Mujtahid Kesiangan, Mengelilingi Kita!

147

فَأَمَّا الزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَاءً وَأَمَّا مَا يَنْفَعُ النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِي اْلأَرْضِ!

Adapun buih, ia akan hilang sebagai sesuatu yang tak berharga; sedangkan yang bermanfaat bagi manusia, maka ia akan abadi di muka bumi“.[1]

 الجَاهِلُ لاَ يَعلَمُ رُتْبَةَ نَفْسِهِ، فَكَيْفَ يَعْرِفُ رُتْبَةَ غَيْرِهِ؟

 “Orang bodoh yang tidak sadar akan kualitas intelektualnya, bagaimana ia dapat mengetahui kualitas intelektual orang lain?”.[2]

Akhir-akhir ini marak bermunculan sarjana “islamic studies” yang mengklaim dirinya sebagai mujtahid mujaddid (pembaharu) dengan misi merekonstruksi bangunan ritual amaliah yang kadung baku dan telah menjadi sebuah naluri ibadah bagi mayoritas umat Islam. Dengan bekal kemampuan membaca teks arabik dan seperangkat kitab rijâl al-hadîts,[3] mereka menelisik hadis-hadis yang dipakai landasan beramal oleh orang lain yang berbeda amaliah dengan kelompoknya. Saking sibuknya, sampai-sampai mereka lupa bahwa di antara hadis-hadis yang biasa dipakai oleh kelompoknya sendiri, juga tidak lepas dari cacat dan kekurangan.

Setelah selesai melakukan penelusuran rawi, kemudian membuat rumusan kesimpulan sendiri, lantas dengan gagahnya mereka berseru: Hadis-hadis ini daif, karena di antara rawinya ada yang mudallis atau mukhtalith atau munkar dan sebagainya, jadi amaliah yang berlandaskan hadis tersebut adalah bukan sunah Nabi!

Bahkan tidak jarang secara tegas mereka menilainya sebagai amaliah bidah. Padahal di sisi lain, mereka memiliki pemahaman skriptural bahwa setiap bidah adalah sesat, dan setiap sesat adalah masuk neraka. Jadi secara tidak langsung mereka mengatakan bahwa orang-orang yang melakukan amaliah tersebut adalah sesat dan calon penduduk neraka, naûdzubillâh! Dalam bahasa vulgar, seolah-olah mereka berkata, bahwa surga hanya akan diisi oleh orang-orang yang sepaham dengan mereka saja.

Kajian terhadap hadis merupakan sesuatu hal yang terbuka bagi siapa saja. Namun ketika para pelakunya ternyata tidak memiliki keahlian khusus, melainkan hanya berbekal kemampuan membaca teks arab, plus setumpuk kitab-kitab rijâl alhadîts saja, tanpa disertai pemahaman komprehensif terhadap ilmu ushûl al-hadîts,  maka kesimpulan yang akan dihasilkannya cenderung akan bernilai kontroversial.

Banyak kita jumpai, hadis-hadis yang telah dinilai sahih atau hasan oleh para pemuka ahli hadis, namun oleh mereka justru didaifkan dengan berbagai alasan. Sebagai konsekuensinya, maka muncullah hukum-hukum baru, yang lagi-lagi kontroversial serta anomalis.

Ini disebabkan karena pola istinbath[4] hukum yang terlalu simplistis, dengan kata lain, ketika suatu hadis telah dinilai daif (menurut hasil kajian mereka), maka secara otomatis disingkirkan dari lapangan hukum. Padahal masalahnya tidak sesederhana itu, selain karena memang wilayah hukum fikih itu jauh lebih luas dan lebih rumit dari sekedar meneliti dan menilai kualitas suatu hadis, juga dikarenakan penilaian terhadap hadis tersebut, dari awal, sudah dilakukan dengan tidak memenuhi standar ilmiah dari sebuah penelitian.

