Kelantan: Universitas Politik Terbuka

Judul tulisan ini sengaja diambil dari judul sebuah buku yang di karang oleh Menteri Besar Kelantan yang juga Mursyidul Am Partai Islam se-Malaysia (PAS), Tuan Guru Nik Abdul Azis Nik Mat pada tahun 1995.

Buku ini merupakan kumpulan pikiran-pikiran politik Islam Nik Aziz selama kampanye politik Pilihan Raya Malaysia tahun 1995. Alasan utama pemilihan judul ini dikarenakan penulis setuju dengan kondisi nyata Kelantan sebagai arena terbuka bagi pelajaran politik Islam, ketika penulis menyaksikan secara langsung dan mengadakan field-research di Kelantan.

Kelantan adalah salah satu negara bagian di Malaysia yang sampai sekarang masih dikuasai oleh PAS sejak tahun 1990. Kelantan merupakan sebuah negara bagian dari 13 negara bagian yang ada di Malaysia yang terletak di Timur Laut semenanjung Malaysia. Ia berbatasan dengan Patani (Thailand) di Timur Laut, Perak di Barat, Pahang di Selatan dan Trengganu di Tenggara.

Dengan jumlah penduduk hampir dua juta jiwa dan merupakan negeri dengan penduduk Melayu terbesar kedua di Malaysia setelah Selangor, rakyat Kelantan dipandang sebagai masyarakat yang berpikiran terbuka, berdikari, bersifat pengembara dan berpegang pada nilai-nilai Islam.

Nampaknya, alasan mengapa rakyat Kelantan mempunyai karakteristik di atas, karena negeri ini merupakan salah satu daerah yang tidak dijajah secara total oleh Inggris. Karenanya tak heran kalau rakyat Kelantan memiliki rasa kebebasan dan keterbukaan yang tinggi.

Karena sifatnya yang sangat terbuka, Kelantan juga merupakan salah satu negara bagian yang dinamis secara politik dan paling sering mengalami pertukaran pemerintahan antara Barisan Nasional dan PAS. Tahun 1959-1974, Kelantan di kuasai oleh PAS, kemudian tahun 1974-1976 giliran  PAS dan Barisan Nasional (campuran) memimpin, tahun 1976-1978 kembali PAS memimpin Kelantan, kemudian jatuh lagi ke tangan Barisan Nasional dari tahun 1978-1990 dan akhirnya mulai tahun 1990 sampai sekarang PAS menjadi ruling party di Kelantan.

PAS dan Universitas Politik Terbuka

Sebagai partai Islam oposisi  yang berkuasa di Kelantan sejak tahun 1990 sampai sekarang, PAS terus memperjuangkan diterapkankannya ajaran Islam tidak hanya di Kelantan tapi juga di Malaysia secara keseluruhan.

Dengan kekuasaan politik yang dipunyainya di Kelantan, PAS telah berusaha semaksimal mungkin untuk menerapkan syariat Islam dengan konsep pemerintahan ‘Membangun Bersama Islam’. Konsep dasar pemerintahan Kelantan ini mempunyai tiga ciri dasar yaitu Ubudiyah, Mas’uliyah dan Itqon. Konsep Ubudiyah menunjukkan bahwa menjalankan roda pemerintahan bagi elite di Kelantan merupakan sarana beribadah kepada Allah. Sementara konsep Mas’uliyah mengindikasikan bahwa pejabat negara di Kelantan harus siap mempertanggungjawabkan pekerjaannya dihadapan Allah. Dan konsep Itqon merujuk kepada kualitas kerja para petinggi Kelantan yaitu bekerja secara tekun, berkomitmen dan sungguh-sungguh. Konsep dasar ini semakin menunjukkan karakteristik PAS yang ingin betul-betul menerapkan nilai-nilai Islam dalam memerintah, bahkan simbol-simbol Islam terus dipakai, termasuk penggunaan istilah Arab.

Dengan tetap mengadopsi istilah-istilah Arab baik itu bahasa Arab asli atau tulisan Arabic Jawi yang sangat popular di Kelantan, nampaknya PAS berusaha terus mengokohkan diri sebagai partai Islam yang ingin mengaplikasikan nilai-nilai Islam versi PAS. Tak heran, kalau di tempat-tempat umum  di Kota Bharu Bandar Raya Islam, Kelantan, dengan mudah ditemui simbol-simbol dan slogan-slogan tentang Islam  yang diambil dari Al-Quran maupun slogan Melayu yang ditulis dalam Arabic Jawi.

