Kowanu Solusi Masalah Ekonomi Warga NU ?

273

H. Saepuloh, M.Pd Ketua KOWANU PCNU Kab. BandungWarga Nadhatul Ulama Kabupaten Bandung membutuhkan sebuah lembaga yang dapat membantu menyelesaikan masalah ekonomi. Ini terlihat dari sebagian besar warga NU yang tinggal di pedesaan, mereka menghadapi masalah tersebut dengan jalan pintas yang sebetulnya akan lebih merusak ekonomi mereka sendiri, diantaranya mereka pinjam ke rentenir baik itu untuk berobat atau menambah modal usahanya.
Oleh karena itu, PCNU Kab. Bandung mendirikan sebuah lembaga koperasi yang diberi nama Kowanu, yaitu Koperasi Warga NU. Diharapakan dengan Kowanu tersebut, semua warga NU ikut bergabung sehingga Kowanu dapat menghimpun dana dari anggota dan digunakan untuk mensejahterkan anggota.

Untuk terlaksananya program tersebut maka PCNU kab. Bandung melakukan pembinaan terhadap beberapa MWCNU tentang perkoperasian, diantara 32 MWCNU yang ada di Kab. Bandung baru 4 MWCNU yang telah dibina, diantaranya MWCNU Kec. Banjaran, MWCNU Pamengpeuk, MWCNU Arjasari dan MWC NU Katapang.
Kowanu yang pertama dibentuk di Kab. Bandung adalah Kowanu yang didirikan oleh H. Saepuloh, M.Pd pada bulan Mei 2011 di Desa Neglasari Kecamatan Banjaran. Kowanu tersebut dijadikan koperasi model yang didesain oleh PCNU Kab. Bandung sebagai percontohan koperasi yang akan dibentuk di MWCNU-MWCNU yang lainnya. Kowanu tersebut, pada awal berdirinya hanya terdiri dari 9 orang anggota dengan aset Rp 225.000,- dengan Simpanan Pokok Rp. 15.000, – dan Simpanan Wajib Rp. 10.000,-. Setelah hampir 1,5 tahun, aset Kowanu menjadi Rp 34.764.000, – meningkat sekitar 15.450 %. Aset tersebut merupakan dana simpanan anggota bukan dari dana hibah, atau pinjaman dari pihak lain. Menurut Ketua Kowanu, naiknya total aset memberikan gambaran perkembangan Kowanu yang sangat baik.
“Peningkatan aset tersebut merupakan sebuah bukti kepercayaan warga NU akan menajemen pengelolaan Kowanu, dengan terwujudnya pengurus yang amanah dan anggota yang disiplin. Seluruh pinjaman yang disalurkan Kowanu sebagian besar merupakan pinjaman yang produktif dan hanya sedikit untuk konsumtif,” ujar H. Saepuloh di kantor PCNU Kab. Bandung.
Kaitannya dengan amal sholeh, menurut Saepuloh “Sebetulnya kalau kita nyimpan uang di Kowanu, maka pada hakikatnya kita telah beramal sholeh dengan menjadi wasilah terbantunya saudara-saudara kita yang membutuhkan, baik untuk berobat maupun untuk membuka atau menambah modal usaha melalui Kowanu”.
Menurut H. Usep Dedi Rostandi, MA., PCNU Kab. Bandung akan membentuk Koperasi-Koperasi dipedesaan sebagai wujud kepedulian PCNU terhadap perkembangan ekonomi warga NU khususnya di Kab. Bandung. Dengan terbentuknya koperasi-koperasi tersebut, dia yakin kesejahteraan warga NU akan makin meningkat.
Warga NU di Kab. Bandung khususnya di Desa Neglasari, dengan berdirinya Kowanu sangat membantu perekonomian mereka. Warga NU yang ikut bergabung dengan Kowanu, mereka bisa terlepas dari jeratan rentenir dan bank keliling yang hukumnya jelas-jelas haram. Mereka berharap Kowanu bisa lebih maju dan dapat memberikan bantuan modal usaha yang lebih besar lagi.
Menurut H. Saepuloh, “Sampai saat ini Kowanu setiap bulannya rata-rata dapat menyalurkan pinjaman untuk modal usaha kepada anggota kurang lebih sebesar Rp. 12. 000.000, -“.
Menurut salah satu anggota Kowanu, setelah bergabung dengan Kowanu dia bisa melanjutkan usaha warungan yang sebelumnya gulung tikar karena terlilit utang sama rentenir. “saya sangat berterimakasih kepada pa Haji yang telah mendirikan koperasi dan memberikan bantuan modal usaha” ujar salah seorang anggota Kowanu.

3 COMMENTS

  1. kayanya kalau kowanu2 ada di setiap ranting & dipegang oleh pengurus ranting, hebattt x yaaa……..lebih semarakkkk

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here