(Studi Kuasi Eksperimen Terhadap Siswa Kelas VIII SMPN 2 Arjasari Kabupaten Bandung Tahun Ajaran 2011/2012)

Oleh: Bunga Ayu Putri Lestary

 ABSTRAK

Penelitian ini berangkat dari rendahnya motivasi berprestasi siswa. Salah satu faktor dari prestasi belajar siswa adalah motivasi berprestasi. Masalah motivasi berprestasi merupakan masalah yang dihadapi di SMPN 2 Arjasari Kabupaten Bandung. Oleh sebab itu, diperlukan layanan bimbingan dan konseling untuk meningkatkan motivasi berprestasi siswa. Salah satu yang dapat dilakukan adalah layanan responsif melalui symbolic modeling untuk meningkatkan motivasi berprestasi siswa. Penelitian bertujuan mengetahui efektivitas layanan responsif melalui symbolic modeling untuk meningkatkan motivasi berprestasi siswa. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kuantitatif, desain kuasi eksperimen, dan menggunakan nonequivalent control group design. Subjek penelitian adalah siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Arjasari Tahun Ajaran 2011/2012. Hasil studi pendahuluan menunjukkan bahwa motivasi berprestasi siswa berada pada kategori sedang. Layanan responsif melalui symbolic modeling efektif untuk meningkatkan motivasi berprestasi siswa. Layanan responsif melalui symbolic modeling direkomendasikan untuk dipertimbangkan sebagai salah satu kerangka kerja dalam pengembangan program bimbingan belajar.
Kata Kunci: Motivasi Berprestasi, Symbolic Modeling, Layanan Responsif

PENDAHULUAN
Pada kegiatan belajar, siswa menggunakan seluruh unsur yang ada pada dirinya, baik itu unsur kognitif, afektif maupun psikomotorik untuk melakukan pengalaman dengan cara berinteraksi dengan lingkungannya sehingga membentuk suatu perubahan dalam dirinya sebagai hasil belajar. Belajar tidak dapat dikatakan berhasil jika tidak ada perubahan dalam diri individu (Hamalik, 1992: 56).
Kemampuan belajar peserta didik sangat menentukan keberhasilannya dalam proses belajar. Di dalam proses belajar tersebut, banyak faktor yang mempengaruhinya, antara lain motivasi, sikap, minat, kebiasaan belajar, dan konsep diri (Djaali, 2011:101).
Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal meliputi intelegensi, motivasi, kebiasaan, kecemasan, minat, dan sebagainya. Sedangkan faktor eksternal meliputi lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, lingkungan masyarakat, keadaan sosial ekonomi, dan sebagainya (Ahmadi dan Supriyono, 2004: 138).
Salah satu faktor prestasi belajar siswa yang sering mengalami masalah adalah motivasi berprestasi. Masalah motivasi berprestasi merupakan masalah yang dihadapi di banyak sekolah, salah satunya yaitu SMPN 2 Arjasari Kabupaten Bandung. Banyak siswa di SMPN 2 Arjasari yang memiliki motivasi berprestasi yang rendah, hal ini diindikasikan dengan banyaknya siswa yang sering tidak masuk sekolah tanpa keterangan (alfa), banyak siswa yang tidak memperhatikan guru ketika guru sedang menyampaikan materi, tidak mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru, memperoleh nilai di bawah KKM (Kriteria Ketuntasan Minimum) ketika ulangan harian dan dinyatakan belum tuntas pada beberapa mata pelajaran di akhir semester, dan memutuskan untuk keluar sekolah karena malas atau lebih memilih bekerja membantu orangtua.
Terdapat beberapa macam model bimbingan dan konseling, salah satunya yaitu model bimbingan dan konseling komprehensif. Dalam model bimbingan dan konseling komprehensif terdapat beberapa komponen, yaitu bimbingan kelas / klasikal, perencanaan individual, layanan responsif, dan dukungan sistem. Dari ke empat komponen tersebut, dalam menyelesaikan masalah di SMPN 2 Arjasari maka layanan yang tepat untuk menanganinya yaitu dengan layanan responsif. Layanan responsif, yaitu layanan BK yang bertujuan memfasilitasi pemenuhan kebutuhan yang dirasakan penting oleh peserta didik saat ini (Yusuf & Nurihsan, 2009). Layanan responsif tujuannya adalah untuk membantu berbagai pihak yang terkait dalam pemecahan masalahnya.
Layanan responsif bimbingan dan konseling ini diharapkan dapat meningkatkan motivasi berprestasi siswa SMPN 2 Arjasari karena semakin banyak siswa yang mengundurkan diri dengan alasan ingin bekerja membantu orang tua, tidak mau sekolah lagi karena malas, dan tidak mau sekolah karena teman di lingkungan rumahnya banyak yang tidak bersekolah. Hal ini juga diperlukan mengingat program pemerintah tentang wajib belajar sembilan tahun, maka tugas guru, pendidik dan semua pihak beruasaha agar anak-anak bersekolah minimal lulus SMP.
Pada penelitian ini digunakan symbolic modeling untuk meningkatkan motivasi berprestasi siswa. Symbolic modeling merupakan suatu bentuk modeling yang melibatkan tokoh fiksi maupun nonfiksi yang ditampilkan melalui film, cerita maupun media online untuk menampilkan suatu perilaku.
Tujuan penelitian adalah merumuskan layanan responsif yang efektif untuk meningkatkan motivasi berprestasi siswa SMPN 2 Arjasari.
 
METODE
Metode penelitian yang digunakan adalah metode quasi experimental dengan desain penelitian nonequivalent control group design. Desain ini terdiri dari kelompok eksperimen dan kelompok kontrol yang dipilih secara random. Kedua kelompok itu diberikan pretest-postest dan hanya kelompok eksperimen yang diberikan perlakuan (Cresswell, 1994).
 
Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh kelas VIII yang ada pada SMPN 2 Arjasari Tahun Ajaran 2011/2012 yang berjumlah 147 orang. Penelitian menggunakan populasi untuk identifikasi masalah, setelah dilakukan identifikasi maka diketahui siswa dengan motivasi berprestasi yang rendah yang akan dijadikan subjek penelitian. Setelah dilakukan pretest diketahui bahwa siswa yang mempunyai motivasi berprestasi rendah adalah 20 orang. Siswa yang memiliki motivasi berprestasi rendah dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol, yang masing-masing kelompok terdiri dari 10 orang.
 
