Memuliakan Nabi SAW : Antara Ibadah dan Adab

135

Banyak orang yang keliru dalam memahami hakikat pengagungan dan hakikat ibadah, lalu mereka mencampuradukkan keduanya dan menganggap segala macam pengagungan itu merupakan bentuk ibadah kepada yang diagungkan. Oleh karena itu, mereka menganggap bahwa berdiri, mencium tangan dan mengagungkan Nabi Muhammad SAW dengan menyebut beliau “Sayidina” (junjungan kami) dan “Mawlana” (pemimpin kami) dan berdiri di hadapan beliau dalam ziarah dengan penuh adab, ketenangan dan ketundukkan, sebagai perbuatan melampaui batas (ghuluw) yang mengantarkan seseorang beribadah kepada selain Allah SWT. Anggapan demikian ini pada hakikatnya adalah suatu kebodohan dan kekeras-kepalaan yang tidak diridhai oleh Allah SWT dan Rasul-Nya, serta tidak sejalan dengan ruh syariat Islam.

Kita tentu melihat kedudukan Nabi Adam as sebagai yang awal dari golongan manusia dan yang awal dari hamba Allah yang saleh dari golongan manusia. Kita meyakini bahwa Allah Yang Maha Tinggi telah memerintahkan para malaikat-Nya untuk bersujud kepada Adam as sebagai bentuk pemuliaan dan pengagungan, karena Dia telah mengaruniakan kepada Adam as sebagian dari ilmu-Nya. Dan perintah itu juga merupakan pemberitahuan bahwa Allah SWT telah memilih Adam as di antara semua makhluk-Nya. Allah SWT berfirman, “Dan (ingatlah) tatkala Kami berfirman kepada para malaikat, ‘Sujudlah kamu semua kepada Adam,’ lalu mereka bersujud kecuali iblis. Dia berkata, ‘Apakah aku akan bersujud kepada orang yang Engkau ciptakan dari tanah?’ Dia (Iblis) berkata, ‘Terangkanlah kepadaku, inikah orangnya yang engkau muliakan atas diriku?…’” Q.S. Al-Isra 61-62
Dalam ayat yang lain disebutkan,”Iblis menjawab, ‘Aku lebih baik daripadanya; Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.’” Q.S. Al-A’raf 12
Dalam ayat yang lain disebutkan,”Maka bersujudlah para malaikat itu semuanya bersama-sama,kecuali iblis. Dia enggan ikut bersama-sama (malaikat) yang bersujud itu.” Q.S. Al-Hijr 30-31
Para malaikat mengagungkan orang yang diagungkan oleh Allah SWT, sedangkan iblis yang sombong (merasa lebih baik atau lebih tinggi karena diciptakan dari api) menolak bersujud kepada manusia yang diciptakan dari tanah. Maka dia (iblis) adalah yang pertama kali berpendapat dengan pernyataannya, “Aku lebih baik daripadanya.” Dia (iblis) memberikan argumen dengan asal penciptaannya dari api sementara awal penciptaan Adam as dari tanah, seraya memandang rendah orang yang dimuliakan Allah SWT atas dirinya sehingga dia pun merasa enggan untuk bersujud kepadanya. Dia (iblis) adalah makhluk yang pertama kali menyombongkan diri dihadapan allah SWT dan tidak mau mengagungkan orang yang diagungkan-Nya sehingga dia diusir dari rahmat Allah SWT. Iblis adalah tokoh kesombongan terhadap Allah karena bersujud kepada Adam as, hamba Allah yang saleh, adalah (bermakna) tunduk kepada perintah Allah SWT yang menyuruhnya bersujud. Sesungguhnya Allah memerintahkan sujud kepada Adam as itu adalah sebagai bentuk pemuliaan dan penghormatan kepada Adam as atas mereka. Meskipun iblis sebelumnya termasuk golongan yang selalu beribadah dan menyucikan Allah SWT, tetapi ibadah dan tauhidnya ternyata tidak dapat memberi manfaat ketika dia tidak mau menghormati dan memuliakan seorang khalifah Allah (Adam as).
