Membaca Buku “Dari Puncak Baghdad” : Kiprah Pertanian

84

Di buku “Dari Puncak Baghdad” karya Mir Tamim Anshary disebutkan bahwa dalam perjalanan sejarahnya Eropa terbilang maju untuk urusan pertanian.  Barangkali negeri ini yang memang latah mengikuti yang serba ‘barat’ mau menirunya dan bersabar untuk menjalankannya dan benar-benar berniat sukses di bidang tersebut. Saya share sedikit betapa pertanian bisa berkiprah dalam perjalanan sejarah Eropa, bahkan bisa dibilang ; tanpa pertanian yang mapan dan kuat, Eropa tidak akan mampu melakukan perang salib yang berlarut-larut selama kurang lebih 2 abad. Begini ceritanya.

Keadaan yang Mengerikan

[toc]Keadaan Eropa sebelum abad ke-11 memang amat mengerikan untuk waktu yang lama. Mendapat serangan selama berabad-abad dari suku-suku Jermanik,  Hun, Avar,  Magyar, Muslim, Viking dan lainya, Eropa nyaris tenggelam dan hanya mampu sekedar bertahan.
Pada saat itu, hampir semua orang Eropa adalah petani. Hampir setiap petani melakukan pekerjaan melelahkan dari fajar hingga petang hanya demi mendapatkan makanan yang cukup untuk mencegah mereka dari kelaparan dan mendukung lapisan tipis kelas atas yang terdiri dari aristokrat militer dan rahib. Kecuali sedikit diantara mereka yang pergi ke gereja, anak laki-laki kelas atas hampir tidak memplajari apa-apa kecuali cara berkelahi.

Inovasi Kecil

Akan tetapi, suatu waktu pada abad ke-11, konsekuensi dari berbagai inovasi kecil berakumulasi menuju sebuah titik jungkit. Inovasi-inovasi ini begitu halus sehingga mungkin tidak diperhatikan pada saat itu. Salah satunya adalah ‘bajak berat’ bermata baja yang dimodifikasi sehingga bisa memotong akar dan, dibandingkan dengan model lama, menggali alur yang lebih dalam di tanah basah Eropa utara. Bajak berat memungkinkan petani untuk membersihkan hutan dan memperluas lahan ke daerah yang sebelumnya dianggap tidak cocok untuk pertanian. Akibatnya, tersedia lebih banyak tanah bagi petani.
Penemuan kedua adalah tali leher kuda, yang merupakan sedikit perbaikkan dari tali kekang yang digunakan untuk mengendalikan hewan pembajak tanah. Versi sebelumnya hanya bisa digunakan pada sapi, disebabkan karena bentuknya. Versi lama tidak bisa digunakan pada kuda dan bisa mencekiknya sampai mati. Versi terbaru bisa digunakan untuk kuda, dan karena kuda ternyata bisa membajak sekitar lima puluh persen lebih cepat dari sapi. Akibatnya para petani bisa membajak tanah lebih banyak dalam waktu yang sama jika menggunakan sapi.
Inovasi lainnya adalah dalam hal pola tanam. Menanam lahan yang sama tahun demi tahun melelahkan tanah sehingga petani harus membiarkan ladang mereka “istirahat” dari waktu ke waktu. Tapi perut tidak pernah beristirahat, sehingga petani Eropa biasanya membagi tanah mereka menjadi dua bidang. Setiap tahun mereka menanam tanaman di satu bidang dan membiarkan bidang lainnya kosong. Tahun berikutnya, mereka menanam di bidang kedua dan membiarkan yang pertama kosong. Namun, setalah berabad-abad, orang Eropa mulai menyadari bahwa sebuah lahan tidak harus istirahat setiap tahun kedua. Lahan itu tetap sama suburnya jika dibiarkan kosong hanya satu tahun dalam setiap tiga tahun. Secara bertahap, petani mulai membagi lahan mereka menjadi tiga bidang dan menanam dua bidang setiap tahunnya sementara membiarkan satu bidang kosong. Akibatnya, ini memberi petani seperenam bagian tanah yang lebih subur setiap tahun.

Akibatnya…

Apa akibat dari perubahan-perubahan kecil itu ? Tidak banyak. Perubahan itu hanya menghasilkan surplus yg tidak banyak dari waktu ke waktu untuk bisa membeli barang-barang yang sedikit beragam dan memberi sedikit waktu luang yang mereka manfaatkan untuk membuat barang-barang kerajinan yang bisa diperdagangkan. Saat itu, persimpangan jalan tertentu menjadi tempat bertemu antara pembeli dan penjual yang terus berkembang menjadi pasar yang lebih permanen dan akhirnya berkembang menjadi sebuah kota.  Kita akan lihat efek perkembangan pertanian lainnya.
Perkembangan tersebut membuat uang kembali digunakan di Eropa, dan dengan berkembangbiaknya uang, para petani dan pedagan kaya di Eropa mulai memikirkan satu hal, perjalanan. Dan ke mana mereka bepergian ?  Yah, sebagai dunia yang terbenam oleh agama dan takhayul agama, mereka pergi ke tempat-tempat keramat untuk memperoleh keajaiban. Jika uang mereka terbatas, mereka mengunjungi kuil-kuil lokal, tetapi jika dana mencukupi mereka bepergian ke kuil besar di tanah suci, Palestina. Di Palestina mereka menapak tilas perjalanan dan kehidupan Kristus, berdoa, memohon ampun, membeli jimat untuk mengobati penyakit fisik mereka, membeli barang-barang aneh yang hanya ada di pasar-pasar dunia Timur, membeli oleh-oleh dan pulang ke rumah unruk merenungkan petualangan hidup terbesar mereka.

