Pelatihan Kepemimpinan Dasar Ansor Kertasari

996
PKD Ansor Kertasari
PKD Ansor Kertasari
Pengenalan tentang organisasi adalah suatu yang harus dilakukan oleh aktivis organisasi. Sebab, bagaimana ia akan bangga dan bisa membawa organisasi yang diikutinya maju jika tidak mengenal seperti apa organisasi yang diikutinya. Berkaitan dengan itulah maka Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Bandung pada hari Selasa 17 September 2013 melalui Gerakan Pemuda Ansor Kertasari melakukan Pelatihan Kepemimpinan Dasar bagi kadernya di Desa Cikembang.

Pelatihan yang diikuti oleh sekitar 30 orang itu berjalan dengan lancar. Peserta mengikutinya dengan khidmah dan antusias menerima materi dari beberapa nara sumber.

Dalam sambutannya, Ketua Panitia menyatakan bahwa pelatihan ini diselenggarakan karena melihat bahwa gerakan Nahdlatul Ulama dari hari ke hari terlihat melemah, khususnya di Kertasari, masing-masing tokoh berjalan sendiri dalam menjalankan dan  mempertahankan tradisi Ahlussunah wal jama’ah. Satu organisasi yang tidak dikelola dengan baik dan sungguh-sungguh maka organisasi itu akan stagnan dan mengarah kepada kemunduran. Oleh karena itu,  perlu dicari solusi agar gerakan pemuda Ansor bisa tetap menjadi benteng Nahdlatul Ulama. Pelatihan Kader Dasar ini dianggap sebagai salah satu solusi yang diambil oleh GP Ansor Kertasari.

PKD Ansor Kertasari
PKD Ansor Kertasari

Sementara itu Ketua PAC Gerakan Pemuda Ansor Kertasari dalam sambutannya menyatakan bahwa rasa khawatir dan kecemasan melihat kondisi masyarakat Nahdlatul Ulama Kertasari menimbulkan rasa semangat menggebu di dada kader Ansor Kertasari untuk tetap mengawal pelaksanaan tradisi Islam Ahlussunah wal Jama’ah. Diawali dengan Pelatihan Kader Dasar (PKD) tingkat Kecamatan untuk konsolidasi dan mencetak Trainer yang akan melakukan pelatihan di tingkat ranting.  PKD dilanjutkan ke Desa Tarumajaya dan hari ini di Desa Cikembang selanjutnya menyusul Desa Sukapura, Cihawuk dan Resmitingal. Menurut Ketua GP Ansor Kertasari ada beberapa Program dari pusat yang sebenarnya bisa diakses oleh pengurus Ansor di Kecamatan dan Desa. Oleh karena itu, mohon pembinaan dan bimbingan dari Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Bandung.

Dalam kesempatan ini Wakil Rois MWCNU Kertasari memberikan sambutan bahwa kaderisasi ini perlu diteruskan, ditingkatkan dan dibesar-besarkan agar stakeholders Kabupaten Bandung tahu bahwa NU ini besar dan perlu diperhatikan karena selama ini perlakuan terhadap organisasi NU tidak adil. Besarnya bantuan untuk NU dan Ormas lain yang kecil disamakan. Banyak pengurus Ormas lain lahir dari NU karena tidak tahu ke NU an. Jangan ragu thd NU. Sementara sumbangan suara politik dalam berbagai “hajat” politik NU memberikan kontribusi besar. Warga NU harus tetap membiasakan mengamalkan amalah tradisi Ahlussunah wal Jama’ah sebagai warisan para Walliyullah.

Warga Nahdlatul Ulama di Kertasari ini lebih dari 80%  tapi kalau dibiarkan akan  tergerus pindah ke Ormas lain yang melakukan pembinaan keorganisasian secara intensif. Warga Nahdlatul Ulama akan acak-cakan dan akan kalah bersaing dengan kader ormas lain jika tidak diurus dengan baik. Oleh karena itu,  perlu dilakukan regenerasi yang baik dan simultan dengan cara melaksanakan kaderisasi organisasi secara sitimatis dan terus menerus.

