Pemerintah Mau Menaikkan Harga BBM, Rakyat Bergerak!

101

Salah satu yang mempengaruhi harga kebutuhan di Indonesia adalah bahan bakar minyak (BBM). Jika BBM naik, ongkos angkutan kota dan ojeg akan naik. Itu hal yang pasti dan masih bisa dimengerti karena mobil dan motor menggunakan bensin untuk mengoperasikannya, tanpa bensin tidak akan bisa maju. Tapi, kalau tukang beca dan keretek, yang jelas-jelas beca dan kudanya tidak menggunakan BBM menaikan ongkosnya agak bingung juga.

Ketika Abang Beca dan si Emang Kusir keretek ditanya kenapa ongkosnya naik Padahal beca dan kudanya tidak minum bensin, dengan lantang mereka akan menjawab habis harga BBM naik! Jadi harga rumput untuk makan kuda naik kata Mang Kusir, beras, tahu dan tempe juga naik kata Abang Becak. Harga BBM juga berpengaruh terhadap harga gehu, bala-bala, parkir bahkan ke toilet.

Betapa dahsyatnya pengaruh harga BBM di Negara yang terkenal mempunyai tanah subur, sumber kekayaan bumi berlimpah ini. Mahasiswa dan pekerjapun sejenak meninggalkan kewajiban mereka belajar di ruang kuliah dan di tempat kerjanya masing-masing untuk sekedar mengingatkan sang penguasa bahwa kebijakan menaikan BBM itu menyengsarakan rakyat. Mahasiswa dan masyarakat harus bentrok dengan aparat keamanan yang tugasnya mengayomi masyarakat demi masalah kenaikan BBM ini.

Di berbagai daerah masyarakat turun ke jalan untuk meneriakan sikap yang sama “Jangan naikan BBM”, “Kenaikan BBM menyengsarakan rakyat”. Macam-macam sikap mereka, ada yang datang ke Gedung DPRD kabupaten/kota masing-masing untuk menitipkan aspirasinya kepada wakil rakyat, ada juga yang menemui pimpinan daerahnya masing-masing. Malahan di Medan datangnya ke Airport Polonia, entah maksudnya mau lihat kapal, apa mau jemput saudaranya? Tapi yang jelas pesawat banyak yang batal mendarat dan terbang. Ketika para pendemo ditanya kenapa berdemo ke Airport, mereka menjawab: “Biar dunia tahu bahwa orang Medan tidak mau BBM naik”.

Jika kita tanya orang-orang sekeliling kita tentang kenaikan BBM, mereka sepakat dan serentak menjawab tidak! Ya, kalau kita lihat realita di masyarakat, banyak masyarakat yang sudah engap-engapan menghadapi kehidupan yang serba mahal dan serba sulit ini. Untuk mendapatkan uang sejumlah Rp. 15.000-, saja sehari banyak yang kesulitan sementara uang sejumlah itu untuk makan sehari saja tidak cukup apalagi untuk biaya anak-anaknya sekolah. Dan masyarakat seperti itu semakin bertambah. Jadi, bagaimana pemerintah bicara mau mengentaskan kemiskinan sementara kebijakannya melahirkan kemiskinan-kemiskinan baru.

Perut yang lapar membuat rakyat yang lemah imannya melakukan tindakan kejahatan yang merugikan dirinya dan masyarakatnya. Makanya, tidak heran pencurian dan perampokan tiap hari menghiasi berita-berita surat kabar dan TV. Sedangkan rakyat yang masih teguh berpegang kepada agama menahan lapar menunggu ajal menjemput.

Apakah untuk menjalankan roda pemerintahan ini tidak ada jalan lain, selain menaikan BBM? Harusnya ada. Nampaknya, pengelola Negara ini harus segera memperbaiki kebijakannya di berbagai sektor. Ladang minyak kita banyak dan menghasilkan minyak lumayan tapi kenapa minyak mentah kita tidak diolah di dalam negeri malah di jual ke luar negeri, setelah diolah di luar negeri dibeli oleh Negara kita tentu saja dengan harga yang lebih mahal. Apakah tidak ada orang Indonesia yang bisa mengerjakan itu? Tidak, sebab banyak orang pintar Indonesia bekerja di luar negeri dalam bidang pengolahan minyak. Apakah pemerintah tidak punya uang untuk mendirikan pabrik pengolahan minyak? Nampaknya tidak juga, karena banyak uang yang dipakai untuk membiayai dan membangun hal-hal yang tidak lebih penting dari mendirikan pabrik pengolahan minyak

Sumber kekayaan mineral kita banyak dikelola oleh asing sehingga hasil dan keuntungannya banyak dikirim ke Negara asal mereka. Hanya sebagian kecil untuk Negara kita, dari sebagian kecil itu yang dirasakan rakyat Indonesia secara langsung tidak banyak juga. Dan perjanjian kerja sama yang merugikan ini akan terus berlangsung dalam waktu lama. Jika ini terus berlangsung maka masih lama rakyat Indonesia merasakan kekayaan milik kita sendiri. Kalau ingin cepat, ya pemerintah harus meninjau ulang dan merubah perjanjian kerjasama yang merugikan itu. Tidak perlu takut! Iran, Venezuela, Kuba dan Negara jiran Malaysia bisa, kitapun harus bisa. Rakyat Indonesia akan membantu pemerintah jika kebijakannya mensejahterakan rakyat.

(Derost)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here