KAJIAN MUDA NAHDLATUL ULAMA : Membangun Strategi Kejuangan Nahdlatul Ulama Bersama KH. Sofyan Yahya,MA.

711

Hari Sabtu minggu ke 2 bulan Juni pertemuan “Sabtuan” diisi oleh PCNU Kabupaten Bandung dengan mengundang para kaula muda NU Kabupaten Bandung untuk mendapatkan pembinaan dari salah satu anggota DPD RI utusan Jawa Barat KH. Sofyan Yahya, MA. Sebelum materi pembinaan diberikan oleh KH. Sofyan Yahya, MA.  Wakil Ketua Tanfidziyah PCNU Kab. Bandung H. Imron Rosyadi, S.Ag. menyampaikan oleh-oleh dari hasil kaderisasi tingkat Nasional. Menurut Kang Imron  yang diperlukan oleh NU  Kabupaten Bandung sekarang adalah pencetakan kader-kader militan. Karena Ormas NU akan bisa kuat dan menyebar di tangan para kader militan. Terlalu banyak kendala dan tantangan yang dihadapi oleh warga NU sehingga hanya kader-kader militanlah yang bisa menghadapi kendala-kendala tersebut. Ormas NU adalah harakah para Aulia yang menyebarkan aqidah, syari’ah dan etika Islam yang diselaraskan dengan kebudayaan lokal yang menghasilkan citra Islam Indonesia yang kemudian dianut oleh mayoritas masyarakat Indonesia.

Dalam sambutannya PCNU Bandung yang disampaikan oleh Sekretaris H. Usep Dedi Rostandi, MA. Menyatakan bahwa NU harus segera dan serempak bergerak kalau tidak mau ketinggalan oleh Ormas lain. Sudah lama orang mengatakan bahwa NU ini organisasi besar tapi secara manajmen organisasi masih kalah oleh ormas-ormas lain. Menyadari hal itu Pengurus Cabang NU Kabupaten Bandung menggerakan segala potensi yang ada di NU. Setiap Sabtu dan Minggu PCNU turun ke lapangan mengadakan pembinaan kepada pengurus NU di tingkat MWC dan Ranting. Hasil dari lapangan ternyata banyak kendala dan tantangan yang dihadapi oleh pengurus NU di tingkat MWC dan Ranting. Baik masalah sosial, ekonomi, kesehatan maupun masalah keorganisasian. Bahkan masih banyak pengurus yang kemudian menjadi “urusan” warga NU.

Oleh karena itu, PCNU bermaksud melakukan kaderisasi bagi para generasi muda NU agar waktunya nanti siap menjadi pengurus NU di berbagai tingkatan. Dari setiap MWC akan dipilih satu orang untuk dikader selama beberapa hari. Diharapkan kader-kader tingkat MWC itu bisa melakukan kaderisasi lagi ditiap rantingnya.

KH. Sofyan Yahya, MA. Sebagai anggota Dewan Perwakilan Daerah utusan Jawa Barat menyatakan bahwa demokrasi yang terjadi sekarang sudah salah kaprah karena yang menjadi pemenang adalah suara terbanyak, sehingga yang mendapat suara terbanyaklah yang menjadi pemimpin dan didukung, padahal  menurut Al-Qur’an yang harus dibela dan didukung itu adalah yang benar bukan yang mendapat suara terbanyak. Karena yang mendapatkan suara terbanyak itu belum tentu benar, bisa saja karena banyak uang sehingga bisa “membeli” suara.

Menjadi Pengurus NU tidak sama dengan menjadi pengurus lembaga organisasi lain karena warga NU adalah ulama, Kyai dan Asatidz. Sehingga Pengurus NU di berbagai tingkatan harus hati-hati dalam bersikap dan menjalankan roda organisasi. Nilai-nilai keulamaan harus dipertahankan. Sementara Ulama pun jangan hanya memikirkan diri sendiri, harus ingat kepada rakyat kecil dan “ulama” kecil. Jika mendapat rizki lebih harus ingat ke pesantren kecil.

Para Ajengan dan Ustadz harus bisa menjaga integritas keulamaannya. Jangan sampai para ulama merendahkan diri di hadapan para pejabat agar bisa dicairkan proposal pembangunan madrasah atau mesjidnya. Karena pejabat dihormati masyarakat selama menjadi pejabat, setelah turun dari posisinya menjadi mantan pejabat dan tidak ada lagi penghormatan bagi para pejabat itu. Sementara Ajengan posisinya seumur hidup.
KH. Sofyan Yahya, MA. menutup pembinaannya dengan pesan bahwa  kita mencari materi untuk menjaga harga diri bukan menjual harga diri untuk materi. Pernyataan yang cukup tegas,  berkesan dan menimbulkan pertanyaan di hati masing-masing kaula muda NU yang hadir, termasuk kelompok  mana kita?


2 COMMENTS

  1. Jika benar pembinaan kader-kader muda NU dilakukan oleh PCNU maka para senior NU akan tenang meninggalkan Ormas NU. Mudah-mudahan berhasil! Amin Ya Rob

  2. suatu persepsi keliru selama ini bahwa NU indentik dengan kaum tua,padahal sesungguhnya tidaklah demikian karena NU milik kita semua tidak mengenal tua muda, sehingga kita semua merasa memiliki NU, yang penting bagi kalangan tua berikanlah terus menerus penjelasan tentang indentitas NU baik organisasi maupun ajarannya kepada kaum muda.jaya dan hiduplah NU selamanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here