Peran Ibu dalam Keluarga Menurut Islam

794

Ahmad Ali Nurdin, Ph.D*

Keluarga merupakan salah satu isu penting dalam Islam. Bukankah suatu masyarakat terbentuk oleh sekelompok keluarga. Jika keluarga sebagai pembentuk masyarakat itu sehat dan kuat maka suatu negara akan sehat dan kuat. Sebaliknya jika keluarganya sakit dan lemah, maka suatu masyarakat juga akan lemah dan sakit. Dan dalam Islam, keluarga adalah pusat pembentuk masyarakat dan peradaban Islam.

Di dunia Barat, yang disebut dengan keluarga adalah ibu, bapak dan anak atau bahkan single parent, karena mereka memandang keluarga sebagai nuclear family. Sedangkan masyarakat Islam memandang keluarga dalam pengertian yang lebih luas (extended family) bahkan tiga atau empat generasi masih dianggap satu keluarga.

Di dalam bahasa Arab kata “keluarga” disebut ahl atau ahila yang berarti keluarga secara menyeluruh termasuk kakek, nenek, paman, bibi dan keponakan. Dalam pengertian yang lebih luas, keluarga dalam Islam merupakan satu kesatuan unit yang besar yang disebut ummah atau komunitas Islam.

Islam memandang keluarga sebagai faktor utama dalam komunitas Muslim. Kemajuan peradaban masyarakat Islam akan lahir dari sebuah keluarga yang cemerlang. Jika sebuah keluarga gagal mempersiapkan generasi muda yang cemerlang maka umat Islam secara keseluruhan akan mundur.

Untuk membentuk ummah yang kuat, Fatima Heeren dalam bukunya Women in Islam (1993), menyebutkan empat syarat dalam membangun keluarga Muslim.

Pertama, Muslim harus menjadikan keluarga sebagai tempat utama pembentukan generasi yang kuat dengan cara menyediakan keluarga sebagai tempat yang aman, sehat dan nyaman bagi interaksi antara orang tua dan anak.

Kedua, kehidupan berkeluarga harus dijadikan sarana untuk menjaga nafsu seksual laki-laki dan perempuan.

Ketiga, Muslim harus menjadikan keluarga sebagai tempat pertama dalam menanamkan nilai-nilai kemanusiaaan seperti cinta dan kasih sayang.

Keempat, keluarga harus dijadikan sebagai tempat bagi anggotanya untuk berlindung dan tempat memecahkan segala permasalahan yang dihadapi anggotanya.

 Perhatian Islam terhadap institusi keluarga dapat dilihat dari aturan yang komprehensif yang diberikan oleh Al-Quran bahkan sejak dua insan belum menikah sebagai syarat membangun keluarga. Al-Quran mengatur bagaimana seharusnya hubungan antara seorang laki-laki dan perempuan sebelum dan sesudah menikah.

Pertama, Al-Quran menekankan bahwa adanya pasangan laki-laki dan perempuan adalah keharusan untuk saling melengkapi (QS: An-Nisa:1)

Kedua, Al-Quran menjelaskan bahwa kehidupan rumah tangga yang baik adalah rumah tangga yang menyatu antara suami dan isteri bagaikan baju yang menutupi badan (QS: Al-Baqarah: 187).

Islam memandang pernikahan sebagai sarana untuk membangun rumah tangga yang sakinah bagi suami-isteri. Menurut Jawad dalam bukunya The Rights of Women in Islam: An Authentic Approach (1998), pernikahan dalam Islam harus dipandang sebagai sarana dan kesempatan untuk mengembangkan etika moral masing-masing karena suami-isteri mempunyai tanggungjawab yang bertambah yang harus dijaga oleh kedua pasangan itu.

Al-Quran juga menekankan bahwa bersatunya pasangan suami isteri adalah tanda kebesaran Allah dan rahmat-Nya. Karenanya, pernikahan harus dijadikan sarana untuk menguatkan cinta dan kasih sayang antara suami isteri (QS: Arrum:21).

