Mengoreksi Hukum Halalnya Daging Anjing

497

Tulisan ini berangkat dari keprihatinan saya ketika sedang memantau website PC NU Kab. Bandung ini. Tanpa sengaja saya menemukan konsultasi hukum tentang kehalalan daging anjing. Dalam konsultasi tersebut, ditanyakan tentang kebenaran pendapat yang menghalalkan pengonsumsian daging anjing. Kemudian sang ustadz menjawabnya dengan memaparkan perbedaan pendapat tentang hukum najisnya anjing. Dengan kesimpulan bahwa menurut mayoritas ulama, anjing itu dihukumi najis secara keseluruhan, sedangkan menurut pendapat ulama Malikiyah yang najisnya itu hanya air liurnya saja, sehingga selain air liur, seperti daging, kulit dan bulunya dihukumi suci. Sampai di sini, saya juga menyetujui pemaparan tersebut, karena memang demikianlah adanya.

Yang saya sayangkan, adalah penjelasannya yang berhenti sampai di hukum najisnya anjing, tanpa dilanjutkan ke pembahasan hukum halalnya mengonsumsi daging anjing. Konsekuensinya adalah, ketika diketahui bahwa ulama Malikiyah tidak menghukumi najis secara keseluruhan terhadap anjing, maka konklusi hukum yang akan muncul dalam benak sang penanya serta pembaca lain adalah bahwasanya benar daging anjing itu halal untuk dikonsumsi. Ini bisa ditangkap, karena di awal penjelasan, ustadz tersebut menjelaskan korelasi antara hukum najis dan hukum halal, menurutnya, bahwa semua hewan yang ditetapkan kenajisannya, maka otomatis haram dimakan. Dus, ketika tidak ditetapkan kenajisan anjing oleh ulama Malikiyah, maka berarti daging anjing tersebut halal untuk dikonsumsi. Inilah kesimpulan yang dibiarkan liar oleh sang ustadz untuk ditangkap oleh benak orang awam, ketika penjelasan berhenti hanya sampai hukum najis saja, sama sekali tidak menyentuh hukum halal-haramnya

Walaupun sebenarnya masalah hukum halal-haram mengonsumsi sesuatu itu tidak hanya ditentukan oleh faktor najis atau sucinya sesuatu tersebut, tapi juga dapat ditentukan oleh faktor lain, seperti membahayakan, menjijikan, dll. Namun dalam tulisan ini saya tidak akan membahas mengenai faktor-faktor penyebab diharamkan mengonsumsi sesuatu. Melainkan hanya untuk memerifikasi, apakah benar kesimpulan hukum dalam madzhab Malikiy, ketika anjing itu tidak dihukumi najis, maka berarti halal mengonsumsi daging anjing?

Setelah saya telusuri, ternyata dalam madzhab Malikiy, hukum mengonsumsi daging anjing itu ada dua pendapat, yaitu yang memakruhkan dan yang mengharamkan secara tegas. Namun dalam penarjihan para ulamanya, pendapat yang benar itu adalah yang mengharamkan. Demikian dinyatakan oleh Imam Ibn `Abd al-Barr (w. 463 H), seperti dilansir oleh Ibn `Askarin (w. 732 H) dalam kitabnya al `Umdah, dan ditegaskan bahwa inilah madzhab al Muwaththa’, alias madzhab Malikiy. Bahkan menurut Imam al Haththab (w. 954 H), “Dalam madzhab Malikiy, saya tidak pernah menemukan sitiran pendapat ulama yang membolehkan mengonsumsi daging anjing“. (lihat Mawâhib al Jalîl fiy Syarh Mukhtashar al Khalîl, III/236)

Demikian, analisa sederhana dari penulis mengenai hukum mengonsumsi daging anjing. Sehingga dapat disimpulkan bahwa, meskipun dalam madzhab Malikiy, anjing tersebut tidak dihukumi najis secara keseluruhan, namun hukum mengonsumsinya tetap diharamkan. Adapun alasan pengharamannya bukan karena faktor najis, melainkan karena anjing masuk ke dalam kelompok binatang buas bertaring yang dilarang mengonsumsinya oleh Nabi SAW., ini terang dalam hadis sahih yang telah disepakati oleh para mukharrij (muttafaun `alayh). Dan selama di dunia ini masih berkeliaran banyak unggas, kenapa pula kita mesti melirik daging anjing, bah….!

Falyatakkar…!

8 COMMENTS

  1. Syukran…pak atas perifikasinya, karena sempat saya juga berfikir bahwa ketika madzhab maliki menghukumi najisnya anjing adalah pada air liurnya, sekilas memang akan terbersit bahwa daging anjing halal dikonsumsi. tapi ternyata…sebenarnya berdasarkan hadits bahwa binatang buas bertaring yang dilarang untuk dikonsumsi, jelas anjing pun termasuk didalamnya.

    • Sama-sama, silahkan disebarkan ke teman-teman, karena biasanya pendapat seperti itu cenderung lebih cepat menyebar di kalangan mahasiswa, apalagi yang gemar mencari sensasi, mari berdakwah….!

  2. Nuhun kang penjelesana leres pisan …. Ingsya Alloh web PCNU Kab. Bandung langkung karaos manfaatna kangge warga NU baik ilmu maupun informasi kegiatan.

  3. Betul bray…nah kalo anjing sbgai penjaga rumah kummaha tah?anjing itu binatang yg setia kpd majikannya.sementara menurut satu pendapat yg lainnya anjing itu haram sa awak awak tuh hee…termasuk tapakna.

    • Leres P Haji, anu langkung kiat mah pendapat anu nganajiskeun saawak-awak, termasuk tapakna, sanaos anjing penjaga rumah. Mangga taroskeun ka Aj. Dedi geura (hehe…).
      Anapon kanggo penjaga rumah mah, pasihkeun wae tugasna ka Pa Satpam, bingaheun geura, malaur seueur pengangguran! Kang Rhoma (sanes bang haji) ge sigana kersaeun geura cobi tawisan….

  4. Alhamdulillah safaham ari kana bab najis haram anjing mah sdyana ge.ngan bab pangnguran,justru eta loba panganguran teh tp pas geus gawe ngadon narinum anggur tah hahaaa…komo kana bab lain na deui,jd kan TERLALU…wkwkwk…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here