Laylatul Ijtima’ MWCNU Banjaran

347

Para Pengurus Nahdlatul Ulama selalu melaksanakan dan memelihara tradisi-tradisi keagamaan yang dilakukan para ulama terdahulu dalam pengembangan keorganisasian menuju kepribadian yang selaras dengan nilai-nilai keagamaan dan kemasyarakatan. Salah satu tradisi yang biasa dilakukan oleh warga NU adalah laylatul ijtima’. Kegiatan laylatul ijtima’ ini diisi dengan kegiatan berkumpul para warga Nahdliyyin, bersilaturahmi, membaca kalimat dzikir, do’a yang dilajutkan dengan diskusi keagamaan ataupun yang berkaitan dengan keorganisasian.

Walaupun masih capai setelah seharian menyembelih dan membagikan daging qurban pengurus MWCNU Banjaran, pada hari Sabtu 27 Oktober 2012, dengan mengundang beberapa pengurus ranting se Kecamatan Banjaran dan para Asatidz Ponpes Darul Hikam melaksanakan laylatul ijtima’ di Pondok Pesantren Darul Hikam Desa Kiangroke.

Kegiatan yang dimulai dengan istighasah untuk keselamatan dan kesejahteraan masyarakat Indonesia dan do’a buat sesepuh ponpes Darul Hikam dan para pendiri NU. Dilanjutkan dengan pembahasan ke NU an oleh Rois Syuriah MWC Banjaran yang membahas tentang serangan kelompok yang tidak suka dengan eksistensi Ahlussunah wal Jama’ah. Mereka mencoba mengorek-ngorek dan mencari kelemahan dalil-dalil yang digunakan warga Nahdlatul Ulama dalam melaksanakan perintah Allah SWT. dan Rasulullah SAW.

Oleh karena itu, sudah seharusnya para pengurus mengantisipasi serangan tersebut dengan mengupas kembali dalil-dalil keagamaan dan sosial yang berkenaan dengan tradisi keagamaan yang dilaksanakan oleh warga NU. Laylatul ijtima’ salah satu moment untuk membahas dan mensosialisasikan dalil-dalil itu kepada warga di lapangan melalui para pengurus ranting dan para Asatidz.

Kegiatan Laylatul Ijtima’ yang baru pertama kali dilaksanakan oleh para pengurus MWC Banjaran periode ini dilanjutkan dengan acara dialog. Para peserta laylatul ijtima’ yang hadir menyambut baik kegiatan yang dilakukan oleh MWC Banjaran ini sekaligus mengaharapkan kegiatan ini dilanjutkan setiap bulan demi menjalin komunikasi antar pengurus ranting dengan MWC. Pada kesempatan dialog ini juga peserta mempertanyakan tentang gerakan organisasi NU Banjaran dalam menghadapi gerakan ormas lain yang agresif dan terkadang sampai mengambil alih masjid warga NU, termasuk mempertanyakan  pendataan warga NU melalui kartu anggota.

Pengatur acara kegiatan laylatul ijtima’ meminta Sekretaris PCNU Kabupaten Bandung, yang kebetulan hadir pada kegiatan laylatul ijtima’ ini, untuk menjelaskan tentang program KartaNU. Masalah pendataan warga NU melalui pembuatan kartu anggota NU sebenarnya sudah disosialisasikan dan dilaksanakan oleh PCNU Kabupaten Bandung setahun yang lalu, ujar Sekretaris PCNU. Tapi respon  warga NU masih minim, sampai sekarang baru sekitar 160 orang yang memiliki kartu anggota NU di Kabupaten Bandung dari 2 juta warga NU yang ada.

Untuk keberhasilan pendataan ini PCNU meminta bantuan pengurus MWC dan ranting NU se Kabupaten Bandung untuk mensosialisasikan program ini dengan terlebih dahulu para pengurus di berbagai tingkatan memiliki kartu anggota. Sebenarnya, untuk mensosialisasikan berbagai program yang dijalankan oleh PCNU, termasuk masalah kartu anggota, PCNU Kab. Bandung telah mencetak buletin “Nahdliyatuna” yang sudah terbit dua edisi dan membuat website  yang memuat dan mensosialisasikan masalah kartu anggota termasuk memuat warga NU yang sudah mempunyai kartu anggota.

Sebetulnya, kehadiran buletin “Nahdliyatuna” dan Website PCNU mendapat respon positif dari masyarakat, terbukti dari kehadiran pengunjung Website PCNU lebih dari 300 orang per harinya. Sementara buletin “Nahdliyatuna” yang memuat setiap kegiatan warga NU diberbagai tingkatan selalu ditunggu kehadirannya oleh warga NU. Karena isinya bisa memperkaya wawasan warga NU dalam memelihara dan melaksanakan ajaran Islam Ahlussunah wal Jama’ah.

Kegiatan Laylatul Ijtima’ ini diisi juga oleh Wakil Ketua PCNU H. Imron Rosadi, S.Ag. yang memberikan materi kaderisasi tentang tantangan yang sedang dihadapi oleh NU dari berbagai organisasi nasional dan intenasional. Oleh karena itu, pengurus NU di berbagai tingkatan harus siap dan waspada terhadap isu-isu yang dilempar oleh orang-orang yang tidak suka stabilitas keamanan Indonesia terjamin. Para Pengurus NU harus senantiasa mengikuti informasi yang berkembang baik di daerah maupun di pusat. Berkenaan dengan hal itu, Pengurus Besar NU melakukan kaderisasi di tiap wilayah. Kegiataan kaderisasi ini diharapkan dilanjutkan oleh pengurus daerah di wailayahnya masing-masing.

Akhirnya, laylatul ijtima’ ini ditutup jam 2 dini hari dengan memberikan harapan dan keyakinan kepada para peserta yang hadir bahwa NU ini besar dan mempunyai peranan besar dalam membawa kemajuan dan kesejahteraan masyarakat Indonesia. Sekaligus memberikan  PR kepada para peserta laylatul ijtima’ dan warga NU bagaimana memelihara organisasi Nahdlatul Ulama yang diwariskan oleh para ulama dan  awliya kepada kita.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here