Ketidakilmiahan kualitas penelitian mereka, dengan mudah dapat diketahui dari kesimpulan hasil penelitiannya yang bertolak belakang dengan hasil penelitian yang telah dilakukan para ahli hadis beratus-ratus tahun sebelumnya. Yaitu ahli hadis sekelas Imam Ibn Hajar al-`Asqalâniy (w. 852 H),[5] Imam al-Nawâwiy (w. 676 H),[6] Imam al-Suyûthiy (w. 911 H),[7] Imam al-Munâwiy (w. 1031 H),[8] dll, sebagai ulama peletak dan pengembang disiplin ilmu hadis, yang telah mengejawantahkan metodologi penelitian hadis, bukan hanya dalam bentuk teori,  melainkan juga dalam wilayah praktek. (maksudnya tentang hukum mengangkat kedua tangan dalam berdoa, karena tulisan ini adalah bagian dari tulisan saya dalam mengeritisi tuduhan bid`ah mengangkat dua tangan dalam berdoa)

Bahkan ironisnya, kesimpulan hasil penelitian yang mereka buat itu, juga bertolak belakang dengan hasil penelitian ulama pujaannya sendiri, seperti Ibn Taymiyah (w. 728 H), Ibn Jawziy (w. 751 H), al Mubârakfûriy (w 1353 H), serta al Albâniy (w. 1420 H). Al-`ajîb! Mereka benar-benar mujaddid.

Ambivalen, double standart, itulah model penelitian hadis mereka. Di satu sisi, kaidah-kaidah teoritis ilmu hadis yang mereka gunakan adalah kaidah-kaidah yang telah dibakukan oleh para ahli, tetapi di sisi lain mereka enggan menjalankan aturan pengaplikasian kaidah-kaidah tersebut (atau memang sama sekali mereka tidak mengetahui aturan-aturannya), melainkan disesuaikan dengan kehendak “misi”-nya yang diliputi hawa nafsu. Sebagai kosekuensi dari tindakan seperti itu, maka hasil penelitian yang dilakukannya justeru bertentangan dengan hasil penelitian empunya kaidah. Inilah ciri khas para mujaddid tersebut, mereka hanya meniru kaidah-kaidah teoritisnya saja, sementara proses aplikasinya tidak mengikuti sebagaimana yang telah dipraktekkan oleh para ahlinya.

Dr Thâriq `Iwâdlillâh berkata:[9]

فَكَمَا أَنَّ الْقَوَاعِدَ النَّظْرِيَّةَ لِهَذَا الْعِلْمِ تُؤْخَذُ مِنْ أَهْلِهِ الْمُتَخَصِّصِيْنَ فِيْهِ، فَكَذَلِكَ يَنْبَغِي أَن يُّؤْخَذَ الْجَانِبُ الْعَمَلِيُّ مِنْهُمْ؛ لاَ أَنْ تُؤْخَذَ مِنْهُمْ فَقَطْ الْقَوَاعِدُ النَّظْرِيَّةُ.

Artinya: “Sebagaimana halnya kaidah-kaidah teoritis ilmu tersebut diambil dari para ahli spesialisnya, maka aspek tata cara pengaplikasian kaidah-kaidahnya pun harus diambil dari mereka pula. Tidak cukup dengan hanya mengambil kaidah-kaidah teoritsnya saja“.

Model penelitian seperti ini yang banyak dilakukan oleh para pemula pembawa “misi”, menurut Dr. Thâriq merupakan bentuk kehancuran yang paling menghancurkan dalam sebuah sistem ilmu. Seyogianya kita renungi dengan hati yang bersih ungkapan penuh ketawadukan dari seorang yang benar-benar ahli hadis, berikut ini:[10]

يَا مَعْشَرَ الْفُقَهَاءِ أَنْتُمْ الأَطِبَّاءُ وَنَحْنُ الصَّيَادِلَةُ

Artinya: “Wahai para ahli fikih, kalian semua adalah dokternya, dan kami semua (ahli hadis) adalah apotekernya”.

Menurut riwayat `Ubaydillâh bin `Amr al-Raqqiy (w. 180 H),[11] suatu saat ia mengnyertai al-A`masy (w. 148 H)[12] yang hendak berkonsultasi kepada Imâm Abû Hanîfah (w. 150 H)[13] mengenai beberapa masalah, ternyata seluruh pertanyaan dapat dijawabnya dengan mudah. Saking heran, al-A`masy bertanya kepada Abû Hanîfah: “Dari mana sumber jawabanmu ini?” Beliau jawab: “Dari hadis yang telah Engkau riwayatkan kepadaku melalui Ibrahîm dan hadis yang diriwayatkan melalui al-Sya`biy”. Atas kejadian tersebut, kemudian al-A`mâsy berkata: “Wahai para fukaha,[14] kalian semua adalah dokternya, dan kami semua (ahli hadis/muhadditsûn) hanyalah apotekernya”.

