KH. A. Hafizh UtsmanUlama terkemuka Jawa Barat, Drs. KH. A. Hafizh Utsman, telah tutup usia hari ini, Senin (20/10) sekitar pukul 12.00 WIB, di tempat tingalnya jl. Buahbatu Bandung, sepulang dari ibadah haji.

Beliau lahir di Pandeglang, Banten pada 14 Januari 1940. Semasa hidupnya ia aktif dalam organisasi Nahdlatul Ulama dan sampai saat ini masih bagian dari Pengurus Harian Syuriyah PBNU periode 2010 – 2015. Selain itu Beliau juga menjabat sebagai Ketua Umum MUI Jawa Barat periode tahun 2011 – 2016, serta Wakil Ketua Badan Wakaf Indonesia Pusat.

Kariernya diawali ketika ia menjabat sebagai Hakim Pengadilan Agama di Pandeglang (1966-1967), kemudian menjadi sekretaris Jawatan Peradilan Agama Propinsi Jawa barat (1967 – 1975). Pada tahun 1971-1977 ia menjabat sebagai anggota DPRD I Prop. Jawa Barat Fraksi Nahdlatul Ulama. Kemudian ia menjabat sebagai anggota DPR/MPR RI Fraksi Persatuan Pembangunan (1977-1982). Menjadi dosen di beberapa perguruan tinggi, seperti IAIN Bandung (1967-1975), FISIP Universitas Pasundan (1990-1993), dan Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta (1999-sekarang).
Dalam organisasi, Beliau banyak aktif di Nahdlatul Ulama (NU). Pada tahun 1954, ia menjadi Wakil Ketua Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Pandeglang. Wakil Ketua Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) Pandeglang (1966-1967). Pada tahun 1968-1980 ia aktif di Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Barat, dari menjabat sebagai Anggota, Wakil Katib, dan Wakil Ketua Pengurus Wilayah. Kemudian menjadi Ketua PWNU Jawa Barat (1980-1990). Tahun 1989-1999 ia diminta mendampingi K.H. Abdurrahman Wahid sebagai wakil ketua Tanfidziyah PBNU, dan lima tahun berikutnya ia pun menjadi salah satu rais syuriah PBNU. Ketika Gus Dur sakit keras, ia ditunjuk oleh PBNU untuk menjadi pejabat ketua umum. Tahun 2004 – 2009 Beliau bagian dari anggota Rois Syuriah PBNU dan 2010 – 2015 masih tercatat sebagai Pengurus Harian Syuriah NU.
Warga nahdliyin akan sangat merasa kehilangan sosok yang tegas dan lugas ini, semoga segala amal kebaikannya diterima Allah Swt., serta kesalahannya mendapat ampunan pula. Allahummaghfir lahu warhamhu wa`afihi wa`fu `anhu…amiin!

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.