Categories: Keislaman

Ikhtiyar Memilih Ustadz yang Ulama

M. Rikza Chamami
Dosen UIN Walisongo

Kemarin di salah satu group Whatsap ada diskusi yang sangat menarik. Temanya adalah soal kontroversi pernyataan seorang Ustadz (guru agama) tentang Nabi Muhammad itu pernah sesat dan kemudian mendapat hidayah (tidak sesat). Memang itu kenyataan fatal dan memalukan—Nabi direndahkan dan dihina. Bahwa ada banyak model Ustadz yang mulai ngehit di media sosial—yang kadang membuat dunia keagamaan menjumpai titik lemah.

Sontak saja bahwa pernyataan itu menjadi “gangguan” bagi umat Islam. Reaksinya juga berbeda-beda. Ada yang lapor polisi, ada yang menasehati dan adapula yang membela (Ustadznya tidak salah). Inilah agama yang sangat menarik untuk selalu dikaji dan dipelajari. Soal paham salah atau salah paham itu memang kadang masih ada.

Adanya ilmu fiqh—itu sebagai usaha bahwa syariah itu membutuhkan pendekatan pengetahuan untuk mencari solusi yang belum qath’i dengan cara dzanni. Itupun sebagai langkah agar meminimalisir kesalahan dengan usaha memaksimalkan kebenaran dalam beragama. Jadi paham agama itu menjadi wilayah yang sangat penting. Baru setelah paham, tugas dakwah (memahamkan) orang lain itu berjalan.

Seorang guru saya merasa gelisah dengan manggungnya Ustadz yang belum selesai pemahaman agamanya—tapi sudah diberi panggung raksasa dalam berdakwah. Kemudian yang terjadi adalah dlallun mudlillun (sesat menyesatkan). Ini yang sangat bahaya dan akan menjadikan Islam semakin lemah. Lemah karena melihat kualitas pendakwahnya menghina Nabi Muhammad. Dan lemah karena orang itu membuat kontroversi—yang sudah pasti disalahkan oleh orang Islam sendiri.

Intinya perlu sekali literasi bagi umat dalam memilih Ustadz yang benar-benar memiliki jalur ulama. Gelar Ustadz menjadi sebegitu tinggi dijunjung, namun menjadi anjlog ketika harus menghadapi kesalahan fatal. Termasuk masih teringat betul ketika ada Ustadzah yang salah menulis ayat Al-Qur’an di sebuah stasiun televisi.

Kita coba tengok bersama, bagaimana agama Islam memberikan gambaran baku tentang mencari sosok imam (pemimpin shalat). Syaikh Sa’id bin Muhammad Ba’asyin dalam Kitab Busyral Karim bi Syarhi Masailit Ta’lim menegaskan bahwa imam harus sehat, tidak batal, lebih menguasai ilmu daripada makmum, bersih jiwa dan raganya. Artinya bahwa pimpinan agama itu harus memiliki bekal ilmu yang luas dan tidak mudah salah.

Syaikh Al Zarnuji dalam Kitab Ta’limul Muta’allim juga menyebutkan, untuk memilih guru itu butuh tiga hal: lebih alim (pandai), wara’ (menjaga martabat) dan lebih tua. Itu sama dengan pola Imam Abu Hanifah memilih Imam Hammad bin Sulaiman dalam memilih guru dengan tiga pertimbangan tersebut. Sebab mencari ilmu itu, kata Al Zarnuji, merupakan perkara yang luhur dan rumit. Maka perlu menjadikan guru sebagai sumber ilmu—termasuk dengan musyawarah.

Syaikh Muhammad Hasyim bin Asy’ari bin Abdul Wahid dalam Kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim menegaskan bahwa keutamaan ilmu agama itu menjadi hak ulama yang memang membidangi ilmu tersebut. Sebab ulama merupakan pewaris para Nabi yang mempunyai jiwa agama yang baik dan nilai ketaqwaan yang tinggi.

Ditegaskan oleh Syaikh Muhammad Hasyim bin Asy’ari bahwa tujuan menjadi ulama itu bukan untuk dunia, pangkat, harta dan memperbanyak pengikut (murid). Sebab Rasulullah Saw bersabda: “Barangsiapa belajar ilmu bukan karena Allah, atau ilmunya untuk jalan selain Allah, maka orang tersebut akan menghuni neraka”.

Syaikh Muhammad Sholeh bin Umar Assamarani dalam Kitab Munjiyat juga menyinggung tentang sifat muhlikat (rusak akhlak) akibat nafsu dalam mencari ilmu. Maka ada empat pesan Syaikh Muhammad Sholeh: Pertama, murid duduk bersama gurunya. Kedua, mencari teman yang shalih. Ketiga, mendengarkan ucapan orang yang membenci. Dan keempat, kumpul orang banyak untuk mencari nasehat.

Narasi demi narasi dari para ulama ini patut untuk direnungkan bersama. Bahwa mencari sosok guru agama Islam butuh waktu dan pilihan yang sangat tepat. Agama jangan sampai menjadi fitnah dan saling menjatuhkan. Oleh sebab itu, pengalaman yang kurang baik (kesalahan Ustadz) perlu menjadi koreksi bersama. Ustadz yang baik adalah yang bervisi ulama—pewaris para Nabi—yang ramah dan welas asih, membuat umat adem ayem dan damai dalam beragama.*)

Sumber : Ltnnu Jabar

admin pc nu

Recent Posts

10 Muharram di Ranting NU Maruyung

Santunan Yatim Piatu , Tahlil Akbar, dan Khotmil Qur'an Ranting NU Desa Maruyung Kec. Pacet Kab. Bandung dalam memperingati 10…

2 hari ago

Beberapa Peristiwa Penting Para Nabi pada 10 Muharram

Oleh KH Zakky Mubarak Masa kebangkitan, keemasan, dan kehancuran suatu umat terjadi silih berganti, dari satu generasi ke generasi yang…

4 hari ago

CINTA UNTUK NABI DARI ANSOR RANCAEKEK

Panitia Festival Sholawat Nasional (FSN) Tingkat Kecamatan Rancaekek pada tanggal 16 September 2018 kemarin menggelar FSN tingkat kecamatan. Acara ini…

5 hari ago

Peserta Lomba Mars Fatayat NU dan Hubbul Wathon

Fatayat NU Kab. Bandung menggelar Lomba Mars Fatayat NU dan Hubbul Wathon 16 September 2018 di Aula PCNU kab. Bandung…

6 hari ago

Nyala Obor Hiasi Malam Tahun Baru Islam 1440 H

Santri santri Ponpes Tanjung Salam Hiasi Malam Tahun Baru Islam 1440 H dengan Pawai Obor yang dipimpin oleh Ketua Pac…

6 hari ago

Tahun Baru PENGURUS BARU, SEMANGAT BARU

Ketua PC Fatayat NU Kab. Bandung Hj. Yayu Juariyah memberikan Sambutan ketika pembentukan PAC Fatayat NU Kec. Rancaekek https://youtu.be/Uhyd0BZhkEU

6 hari ago