Jelaslah bahwa keluarga dalam Islam bukan bersifat patriarchal (laki-laki lebih dominan) juga bukan matriarchal (perempuan lebih dominan). Keluarga dalam Islam harus berdasarkan prinsip saling memahami, melengkapi dan musyawarah.

Peran Ibu Dalam Keluarga

Untuk menghasilkan generasi yang cemerlang, ibu mempunyai peranan penting dalam keluarga. Dalam Islam, kedudukan ibu mempunyai tempat yang penting. Al-Quran dan hadits menyebutkan kedudukan ibu bahkan melebihi kedudukan ayah.

Dalam sabdanya Rasulullah memerintahkan seorang anak untuk taat dan patuh kepada orangtuanya terutama ibu. Nabi juga bersabda bahwa surga ada di telapak kaki ibu dan tanpa ampunan dan restu dari kedua orang tua, susah bagi seorang hamba untuk masuk surga.

Adalah sangat mudah untuk difahami mengapa Islam mempunyai perhatian yang besar akan peran seorang ibu. Ibu mempunyai banyak peran dalam keluarga, baik itu sebagai isteri bagi suaminya, ibu dan juga pendidik dari anak-anaknya

Amina Wadud dalam bukunya Quran and Women: Rereading the Sacred Text from a Woman’s Perspective (1999) menyebutkan bahwa pada umumnya sosok ibu adalah bertanggungjawab mendidik anak-anak. Karenanya, nasib generasi yang akan datang apakah menjadi generasi yang cemerlang atau tidak berada di tangan seorang ibu.

Ibu secara natural memang diberkati kemampuan yang sangat cocok untuk membesarkan, merawat, mendidik dan mengajar anak-anak. Ibu dipandang sebagai tiang negara dalam menjaga moralitas generasi penerus. Adalah seorang ibu yang mendidik dengan benar anak-anaknya yang melahirkan nilai kemanusiaan dan membangun suatu bangsa. Ibu mempunyai kedudukan khusus dalam masyarakat karena mendidik anak adalah tugas yang sangat berat yang banyak tantangannya.

Karena sosok seorang ibu sangatlah penting dalam keluarga, maka muslimah di zaman sekarang harus diberi kesempatan yang luas dalam masyarakat. Wanita harus diberi kesempatan yang sama dalam segala hal terutama dalam kesempatan memperoleh pendidikan.

Bagaimana mungkin seorang perempuan bisa menjadi ibu yang baik yang mampu membimbing, membesarkan dan mendidik anak-anaknya kalau dia sendiri kurang ilmu dan pengetahuan. Karenanya tak heran kalau kewajiban mencari ilmu dalam Islam adalah kewajiban bagi semua Muslim baik laki-laki maupun perempuan sebagaimana disabdakan Rasulullah.

 Akhirnya, jika wanita dalam Islam dituntut mempunyai peranan besar dalam segala hal terutama mempersiapkan generasi penerus, mengapa dalam kenyataannya dibeberapa negara Muslim, wanita masih gagal atau masih kurang berperan dalam membangun masyarakat Muslim yang tangguh, bahkan dalam beberapa kasus masih bersifat imperior.

 Jawabannya barangkali adalah karena masih banyak lelaki Muslim yang belum paham akan bagaimana seharusnya hubungan laki-laki dan wanita dalam Islam. Atau bisa jadi laki-laki Muslim faham bagaimana hubungan wanita dan laki-laki dalam Islam yang sebenarnya, hanya saja adat istiadat masyarakatnya masih belum memungkinkan untuk mempraktekan hal tersebut. Wallahu A’lam.

 ¨ Dosen Agama dan Politik, Fakultas Ushuluddin dan Pasca Sarjana, UIN Sunan Gunung Djati, Bandung, Wakil Ketua Pergunu, Kab. Bandung.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here