Instrumen
Instrumen penelitian yang digunakan adalah angket tentang motivasi berprestasi. Tujuan menngunakan instrumen ini adalah untuk mendapatkan gambaran motivasi berprestasi siswa kelas VIII SMPN 2 Arjasari. Jenis instrumen pengungkap data dalam penelitian adalah skala psikologis yang diaplikasikan dengan skala sikap dengan menggunakan skala Likert. Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial (Sugiyono, 2008:92). Jawaban diberi bobot atau disamakan dengan nilai kuantitatif 4, 3, 2, 1 (Sukardi, 2003:147). Keempat alternative respons tersebut diurutkan dari kemungkinan kesesuaian tertinggi sampai dengan kemungkinan kesesuaian terendah, yaitu: 1) Sangat Sesuai (SS); 2) Sesuai (S); 3) Tidak Sesuai (TS); dan 4) Sangat Tidak Sesuai (STS).
Uji validitas item menggunakan teknik uji korelasi Rank Spearman. Pengujian menggunakan uji dua sisi dengan taraf signifikansi 0,05. Kriteria pengujian adalah sebagai berikut: (a) jika rhitung ≥ rtabel, maka instrumen atau item-item pernyataan berkorelasi signifikan terhadap skor total (dinyatakan valid); (b) jika rhitung < rtabel, maka instrumen atau item-item pernyataan tidak berkorelasi signifikan terhadap skor total (dinyatakan tidak valid). Berdasarkan hasil perhitungan nilai validitas, dapat diketahui bahwa dari 60 item, item yang valid adalah sebanyak 51 item.
Uji reliabilitas menggunakan teknik split half (belah dua) dengan teknik uji korelasi Rank Spearman. Berdasarkan hasil perhitungan, koefisien reliabilitas instrumen motivasi berprestasi adalah 0,929, maka menurut kategori koefisien Guilford instrumen motivasi berprestasi mempunyai reliabilitas sangat tinggi.
 
Prosedur riset
Pelaksanaan konseling kelompok melalui symbolic modeling melalui beberapa tahap sebagai berikut: (1) pretest untuk mengetahui tingkat motivasi berprestasi siswa, (2) judgment program intervensi kepada ahli, (3) Pengolahan data untuk mengelompokkan siswa menjadi siswa yang mempunyai motivasi berprestasi tinggi, sedang dan rendah, (4) pelaksanaan intervensi konseling kelompok melalui symbolic modeling kepada siswa yang mempunyai motivasi berprestasi rendah untuk meningkatkan motivasi berprestasi  selama enam sesi pertemuan, (5) melaksanakan posttest setelah sesi intervensi dilaksanakan
 
Analisis data
Data yang telah terkumpul disajikan dalam bentuk persentase. Angka persentase diperoleh dengan membagi skor aktual terhadap skor ideal dikali 100%. Teknik statistik yang digunakan adalah uji-t. Teknik uji-t digunakan untuk mengetahui apakah dua rerata antara skor motivasi berprestasi sebelum dan sesudah mendapat perlakuan secara statistik signifikan. Teknik uji-t digunakan setelah memenuhi persyaratan: distribusi data bersifat normal dan adanya variansi yang homogen.
 
HASIL PENELITIAN
Hasil penelitian menunjukkan hanya 16% siswa kelas VIII SMPN 2 Arjasari Kabupaten Bandung tahun ajaran 2011/2012 yang memiliki tingkat motivasi berprestasi tinggi. Sebanyak 70% siswa memiliki tingkat motivasi berprestasi sedang. Siswa yang memiliki tingkat motivasi berprestasi rendah berjumlah 16%.
Hasil perhitungan pada Tabel 2 menunjukkan bahwa pada kelompok eksperimen thitung ≥ ttabel yakni 10,557 ≥ 1,83. Hasil perhitungan menyatakan bahwa layanan responsif melalui symbolic modeling efektif untuk meningkatkan motivasi berprestasi siswa kelas VIII di SMPN 2 Arjasari Kab. Bandung tahun ajaran 2011/2012. Sedangkan pada kelompok kontrol menunjukkan bahwa thitung ≤ ttabel yakni -1,714 ≤ 1,83. Hasil perhitungan menyatakan bahwa kelompok kontrol tidak mengalami peningkatan motivasi berprestasi.
Pada Tabel 3 menunjukkan bahwa aspek pemilihan tingkat kesulitan tugas mempunyai thitung ≥ ttabel yakni 5,644 ≥ 1,83 yang berarti aspek tersebut efektif meningkat setelah dilakukan intervensi. Pada aspek ketahanan dan ketekunan (persistence) mempunyai thitung ≥ ttabel yakni 4,739 ≥ 1,83  yang berarti aspek tersebut efektif meningkat setelah dilakukan intervensi. Pada aspek harapan terhadap umpan balik mempunyai thitung ≥ ttabel yakni 6,241 ≥ 1,83 yang berarti aspek tersebut efektif meningkat setelah dilakukan intervensi. Pada aspek tanggung jawab pribadi terhadap kinerjanya mempunyai thitung ≥ ttabel yakni 6,433 ≥ 1,83 yang berarti aspek tersebut efektif meningkat setelah dilakukan intervensi. Pada aspek kemampuan dalam melakukan inovasi mempunyai thitung ≥ ttabel yakni 4,127 ≥ 1,83 yang berarti aspek tersebut efektif meningkat setelah dilakukan intervensi.
 