PKD Ansor Kertasari
PKD Ansor Kertasari

Dalam kegiatan ini PCNU Kabupaten Bandung diwakili oleh Wakil Ketua H. Imron Rosadi, M.Pd. dan Sekretaris H. Usep Dedi Rostandi, MA. Dalam sambutannya, H. Usep Dedi Rostandi, MA. mengucapkan terimakasih kepada segenap pihak yang telah membantu dalam penyelenggaraan  kegiatan ini. Pengenalan organisasi kepada kadernya harus dilakukan sejak dini. Oleh karena itu, PCNU Kab. Bandung telah melakukan kaderisasi Training of Trainer (ToT) sebanyak 4 kali, mulai dari ToT tingkat Kabupaten dengan menghadirkan perwakilan dari tiap Majlis Wakil Cabang (MWC), banom, lembaga dan lajnah NU sebanyak 40 orang yang dilaksanakan di Ponpes Al-Husaeni Ciparay. Dilanjutkan dengan kaderisasi Training of Trainer di DP 4 dengan menghadirkan perwakilan dari setiap ranting yang berada di Kecamatan Cicalengka, Nagreg, Rancaekek dan Cikancung. Pelaksanaannya di Mesjid Bintang Timur Cikancung.

Setelah itu kaderisasi dilaksanakan di DP 7 dengan menghadirkan perwakilan ranting yang ada di Kecamatan Banjaran, Cimaung, Pangalengan, Cangkuang dan Arjasari yang dilaksanakan di SMP Al-Mawadi Desa Jagabaya Kecamatan Cimaung. Dan sebelum Ramadhan Pelaksanaan kaderisasi di DP 1 dengan menghadirkan kader-kader dari ranting yang berada di Kecamatan Rancabali, Ciwidey, Pasirjambu, Soreang dan Kutawaringin.

Dan Training of Trainer ini akan terus dilanjutkan di DP 2, DP 3, DP 5 dan DP 6. Pelatihan ini dilaksanakan agar tercipta kader-kader militan yang siap dipanggil kapan saja untuk mempertahankan dan menyebarkan tradisi Islam Ahlussunah wal Jama’ah, warisan Waliyullah.

Kondisi NU masa kini, di Kabupaten Bandung, masih memerlukan kerja keras para pengurus NU mulai dari tingkat Cabang sampai tingkat Ranting untuk menggerakan roda organisasi  agar bisa seperti NU di Jawa Timur yang bisa mewarnai kebijakan pemerintahan untuk kemajuan dan kesejahteraan warga NU. Di Jawa Timur, masyarakat begitu antusias mendaftarkan diri untuk mendapatkan kartu anggota NU, sementara di Kabupaten Bandung masih banyak pengurus NU yang belum mempunyai kartu anggota. Hal ini membuktikan menjadi warga NU bukan satu keperluan dan kebanggaan bagi masyarakat Kabupaten Bandung. Mudah-mudahan dengan Pelatihan Kepemimpinan Dasar ini akan tercipta kader-kader NU yang bisa menyebarkan “virus” NU sampai ke pelosok dan pinggiran Kabupaten Bandung dan akhirnya bisa memagari “kebun NU” yang subur, hijau, teduh, yang menarik orang lewat dan mengundang untuk singgah dan tinggal di dalamnya.

PKD Ansor Kertasari
PKD Ansor Kertasari

Sebagai bekal untuk para peserta pelatihan H. Imron Rosadi, M.Pd. memberikan informasi tentang gerakan transnasional yang mulai terasa menggerogoti generasi muda NU, sehingga banyak anak muda NU yang terkecoh dengan gerakan itu. Gerakan yang mencoba menyebarkan tradisi Islam yang sebenarnya tidak cocok dengan kultur budaya Nusantara itu menggunakan berbagai cara dalam menyebarkan fahamnya. Untuk itu, pengurus NU dan warga harus sering berkomunikasi dan berkoordinasi secara rutin dalam mengenal dan menangkal gerakan itu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here