Pengumpamaan muhadditsûn dengan apoteker, serta fukaha dengan dokter, sungguh meninggalkan pembekasan makna yang mendalam. Apoteker yang tugasnya hanya sebagai pengumpul dan pemilah berbagai jenis bahan obat, jelas tidak bisa dan tidak boleh melampaui batas tugasnya hingga berani menentukan dosis dan memberikannya kepada pasien untuk membantu menyembuhkan suatu penyakit. Itu adalah tugasnya dokter. Sama halnya muhadditsûn, perannya hanyalah sebatas pengumpul, penghapal dan pemilah berbagai hadis, tidak lebih. Adapun pekerjaan mengatur dan memilih hadis untuk dijadikan sebagai hujah suatu amaliah ibadah, itu merupakan bagian dari tugas fukaha.

Apoteker tidak akan tahu bahwa pasien bersangkutan penyakitnya apa? Ada di stadium berapa? Apa obatnya? Berapa dosis obat yang diberikannya? Hanya dokterlah yang memahaminya. Demikian pula muhadditsûn, ia tidak akan banyak tahu tentang korelasi suatu hadis dengan wilayah konteksnya, seberapa kuat pesan makna yang dipikulnya? Bagaimana relasi hadis tersebut dengan mashâdir al-ahkâm[15] lainnya? Ahli fikihlah yang menguasainya. Ini dikarenakan, wilayah kerja ilmiah muhadditsûn hanya terbatas pada satu hal, yaitu hadis, tepatnya sebagai kolektor dan korektor. Sedangkan fukaha, ia memiliki wilayah yang lebih kompleks dan jauh lebih rumit, yaitu memahami interaksi manusia dengan sejumlah mashâdir al-ahkâm yang telah tersedia (al-Quran, hadis, ijmak dan kias).

Dalam riwayat lain dikabarkan, Abû Yûsuf (w. 182 H)[16], murid sekaligus sahabat Abû Hanîfah, ditanya tentang suatu masalah oleh al-A`masy, dan ia dapat menjawabnya. Kemudian al-A`masy berkata: “Dari mana sumber jawabanmu ini?” Abû Yûsuf menjawab: “Dari hadis yang engkau riwayatkan kepadaku”, kemudian ia membacakan hadisnya. Maka al-A`masy pun berkata: “Wahai Ya`qûb, sesungguhnya aku telah hapal hadis tersebut sebelum ayah dan ibumu bertemu, dan aku tidak memahami maknanya kecuali saat ini”.[17]

Setidaknya ada dua hal penting sebagai pelajaran dari kasus tersebut, yaitu: Pertama; betapa para ulama zaman dahulu, memiliki sifat tawaduk dan khumul (low profile) yang luar biasa, jauh dari sikap arogansi intelektual yang selalu berujung dengan timbulnya sifat superioritas. Terbukti, meskipun al-A`masy itu merupakan pemuka ahli hadis,[18] yang sudah barang tentu memiliki integritas tinggi di bidang ilmu hadis, baik riwayat[19] maupun dirayat,[20] namun ia tidak sekonyong-konyong menarik kesimpulan hukum atas suatu masalah dari hadis-hadis yang sudah dikuasainya, melainkan ia justru memilih meminta fatwa terlebih dahulu kepada orang yang memang benar-benar terkenal sebagai ahli hukum/fikih (fukaha), tidak peduli walau usianya jauh di bawah dirinya. Inilah profesionalisme yang tetap dianut dari dahulu sampai sekarang. Kedua, bahwa profesionalitas itu cenderung dikotomis. Seorang ahli hadis tidak menjadi jaminan akan menjelma sebagai ahli fikih yang memiliki kemampuan meng-istinbâth hukum dari dalil-dalil yang telah dikuasainya. Ini disebabkan sifat i`jâziyah nas-nas syarak yang memerlukan keahlian khusus untuk memahaminya, terlebih ketika dikaitkan dengan konteks masalah. Dan di sisi lain, karena sifat manusia yang serba memiliki keterbatasan.

Secara faktual, sangatlah sulit, kalau tidak dikatakan mustahil, menguasai sepenuhnya terhadap dua displin ilmu, fikih dan hadis. Dalam kitab-kitab thabaqah, mungkin kita akan menemukan beberapa ulama yang disifati sebagi person yang mampu menguasai kedua disiplin ilmu tersebut, namun secara kualitatif, penguasaan mereka terhadap fikih masih jauh di bawah Imâm al Syâfi`iy (w. 204 H), dan penguasaannya terhadap hadis masih jauh di bawah Imâm al Bukhâriy (w. 256 H). Oleh karena itu, Imâm al Syâfi`iy berkata:

أَتُرِيْدُ أَنْ تَجْمَعَ بَيْنَ الْفِقْهِ وَالْحَدِيْثِ؟ هَيْهَاتَ!

