Melihat Hikmah dari Musibah Mencari Makna dari Bencana

Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tercatat 1.312 kali bencana yang terjadi di negeri kita pada tahun 2019 mulai dari gempa bumi, tsunami, banjir, tanah longsor, kebakaran hutan, angin puting beliung dan bencana alam lainya.

Kejadian bencana alam ini tidak bisa dielakan memang membuat negeri kita berduka dengan banyaknya korban jiwa, korban luka dan kerusakan-kerusakan lainnya.

Membuka lembaran baru di tahun 2020 ini beberapa daerah di negeri kita kembali tertimpa bencana, tanah longsor dan banjir menimpa Jabodetabek dan sekitarnya. Jika boleh diibaratkan Negara kita saat ini bagaikan alu patah lesung hilang, belum kering tanah di lapang awan mendung sudah kembali datang.

Namun sejatinya musibah dan bencana yang menimpa bukan sebuah alasan kita menjadi pasrah akan keadaan dan kemudian menjadi saling menyudutkan berbicara akan siapa yang harus bertanggung jawab dan siapa yang salah apalagi sampai membawa-bawa hukum surgawi yang sensitif, hal itu hanya dapat memperparah keadaan bahkan dapat menimbulkan rasa sakit hati pada korban yang terkena bencana. Bencana yang terjadi adalah bahan renungan untuk kita semua agar bisa belajar dan mengambil hikmah, karena sesungguhnya besarnya bencana yang ada tersimpan di baliknya berjuta-juta makna untuk kita bersama.

Bukankah selaku manusia beriman kita diperintahkan untuk senantiasa berprasangka baik kepada Sang pencipta ? bukankah kita pernah mendengar sabda Rasul SAW “اذا احب الله قوما ابتالهم” yang artinya “jika Allah mencintai suatu kaum maka mereka akan diuji” ? jika begitu, baik nya kita memandang bencana dengan cara yang bijak, tidak ada lagi pembicaraan yang dapat menyakiti hati saudara sendiri seperti menuduh bahwa mereka banyak berdosa sehingga Allah murka atau pembicaraan kita yang menyudutkan pemerintah menyudutkan satu atau lain pihak yang belum tentu benar nyatanya.

Walaupun memang kemaksiatan dapat memicu bencana seperti yang telah terjadi pada zaman Nabi Nuh, Nabi Luth dan meskipun kita melihat ada kekurangan upaya dari pemerintah menanggulanginya nampaknya kurang elok jika kita hanya saling melempar sangka, karena bagaimana juga tidak ada satu pihak pun yang menginginkan bencana melanda. Oleh karena itu mari kita sikapi bencana yang terjadi dengan berpikiran baik tidak saling menyalahkan, dengan semangat kemanusiaan yang tinggi dilandasi ghirah persatuan dan uluran tangan untuk saling membantu satu sama lain.

Kemudian yang paling penting mari kita jadikan bencana yang terjadi sebagai media intropeksi untuk kita semua. Melihat Firman Allah SWT dalam Q.s As- Syura ayat 30 : “وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ” yang artinya : Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu). Melihat ayat diatas mari kita kembalikan kepada diri sendiri sejauh mana perilaku kita terhadap alam (hablum minal ‘alam) apakah kita masih abaikan kelestarianya atau malah kita senang membuat kerusakan?.

Selanjutnya bagaimana hubungan kita dengan sesama manusia (Hablum minannas) apakah dengan saudara sebangsa kita sudah menjalin persatuan atau malah menebar kebencian, permusuhan dan pertentangan? sebab berkaitan dengan hal ini Rasul SAW bersabda “لان رحمة لا تنزل الى قوم فيهم قاطع الرحم” : artinya : “Sesungguhnya rahmat (Allah) tidak akan turun kepada kaum yang di dalam kaum tersebut terdapat orang yang memutus silaturahmi”.

Kiranya jika pertanyaan itu dilayangkan kepada diri masing-masing, kita dapat mengakui bahwasanya kita sendiri belum bisa sepenuhnya lepas dari hal-hal yang tidak dibenarkan, khususnya saya pribadi pun demikian bahkan lebih, sebab itu tidak ada alasan kita untuk saling menyalahkan. Mari kita bersama-sama rawat dan jaga negeri kita tercinta, kita galang persatuan, kikis perpecahan serta kita tunjukan bahwa kita semua bersaudara, saling membantu antar sesama karena bencana mereka adalah bencana kita juga. Wallahu a’lam.

Penulis : Moh. Rifqi S.a (PMII Kab. Bandung)
Editor/Akbar Hadiansyah

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.