DISKUSI
Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar siswa kelas VIII SMPN 2 Arjasari Kabupaten Bandung tahun ajaran 2011-2012 memiliki tingkat motivasi berprestasi sedang. Hal ini sama dengan beberapa penelitian yang telah dilakukan tentang motivasi berprestasi, salah satunya yaitu penelitian yang dilakukan oleh Sri Hardjo dan Badjuri (2012) yang menemukan tingkat motivasi berprestasi pada sampel mereka berada pada kategori sedang. Sampel penelitian berada kategori sedang berarti siswa tersebut memiliki dorongan yang cukup dalam meningkatkan atau memelihara kemampuannya dalam semua aktivitasnya. Tingkat motivasi berprestasi yang sedang mengisyaratkan bahwa siswa kelas VIII SMPN 2 Arjasari tahun ajaran 2011/2012 mempunyai dorongan yang tidak terlalu tinggi untuk selalu tekun (persistence) dalam mengerjakan tugas, mengharapkan umpan balik (feedback) yang nyata, menuntut tanggung jawab pribadi, dan melakukan inovasi.
Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Anni (2010), dengan hasil yang menunjukkan bahwa subjek penelitiannya berada pada tingkat motivasi berprestasi sedang, yang berarti mempunyai dorongan yang tidak terlalu tinggi untuk selalu bekerja dengan penuh perhitungan resiko, subjek penelitian tatkala diminta untuk mengerjakan tugas menghindar dari tugas yang terlampau sulit dan agak mudah, tatkala menetapkan tujuan cukup sedikit di bawah dengan kemampuannya sendiri, namun  lebih menyukai tugas yang menuntut tanggung jawab pribadi, dan mempunyai dorongan yang kuat untuk segera mengetahui hasil nyata dari tindakannya. Motivasi berprestasi yang berada pada tingkatan cukup atau sedang mengindikasikan adanya kebutuhan akan peningkatannya menuju tingkat motivasi yang tinggi. Motivasi berprestasi merupakan salah satu faktor internal yang penting untuk menunjang pencapaian prestasi siswa. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Mulyani (2006) yaitu motivasi berprestasi yang baik akan memberikan dorongan bagi siswa untuk mencapai prestasi yang baik pula. Dengan tingkat motivasi berprestasi yang sedang siswa dapat memaksimalkan belajarnya untuk mencapai prestasi yang baik. Hal ini sesuai dengan pendapat Sardiman (1987) yaitu hasil belajar akan menjadi optimal jika memiliki motivasi, semakin tinggi motivasi yang dimiliki maka akan semakin baik prestasi yang akan dicapai.
Semakin tinggi motivasi berprestasi siswa maka makin tinggi pula prestasi belajar siswa. Hal ini sesuai dengan pendapat Riva’i (2000: 3) dalam hasil penelitiannya bahwa dalam mencapai keberhasilan belajar, siswa yang memiliki motivasi untuk berprestasi tinggi maka upaya mengoptimalkan kemampuan yang dimilikinya akan tinggi. Hal tersebut akan menyebabkan hasil belajar atau prestasi belajar siswa akan cenderung baik.
Adapula siswa yang memiliki motivasi berprestasi rendah dan tinggi. Secara umum, pencapaian aspek-aspek motivasi berprestasi berada pada kategori sedang. Terdapat empat aspek yang memiliki nilai pencapaian di bawah rata-rata. Keempat aspek yang dimaksud antara lain (a) ketahanan dan ketekunan (persistence), (b) harapan terhadap umpan balik, (c) tanggung jawab pribadi terhadap kinerjanya, (d) kemampuan dalam melakukan inovasi.
Siswa yang mempunyai motivasi berprestasi tinggi menunjukkan bahwa siswa tersebut memiliki dorongan dalam dirinya untuk mengarahkan dan mencapai tujuan tertentu sesuai standarnya yakni prestasi yang lebih baik daripada orang lain dan memiliki aspirasi pendidikan yang tinggi pula karena siswa memiliki keyakinan atas kemampuan yang dimilikinya. Sedangkan siswa yang memiliki motivasi berprestasi rendah mempunyai dorongan yang rendah dalam meningkatkan atau memelihara kemampuannya. Bagi siswa yang memiliki motivasi berprestasi rendah perlu mendaparkan bantuan untuk meningkatkan keyakinan atas kemampuan yang dimilikinya. Meningkatkan kemampuan diri dapat dilakukan dengan membangkitkan dorongan dalam diri siswa untuk berprestasi atau melakukan sesuatu sebaik mungkin.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa lebih banyak siswa yang memiliki motivasi berprestasi rendah dibandingkan dengan siswa yang memiliki motivasi berprestasi tinggi. Dari hasil penelitian pendahuluan didapatkan bahwa sebagian besar siswa kelas VIII SMPN 2 Arjasari tahun ajaran 2011/2012 berasal dari keluarga menengah ke bawah dengan orang tua yang rata-rata lulusan Sekolah Dasar (SD). Salah satu faktor yang mempengaruhi motivasi berprestasi adalah latar belakang budaya tempat seseorang dibesarkan (McClelland dalam Sukadji 2001). Latar belakang keluarga tersebut dapat mempengaruhi motivasi berprestasi siswa kelas VIII SMPN 2 Arjasari tahun ajaran 2011/2012. Remaja pada usia SMP termasuk usia remaja awal, remaja awal dimulai dari umur 12-15 tahun (Rosseau dalam Sarwono, 2011). Pada masa ini merupakan masa bangkitnya akal (ratio), nalar (reason), dan kesadaran diri (self counsciousness). Ciri khas dari remaja awal adalah ketidakstabilan keadaan perasaan dan emosi, sikap dan moral, kecerdasan atau kemampuan mental, status remaja awal sangat sulit ditentukan, remaja awal adalah masa yang kritis (Mappiare, 1982).
