HARLAH Ke-64 FATAYAT NU
HARLAH Ke-64 FATAYAT NU

Jakarta, NU Online
Dalam dinamika perpolitikan saat ini, perempuan mempunyai peran dan fungsi yang sangat signifikan dalam menentukan suksesi kepemimpinan ke depan.
Porsi sebanyak 30% kuota perempuan di dalam parlemen menunjukan bahwa peran politik perempuan begitu penting dalam ikut membangun bangsa. Sebab itu, Kaukus Perempuan Politik Indonesia telah menyusun 10 agenda politik yang perlu direalisasikan Presiden RI mendatang.

Demikian ditegaskan oleh kader Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) Ratu Dian Hatifah yang didaulat menjadi narasumber dalam diskusi panel peringatan Harlah ke-64 Fatayat NU di Aula Gedung PBNU Jl Kramat Raya 164 Jakarta Pusat, Kamis (24/4) sore.
“Dari perempuan, yang perlu direalisasikan oleh Presiden mendatang, pertama yaitu mengenai pemenuhan hak kesehatan perempuan secara menyeluruh. Kedua, pemenuhan hak pendidikan perempuan,” kata perempuan yang juga Ketua Kaukus Perempuan Politik Indonesia ini.
Yang ketiga, lanjut Dian yang merupakan mantan ketua umum IPPNU ini, Presiden mendatang harus dapat menghentikan kekerasan terhadap perempuan yang selama ini kerap terjadi dari berbagai level umur. Kemudian keempat, penghentian pemiskinan terhadap perempuan melalui keadilan sosial. Kelima, kata Dian, perlindungan penuh terhadap perempuan dari berbagai konflik sosial dan bencana alam yang sering terjadi di masyarakat kita.
Selanjutnya keenam, masih Dian, pemimpin ke depan harus dapat memberikan pekerjaan yang layak bagi perempuan sehingga tak melulu menjadi TKW ke luar negeri. Ketujuh, kebebasan berpikir dalam berbagai bidang, kemudian kedelapan yaitu perkuat hak politik perempuan, selanjutnya kesembilan adalah penghapusan produk-produk hukum yang diskriminatif terhadap perempuan, dan terakhir yaitu penghentian korupsi secara hingga ke akar-akarnya.
“Saya juga meminta kepada kader-kader Fatayat NU dan seluruh perempuan Indonesia yang berhasil duduk di Parlemen mendatang untuk dapat mewujudkan agenda ini,” tandasnya.
Acara ini diawali sambutan Ketua PP Fatayat NU Hj Ida Fauziah, kemudian dilanjutkan dengan taushiyah Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, selanjutnya dilengkapi dengan diskusi panel dengan narasumber Ninuk dari Komnas Perempuan, Ratu Dian dari Kaukus Perempuan Politik Indonesia, Erlinda dari Komisi Perlindunagan Anak Indonesia (KPAI), dan Ibu Yuda Irlang dari Aliansi Masyarakat Sipil untuk Perempuan dan Politik (Ansipol). (Fathoni/Mukafi Niam)
Sumber klik di sini

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.