MUTU MADRASAH MASIH RENDAH

347

Lembaga pendidikan formal di Indonesia yang berada di bawah naungan Kementerian Agama adalah Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah. Madrasah yang identik dengan pendidikan  akhlak dan agama dijadikan harapan oleh banyak orang tua agar anaknya bisa menjadi anak yang shalih shalihat berbakti kepada orang tua, berguna bagi bangsa dan negara.

Nahdlatul Ulama mendidik kadernya di Pesantren dan madrasah, sehingga saat mereka menduduki posisi di masyarakat dan negara menjadi suri tauladan bagi yang dipimpinnya. Mengeluarkan kebijakan sesuai dengan ajaran agama. Madrasah memberikan mereka bekal tentang ajaran Ahlussunah wal Jama’ah (Aswaja). Dengan bekal itu, kader NU bisa menjalani kehidupan dunia dengan benar dan baik untuk bekal menuju akhirat.

Kondisi madrasah yang pernah menjadi “kawah cadra dimuka”nya Nahdlatul Ulama dalam menghasilkan kader yang mumpuni kini sangat mengkhawatirkan. Kasi Mapenda Kamenag Kabupaten Bandung Drs. H. Cece Hidayat, M.Si., dalam acara kajian muda Nahdlatul Ulama PCNU  Kabupaten Bandung yang diselenggarakan di Soreang pada Sabtu, 17 Nopember 2012 menyoroti kondisi ini. Kasi Mapenda menyatakan bahwa madrasah yang berada di Kab. Bandung mutunya masih rendah baik manajemen maupun leadershipnya. Hal ini, membuat madrasah sebagai lembaga pendidikan kehilangan kepercayaan dari orang tua untuk menyekolahkan anaknya ke madrasah.

Rendahnya mutu madrasah saat ini terlihat dari banyaknya orang tua yang memilih menyekolahkan anaknya ke lembaga pendidikan umum dari pada ke madrasah. Siswa di sekolah umum lebih banyak jumlahnya dibanding madrasah. Masalah ini tidak boleh dibiarkan, kata Kasi Mapenda. Untuk itu, Kamenag Kab. Bandung melalui Mapenda mencoba mengembalikan kepercayaan orang tua ke madrasah. Dengan membina manajemen dan SDM madrasah-madrasah yang ada di Kabupaten Bandung.

Beberapa program yang sudah dicanangkan oleh Drs. H. Cece Hidayat, M.Si. sebagai Kasi Mapenda Kamenag Kab. Bandung, yang baru menjabat beberapa minggu ini, antara lain;Penataan  dan  penguatan kelembagaan melalui workshop pengembangan EDS dan  kurikulum, Workshop manajemen dan Kepemimpinan Kepala Madrasah/RA menuju manajemen kinerja unggul. Deseminasi pengelolaan Madrasah bagi Ketua Yayasan, komite dan Kepala madrasah, Menggalakan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis madrasah, dan TQM; Penyiapan aplikasi (IT) untuk manajemen keuangan; Memaksimalkan supervisi dan monev Peningkatan alokasi kuota akreditas madrasah.

Sekretaris PCNU Kab. Bandung H. Usep Dedi Rostandi, MA. yang menjadi Nara sumber pada kegiatan itu menyoroti tentang tidak adanya mata pelajaran Aswaja di sekolah-sekolah milik Nahdliyin. Sehingga generasi muda NU tidak tahu apa itu Nahdlatul Ulama, siapa tokoh dibalik kelahiran NU, apa tujuan ulama melahirkan NU? Madrasah yang seharusnya menghasilkan kader NU yang berpotensi malah menghasilkan kader yang tidak mengenal identitas dirinya sendiri sebagai kader NU.  Kekurang percayaan diri untuk mengaku sebagai NU mulai melanda putra-putra tokoh NU. Sementara serangan wahabi terus menggeroti tradisi ajaran Ahlussunah wal Jama’ah yang dititipkan ke kita untuk dijaga dan dipelihara. Dana luar negeri masuk ke lembaga pendidikan abu-abu, antara NU dan bukan NU, mereka mencuci otak generasi muda NU untuk melupakan tradisi NU bahkan menyebutnya sebagai bid’ah, tidak ada rujukannya di Al-Qur’an dan Hadits.

Berkenaan dengan hal itu, Kasi Mapenda dan Sekretaris PCNU Kabupaten Bandung menghimbau kepada pengelola lembaga pendidikan agar menyisipkan pelajaran mulok yang berisi ke-Aswaja-an seminggu dua jam pelajaran. PCNU Kabupaten Bandung bekerja sama dengan PW. LP. Ma’arif Jawa Barat telah menyiapkan materi ke-Aswaja-an untuk tingkat SLTP. PCNU juga telah melakukan komunikasi dengan penerbit buku itu untuk memberikan sosialisasi dan pelatihan kepada para calon guru mata pelajaran mulok ke-Aswaja-an itu.

Lembaga pendidikan kita jangan kalah oleh kekuatan orang lain yang ingin menghancurkan kekuatan Aswaja. Rebut posisi pemegang kebijakan dan tingkatkan kualitas lembaga pendidikan yang berada di bawah lingkungan warga Nahdliyyin. Drs. H. Cece Hidayat, M.Si. akan  membuka peluang sebesar-besarnya untuk kebesaran lembaga pendidikan NU asal syarat rukunnya terpenuhi secara administrasi. Kasi Mapenda menambahkan, kita harus mengubah mindset masyarakat, yang semula menganggap SMP lebih bermutu dari pada Tsanawiyah menjadi Tsanawiyah lebih bermutu dari pada SMP.

Pada akhir kegiatan dilakukan tanya jawab antara peserta dan nara sumber. Peserta yang hadir sekitar 50 orang lebih mempertanyakan berbagai hal yang berkaitan dengan eksistensi madrasah yang dimiliki warga Nahdliyyin dan kebijakan yang dilakukan Kamenag Kabupaten Bandung selama ini, yang terkadang dianggap kurang berpihak kepada pengelola. Kasi Mapenda dengan jelas dan lugas menjawab pertanyaan yang disampaikan oleh para peserta. Sehingga peserta merasa puas dengan jawabannya. Akhirnya, kegiatan kajian bulanan PCNU Kabupaten Bandung yang dimulai pada jam 10.15 ditutup jam 14.00 dengan menanamkan keyakinan di dada para peserta bahwa NU di Kabupaten Bandung bisa besar dan kuat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here