Memiliki prestasi yang baik merupakan keadaan ideal bagi remaja sebagai pelajar. Pada kenyataannya, masih banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar. Salah satu penyebab kesulitan belajar yang dialami siswa ialah kurangnya motivasi. Kurang motivasi dalam belajar dapat memberikan dampak yang besar terhadap pencapaian akademik siswa. Kurang motivasi dalam belajar dapat menyebabkan siswa mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan, malas mengulang pelajaran, malas bertanya apabila tidak memahami materi hingga akhirnya siswa tidak memperoleh apa-apa dari kegiatan belajar mengajar yang diikuti.
Motivasi berprestasi merupakan pendorong bagi seseorang untuk mencapai kesuksesan. Hal tersebut ditandai dengan perjuangan yang gigih dari individu untuk meraih tujuannya (Woolfolk,1995). Kegigihan tersebut memunculkan sikap untuk bisa menjaga kualitas kerja yang tinggi, ulet (McClelland,1987). Motivasi memiliki peranan penting dalam belajar sebagai penggerak untuk belajar, penentu arah tujuan yang ingin dicapai, dan pendorong untuk menyelesaikan perbuatan-perbuatan apa yang harus dikerjakan guna mencapai tujuan. Apabila siswa tidak memiliki motivasi dalam belajar, maka siswa tidak akan tergerak untuk belajar. Hal ini sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Ferguson (Cox & Klinger, 2004) yang menyatakan bahwa motivasi adalah sebagai keadaan internal organisme yang menyebabkan dorongan, ketekunan, energi, dan arah perilaku. Sehingga dampak yang muncul ialah siswa tidak dapat memenuhi standar penilaian akademik yang telah ditetapkan (kriteria ketuntasan minimum), sesuai dengan Heckhausen (1967:4) yang mengemukakan bahwa motivasi berprestasi adalah suatu dorongan yang terdapat dalam diri siswa yang selalu berusaha atau berjuang untuk meningkatkan atau memelihara kemampuannya setinggi mungkin dalam semua aktivitas dengan menggunakan standar keunggulan. Standar keunggulan ini terbagi atas tiga komponen, yaitu standar keunggulan tugas, standar keunggulan diri, dan standar keunggulan siswa lain. Standar keunggulan tugas adalah standar yang berhubungan dengan pencapaian tugas sebaik-baiknya. Standar keunggulan diri adalah standar yang berhubungan dengan pencapaian prestasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan prestasi yang pernah dicapai selama ini. Standar keunggulan siswa lain adalah standar keunggulan yang berhubungan dengan pencapaian prestasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan prestasi yang dicapai oleh siswa lain (misalnya teman sekelas).
Hasil penelitian menunjukkan layanan responsif melalui symbolic modeling efektif untuk meningkatkan motivasi berprestasi siswa kelas VIII SMPN 2 Arjasari Kabupaten Bandung tahun ajaran 2011/2012. Hal ini sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh McClelland (Sukadji, 2001) yang menyatakan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi motivasi berprestasi adalah peniruan tingkah laku (modeling). Melalui modeling, anak mengambil atau meniru banyak karakteristik dari model, termasuk dalam kebutuhan untuk berprestasi jika model tersebut memiliki motivasi dalam derajat tertentu.
Selain hasil data kuantitatif atau statistik, data kualitatif juga menunjukkan bahwa layanan responsif konseling melalui symbolic modeling efektif meningkatkan motivasi berprestasi siswa kelas VIII SMPN 2 Arjasari Kabupaten Bandung tahun ajaran 2011/2012. Hal ini dibuktikan pada pertemuan terakhir siswa diminta untuk merefleksikan kelima kegiatan intervensi yang telah diikuti terhadap kebiasaan belajar siswa. Peserta SNS menyampaikan pendapatnya, “saya merasa lebih semangat lagi belajarnya, tidak menunggu disuruh orangtua untuk belajar, dan berusaha mengerjakan PR di rumah”. Peserta H menyatakan dirinya ingin mendapatkan nilai tertinggi di kelas ketika ulangan dan sering mengulang pelajaran di rumah. Peserta RR menyebutkan dirinya lebih semangat lagi dalam belajar, tidak malu bertanya kepada teman atau guru bila ada pelajaran yang tidak dimengerti, dan ingin melakukan sesuatu yang berarti bagi dirinya dan keluarganya. Pendapat-pendapat peserta lain tidak jauh berbeda dengan pendapat yang diungkapkan peserta di atas, sehingga dapat disimpulkan hampir seluruh peserta merasakan adanya perubahan perilaku setelah mengikuti kegiatan intervensi, seperti menjadi lebih semangat dalam belajar, belajar atas kesadaran sendiri, dan sebagainya.
Perubahan perilaku yang terjadi pada penelitian hanya teridentifikasi dari perbedaan skor motivasi berprestasi sebelum dan sesudah intervensi. Siswa kelas VIII SMPN 2 Arjasari Kabupaten Bandung tahun ajaran 2011/2012 diketahui memiliki dorongan untuk berprestasi sebaik mungkin setelah mengikuti kegiatan intervensi. Untuk memonitor perubahan perilaku lain yang lebih nyata, perlu dilakukan kerja sama dengan pihak lain, misalnya dengan guru bidang studi atau wali kelas agar diperoleh informasi perubahan perilaku siswa di bidang akademik setelah mengikuti kegiatan intervensi.
Menurut transtheoretical model of client change yang dikembangkan oleh Prochaska, DiClemente, and Norcross pada tahun 1992 (Afaz, 2012), perubahan perilaku siswa Kelas VIII SMPN 2 Arjasari tentang peningkatan motivasi berprestasi berada pada tahap Preparation, yaitu individu memutuskan untuk melakukan beberapa tindakan dalam waktu dekat dan mungkin telah melakukan tindakan di waktu yang lalu tapi dia gagal. Hal ini dibuktikan dengan beberapa pendapat yang diungkapkan oleh siswa setelah dilakukan intervensi, siswa FAY mengungkapkan bahwa “saya akan mulai membuat rencana apa yang harus saya lakukan untuk meningkatkan prestasi belajar saya”, selain itu siswa H mengungkapkan “mulai sekarang saya akan bersemangat belajar, tidak akan malas belajar lagi, akan rajin belajar, tidak akan bolos sekolah lagi”. Beberapa siswa lain mengungkapkan hal yang sama seperti yang diungkapkan oleh siswa FAY dan H.
