Sekretaris Pergunu Jabar H Saepuloh bersama Sekretaris PWNU Jabar H ImronBandung, ditemui disela-sela dialog interaktif tentang “Aktualisasi Peran Pesantren Dalam Peradaban Modern” di Kantor PWNU Jawa Barat (24/10/2015), Sekretaris Pergunu Jabar H. Saepuloh, M.Pd., menyatakan bahwa saat ini tidak sedikit pesantren yang sudah terkontaminasi budaya barat sehingga peranan pesantren sudah mulai terdegradasi.

“Sejatinya Pesantren bukan hanya tempat para santri maupun masyarakat sekitar untuk belajar dan mendalami ilmu agama kepada Kyai, melainkan Pesantren menjadi rujukan bagi masyarakat baik bidang keagamaan, pendidikan, sosial, dan bahkan politik. Tetapi pada kenyataannya saat ini peranan Pesantren tersebut sudah mulai pudar” tutur H. Saepuloh.
Lebih lanjut H. Saepuloh mengatakan bahwa pada masa lampau Pesantren berperan dalam pembentukan kultur budaya baru yang merupakan harmonisasi antara budaya lokal dengan syariat islam. Sehingga dalam perjalanannya Pesantren sebagai rujukan dan pusat pengembangan dakwah dapat diterima dengan mudah oleh masyarkat. Sekarang di era globalisasi, peranan pesantren sudah mulai terkikis oleh peranan teknologi.
“Dulu guru ngaji, sebelum pengajian suka muthola’ah (buka kitab kuning) untuk mencari bahan pengajiaannya. Sekarang bukannya baca kitab kuning yang dibuka tapi google lah yang menjadi rujukannnya” tutur H. Saepuloh.
Setelah pengakuan dari pemerintah akan eksistensi santri dalam perjuangan kemerdekaan NKRI dengan ditetapkannya tanggal 22 oktober sebagai Hari Santri Nasional, maka sejatinya Pesantren harus dapat berbenah diri untuk dapat menjaga keunikannya sebagai rujukan masyarakat dan lembaga pendidikan islam tradisional yang berorientasi pada tafaqquh fiddiin dan membentuk santri yang berkepribadian, bermanfaat dan berkhlak mulia serta menjaga keutuhan NKRI.

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.