Menumbuhkembangkan Semangat Toleransi Beragama

297

Agama memiliki peran penting dalam kehidupan ummat manusia. Ia memberikan landasan normative dan kerangka nilai bagi kehidupan ummatnya. Ia juga memberikan arah dan orientasi duniawi di samping orientasi ukhrowi (eskatologis). Secara mendasar, agama berisi, antara lain, pesan moral universal yang tentu saja berlaku bagi seluruh ummat manusia. Agama menjadi pembimbing moral sekaligus pengantar manusia menuju pencapaian nilai hakiki dalam kehidupan. Agama menjadi pondasi di mana segala perilaku manusia diatur bentuk dan geraknya. Dalam konteks ini, bukan berarti agama hendak mengetengahkan pembatasan kaku, melainkan hanya mengatur dan mengarahkan agar tatanan kosmik kehidupan manusia tertata dengan baik, berjalan teratur dan harmonis. Jadi pada dasarnya tidak ada pretensi dalam setiap agama untuk mengarahkan manusia mengisi sejarahnya dengan konflik, pertarungan dan saling menghancurkan satu sama lain.

            Seiring perkembangan kehidupan memasuki abad 21 atau yang popular dikenal juga sebagai abad informasi dan era globalisasi, persaingan kehidupan semakin menyuguhkan perubahan yang dahsyat dan menyentuh hampir seluruh aspek kehidupan manusia, mulai asek ekonomi, politik hingga aspek agama. Dalam kondisi demikian, agama pada sebagian kalangan menjadi terasing dari kehidupan sosial, dan lama kelamaan mengalami apa yang disebut dengan krisis relevansi. Krisis relevansi adalah ungkapan tentang posisi agama di luar kehidupan sosial dan kurangnya konsep-konsep yang diberikan dalam menyelesaikan problem-problem kemanusiaan. Agama seakan terpenjara dalam hati, pasif dan tidak teraktualisasikan dalam kehidupa nyata. Padahal sesungguhnya agama dengan nilai spiritual yang dimilikinya memiliki potensi untuk memberikan sumbangan bagi pemecahan berbagai problem yang dihadapi ummat manusia sekarang dan akan datang. Sampai di sini terlihat agama muncul dalam konfigurasi berwajah ganda.

            Wajah pertama tampak dalam doktrin-doktrin agama yang menyeru kepada kedamaian dan keselamatan. Sementara wajah lainnya dalam bentuk pengamalan oleh sebagian pengikut yang jauh dari bentuk ideal sebagaimana dikehendaki agama itu sendiri. Setiap agama memiliki kedua sisi tersebut dan dari kedua sisi itulah kemudian lazimnya konflik dan pertikaian terjadi. Singkatnya, agama menjanjikan perdamaian dan menyerukan keselamatan, tapi pada saat yang sama ia sering menebar kekerasan. Suatu waktu ia dapat merupakan factor pemersatu, dan pada kali lain ia dapat mencabik-cabik persatuan dan kedamaian yang dianjurkannya sendiri.

            Di sini kita melihat bahwa agama sesungguhnya memiliki potensi sebagai pemersatu dan kedamaian bagi ummat manusia (integrating factor), yang menembus batas-batas geografis, etnis dan kesuku bangsaan. Hal seperti inilah sesungguhnya yang akan dapat memberikan sumbangan bagi kedamaian suatu bangsa antar kawasan, maupun dunia.

Dalam kaitan sumbangan agama terhadap kedamaian dan kerukunan, Hans Kung pernah menegaskan bahwa “Tak ada perdamaian dunia tanpa ada perdamaian antar agama, tak ada perdamaian antar agama tanpa ada dialog antar agama, dan tak ada dialog antar agama tanpa ada landasan yang kuat dalam memahami agama”. Oleh karena itu, semakin jelaslah bagi kita bahwa kerukunan ummat beragama merupakan pondasi utama bagi kerukunan nasional, keharmonisan, kedamaian dan kebersamaan masyarakat dan bangsa.

Oleh karena itu, Forum Kerukunan Umat Beragama Kabupaten Bandung selalu berusaha untuk mencoba menanamkan semangat toleransi di masyarakat Kabupaten Bandung. Dari toleransi ini diharapkan bisa menjauhkan terjadinya konflik di masyarakat. Kita berharap Kabupaten Bandung selalu ada dalam situasi damai dan tentram. Sebab, jika terjadi konflik antar masyarakat yang kemudian mengarah kepada sikap anarkis maka yang rugi adalah masyarakat sendiri. Roda perekonomian akan terganggu, aktifitas pendidikan akan tersendat. Konflik yang menjurus anarkis akan merugikan masyarakat Kabupaten Bandung.

 Berkenaan dengan datangnya bulan Ramadhan 1433 H. Forum Kerukunan Umat Beragama Kabupaten Bandung mengadakan pertemuan internal Pengurus yang terdiri dari Perwakilan Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Persis, Mathla’ul Anwar, Syarikat Islam, Protestan, Katolik, Hindu dan Budha di Soreang.

Dalam pertemuan itu semua Pengurus FKUB sepakat untuk saling menghormati dalam pelaksanaan ibadah puasa pada bulan Ramadhan 1433 H.  Tanpa harus membesar-besarkan perbedaan penentuan awal bulan Ramadhan.

Pengurus FKUB dari Protestan, Katolik, Hindu dan Budha juga sepakat untuk mensosialisasikan kepada umatnya masing-masing untuk menghormati umat Muslim yang sedang melaksanakan ibadah puasa dengan tidak melakukan makan dan minum di tempat umum.

Dalam kesempatan ini juga, Pengurus FKUB mengharapkan kepada semua umat Muslim, khususnya yang ada di Kabupaten Bandung, untuk menghormati dan menghargai jika nanti pelaksanaan shalat ‘Idul Fitri terjadi perbedaan.

Mudah-mudahan dengan ibadah shaum pada bulan Ramadhan ini bisa meningkatkan iman dan ketakwaan kita kepada Allah SWT. sekaligus meningkatkan semangat toleransi kerukunan umat beragama di Kabupaten Bandung. Amin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here