Al-Quran menjelaskan tentang hamba-hamba saleh yang dimuliakan kedudukannya. Di antara ayat yang menyebutkan pengagungan orang-orang saleh itu adalah berkenaan dengan Nabi Yusuf as, “Dan dia menaikkan kedua ibu-bapaknya ke atas singgasana. Dan mereka (semuanya) merebahkan diri seraya bersujud kepada Yusuf.” Q.S. Yusuf 100 Yaitu, sujud sebagai bentuk penghormatan, pemuliaan dan pengagungan mereka kepada Nabi Yusuf as. Kalimat yang menunjukkan bersujudnya saudara-saudara Nabi Yusuf as dalam ayat tersebut adalah, “Dan mereka (semuanya) merebahkan diri.” Barangkali sujud diperbolehkan dalam syariat mereka, atau seperti sujudnya para malaikat kepada Adam as. yaitu sebagai bentuk pemuliaan dan pengagungan dan bentuk ketaatan kepada perintah Allah SWT. Selai itu, sujudnya saudara-saudara Yusuf as kepada beliau as merupakan makna dan wujud kongkret dari takwil mimpi Yusuf as, karena mimpi para nabi adalah tergolong wahyu.
Adapun berkenaan dengan Nabi kita, Muhammad saw, Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Kami mengutus kamu sebagai saksi, pembawa berita gembira dan peringatan, supaya kamu sekalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, mengagungkannya dan memuliakannya.” Q.S. Al-Fath 8-9
Selain itu, banyak firman Allah yang menerangkan tentang kedudukan khusus Rasulullah saw. Antara lain sebagai berikut, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya.” Q.S. Al-Hujurat 1
Begitu pula pada ayat, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi…” Q.S. Al-Hujurat 2
Atau ayat, “Janganlah kamu jadikan penggilan Rasul di antara kami seperti panggilan kamu kepada sebagian (yang lain).” Q.S. AN-Nur 63
Allah Yang Maha agung telah melarang (orang-orang beriman) untuk mendahului Rasulullah SAW dalam setiap pembicaraan. Sehingga dianggap sebagai telah berperangai buruk bila mendahului beliau dalam pembicaraan. Sahl bin Abdullah berkata,”Janganlah kalian berbicara sebelum beliau (Rasulullah SAW) berbicara; dan jika beliau berbicara, maka dengarkanlah baik-baik dan perhatikanlah dengan seksama.” Mereka (orang-orang yang beriman) telah dilarang untuk mendahului Rasulullah SAW dalam pembicaraan dan dilarang tergesa-gesa menetapkan suatu perkara sebelum Rasulullah SAW memutuskannya. Mereka juga dilarang memberikan fatwa berkenaan dengan semua urusan di antara urusan agama mereka, seperti perang dan selainnya, kecuali atas perintah beliau. Pendeknya, orang-orang mukmin tidak boleh mendahului Rasulullah SAW dalam semua hal.
Kemudian Allah SWT memberikan pelajaran kepada orang-orang mukmin dan memperingatkan mereka untuk tidak menentang perintah-Nya. Allah SWT berfirman, “Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” Q.S. Al-Hujurat 1
Sulami berkata,”Takutlah kalian kepada Allah dalam pengabaian hak beliau (Rasulullah SAW) dan penyia-nyiaan kehormatannya. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar seluruh pembicaraan kalian dan Maha Mengetahui perbuatan kalian. Dan Allah SWT melarang orang-orang untuk meninggikan suara mereka lebih dari suara beliau,atau berkata-kata kepada beliau dengan suara keras sebagaimana kerasnya suara sebagian mereka terhadap sebagian yang lain. Dan dikatakan, bahwa maksud dari mengeraskan suara dan meninggikan suara itu adalah sebagaimana tampak pada bagian mereka yang memanggil sebagian yang lain dengan namanya.”