Sebagai negara bagian yang menerapkan syariat Islam, Kelantan terus berusaha menjadikan dirinya sebagai model bagi perwujudan dan aplikasi nilai-nilai Islam di segala bidang baik itu politik, ekonomi, sosial maupun budaya.

Dalam bidang politik khususnya, Kelantan berusaha menjadikan kawasannya sebagai universitas terbuka bagi pendidikan politik Islam. Karenanya, tak heran kalau hubungan antara para pejabat dan elites politik PAS dengan konstituennya sangat terbuka dan egaliter. Untuk memfasilitasi komunikasi politik antara petinggi partai dan kalangan akar rumput atau grassroots constituents, Kelantan melalui PAS mempunyai kebiasaan ceramah politik rutin yang unik. Setiap Jumat pagi, di depan kantor pusat PAS Kelantan, di tengah-tengah pasar Kota Bharu, PAS memfasilitasi ceramah agama dan politik. Masyarakat di sekitar Kelantan berbondong-bondong, tua muda bahkan anak-anak, datang untuk mendengarkan ceramah agama dan politik yang biasanya disampaikan langsung oleh Menteri Besar Kelantan yang juga Mursyidul Am PAS, Tuan Guru Nik Abdul Aziz Nik Mat. Isi ceramah itu, selain masalah agama juga isu-isu politik kontemporer yang berkembang di Malaysia. Selain ceramah politik, forum ini juga dijadikan acara ‘bazzar’ atau pasar rakyat untuk jual beli, tidak hanya atribut partai dan pernik-pernik berbau Islam, tapi juga kegiatan ekonomis lainnya secara umum.

Forum ini, tidak hanya dijadikan sebagai sarana komunikasi politik antara pejabat PAS dan pendukungnya, tapi juga lebih merupakan pendidikan politik yang sipatnya terbuka bagi masyarakat Kelantan. Dalam forum ini masyarakat Kelantan, apapun afiliasi politik dan agamanya, secara tidak langsung diajari untuk melek politik dan tahu bagaimana pemerintah pusat menjalankan roda pemerintahan dengan kebijakan politiknya dan juga tahu bagaimana partai Islam PAS mengkritik dan menawarkan solusi alternative pandangan politik partai oposisi. Dengan demikian, masyarakat secara terbuka memperoleh alternatif-alternatif pilihan kebijakan politik yang bisa mereka pilih.

Selain alasan itu, nampaknya sebutan Kelantan sebagai universitas politik terbuka, bisa dipahami dari dinamisnya ceramah-ceramah politik yang membahas isu-isu politik kontemporer yang hampir tiap malam diadakan dari satu tempat terbuka ke lapangan terbuka lainnya di Kelantan. Dalam pengajian politik ini, biasanya minimal dua penceramah dihadirkan, yang satu memberikan ceramah agama dan yang lainnya memberikan ceramah politik tentang isu-isu politik kontemporer di Malaysia khususnya dan dunia Islam pada umumnya.

Hal ini cukup unik, karena ceramah-ceramah tentang politik biasanya dilakukan oleh partai politik hanya menjelang pemilihan umum saja, tapi tidak dalam kasus PAS di Kelantan. Alasan yang dikemukakan oleh petinggi partai, selain untuk pendidikan politik bagi masyarakat, ceramah seperti itu memang harus diadakan karena PAS tidak mempunyai media yang cukup, baik itu media massa maupun elektronik, untuk mensosialisasikan program dan kebijakan partai. Meskipun PAS mempunyai koran sebagai media utama menyampaikan kegiatan partai dengan nama Harokah, hal ini  dipandang tidak cukup untuk mengcover isu-isu politik di Malaysia, karena hanya diijinkan  terbit dua minggu satu kali.

Akhirnya, pengalaman komunikasi politik PAS yang biasa dilakukan di Kelantan nampaknya bisa dijadikan model bagi bentuk komunikasi politik elites-konstituent di tempat lain. Informasi politik kebijakan dan programs partai memang perlu diketahui oleh pendukung dan constituent tidak hanya menjelang pemilihan umum. Tersosialisasikannya programs partai politik, apapun ideology dan alirannya, secara terus menerus dan komprehensif, akan memudahkan masyarakat untuk menilai dan memilih program dan kebijakan partai mana yang bisa mereka dukung pada pemilihan umum. Wallahu a’lam bi Al-Shawab.

Tulisan: Ahmad Ali Nurdin, Ph.D.  Dosen Agama dan Politik, Fakultas Ushuluddin dan Pasca Sarjana, UIN Sunan Gunung Djati, Bandung,  Wakil Ketua Pergunu, Kab. Bandung.


Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.