Penelitian yang dilakukan oleh Marcal (2010) ditemukan bahwa ada pengaruh motivasi berprestasi dan disiplin diri terhadap prestasi belajar siswa. Hal ini berarti semakin tinggi motivasi berprestasi dan disiplin dirinya maka semakin tinggi pula prestasi belajarnya. Penelitian juga dilakukan Mulyani (2006) yang mengatakan bahwa ada hubungan antara tingkat kecerdasan, motivasi berprestasi, dan kebiasaan belajar dengan prestasi siswa. Hal ini berarti semakin tinggi tingkat kecerdasan, motivasi berprestasi, dan lebiasaan belajarnya maka semakin tinggi pula prestasi belajarnya. Jika salah satu faktor yang mempengaruhi prestasi belajar tersebut mengalami masalah, maka akan berpengaruh terhadap prestasi belajarnya. Oleh sebab itu untuk meningkatkan prestasi belajar siswa harus meningkatkan faktor yang mempengaruhinya yaitu salah satunya adalah motivasi belajar. Penelitian yang dilakukan oleh Rumiani (2006) tentang prokrastinasi, motivasi berprestasi dan stres menunjukkan bahwa motivasi berprestasi memiliki korelasi dengan prokrastinasi akademik. Stres mahasiswa tidak memiliki korelasi dengan prokrastinasi akademik.
Penelitian lain pun telah dilakukan oleh Tapa Harjanta (2008) yang menghasilkan bahwa bimbingan kelompok berhasil meningkatkan motivasi berprestasi siswa. Dalam penelitiannya Tapa Harjanta (2008) menyatakan bahwa dengan layanan bimbingan dan konseling yaitu bimbingan kelompok dapat mengatasi masalah-masalah yang dihadapi oleh siswa, salah satunya adalah masalah kesulitan belajar yaitu rendahnya motivasi berprestasi siswa. Dalam bimbingan kelompok, siswa diajak untuk bersama-sama mengemukakan pendapat tentang sesuatu dan membicarakan topik-topik penting, serta mengembangkan langkah-langkah bersama untuk menangani permasalahan yang dibahas dalam kelompok.
Adanya kebutuhan berprestasi siswa dapat mendorong aktualisasi diri. Seperti penelitian yang dilakukan oleh Moehamad Ajie Wiranata (2010) yang menyatakan bahwa motivasi mempunyai arti yaitu proses aktualisasi energi psikologis yang dapat menggerakan seseorang untuk beraktivitas, sekaligus menjamin keberlangsungan aktifitas tersebut, dan juga mentukan arah aktivitas terhadap pencapaian tujuan. Pengertian tersebut sangat tepat jika dijadikan acuan untuk mendapatkan prestasi.
McClelland (1987) dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa motivasi berprestasi (achievement motivation) mampu berkontribusi sampai 64% terhadap prestasi belajar. Penelitian Wolberg dkk menyimpulkan bahwa motivasi berprestasi berkontribusi sampai 20% terhadap prestasi belajar, penelitian Fyans dan Mochr menyatakan bahwa faktor motivasi berprestasi ternyata merupakan prediktor yang paling baik untuk memprediksi prestasi belajar, dan penelitian Suciati menyimpulkan bahwa kontribusi motivasi sebesar 36% terhadap prestasi belajar (Dwija, 2008). Di samping itu dapat diindikasikan bahwa motivasi berprestasi telah berfungsi sebagai prinsip belajar. Hal ini senada dengan pendapat Sardiman (dalam Dimyati dan Mudjiono,1999) bahwa sebagai prinsip belajar motivasi berfungsi (1) mendorong siswa berusaha secara maksimal belajar, (2) menentukan arah perbuatannya, dan (3) menyeleksi perbuatannya agar berguna untuk belajar.
Pembelajaran yang diikuti oleh siswa yang termotivasi akan benar-benar menyenangkan, terutama bagi guru. Siswa yang menyelesaikan tugas belajar dengan perasaan termotivasi terhadap materi yang telah dipelajari, mereka akan lebih mungkin menggunakan materi yang telah dipelajari. Guru hendaknya membangkitkan motivasi belajar siswa karena tanpa motivasi belajar, hasil belajar yang dicapai akan minimum sekali (Rochman Natawidjaja dan L.J.Moleong, 1979:11). Hal ini sesuai dengan penelitian Metera (Dwija, 2008) yang menyimpulkan bahwa keterampilan guru untuk membangkitkan motivasi berprestasi siswa mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap prestasi belajar. Fatchurachman (2011) dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa motivasi berprestasi memiliki pengaruh yang positif dalam menunjang kesiapan belajar siswa, dengan demikian motivasi berprestasi akan memberikan dampak positif terhadap kemajuan belajar siswa, yang diwujudkan melalui kesungguhan dalam mempersiapkan kegiatan pembelajaran.
Motivasi belajar merupakan keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar dan yang memberikan arah pada kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki dapat tercapai. Di dalam kegiatan belajar motivasi merupakan faktor yang sangat penting. Motivasi memberi dorongan yang menggerakkan seseorang untuk melakukan suatu kegiatan. Motivasi merupakan pengarah untuk kegiatan belajar kepada tujuan yang jelas yang diharapkan dapat tercapai. Ciri-ciri siswa yang memiliki motivasi pada dirinya antara lain siswa tersebut tekun menghadapi tugas, ulet menghadapi kesulitan, lebih mandiri, dapat mempertahankan pendapatnya, senang dan dapat memecahkan permasalahan yang dihadapinya (Kiswoyowati, 2011).
Penelitian Nitya Apranadyanti (2010) menyimpulkan bahwa regulasi diri mempengaruhi motivasi berprestasi. Regulasi diri adalah usaha yang dilakukan seseorang untuk mengatur pikiran, perasaan dan perilakunya untuk kemudian dievaluasi sehingga terarah sesuai dengan keinginan, harapan maupun tujuan yang hendak dicapai dalam hidupnya. Regulasi diri merupakan kemampuan untuk mengatur dan mengarahkan apa yang dipikirkan dan apa yang dirasakan untuk kemudian mengimplementasikannya dalam perilaku guna mencapai kesuksesan dalam pekerjaan, dalam hubungan dengan orang lain dan dalam kesehatan fisik maupun mental (Baumeister dan Vohs dalam Weiten dkk, 2009: 161). Seorang yang memiliki regulasi diri yang baik akan mampu untuk menimbulkan motivasi pada dirinya dalam mencapai tujuan yang diinginkan (Ormrod, 1995: 153). Bagi para siswa di sekolah, motivasi berprestasi sangat penting karena dengan memiliki motivasi berprestasi seorang siswa akan terdorong untuk mengerjakan tugas sebaik-baiknya dengan mengacu pada standar keunggulan sehingga akan berusaha mencapai sesuatu yang lebih baik daripada orang lain (Djaali, 2008: 109).
Albert Bandura (1977) mengemukakan individu selalu belajar dari perilaku individu lain melalui pengamatan perilaku, sikap, dan hasil dari perilaku yang diamati. Sebagian besar perilaku individu dipelajari melalui pengamatan modeling: dari mengamati orang lain, satu bentuk ide tentang bagaimana perilaku baru dilakukan, dan pada suatu saat informasi kode berfungsi sebagai panduan untuk bertindak.
Motivasi berprestasi sebagai bentuk perilaku yang dijadikan model pada symbolic modeling dapat dipelajari dari lingkungan. Dorongan untuk berhasil dapat ditingkatkan dengan latihan kognitif. Memvisualisasikan diri menerapkan strategi yang dimodelkan berhasil memperkuat keyakinan diri bahwa individu dapat melakukannya dalam kehidupan sehari-hari (Bandura, 1997:93). Motivasi berprestasi maupun dorongan untuk berhasil pada penelitian dirancang sebagai pengalaman nyata yang ditampilkan oleh model. Dengan teknik modeling, siswa bisa mengamati secara langsung seseorang yang dijadikan model baik dalam bentuk live model ataupun symbolic model , sehingga siswa bisa dengan cepat memahami perilaku yang ingin diubah dan bisa mendapatkan perilaku yang lebih efektif (Komalasari, 2011).
Sebagian besar peserta memberikan perhatian yang besar selama mengikuti kegiatan layanan responsif melalui symbolic modeling. Harapan peserta mengikuti kegiatan intervensi agar memiliki dorongan untuk berprestasi sebaik mungkin. Salah satu kemampuan kognitif dasar yang merupakan karakteristik individu ialah symbolizing capability. Manusia memiliki kemampuan untuk mentransformasikan pengalaman-pengalamannya menjadi simbol-simbol dan kemampuan untuk memproses simbol-simbol tersebut. Kemampuan simbolik individu memungkinkan mengatur tindakan individu atas dasar pengetahuan yang diperolehnya dari pengamatan terhadap konsekuensi respon individu lain. Seperti halnya konsekuensi yang dialami secara langsung, konsekuensi yang dialami pun dapat mengubah perilaku. Konsekuensi yang diamati dapat mengubah nilai insentif eksternal. Pengamatan terhadap konsekuensi respon yang dialami orang lain memiliki beberapa fungsi, diantaranya ialah fungsi motivasi yang dapat membangkitkan ekspektasi pada diri pengamat bahwa dirinya menerima konsekuensi yang serupa bila melakukan tindakan serupa (Bandura 1977).
Bentuk praktek penyalinan perilaku belum dapat terlihat secara nyata. Praktik penyalinan perilaku hanya terlihat dari rencana-rencana yang dibuat peserta selama mengikuti kegiatan intervensi. Adapun bentuk feedback sebagai perubahan perilaku pada penelitian terlihat dari perubahan skor motivasi berprestasi sebelum dan sesudah intervensi. Hasil penelitian menunjukkan feedback peserta setelah mengikuti kegiatan intervensi tampak cukup signikan, yakni seluruh peserta mengalami peningkatan skor motivasi berprestasi setelah mengikuti kegiatan intervensi.
Adanya kesesuaian antara karakteristik media symbolic modeling dengan dinamika perubahan perilaku melalui proses modeling menjadi salah satu pendorong efektivitas layanan responsif melalui symbolic modeling terhadap peningkatan motivasi berprestasi siswa. Bandura (Sobur, 2003:122) mengatakan manusia tidak perlu mengalami atau melakukan sesuatu terlebih dahulu, sebelum mempelajari sesuatu. Manusia dapat belajar hanya dari mengamati atau meniru perilaku orang lain.
Teknik modeling selain mempunyai kelebihan juga mempunyai kekurangan (Komalasari, 2011), yaitu keberhasilan teknik modeling tergantung persepsi siswa terhadap model. Jika siswa tidak menaruh kepercayaan pada model, maka siswa akan kurang mencontoh tingkah laku model tersebut. Jika model kurang bisa memerankan tingkah laku yang diharapkan, maka tujuan tingkah laku yang didapat siswa bisa jadi kurang tepat. Bisa jadi siswa menganggap modeling ini sebagai keputusan tingkah laku yang harus ia lakukan, sehingga konseli akhirnya kurang begitu bisa mengadaptasi model tersebut sesuai dengan gayanya sendiri.
Layanan responsif melalui symbolic modeling memfasilitasi peserta untuk mengemati hal-hal yang dapat meningkatkan motivasi berprestasi melalui tingkah laku yang ditampilkan model. Layanan responsif melalui symbolic modeling tidak hanya memfasilitasi siswa untuk meningkatkan motivasi berprestasi saja, akan tetapi dapat juga membantu siswa untuk mengenali hal-hal yang perlu dilakukan untuk berprestasi.