Abu Muhammad Makki berkata,”Yakni, janganlah kalian mendahului beliau (Rasulullah SAW) dalam pembicraan; janganlah kalian berbicara kasar kepada beliau; dan janganlah kalian memanggil beliau dengan namanya, sebagaimana panggilan sebagian kalian kepada sebagian yang lain. akan tetapi, agungkanlah dan muliakanlah beliau, dan panggilah beliau dengan sebaik-baiknya panggilan yang dapat menyenangkan beliau, (seperti): Ya Rasulullah, ya Nabiyallah. Seperti firmn-Nya di ayat yang lain, “Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul di antara kamu seperti panggilan sebagian kamu kepada sebagian (yang lain).” Q.S. AN-Nur 63
Ada pula yang mengatakan,”Janganlah kalian berbicara kepada beliau kecuali untuk bertanya.”
Selain itu, Allah Yang Maha Agung juga mengancam orang-orang dengan terhapusnya pahala mereka jika mereka melakukan hal tercela itu dan memberi peringatan keras kepada orang-orang mukmin akan hal itu.
Ayat tersebut turn berkenaan dengan seklompok orang yang mendatangi Nabi SAW seraya memanggil beliau, “Hai Muhammad, keluarlah kamu kepada kami !” Maka Allah Yang maha Terpuji mencela mereka karena kebodohan dan menyifati orang-orang itu denga mengatakan bahwa kebanyakkan mereka tidak mengerti.
Amr bin Ash berkata,”Tidak ada seorang pun yang lebih aku cintai daripada Rasulullah SAW dan tidak ada seorang pun yang lebih mulia di mata ku daripada beliau, dan aku tidak sanggup memandang beliau dengan sepenuh pandanganku karena keagungan (kewibawaan) beliau. Seandainya aku diminta untuk menyifati beliau, niscaya aku tidak sanggup karena sesungguhnya aku tidak pernah memandang beliau dengan sepenuh pandanganku (karena kewibawaan beliau).”
Usamah bin Syarik meriwayatkan, dia berkata,”Aku pernah mendatangi Nabi SAW, dan ketika itu, para sahabatnya sedang mengelilinginya, seakan-akan di kepala mereka bertengger seekor burung. Jika beliau berbicara, maka orang-orang yang duduk bersamanya menundukkan kepalanya seakan-akan di kepala mereka bertengger seekor burung.”
Urwah bin Mas’ud juga meriwayatkan bahwa kaum Quraisy pernah mengutusnya pada tahu perjanjian (perdamaian) kepada Nabi Muhammad SAW, dan dia melihat pengagungan para sahabat kepada beliau. (Dia antaranya), dia melihat para sahabat Nabi SAW itu saling bergegas memperebutkan sisa air wudhu beliau dan mereka bertikai untuk itu. Setiap kali beliau meludah dan berdahak, maka mereka (saling berebut) manadahinya dengan telapak tangan mereka, lalu mereka mengusapkannya ke wajah dan badan mereka. Setiap kali rambut beliau jatuh, mereka saling berebut mengambilnya. Setiap kali beliau memberikan perintah kepada mereka, maka mereka bergegas melaksanakan perintahnya itu. Setiap kali beliau berbicara, maka mereka melirihkan suara mereka di sisinya. Dan mereka tidak pernah menajamkan pandangan mereka kepada beliau karena keagungan beliau.
[su_pullquote]“Wahai segenap kaum Quraisy, sesungguhnya aku pernah mendatangi kaisar Romawi di kerajaannya dan Najassy (Raja Ethiopia) di kerajaannya, dan sesungguhnya aku, demi Allah, belum pernah melihat seorang raja pun di tengah-tengah kaumnya yang seperti Muhammad di tengah-tengah sahabatnya.[/su_pullquote]Kemudian tatkala Urwah bin Mas’ud pulang kepada kaum Quraisy, dia berkata, “Wahai segenap kaum Quraisy, sesungguhnya aku pernah mendatangi kaisar Romawi di kerajaannya dan Najassy (Raja Ethiopia) di kerajaannya, dan sesungguhnya aku, demi Allah, belum pernah melihat seorang raja pun di tengah-tengah kaumnya yang seperti Muhammad di tengah-tengah sahabatnya.
