Membaca Buku “Dari Puncak Baghdad” : Invasi Perdagangan

232

Tiga per empat sudah saya melahap buku “Dari Puncak Baghdad” karya Mir Tamim Anshary. Buku itu sedemikian menarik karena berusaha menyajikan perjalanan sejarah Islam dan umatnya dari sudut pandang umat Islam sendiri, setidaknya dari sudut pandang Tamim Anshary yang seorang muslim. Banyak informasi sejarah yang baru saya ketahui, maklum sebagaimana yang dikeluhkan Tamim Anshari, kita seringkali membaca sejarah Islam yang porsinya secuil dari buku-buku sejarah umum yang ada. Disinyalir, memang ada mekanisme pengkerdilan sejarah umat Islam hingga saat ini.

 
[toc]Banyaknya kajian sejarah yang dilakukan Tamim Anshari, tentu saja menghasilkan analisa yang berlimpah juga. Misalnya, analisa atas kematian khalifah ‘Ali sebenarnya telah mengakhiri ‘kekhalifahan’ Rasulullah saw, sisanya atau kelanjutannya kehidupan berpolitik dan bermasyarakat umat Islam mengambil bentuk kerajaan seperti pada umumnya kerajaan di dunia.
Analisa lainnya yang menarik, kerajaan Islam boleh hancur berulangkali oleh pembusukkan dari dalam maupun diluluhlantakkan Mongol sekalipun, akan tetapi imperium-imperium Islam tetap saja mampu bangkit kembali dan terus memunculkan pusat-pusat peradaban dunia sampai dipenghujung masa keemasannya;  Shafawi di Iran, Moghul di India dan Utsmani di Turki. Sayang sekali, kebangkitan tersebut belum terjadi kembali hingga tulisan ini diturunkan.
Setahu saya, sudah banyak yang mengulas faktor-faktor keruntuhan dan keterpurukkan peradaban Islam hingga saat ini. Namun yang paling menarik bagi saya adalah proses terjadinya keruntuhan itu sendiri. Saya melihat proses peruntuhan ini terus berlangsung terus dan berulang. Terus berlangsung karena teknik peruntuhan umat Islam makin canggih. Berulang karena pola-pola lama diterapkan berulangkali di banyak negeri dengan mayoritas muslim dan terbukti masih efektif membuat kemajuan umat islam tertahan dan negeri-negerinya terpuruk berkepanjangan. Tak terkecuali negeri ini, Indonesia.
Ah, ternyata tetap saja harus menyebutkan terlebih dahulu salah satu penyebab rontoknya imperium umat islam, saya mengambil kasus yang terjadi pada imperium ‘kekhalifahan’ Turki Utsmani.

Biang Keladi

Apa yang menjadi biang keladi keruntuhan imperium muslim tersebut ? Senjata ? Bukan, perang salib yang terjadi meskipun berlarut-larut tidak cukup kuat untuk menghancurkan imperium Turki. Asumsi saya, aktifitas perdaganganlah yang menjadi pengganti peperangan dan menjadi alat invasi satu negara terhadap negara lainnya. Saya ambilkan dari analisa Tamim Anshari, sebuah pola invasi perdagangan dan bagaimana invasi tersebut berhasil meruntuhkan sebuah pemerintahan sebesar dan sekuat dinasti Utsmani. Pola ini menjadi pola dasar invasi perdagangan yang diterapkan hingga hari ini dengan banyak variasinya dan semakin cangggih dan berdaya rusak makin hebat.
Dalam imperium Utsmani, serikat usaha (mirip dengan koperasi dan biasanya ada keterkaitan dengan tarikat-tarikat sufi) mengendalikan semua manufaktur dan mereka melindungi anggota mereka dengan mengunci kompetisi. Satu serikat usaha memiliki monopoli atas produksi sabun, lainnya bergerak dibidang monopoli pembuatan sepatu dan seterusnya. Meskipun demikian, mekanisme unik check and balance yang diterapkan pemerintah membuat para serikat usaha tidak bisa memanfaatkan monopolinya untuk mempermainkan harga (bandingkan dengan negeri ini) karena negara menetapkan batasan tentang berapa besar biaya yang bisa mereka berikan untuk ditanggung pembeli.
Negara melindungi kantong uang masyarakat dan serikat usaha melindungi anggotanya; segalanya seimbang, semua berjalan dan semuanya senang (bandingkan lagi dengan negara ini) sampai kemudian orang barat masuk ke sistem itu dan memberi pengaruh buruk dan mulai merusak tatanan tersebut.

