Categories: Berita Taushiyah

Mari Maknai Hadis Ballighu `Anni walaw Ayah dengan Benar

Tidak sedikit da’i yang terpeleset lidah (atau mungkin disengaja) dalam menyampaikan dakwahnya, yang disebabkan minimnya ilmu agama yang dia kuasai. Masih untung kalau kesalahan tersebut masih dalam wilayah fikih, namun akan menjadi sangat fatal kalau saja sudah berada dalam wilayah akidah.

Masih nyaring di telinga kasus ustadzah Mamah D*h, tiba-tiba muncul Ustadz E yang terkenal dengan brand “Hijrah”-nya. Jika kasus pertama relatif masih berada di wilayah fikih, beda dengan kasus ke dua, itu sudah mengusik wilayah akidah.

Banyak faktor yang menjadi penyebab munculnya kasus-kasus tersebut, namun menurut penulis, yang paling dominan adalah berawal dari kesalahan dalam memahami makna hadis Nabi: “Ballighu `anni walaw ayah”.

Arti dari hadis tersebut adalah “Sampaikanlah dariku meski hanya satu ayat”. Hadis ini oleh banyak orang dimaknai sebagai legitimasi bagi siapa pun untuk menjadi pendakwah, menjadi mufti, bahkan menjadi hakim.

Benar hadis tersebut adalah hadis sahih, terdapat dalam Shahih al-Bukhari, Shahih Ibn Hibban, Sunan al-Turmudzi, Sunan Abi Dawud, Musnad Ahmad, Sunan al-Darimiy. Hanya saja ketika dimaknai sebatas sesuai arti harfiyahnya, bahkan hadis tersebut tidak dibunyikan dengan lengkap, maka seolah-olah Nabi menyuruh siapa pun yang memiliki pengetahuan tentang satu ayat untuk menjadi pendakwah. Padahal itu fatal sekali akibatnya, karena akan banyak muncul ajaran yang dikeluarkan bukan berasal dari pengetahuan yang valid, komprehensif, dan otentik.

Sejatinya hadis tersebut bukanlah perintah bagi orang yang tahu satu ayat untuk menjadi pendakwah, melainkan perintah kepada sahabat yang hadir saat Nabi menyampaikan wahyu yang diterimanya dari malaikat, kepada sahabat lain yang saat itu tidak bisa hadir. Jadi hanya sebatas menginformasikan, supaya yang lain menjadi tahu tentang adanya ayat yang diturunkan lagi di saat mereka sedang tidak bersama Nabi, sehingga semua sahabat menjadi tahu.

Pendakwah dan informan itu beda bro. Kalau hanya sekedar informan, maka janganlah menggali lebih jauh bahkan memberi penafsiran terhadap informasi yang akan disampaikan, cukup sebutkan saja bahwa salah satu ayat dari surah al-Dluha itu adalah “Wawajadaka dlâllan Fahadâ”, selesai. Maka ente tidak akan menuai badai.

Sedangkan menjadi pendakwah, namanya juga hendak mengajak, maka tidak bisa tidak harus banyak faham terhadap substansi apa yang mau dijadikan ajakan. Caranya? Ya banyak ngajilah sama Kyai, bukan sama yang lain-lain, ntar jadi lain-lain hasilnya. Bukan hanya teu nanaon, tapi bakal aya nanaon. Buktina? Kitu pan Mang Bro. (Salam ngopi ti LTN NU Jabar)

Sumber : LTN NU Jabar

admin pc nu

Recent Posts

Santri Tawadlu’ Merunduk

M. Rikza Chamami Dosen UIN Walisongo Beberapa waktu yang lalu viral sebuah video para santri menghentikan langkah kaki di sebuah…

15 jam ago

Ikhtiyar Memilih Ustadz yang Ulama

M. Rikza Chamami Dosen UIN Walisongo Kemarin di salah satu group Whatsap ada diskusi yang sangat menarik. Temanya adalah soal…

15 jam ago

Ansor Bandung Didik 850 Banser NU Militan

Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kab. Bandung mengadakan kegiatan Pendidikan dan Pelatihan Dasar (Diklatsar) Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Nahdlatul Ulama (NU)…

3 hari ago

Kisah Haru di Balik Penciptaan Aplikasi NU Kids

Berkenalan sekilas dengan Kirana tidak akan mengira bahwa pria asal Jombang itu adalah seorang programer andal. Penampilannya khas santri pada…

1 minggu ago

Habib Umar Assegaf

Habib Umar Assegaf Halal Bi Halal MUI, MWCNU, dan PAC GP Ansor Kec. Paseh di Ponpes Bahrul Ulum Babakan Pasantren…

2 minggu ago

Ngaji Yuk…..

Dahsyatnya Kekuatan Do’a Pengajian Kitab Nashoihul Ibad Oleh Ust. Cep Mansur Almaturidi pimpinan Ponpes Al Mukhlisin Bojongsoang Bandung

2 minggu ago