Makna Politik Pemilihan Gubernur DKI Jakarta

99

Dinamika tarik ulur dan strategi politik yang dilakukan partai-partai politik menuju Pemilihan Gubernur DKI Jakarta berakhir sudah tepat pukul 24.00 Senin (24/3).

 Enam pasangan calon secara resmi telah mendaftar ke Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Jakarta. Ada empat pasangan calon dari parpol dan dua lainnya calon independen.

 Keempat pasangan yang didukung parpol adalah Alex Noerdin-Nono Sampono diusung (Partai Golkar, Partai Persatuan Pembangunan, dan Partai Damai Sejahtera), Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli (Partai Demokrat, Hanura, PKB, PAN dan PBB), Joko Widodo- Basuki Tjahaja Purnama (PDIP-Gerindra) dan Hidayat Nur Wahid- Didik J Rachbini (PKS dan kader PAN).

 Sementara dua pasangan yang percaya diri maju mencalonkan melalui jalur independen adalah Faisal Basri-Biem Benjamin dan Hendardji Soepandji-A Riza Patria.

 Pilkada Paling Menarik?

 Jika nantinya keenam pasangan ini lolos verifikasi dan disyahkan sebagai calon yang berhak bersaing pada Pilkada 11 Juli 2012, inilah Pilkada yang sangat menarik dan layak untuk dicermati.

 Ada beberapa alasan mengapa Pilkada DKI tahun ini menarik untuk dicermati :

 Pertama, momen Pilkada DKI tahun ini merupakan barometer untuk mengukur sejauhmana sebuah partai atau partai-partai politik masih acceptable (diterima) dimata publik terutama warga Jakarta yang merupakan barometer nasional.

Jika calon-calon dari partai politik kalah, maka asumsi menurunnya kepercayaan publik terhadap parpol seperti banyak disebut lembaga-lembaga survey memperoleh legitimasinya.

Kedua, berbeda dengan Pemilukada DKI sebelumnya (2007) pasangan yang bertarung kali ini lebih banyak dan variatif.
Tidak terciptanya koalisi partai-partai besar seperti pemilihan gubernur sebelumnya mempunyai makna ganda.

Disatu sisi, hal ini merupakan berkah politik bagi warga Jakarta karena mempunyai pilihan calon yang banyak dan dipandang publik cukup berkualitas dengan kelebihan masing-masing.

Konon warga Jakarta sekarang susah menentukan pilihan dalam arti positif karena memandang keenam calon yang ada sama-sama berbobot.

Jika fenomena munculnya banyak calon yang berkualitas yang disusung parpol dan calon independen ini menular kepada pilkada-pilkada di daerah lain atau bahkan pada pilihan presiden 2014, tentunya kita bisa mengambil berkah demokrasi yang selama ini dipersepsikan negatif.

Disisi lainnya, banyaknya calon menunjukkan bahwa kontestasi diantara parpol di Jakarta yang merupakan ukuran potret politik Indonesia kelihatan semakin tajam. Partai Demokrat, PKS, Golkar dan PDIP sebagai partai besar di DKI secara mengejutkan mencalonkan tokoh yang berbeda pada pilihan gubernur kali ini. Mungkinkah potret kontestasi ini bisa dimaknai sebagai representasi dari potret Pemilu 2014?

Demokrat dan PKS

 Yang paling menarik untuk dicermati adalah kontestasi dua partai besar yang menguasai Jakarta pada Pemilihan Umum 2009 yaitu Partai Demokrat dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

 Ditengah gonjang-ganjing dan menurunnya citra partai karena kasus korupsi yang tiap hari menjejali masyarakat lewat media, Partai Demokrat dengan percaya diri mengusung pasangan incumbent Fauzi Bowo (Foke) bergandengan dengan Nachrowi Ramli (Ketua DPD Partai Demokrat, DKI Jakarta).