Amarah Sekaligus Iri Hati

Kemudian, dengan semakin membaiknya perekonomian Eropa, kekuatan militer mereka pun pulih dan siap untuk membalas perlakuan Dinasti Seljuk terhadap peziarah Kristen dan kekalahan Bizantium.
Apa pasal penyebabnya ? Dinasti Seljuk merebut kendali atas Palestina dari Dinasti Fathimiyyah yang toleran (terkenal sebagai pendiri Al-Azhar) dan Abbasiyyah yang lamban. Sebagai mualaf, Seljuk Turki ini cenderung ke arah fanatisme. Mereka tidak bersemangat dalam menjauhi minuman keras, bersikap rendah hati, dermawan dan sejenisnya, tetapi mereka tidak tersaingi dalam soal mengungkapkan penghinaan sovinistik terhadap pengikut agama lain dari negeri-negeri yang jauh dan lebih primitif.
Peziarah Kristen memang tidak pernah dipukuli, disiksa apalagi dibunuhi. Tapi mereka diperlakukan serampangan di tanah suci mereka dengan diperlakukan sebagai manusia kelas dua yang diperlakukan secara kasar dan sedikit dilecehkan. Ketika petualang ini kembali ke Eropa, banyak hal yang mereka sumpahi dan keluhkan, tapi mereka juga membawa cerita tentang kemegahan negeri Timur; rumah-rumah indah, sutra dan satin yang digunakan oleh rakyat jelata, makanan lezat, rempah-rempah, parfum dan emas. Pokoknya cerita-cerita yang membangkitkan amarah sekaligus iri hati.
Pasal lainnya, kisah tentang pertempuran Manzikert (1071 M) dimana Turki Seljuk menghancurkan Bizantium dan menawan kaisarnya terdengar sebagai berita yang sangat mencengangkan. Ini menjadi faktor lain pemicu aliran pesan lain dari Bizantium tentang dunia Timur. Kaisar Bizantium menyeru para ksatria Kristen yang mulai kekurangan peperangan untuk diterjuni, (sebuah tugas pokok, kalau bukan pekerjaan satu-satunya para ksatria Eropa waktu itu) seiring berkurangnya serangan bangsa Viking, untuk berjuang membela Eropa. Seruan Bizantium ini juga disampaikan pada saingan terberat mereka di Barat, sang Paus Urbanus II, bahwa jika Konstatinopel jatuh maka “Mohammedans” yang kafir itu akan langsung datang meratakan Roma.
Kedua faktor itulah yang paling kuat untuk memancing Paus Urbanus II menyampaikan pidato berapi-api di sebuah biara di Prancis, Claremont. Menyatakan bahwa dunia Kristen sedang terancam kepada majelis bangsawan Prancis, Jerman, dan Italia, mencanangkan ekspedisi croisade (croix dari bahasa Prancis untuk kata salib). Dengan berfokus membebaskan Yerusalem dari Dinasti Turki Seljuk, Paus mengaitkan invasi ke Timur dengan ziarah sehingga membingkainya dengan tindakan religius. Oleh karena itu, dengan wewenang sebagai Paus, Urbanus II memutuskan bahwa siapapun yang pergi ke Yerusalem untuk membunuh kaum Muslim akan menerima pengampunan sebagian atas dosa-dosanya.
Sebagaimana terjadi dalam sejarah, tak perlu waktu lama (1096) tentara salib pertama mulai memasuki Anatolia Timur dan menyebut dirinya kaum Frank, sehingga pada masa berlangsungnya peperangan itu, orang Turki dan Arab tidak mengenalnya sebagai perang salib, namun menyebutnya sebagai peperangan melawan bangsa Frank (Al-Ifranj) dari Eropa. Eropa sanggup membiayai peperangan yang memakan waktu kurang lebih dua abad tersebut bermodalkan hasil pertanian yang melimpah.
Bagaimana ? Tertarik untuk mengembangkan tanah di negeri ini untuk bidang pertanian ? Indonesia dengan tanahnya yang subur hampir dipastikan bisa menyaingi kualitas tanah Eropa plus tanah yang sangat luas tersedia. Tentu saja, hasil pertaniannya bukan digunakan untuk mengobarkan perang salib lagi, namun untuk kesejahteraan hidup rakyat Indonesia.
Psssttt… Mungkin itu juga yang membuat pertanian di Indonesia bak hidup segan, mati pun tak mau. Ada ketakutan jika pertanian kita kuat maka negeri ini pun semakin kuat dan mampu memiliki kekuatan militer yang luar biasa dan pada ujungnya meningkatkan bargaining position alias daya tawar di mata negara-negara besar di dunia sehingga mereka tidak bisa seenak udelnya meng-obok-obok negeri ini.
Ditulis ulang dari halaman ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here