HikmahTaushiyah

KEYAKINAN DAN HOAX

Seperti biasa, dengan gaya kalimatnya yang sombong, sang pakar logika (katanya), Rocky Gerung, menulis dengan yakin: “Tak cukup memfitnah? tak puas memaki? Akhirnya kalian memakai tinju. Sungguh dangkal. Dan tetap dungu.” Ya, “dangkal” dan “dungu” adalah dua kata hinaan yang tidak main-main.

Di dalam rekaman videonya, sang ulama (katanya), Nursugik, berkali-kali menegaskan dengan yakin bahwa penganiayaan Ratna bukanlah hoax. Dia kelihatannya yakin seyakin-yakinnya.

Bahkan sang dokter, Hanum Rais, begitu yakin akan diagnosanya bahwa luka-luka Ratna adalah bekas dianiaya. Bahkan dia menutup kalimatnya dengan manis: “Hinalah mereka yg menganggap sbg berita bohong. Krn mereka takut, kebohongan yang mereka harapkan, sirna oleh kebenaran.” Sebuah ke-pede-an ilmiah yang “mantaaaap”, kata teman FB saya.

Maaf, saya tidak bermaksud mendiskreditkan siapa pun. Justru saya ingin mengatakan bahwa Rocky, Sugik, dan Hanum, adalah manusia biasa. Siapa pun bisa berada dalam posisi mereka. Kalaulah ini boleh disebut kesalahan dan kebodohan, siapa pun bisa melakukannya.

Kita sebenarnya sering sekali merasa yakin akan sesuatu yang sebenarnya tidak pantas diyakini. Mungkin kita pernah, bahkan sering tak terhitung, merasa yakin sekali akan sesuatu sehingga menganggap salah mutlak dan merasa memiliki hak untuk menghina orang yang tidak meyakininya.

Tapi, ya begitulah. Kesehatan indera, kecerdasan nalar, dan kejernihan hati saling terkait, saling menguatkan dan kadang saling melemahkan. Rocky, sang pemain logika, bisa jadi benar-benar tumpul ketika hatinya keruh lalu pandangannya pun jadi kabur. Hanum, sang dokter, indera dan nalarnya benar-benar turun kapabilitasnya karena tendensi politis yang kelewat kuat menghalangi pandangannya. Sugik tidak saya singgung, karena sulit membahasakannya. Maafkan ketiga orang ini walaupun mereka tidak minta. Maafkan, walaupun mungkin kita terhina dan terluka.

Kita terima permohonan maaf Ratna dengan tulus. Apalagi ketika dengan tetesan air mata, dengan terbata-bata, dia mengatakan “saya hanya manusia biasa”. Ya itulah, bukan hanya Ratna, kita semua sering lupa bahwa kita manusia, terutama ketika merasa menggenggam keyakinan bahwa kita benar. Baru ketika salah dan kesalahan kita kepergok, kita merasa dan mengatakan bahwa kita hanya manusia.

Ah, kita ini manusia lemah. Ucapkan sebanyak mungkin la haula wa la quwwata illa billah. Ucapkan sebanyak mungkin wallahu a’lam bishshawab. Meyakini sesuatu sambil menafikan kedua kalimat tersebut akan terjatuh pada kesombongan bahkan kemusyrikan.

Walllahu a’lam. La haula wa la quwwata.

Tampilkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Close
Close
%d blogger menyukai ini: