KH. A. Wahid Peletak Dasar Kemenag RI

Salah satu peran KH Wahid Hasyim dalam kehidupan bernegara adalah upayanya untuk tetap mempertahankan keberadaan Departemen Agama serta meletakkan dasar yang kokoh di dalamnya. Meskipun waktu itu Indonesia dalam periode Republik Indonesia Serikat (RIS). Menurut beliau, meskipun dalam koridor RIS, tetapi banyak sekali urusan persoalan umat Islam yang harus diselesaikan sehingga harus ditangani sendiri seperti masalah nikah, waris, zakat dan supaya ketika ada persoalan, tidak muncul sikap anarkhis karena ada yang mengayomi.

Selama menjabat, Kyai Wahid juga membuat kebijakan hukum yang memiliki visi jauh ke depan, meskipun harus menghadapi kontroversi seperti mewacanakan adanya hakim perempuan, meski waktu itu belum ada hakim perempuan. Kyai Wahid Hasyim juga menetapkan hari raya Islam, seperti awal Ramadhan, Idul Fitri dan Idul Adha dengan pendekatan rukyat dengan tetap menghargai keberadaan metode lain seperti hisab. Beliau juga cukup terbuka dengan pemikiran yg luas, seperti ketidaksetujuannya terhadap pelarangan buku tafsir Fi Dzilalil Qur’an karangan Sayyid Qutb, yang waktu itu di Malaysia dan Brunei dilarang karena takut menimbulkan pemberontakan. Beliau berfalsafah terhadap tali lambang NU yang mengikat tapi longgar, bisa mengayomi semuanya.

Apa yang menjadi konsentrasinya adalah pengembangan Kementerian Agama dalam bidang pendidikan Islam, tetapi tidak berorientasi pada fikih semata-mata. KH. Wahid Hasyim juga dikenal memiliki banyak teman di luar komunitas pesantren, termasuk pendeta Nasrani dan Hindu. Untuk ukuran zaman itu, sikap dan pemikiran beliau luar biasa dan tidak ada yang berani memprotes karena beliau memiliki warisan psikologis dan keilmuan yang kuat sebagai putra KH. Hasyim Asy’ari.

Menurut Gus Sholah; KH Wahid Hasyim mampu menjadi peletak dasar di Departemen Agama karena waktu itu umur kabinet sangat pendek, hanya berkisar satu tahun, sementara KH. Wahid Hasyim mampu bertahan selama tiga tahun sehingga kebijakan yang dibuatnya bisa berkelanjutan.

Untuk KH. A. Wahid Hasyim, Al-Fatihah. Amin.
(Dari berbagai sumber).

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.