Rembang, Pst. Sidogiri, sadayana kesimpulanna sapertos kitu Kang. Saupami eta dinilai teu mu`tamad, geuning buktosna kitu. Tegas oge disebatkeun ku Prof. Dr. Wahbah al Zuhayli hal eta teh “bil ittifaq“, kamafhum ku sadayana mun dina kitab muqaran aya terma “ittifaq“, hartosna hal eta disepakati ku para ulama madzhab. Saupami hal eta teu leres atanapi lepat, pasti eta kitab bakal seueur nu ngritik, kang.
            Matak abdi naros kunaon alasanna nu ngahamilan teu tiasa narima nasab anak biologisna sanaos lahirna 6 bln pasca nikah? Sementawis ari kanu sanes nu teu terang nanaon make tiasa narima nasab, padahal jelas eta anak sanes darah dagingna.
            Jadwal rutin sabtu di sekretariat, mung abdi biasana dina sabtu kadua sareng kaopat. Bilih bade kana imel tiasa supados langkung bebas, kintunkeun ka alamat:
            yuniardiharry@gmail.com

  6. Kanggo Kang Laskar Sarung, simkuring parantos ngintun email ka alamat pangersa.
    Hatur nuhun kanggo responna,
    Wassalam,

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here