MTQ Ambon Bukti Toleransi Indonesia

390

Oleh :Ahmad Ali Nurdin*

Ambon baru saja sukses menjadi tuan rumah Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) 2012. Mendengar kata Ambon, tentu saja mengingatkan orang akan konflik agama yang pernah terjadi tahun 1999-2002 yang menyebabkan banyak korban meninggal.

Dipilihnya kota Ambon sebagai tuan rumah MTQ tentu bukan tanpa maksud dan tujuan. Diantaranya adalah untuk menunjukkan bahwa Ambon sekarang berbeda dengan Ambon 10 tahun yang lalu. Kota Ambon sekarang bisa disebut sebagai contoh terjalinnya kerukunan atau toleransi beragama di Indonesia.

Ketua Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) Maluku, Rahman Soumena menyebutkan alasan pemilihan Ambon sebagai tuan rumah: ”Kami ingin menunjukkan kepada dunia, bahwa sikap toleransi agama di Maluku tetap terjaga dan Maluku aman untuk pengunjung,” demikian ujar Rahman. Memang thema MTQ kali ini adalah ”Dengan MTQ kita tingkatkan kualitas kehidupan beragama di Indonesia.”

 Menurut Presiden Susilo Bambang Yudhoyono thema di atas sangat sesuai dengan komitmen pemerintah yaitu ingin meningkatkan kehidupan beragama, berbangsa, dan bernegara yang didukung nilai-nilai keagamaan, sosial, solidaritas, serta toleransi.

 ”Kerukunan, kebersamaan, kearifan lokal pela gandong (ikatan persahabatan budaya Maluku) harus menjadi pelekat perdamaian masyarakat Ambon, demikian ujar Dr. Yudhoyono dalam pidatonya.

 Menurut saya, MTQ di Ambon harus dijadikan momentum kebangkitan rasa toleransi beragama di Indonesia. Sebabnya, belum lama ini, ada kecaman terhadap kerukunan dan toleransi beragama di Indonesia

 Pertemuan Universal Periodic Review (UPR) HAM PBB yang dilaksanakan di Swiss dua minggu lalu, mengecam dan mempertanyakan kerukunan beragama di Indonesia.

 Dalam sidang itu disebutkan bahwa intoleransi (sikap tidak bertoleransi) sedang meningkat di Indonesia.

 25 negara dari 74 anggota sidang menunjuk kasus kerusuhan yang terjadi di Indonesia seperti kasus kekerasan terhadap jama’ah  Ahmadiyah dan Gereja Yasmin di bogor sebagai buktinya.

 Tentu saja, kritik dan kecaman dari UPR itu tidak benar adanya. Dalam pandangan saya, secara umum, Indonesia adalah negara yang aman dan menghormati kerukunan beragama.

 Saya bersepakat dengan KH. Hasyim Muzadi (mantan Ketua PBNU) yang mempertanyakan ukuran intoleransi yang dipakai UPR.

 Menurut Pak Hasyim, UPR tidak bisa menjadikan kasus Ahmadiyah dan kerusuhan Gereja Yasmin di Bogor sebagai ukuran.

 Kalau yang dipakai ukuran adalah kasus Ahmadiyah, kata Kyai Hasyim, memang karena Ahmadiyah menyimpang dari pokok ajaran Islam, namun selalu menggunakan nama Islam.

 ”Jika saja Ahmadiyah merupakan agama tersendiri pasti tidak dipersoalkan oleh umat Islam Indonesia,” demikian ujar Kyai Hasyim..
Meskipun demikian, pertanyaan yang diajukan oleh sidang UPR di Swiss tentang menurunnya toleransi di Indonesia harus dijawab.

Dan menurut saya, pelaksanaan MTQ di Ambon adalah diantara jawaban Indonesia kepada dunia tentang toleransi kehidupan beragama di negara yang berbilang suku dan agama.

Kesuksesan penyelenggaraan MTQ di Ambon bisa menjadi bukti bangkitnya semangat persaudaraan dan toleransi kehidupan beragama yang tinggi di Maluku.

Dalam pembukaan MTQ tersebut, gubernur Maluku Karel Albert Ralahalu mengatakan bahwa kenyataannya Maluku sedang menuju ke puncak peradaban agama-agama di Indonesia. Dan pelaksanaan MTQ di Ambon merupakan panggilan agama bagi seluruh umat manusia di seluruh Indonesia.

Saya tetap yakin bahwa masyarakat Indonesia, terutamanya kelompok mainstream Muslim, adalah masyarakat yang menghormati toleransi dan kemajemukan.

MTQ Ambon telah membuktikan bahwa apa yang dicurigai oleh orang luar, terutama dalam sidang UPR di Swiss tentang menurunnya toleransi di Indonesia adalah tidak benar.

Mudah-mudahan semangat toleransi dan persaudaraan antar suku, agama dan etnis di Indonesia seperti ditunjukkan di Ambon bisa terus dipertahankan.

* Dosen Agama dan Politik, Fakultas Ushuluddin dan Pasca Sarjana, UIN Sunan Gunung Djati, Bandung, Wakil Ketua Pergunu, Kab. Bandung.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here