Dalam riwayat lain disebutkan,”Sesungguhnya aku belum pernah melihat seorang raja pun yang para sahabatnya mengagungkan dia seperti (apa yang aku lihat pada) Muhammad SAW yang para sahabatnya yang mengagungkannya (lebih dari semua raja manapun). Sungguh, aku telah melihat suatu kaum yang mereka itu tidak mungkin menyerahkannya (kepada musuh).”
Iman Thabrani dan Ibnu Hibban meriwayatkan dalam shahih-nya dari Usamah bin Syarik ra, dia berkata,”Pernah kami duduk-duduk bersama Nabi SAW, seakan-akan di atas kepala kami bertengger seekor burung. Tidak ada seorang pun di antara kami yang berbicara. Tiba-tiba, sekelompok orang mendatangi beliau seraya berkata,’Siapakah hamba-hamba Allah yang paling dicintai oleh Allah SWT ?’ Nabi SAW menjawab,’(Hamba-hamba Allah yang paling dicintai oleh Allah SWT adalah) yang paling baik akhlaknya di antara mereka,’”
Abu Ya’la meriwayatkan dan dia mensahihkannya dari Bara bin Azib ra yang berkata, “Pernah aku ingin bertanya kepada Rasulullah SAW tentang suatu masalah, tetapi aku menundanya sampai dua tahun disebabkan oleh kewibawaan beliau.”
Imam Baihaqi meriwayatkan dari Zuhri yang berkata,”Seorang dari kaum Anshar yang aku percayai telah menceritakan kepadaku bahwa Rasulullah SAW jika berwudhu atau merdahak, maka orang-orang bergegas mengambil sisa wudhu atau dahaknya itu dan mengusapkannya pada wajah dan sekujur badan mereka. Rasulullah SAW bertanya kepada mereka,’Mengapa kalian melakukan ini?’ Mereka menjawab,’Kami mengharapkan berkah dengannya.’ Maka Rasulullah SAW bersabda,’Barangsiapa yang ingin agar allah dan Rasul-Nya mencintainya, maka hendaklah dia berkata benar, menunaikan amanat dan tidak menyakiti tetangganya.’”
Dengan demikian, dalam hal ini terdapat dua perkara penting yang harus diperhatikan. Pertama, kewajiban mengagungkan Nabi Muhammad SAW dan mengangkat kedudukannya di atas seluruh makhluk. Kedua, menyendirikan sifat ketuhanan dan keyakinan bahwa Allah SWT menyendiri dengan Zat-Nya, sifat-sifat-Nya dab perbuatan-perbuatan-Nya dari seluruh makhluk-Nya. Oleh karena itu, barangsiapa yang menyakini adanya persekutuan makhluk di antara ketiga hal tersebut, maka dia telah musyrik, seperti orang-orang musyik yang meyakini sifat ketuhanan pada berhala-berhala dan bahwa berhala-berhala tersebut layak disembah; dan barangsiapa yang mengurangi martabat Rasulullah SAW, maka sesungguhnya dia telah durhaka atau telah menjadi kafir.
[su_quote]Adapun yang berlebih-lebihan dalam pengagungan terhadap Rasulullah SAW dengan berbagai cara pengagungan, tetapi dia tidak menyifati Rasulullah SAW sedikitpun dengan sifat-sifat al-Bari (Yang Maha Pencipta) Azza Wajalla, maka sesungguhnya dia telah melakukan hal yang benar dan telah menjaga sisi ketuhanan (bagi Allah SWT) dan risalah (bagi Rasulullah SAW) sekaligus. Dan itulah pendapat yang lurus, yang tidak ada pelampauan batas di dalamnya.[/su_quote] ——————
Dikutip dari Mafahimu Yajibu an Tushahhaha, “Pandangan-pandangan yang harus diluruskan” karya Allamah Sayid Muhammad Alawi Maliki Hasani, seorang keturunan Nabi SAW dan Bani Hasyim. Beliau adalah  ulama Saudi moderat bermazhab Maliki.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here