Pengaruh Buruk

Pada awalnya, para pedagang Eropa masuk memasuki arena bisnis di imperium Utsmani tidak untuk bersaing dengan para serikat usaha yang ada. Mereka datang justru untuk membeli barang terutama bahan baku, apapun yang bisa dibeli mulai dari wol, kulit, kayu, minyak sampai logam. Pemasok senang berbisnis dengan mereka ; harga bagus dan ternyata negara pun senang dengan bisnis ini. Lalu, apa yang salah di sini ?
Orang Eropa itu bisa membeli lebih banyak, mungkin juga sedikit lebih mahal dibanding para serikat usaha pribumi dengan berbekal emas yang berlimpah hasil jarahan mereka di bumi Indian Amerika Selatan. Sedangkan serikat usaha hanya mengandalkan laba yang dibatasi kontrol pemerintah. Para serikat tidak bisa mengimbangi daya beli orang Eropa yang menghisap habis bahan baku di wilayah Utsmani dan mengirimkannya ke Eropa (Lagi-lagi, bandingkan dengan kondisi negeri ini). Para pengusaha pribumi di imperium Utsmani mulai merasakan pukulan telak, produksi dalam negeri perlahan-lahan anjlok. Selanjutnya, kita lihat efek buruknya.
Para petinggi Utsmani melihat terhisapnya bahan baku strategis ke Eropa sebagai masalah dan mengatasinya dengan melarang ekspor bahan baku strategis. Sialnya, aturan ini membuka peluang penyelundupan. Misalnya, ketika ekspor wol dianggap kriminal oleh pemerintah dan para pemasok yang jujur menghentikannya, maka giliran para penjahat yg meneruskan penjualannya.

Pasar Gelap, Inflasi, Perdagangan Akses & Korupsi

Ekonomi pasar gelap berkembang, lalu terbentuklah kelas orang kaya baru dari bisnis pasar gelap. Selanjutnya mudah ditebak, karena mereka melanggar hukum untuk mencari uang, mereka harus menyuap banyak pejabat untuk melancarkan bisnisnya. Selanjutnya terbukalah peluang untuk bisnis akses, bisnis beking dll. Peluang korupsi yang begitu menggiurkan melahirkan kelas orang kaya baru lainnya; birokrat pemakan suap (kembali menengok negeri ini). Lanjutannya, kita lihat pergeseran gaya hidup orang kaya baru Utsmani.
Jadi, saat itu banyak orang yang punya uang ilegal yang tidak dihasilkan dari peningkatan produktifitas apapun. Kemana orang kaya baru Utsmani menghabiskan uang mereka ? Investasi industri hilir tidak mungkin, terlalu menarik perhatian intel pemerintah. Gaya mafia narkoba Amerika modern pun ternyata sudah mereka gunakan. Mereka, orang kaya baru dari pasar gelap dan koruptor, membelanjakan uangnya untuk barang-barang mewah termasuk mengimpor barang mewah dari Eropa. Uang tunai / emas yang mereka peroleh di bawah meja pada akhirnya secara perlahan namun pasti kembali mengalir masuk ke kas Eropa. Konsumerisme orang kaya baru Utsmani menguatkan industri Eropa bersamaan dengan makin terpuruknya kemampuan imperium Utsmani untuk memproduksi barang-barang kebutuhan dalam negerinya (bukankah mirip dengan negeri ini juga ?).
Bencana lain yang datang bersamaan dengan kondisi tersebut adalah inflasi ketika emas banyak masuk ke kas pemerintah hasil pajak dari perdagangan justru pada saat industri melorot. Harga barang di dalam negeri naik tajam, uang dimana-mana namun barang kebutuhan sulit ditemukan. Siapa yang paling dirugikan inflasi ini ? Jawabannya adalah orang-orang yang berpendapatan tetap. Kita lihat kelanjutannya saat budaya korup semakin menggila dan menguasai pemerintahan.
Di imperium Utsmani, mereka yang punya pendapatan tetap adalah para birokrat, pegawai negeri yang karena tertekan inflasi mulai berpikir berapa banyak yang mereka miliki tidaklah penting; yang penting bagi mereka adalah berapa banyak kekurangan mereka. Mereka mulai berpikir untuk menambah pendapatan dengan memegang satu-satunya instrumen yang mereka kuasai, akses.
Ketika mereka tidak memiliki peran, kecuali menyediakan akses, mereka tidak memiliki kekuatan kecuali dengan menghalangi akses. Pejabat Utsmani di berbagai tingkatan mulai mempersulit bukannya memfasilitasi — kecuali jika mereka diberi suap. Dengan segera birokrasi imperium Utsmani menjadi labirin dokumen, perlu ekstra usaha dan ekstra uang suap untuk menembus setiap lapisan dan tikungannya (lihat kembali kondisi negeri ini dengan berkaca pada sejarah di atas).
Pemerintahan Utsmani bukanya menganggap angin lalu budaya korupsi dan suap-menyuap di pemerintahannya. Pemerintah akhirnya terjebak mengurusi masalah tersebut terus menerus, negara ingin menaikkan gaji PNS agar mereka tidak perlu menerima suap. Jalan pintas pun ditempuh dengan mencetak uang tambahan tapi itu hanya semakin memperburuk keadaan. Akhirnya pemerintah menyerah dan memutuskan menyewa konsultan untuk membereskan segalanya. Para konsultan yang mereka sewa adalah ahli manajemen dan teknis dari benua yang tampaknya tahu caranya: Eropa barat. Check mate ! Para pembaca yang budiman pasti sudah tahu kelanjutan ceritanya. Selesai sudah imperium Utsmani.
Terselip kekhawatiran melihat terpuruknya negeri ini yang menurut saya terperangkap pola invasi perdagangan sebagaimana dialami imperium Turki Utsmani dulu. Kekayaan alam luar biasa yang dimiliki negeri ini mungkin yang telah turut membantu meredam laju kecepatan penghancuran negeri ini. Lalu seberapa lama lagikah ibu pertiwi ini mampu bertahan dan mempertahankan penghuninya yang ‘sakit’ ini ? Wallahu a’lam bish-shawab.
Ditulis ulang dari halaman ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here