Diumumkan kepada segenap ikhwan TQN, umum-nya kaum Muslimin-Muslimat dimanapun berada, MTQN Bandung akan menggelar acara manaqiban sebagaimana rencana di bawah ini :

  • Waktu pelaksanaan, tanggal 04 Desember 2014 mulai Maghrib (sholat berjamaah) s/d selesai
  • Acara diselenggarakan di Masjid Annur Mama Argadinata Bolero Dayeuhkolot
  • Khidmah Ilmiyah oleh KH. Lukman Kamil, wakil talqin dari Cimuleuit, Bandung


logo-ppsManaqib adalah suatu bentuk kegiatan khidmat amaliah dan ilmiah, dan sudah melembaga dan membudaya di tengah sebagian besar masyarakat Islam Indonesia. Terutama sekali di kalangan ikhwan Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah Pondok Pesantren Suryalaya. Kegiatan khidmat itu merupakan bagian pengamalan dan pengenjawantahan dari Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah. Pelaksanaannya secara rutin sesuai dengan jadwal waktu yang telah ditentukan bertempat di majlis-majlis manakiban dan khotaman. Khususnya pembacaan manakib Sulthon Aulia Syekh Abdul Qodir Al Jaelani q.s berikut do’anya
Manaqib itu sendiri berasal dari bahasa Arab, dari lafad “manqobah” yang berarti : kisah tentang kesolehan dan keutamaan ilmu dan amal seseorang. Manaqib secara istilah yang dikenal umum yaitu membacakan riwayat hidupnya orang-orang yang sholeh. Sedangkan riwayat orang-orang zholim tidak disebut manakib.
Dalam Al-Quran dikatakan: “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridho kepada mereka dan merekapun ridho kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar”. (At-Taubat 100).
Di dalam manaqib sering diterangkan keanehan-keanehan yang mempunyai manaqib tersebut yang disebut dengan karomah, yang tidak bertentangan dengan keanehan-keanehan yang diterangkan oleh Allah di dalam Al-Quran.
Karomah juga disebut Khowariqul Adat (perkara yang luar biasa). Kejadian-kejadian aneh/luarbiasa dikategorikan sebagai berikut:
1) Irhash, yaitu perkara luar biasa dari seseorang yang akan menjadi nabi.
2) Mu’jizat, yaitu perkara luar biasa yang keluar dari seorang nabi.
3) Karomat, yaitu perkara luar biasa yang keluar dari seorang wali (orang yang mengikuti jejak langkah nabi).
4) Ma’unat, yaitu perkara luar biasa yang keluar dari seorang mu’min yang mengikuti jejak langkah wali.
5) Istijrod, yaitu perkara luar biasa dari seseorang yang mengikuti jejak syetan.
Yang lima perkara ini walaupun dianggap di luar kebiasaan, tetapi kalaulah diukur oleh akal tidak menjadi aneh, karena menurut penjelasan Nabi saw; akal itu dibagi kepada 3 fungsi, yaitu:
1) Akal berfungsi untuk ma’rifat kepada Allah dan semua perkara yang datang dari Allah swt.
2) Akal berfungsi untuk melaksanakan ta’at kepada perintah dari Allah swt.
3) Akal berfungsi untuk mencegah ma’siat yang dilarang oleh Allah swt.
Seumpamanya seseorang telah bisa menggunakan akalnya sesuai dengan fungsinya, maka orang tersebut tidak akan menolak kepada karomahnya para wali atau apapun sesuatu yang aneh-aneh, maka akal tersebut tergolong AKAL YANG SEHAT, yang bisa menjadikan sehat jasad, nyawa dan rasanya.
ADAB HADIR DALAM MAJLIS MANAQIBAN
Telah bersabda Nabi saw:
“Dzikrush shòlihìn kaffàrotun ‘anidz dzunùbi wa ‘ingda dzikrish shòlihìna tangzulur rohmatu wa tahshulul barokatu.”
“Mengingat-ingat orang yang sholeh dapat menjadi kifarat untuk menebus dosa. Dan ketika sedang dalam kondisi mengingat-ingat orang yang sholeh tersebut, maka diturunkan oleh Allah swt rohmat, serta dapat menghasilkan barokah”. (HR.Ahmad-Thobroni).
Yang dimaksud dengan dzikrush sholihin adalah manaqib, karena di dalam manaqib ada kegiatan mengingat-ingat riwayat, karomat dan wasiatnya orang yang sholeh tersebut.
Jadi manaqib adalah:
1) Alat untuk menebus dosa.
2) Alat untuk menerima dan mengumpulkan kucuran Rohmat Allah swt.
3) Alat untuk menghasilkan suatu berkah.
Telah berkata Syekh Mursyid Ahmad Shohibul Wafa Tajul Arifin: “Apabila sedang mengikuti suatu manaqib, maka harus seperti sedang Wukuf di Arofah”. Arti wukuf adalah DIAM. Jadi untuk menghasilkan tiga alat di dalam manaqib tersebut, harus dengan cara wukuf, yaitu diamnya 7 indra dari anggota badan, yaitu:
(1) telinga tidak mendengarkan suara kecuali suara dari bacaan-bacaan yang dibacakan dalam manaqib.
(2) mata dipejamkan.
(3) hidung bernafas keluar dan masuknya harus diiringi dengan dzikir khofi.
(4) mulut tidak bersuara, kecuali ketika sedang membacakan bacaan-bacaan dalam manaqib.
(5) tangan tidak memegang kecuali alat-alat manaqib.
(6) perut tidak diisi oleh makanan atau minuman ketika sedang berjalan acara manaqib.
(7) kaki dalam posisi diam, baik dengan duduk ataupun berdiri.
Dan yang paling utama adalah HATI harus dalam bertawajuh (berdzikir kepada Allah swt).
Read more: http://www.dokumenpemudatqn.com/2012/05/pengertian-manaqib.html#ixzz3Ktn04tGW

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.