Artinya: “Apakah engkau bermaksud hendak menguasai fiqh dan hadis secara bersamaan? Wah…jauh sekali![21]

Kaitan dengan hal tersebut terdapat hadis sahih dari Zayd bin Tsâbit t (w. 45 H):[22]

فَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ لَيْسَ بِفَقِيهٍ، وَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ إِلٰى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ

Artinya: “Kerap kali ditemukan orang yang mengemban ilmu fikih, namun ia tidak memahaminya, dan kerapkali orang yang mengemban ilmu kemudian menyampaikannya kepada orang lain yang ternyata lebih paham darinya”.

Menurut para penyarah,[23] makna dari hadis tersebut adalah seorang ahli hadis, walaupun ia telah menghapal banyak hadis (sebagai salah satu sumber fikih), tapi itu bukan jaminan bahwa ia memahami hadis-hadis tersebut, karena memang profesinya hanya sebatas penghapal dan bukanlah ahli hukum yang selalu menggali aspek hukum dari suatu hadis. Ada kalanya juga ahli hadis tersebut paham terhadap aspek hukum dari hadis-hadis yang telah dihapalnya, namun tetap yang lebih memahaminya adalah ahlinya, yaitu fukaha.

Itu nisbah kepada orang yang benar-benar ahli hadis, apatah kata bagi orang-orang yang meneliti rawi hadis dengan hanya mengandalkan kitab-kitab rijâl al-Hadîts sebagai filternya? Memang kenapa? Karena di dalam kitab-kitab tersebut, selain kata-kata yang digunakan oleh para nâqid[24] untuk menyifati (men-ta`dîl[25] atau men-tajrîh[26]) para rawi, kadang memiliki makna tersendiri (tidak umum) tergantung siapa nâqid-nya. Juga tidak jarang ditemukan penyifatan dari beberapa orang nâqid kepada seorang rawi yang satu sama lain tampak bertentangan, atau bahkan sifat yang diberikan oleh seorang nâqid untuk seorang rawi kadang lebih dari satu sifat dan tampak berbeda dalam penyifatannya. Syaikh al-Mu`allimiy berkata: “Kalimat al-Jarh dan al-Ta`dîl, seringkali dimaksudkan bukan pada makna umum yang tertera dalam kitab-kitab musthalah. Untuk mengetahui hal tersebut diperlukan penelaahan ekstra yang lama”.[27] Untuk itu, jelas penelaahan lebih jauh dan mendalam demi menemukan maksud sebenarnya dari ungkapan kata-kata para nâqid, merupakan sebuah keniscayaan.

Pendek kata, dalam proses eksplorasi terhadap kredibilitas seorang rawi, peneliti tidak cukup dengan hanya asal mengutip dari hasil penyifatan yang diberikan oleh para nâqid melalui kitab-kitab rijâl, sebelum terlebih dahulu mendalami lebih jauh ilmunya yang telah terkodifikasi dalam banyak kitab ilmu hadis (ushûl al-hadîts/musthalah al-hadîts).

Sukasari Indah, Juli 2009
Harry Yuniardi

[1]QS:al Ra`d, (13:17).

[2]Siyar A`lâm al-Nubalâ, XI/321.

[3]Kitab-kitab yang menjelaskan tentang martabat para periwayat hadis.

[4]Menarik kesimpulan hukum dari dalil-dalil syarak.

[5]Beliau adalah ahli hadis kenamaan bermazhab Syafi`iy, yang telah menyusun banyak kitab musthalah hadis, seperti Nukhbah al-Fikr, Nuzhah a-Nazhr, al-Nukat `alâ Alfiyah al-`Irâqiy, al-Nukat `alâ Ibn Shalâh. Kitab Rijâl dan Târîkh, seperti Tahdzîb al-Tahdzîb, Taqrîb al-Tahdzîb, Lisân al-Mîzân, al-Ishâbah, Ta`jîl al-Manfa`ah, al-Durar, dll. Kitab Syarah Hadis, seperti Fath al-Bâriy (Dâr al-Fikr: 15 jld). Kitab Hadis Ahkâm, seperti Bulûgh al-Marâm, Mathâlib al-`Âliyah. Dan kitab-kitab lainnya.