 Disatu sisi, hal ini bisa dibaca sebagai kepercayaan diri partai penguasa yang masih yakin performancenya masih dipercaya warga Betawi untuk melanjutkan dominasi kekuasaan di Ibukota.

 Tetapi disi lainnya, hal ini bisa dimaknai sebagai ketidakmampuan Demokrat menggaet partai besar lain untuk berkoalisi. Gagalnya duet Foke-Adang Ruchiatna yang sebelumnya telah disebut-sebut oleh Ketua Umum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum karena tidak mendapat dukungan dari PDIP, menunjukkan kerasnya kontestasi antara kedua partai tersebut.

 Bisa jadi partai-partai besar ragu untuk berkoalisi dengan Partai Demokrat karena melihat realitas di masyarakat bahwa citra partai ini sedang menurun drastis di mata publik dan dikhawatirkan berpengaruh pada elektabilitas calonnya jika disandingkan dengan calon demokrat.

 Selain Demokrat, PKS juga mengusung calon internal partai untuk gubernur bergandengan dengan kader dari PAN, meskipun tidak didukung oleh PAN sebagai institusi partai.

 Sama dengan Demokrat, keberanian PKS mengusung Hidayat Nur Wahid dan Didik J. Rachbini bisa bermakna ganda.

 Disatu sisi, PKS seolah-olah percaya diri dengan ketokohan Hidayat Nur Wahid untuk menarik suara warga Jakarta. Masalahnya, jika memang percaya diri, maka seharusnya Hidayat disandingkan dengan tokoh internal PKS lainnya seperti Triwisaksana (Bang Sani) yang balihonya sudah lama beredar di Jakarta.

 Disisi lainnya, menggandeng kader PAN yang tidak didukung penuh oleh PAN sebagai institusi partai menunjukkan bahwa PKS juga kesulitan untuk menggandeng partai besar lain berkoalisi.

 Hanya saja, PKS seolah sedang ’berjudi’ dengan pencalonan Hidayat Nur Wahid yang dipandang cukup layak untuk maju menjadi calon RI 1 pada pemilu 2014, bukan untuk level menjadi gubernur.

 Mungkin PKS melakukan ijtihad politik dan berharap bahwa Hidayat Nur Wahid bisa terpilih menjadi gubernur DKI untuk memuluskan jalan mantan Ketua MPR ini menjadi calon presiden 2014.

 Tetapi ini merupakan perjudian yang cukup berani karena jika ternyata pada level gubernur saja kalah, maka ketokohan Hidayat sebagai ikon PKS semakin memudar dan jatuh sehingga berat baginya untuk diusung pada pemilu 2014.

 Akhirnya, kita tunggu siapakah yang akan dipilih warga Jakarta sebagai gubernur.

 Akankah incumbent terpilih dan secara otomatis mendongkrak kepercayaan diri Partai Demokrat bahwa partainya masih dipercaya rakyat menjelang Pemilihan Umum 2014?

Mungkinkah ikon PKS, Hidayat Nur Wahid akan terpilih dan kembali menunjukkan sinarnya dan punya harapan pada pemilu 2014 atau justeru sebaliknya?

Apakah akan terjadi kejutan lain yaitu tokoh Jokowi dari PDIP yang sukses menjadi Walikota Solo berhasil menyodok menjadi tokoh politik nasional?

Ataukah justeru calon independen yang memenangkan pemilukada DKI yang bermakna bahwa partai-partai politik sudah tidak lagi dipercaya rakyat Betawi dan mencari alternatif tokoh independen?

Kejutan hasil akhir pemilihan gubernur DKI ini sangat ditunggu-tunggu publik untuk mengukur dan melihat bagaimana kontestasi politik nasional ke depan terutama Pemilihan Umum 2014.

¨ Tulisan Ahmad Ali Nurdin, Ph.D¨ Dosen Agama dan Politik, Fakultas Ushuluddin dan Pasca Sarjana, UIN Sunan Gunung Djati, Bandung, Wakil Ketua Pergunu, Kab. Bandung.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here