Konselor perlu mengenali tingkat kebutuhan siswa, agar dapat memberikan bantuan yang sesuai dengan kebutuhan siswa. Siswa kelas VIII SMPN 2 Arjasari Kabupaten Bandung Tahun ajaran 2011/2012 membutuhkan intervensi layanan responsif untuk meningkatkan motivasi berprestasi. Hasil intervensi menunjukkan adanya peningkatan persentase pencapaian dan skor motivasi berprestasi peserta.
Adanya kebutuhan berprestasi siswa dapat mendorong aktualisasi diri. Sehingga siswa akan berusaha mencapai prestasi akademik sebaik mungkin. Secara sederhana diasumsikan siswa dapat memperoleh pencapaian akademik secara optimal (sesuai dengan kemampuan yang dimiliki peserta) atau dia atas standar yang telah ditetapkan (kriteria ketuntasan minimum).
Berdasarkan hasil perhitungan menyatakan bahwa semua aspek motivasi berprestasi efektif meningkat setelah diberikan layanan responsif melalui symbolic modeling. Aspek pemilihan tingkat kesulitan tugas termasuk kategori tinggi pada siswa kelas VIII SMPN 2 Arjasari tahun ajaran 2011/2012. Hal tersebut menunjukkan bahwa siswa kelas VIII SMPN 2 Arjasari tahun ajaran 2011/2012 memilih tugas dengan kesulitan menengah (moderate task difficulty) yang sebanding dengan kemampuannya sendiri. Selain itu, siswa lebih memilih tujuan yang realistis tetapi menantang daripada tujuan yang terlalu mudah dicapai atau terlalu besar resikonya (Munandar, 2004:333). Kurang bersemangat pada tugas yang terlalu mudah karena hal itu tidak banyak memberikan kepuasan, dan tidak suka mengerjakan tugas yang terlalu sulit karena kemungkinan untuk berhasil kecil, dan tugas itu di luar kemampuan dirinya (McClelland, 1987). Weiner (Sukadji, 2001) mengatakan bahwa pemilihan tingkat kesulitan tugas berhubungan dengan seberapa besar usaha yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh kesuksesan. Tugas yang mudah dapat diselesaikan oleh semua orang, sehingga individu tidak mengetahui seberapa besar usaha yang telah mereka lakukan untuk mencapai kesuksesan. Tugas sulit membuat individu tidak dapat mengetahui usaha yang sudah dihasilkan karena betapapun besar usaha yang telah mereka lakukan, namun mereka mengalami kegagalan.
Aspek ketahanan atau ketekunan (persistence) dalam mengerjakan tugas termasuk kategori sedang pada siswa kelas VIII SMPN 2 Arjasari tahun ajaran 2011/2012. Hal tersebut menunjukkan bahwa siswa kelas VIII SMPN 2 Arjasari tahun ajaran 2011/2012 cukup memiliki kemantapan hati dalam mengerjakan berbagai tugas, tidak mudah menyerah ketika mengalami kegagalan dan cenderung untuk terus mencoba menyelesaikan tugas. Melihat keberhasilan/kegagalan bukan sebagai faktor yang disebabkan pihak luar dirinya, tetapi dirinyalah sebagai pengendalinya.
Aspek harapan terhadap umpan balik (feedback) termasuk kategori sedang pada siswa kelas VIII SMPN 2 Arjasari tahun ajaran 2011/2012. Hal tersebut menunjukkan bahwa siswa kelas VIII SMPN 2 Arjasari tahun ajaran 2011/2012 cukup mampu menerima kritik atau pendapat yang diberikan orang lain terhadap dirinya, mengharapkan umpan balik (feedback) yang bersifat konkret atau nyata mengenai seberapa baik hasil kerja yang telah dilakukan dan mempunyai dorongan cukup untuk segera mengetahui hasil nyata dari tindakannya, karena hal itu dapat digunakan sebagai umpan balik (Anni, 2010:23).
Aspek memiliki tanggung jawab pribadi terhadap kinerjanya termasuk kategori sedang pada siswa kelas VIII SMPN 2 Arjasari tahun ajaran 2011/2012. Hal tersebut menunjukkan bahwa siswa kelas VIII SMPN 2 Arjasari tahun ajaran 2011/2012  menyukai tugas yang menuntut tanggung jawab pribadi, dan memiliki tanggung jawab pribadi atas pekerjaan yang dilakukan. Individual responsibility (tanggung jawab pribadinya) tinggi, demikian juga apabila bekerja dalam suatu kelompok, tanggung jawab terhadap kelompok juga tinggi, dimana sasaran kelompok dirasakannya sebagai sasaran pribadinya (Johnson, Schwitzgebel dan Kalb, 1974:151). Mereka mempercayai kemampuannya sendiri, kemampuan bekerja sendiri, dapat bersikap optimis, dinamis, serta memiliki kemampuan untuk menjadi pemimpin.
Berbeda dengan aspek-aspek yang lain, aspek kemampuan dalam melakukan inovasi (innovativeness) termasuk kategori rendah pada siswa kelas VIII SMPN 2 Arjasari tahun ajaran 2011/2012. Hal tersebut menunjukkan bahwa siswa kelas VIII SMPN 2 Arjasari tahun ajaran 2011/2012 kurang mampu melakukan sesuatu lebih baik dengan cara berbeda dari biasanya, kurang menyukai hal-hal yang sifatnya menantang, cenderung melakukan hal-hal yang rutin/biasa, kurang memiliki kemampuan untuk menemukan sesuatu yang asli dari pemikirannya sendiri, kurang mampu menciptakan hal-hal yang baru yang tidak terikat pada pola yang ada.
Peningkatan motivasi berprestasi pada siswa kelas VIII SMPN 2 Arjasari perlu dijaga dan ditingkatkan terus agar motivasi berprestasi tidak menurun kembali. Dalam hal ini, peran guru dan orang tua diperlukan untuk mengontrol dan memperhatikan motivasi berprestasi siswa. Di sekolah konselor sekolah dapat bekerjasama dengan guru mata pelajaran agar siswa dapat terus meningkatkan motivasi berprestasinya. Keterbatasan dalam penelitian ini adalah tidak diketahui berapa lama peningkatan motivasi berprestasi akan bertahan, apakah akan tetap atau menurun dalam jangka waktu tertentu. Oleh sebab, itu diperlukan penelitian selanjutnya yang dapat dilakukan oleh peneliti, guru, atau konselor sekolah.
 