[6]Beliau adalah ulama ahli multi disiplin ilmu bermazhab Syâfi`iy, kitab susunannya dalam bidang fikih: Rawdlah al-Thâlibîn, al-Minhâj, al-Îdlâh, al-Majmû`, dll. Bidang Hadis: Syarh Shahîh Muslim, Riyâdl al-Shâlihîn, al-Adzkâr, al-Arba`în, dll. Bidang Musthalah Hadis: al-Taqrîb. Bidang Rijâl: Tahdzîb al-Asmâ’, dll.

[7]Beliau adalah ulama ahli multi disiplin ilmu bermazhab Syâfi`iy, kitab-kitab susunannya mencapai lebih 300 judul dalam berbagai bidang, bahkan menurut al-Ustadz Jamîl al-`Azhm mencapai 576 kitab antara yang telah dicetak dan yang masih berupa manuskrip.

[8]Beliau adalah ahli hadis kenamaan bermazhab Syafi`iy, diberi gelar al-Hâfizh oleh para ulama. Nama lengkapnya adalah al-Imâm `Abd al-Ra’ûf bin Tâj al`Ârifîn bin `Aliy al-Hadâdiy al-Munâwiy. Di antara kitab karyanya adalah Natîjah al-Fikr, al-Yawâqît wa al-Durur, Faydl al-Qadîr, al-Jâmi` al-Azhâr, Miftâh al-Sa`âdah, al-Majmû` al-Fâ’iq, dan masih banyak lagi, seluruhnya dalam bidang hadis.

[9]Irsyâdât fiy Taqwiyah al Ahâdîts bi al Syawâhid wa al Mutâbi`ât, 35.

[10]Nashîhah Ahl al-Hadîts, 45. al-Ta`dîl wa al-Tajrîh, I/28. al-Kâmil fi al-Dlu`afâ` al-Rijâl, VII/7. al-Faqîh wa al-Mutafaqqih, I/432.

[11]Menurut Ibn Ma`în, al-Nasâ’iy, Abû Hâtim, dan Ibn Sa`d: Tsiqah (Tahdzîb al-Kamâl, XII/254-255).

[12]Sulaymân bin Mihrân al-Asadiy al-Kâhiliy, beliau seorang ahli hadis yang bergelar Sayyid al-Muhaditsîn. Menurut Ibn Ma`în dan al-Nasâ’iy: Tsiqah Tsabt (Tahdzîb al-Kamâl, VIII/106-114).  

[13]Al Nu’mân bin Tsâbit, beliau seorang ahli fikih dari Irak, Imam Mazhab (Tahdzîb al-Kamâl, XIX/102-118).

[14]Bahasa Indonesia serapan yang berarti para ahli hukum Islam. (KBBI, 322)

[15]Sumber pengambilan hukum (al Quran, hadis, ijmak dan qiyas).

[16]Ya`qûb bin Ibrâhîm bin Habîb al-Anshâriy, menurut Ibn al-Khallikân, Ibn Ma`în, Imâm Ahmad, dan Ibn al-Madîniy, telah menyepakati ke-tsiqah­-annya. (Wafayât al-A`yân, VI/378-379)

[17]Wafayât al-A`yân, VI/382. al-Ansâb, IV/433.

[18]Oleh Yahyâ al-Qaththân disebut `Allâmah al-Islâm (Tahdzîb al-Kamâl, VIII/113).

[19]Ilmu yang mendalami tentang proses transmisi sebuah hadis, berguna untuk menghindarkan diri dari salah kutip terhadap apa yang disandaran kepada Nabi SAW.

[20]Ilmu yang menelaah sanad dan matan hadis dari berbagai aspeknya, berguna untuk mengeliminir hadis antara yang diterima (maqbûl) dan ditolak (mardûd).

[21]Dlaw’ al Lâmi`, VIII/5. Arba` Rasâ’il fiy al Hadîts, 90.

[22]Sunan Aby Dâwud, III/360. Sunan al-Turmudziy, V/33. Sunan Ibn Mâjah, I/84. Sunan al-Dârimiy, I/86. Musnad Ahmad, XXXV/467. Shahîh Ibn Hibbân, I/270.

[23]Ulama kritikus hadis yang memberikan uraian, penjelasan dan komentar terhadap suatu hadis.

[24]Kritikus atau ulama ahli hadis yang menjelaskan kredibilitas para rawi, baik penilaian tersebut mengandung pujian (ta`dîl) maupun celaan (tajrîh).

[25]Memberikan penilaian positif atau memuji.

[26]Memberikan penilaian negatif atau mencela.

[27]Khulâshah al-Ta’shîl li `Ilm al-Jarh wa al-Tadîl, 27.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here