DAFTAR PUSTAKA
 
Afaz. (2012). Tahapan Perubahan Pada Seseorang. [Online]. Tersedia: http://m.kompasiana.com/post/kejiwaan/2012/06/09/tahapan-perubahan-pada-seseorang.
Ahmadi, Abu dan Widodo Supriyono. (2004). Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Anni, Catharina. (2010). “Pengembangan Model Peningkatan Motivasi Berprestasi Guru Sekolah Dasar di Kabupaten Kendal”. Jurnal Penelitian Pendidikan. 27, (1), 22-31.
Apranadyanti, Nitya. (2010). “Hubungan Antara Regulasi Diri Dengan Motivasi Berprestasi Pada Siswa Kelas X SMK Ibu Kartini Semarang”. Jurnal Penelitian Pendidikan Volume 27 Nomor 1 Tahun 2010.
Arikunto, Suharsimi. (2006). Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.
Azwar, S. (2001). Reliabilitas dan Validitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Bandura, Albert. (1997). Self-efficacy: the exercise of control. New york: W.H. Freeman And Company.
Cox W, Miles & Klinger Eric. (2004). Handbook of Motivational Counseling: Concepts, Approaches, and Assessment. Chishester: John Wiley & Sons, Ltd.
Creswell, J.W. (1994). Research Design (Qualitative And Quantitative Approaches). London: Sage publications.
Dimyati , Mudjiono. (1999). Belajar Dan Pembelajaran. Jakarta.: Rineka Cipta.
Djaali. (2011). Psikologi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Dwija, I Wayan. (2008). “Hubungan Antara Konsep Diri, Motivasi Berprestasi Dan Perhatian Orang Tua Dengan Hasil Belajar Sosiologi Pada Siswa Kelas II Sekolah Menengah Atas Unggulan Di Kota Amlapura”. Jurnal Pendidikan dan Pengajaran UNDIKSHA, No. 1 TH. XXXXI Januari 2008.
Fatchurochman, Rudy. (2011). “Pengaruh Motivasi Berprestasi Terhadap Kesiapan Belajar”. Jurnal Edisi Khusus No. 2, Agustus 2011.
Hamalik, Oemar. (2003). Prosedur Belajar Mengajar. Jakarta Bumi Aksara.
Hardjo, Sri & Badjuri. (____). Pengaruh Motivasi Berprestasi Dan Cara Belajar Terhadap Prestasi Belajar Siswa Sekolah Dasar Di Kabupaten Semarang. [Online]. Tersedia: http://www.lppm.ut.ac.id/htmpublikasi/12srihardjo.htm.
Harjanta, Tapa (2008). “Upaya peningkatan motivasi berprestasi melalui pemberian layanan bimbingan kelompok bagi siswa kelas VII D SMPN 2 Purwodadi Grobogan”. Jurnal Vol 1 No.2 November 2008.
Heckhausen. (1967). The Anatomy of Achievement Motivation. New York: Academic Press.
Kiswoyowati, Amin. (2011). “Pengaruh Motivasi be;ajar dan Kegiatan Belajar Siswa terhada[ Kecakapan Hidup (Studi Tentang Pembelajaran Berorientasi Kecakapan Hidup di SMK Negeri 1 Losarang Kompetensi Keahlian Agribisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura-Budidaya Cabe Hibrida)”. Jurnal Edisi Khusus No. 1, Agustus 2011.
Komalasari, G. et al. (2011). Teori dan Teknik Konseling. Jakarta: Indeks.
Mappiare, Andi. (1982). Perkembangan dan Pertumbuhan Individu. Jakarta: Kalam Mulia.
Marcal F, Arlindo. (2010). “Pengaruh Motivasi belajar dan Disiplin Diri Terhadap Prestasi Belajar Karyasiswa Timor-Leste di Jakarta”. Jurnal Manajemen Publik dan Bisnis. 1-19.
McClelland, David C., et. Al. (1976) The Achievement Motive. New York: Irvington Publisher Michael J.A Howe. (1984). A Teacher’s Guide To The Psychology Of Learning. New York: Brasil Blackwell, Inc.
________________________. (1987). Human Motivation. New York: Cambridge University Press.
Mulyani. (2006). Hubungan Antara Tingkat Kecerdasan, Motivasi Berprestasi, Dan Kebiasaan Belajar Matematika Siswa Dengan Prestasi Belajar Matematika Siswa Semester 1 Kelas XI IPA A SMA Negeri 6 Kota Bengkulu.
Munandar, Ashar Sunyoto. (2004). Psikologi Industri dan Organisasi. Jakarta: Universitas Indonesia Press.
Natawijaya, Rohman. (1979). Psikologi Pendidikan. Jakarta: Prindo Jaya.
Ormrod, Jeanne Ellis. (1995). Human Learning, Second Edition. New Jersey: Prentice-Hall.
Riva’i, Veithzal. H. (2000). “Hasil Belajar Matematika Ekonomi Mahasiswa Fakultas Ekonomi. Tanggerang.” Laporan penelitian FE Universitas Jayabaya. Tersedia: http://www.depdiknas.go.id/jurnal/31.
Rumiani. (2006). “Prokrastinasi Akademik Ditinjau Dari Motivasi Berprestasi Dan Stres Mahasiswa”. Jurnal Psikologi Universitas Diponegoro Vol.3 No. 2, Desember2006.
Sardiman. (1987). Interaksi Dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Rajawali Pers.
Scwitgebel, Ralph K And Kalb, David A. (1974). Changing Human Behavior: Principles Of Planned Intervention. Tokyo: McGraw-Hill Kogakusha.
Sobur, Alex. (2010). Psikologi Umum. Bandung: Pustaka Setia.
Sugiyono. (2008). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Sukadji, Soetarlinah. (2001). Psikologi Pendidikan Dan Psikologi Sekolah. Depok. Lembaga Pengembangan Sarana Pengukuran dan Pendidikan Psikologi (L.P.S.P3) Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Tersedia: http://belajarpsikologi.com/pengertian-psikologi-pendidikan/. [20 Juni 2011].
Sukardi, Dewa Ketut. (2002). Pengantar Pelaksanaan Program Bimbingan dan Konseling Disekolah. Jakarta: Rieneka Cipta.
Weiten, Wayne, dkk. (2009). Psychology Applied To Modern Life Adjustment In The
21st Century, Ninth Edition. USA: Wadsworth Cengage Learning.
Wiranata Moehamad Ajie. (2010). “Pengaruh motivasi berprestasi atlet terhadap disiplin latihan sepakbola (studi kasus di ssb Putra Junior Kota Tasikmalaya)” Jurnal Vol 2 No.3 Agustus 2010.
Woolfolk,A.E. (1995). Educational Psychology. 6th ed. Boston : Allyn and Bacon.
Yusuf, Syamsu LN, dan Juntika, A. (2009). Landasan Bimbingan dan Konseling. Bandung: Rosdakarya.
 
 
 

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.