BeritaKegiatan

HALAL BIHALAL NU RANCAEKEK: MENGOKOHKAN MANHAJ, MENGEMBANGKAN SAYAP

Majelis Wakil Cabang Nahdhlatul Ulama (MWCNU) Rancaekek pada hari Minggu pagi tanggal 28 Juli 2019 mengadakan acara halal bi halal. Secara lengkap acara ini bertajuk “Halal bi Halal MWCNU Kecamatan Rancaekek & Konsolidasi Organisasi Serta Tasyakur Kemenangan Prof. KH. Ma’ruf Amin”

Acara ini dihadiri oleh Al-Mukarram KH. Dr. Asep Jamaludin, ketua Umum Tanfidziah PCNU Kabupaten Bandung. Dalam sambutannya beliau mengatakan bahwa Hadratusysyaikh KH. Hasyim Asy’ari melaksanakan shalat hajat dan shaum selama dua tahun sebelum mendirikan NU. Jadi, proses pendirian NU itu adalah proses yang luar biasa dengan tujuan utama menyatukan, mewadahi dan menggerakkan kaum ahlusunnah waljama’ah di Indonesia.

Lebih jauh, KH. Asep menuturkan bahwa dalam perjalanan sejarahnya, NU telah mengalami berbagai cobaan yang sangat berat. Berkat do’a dan kegigihan, NU terus eksis dan telah membuktikan diri menjadi wadah dan penggerak Islam Ahlussunnah Waljama’ah an-Nahdliyah serta menjadi penjaga utama Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Sesuai dengan tajuk acara ini, sebagai Ketua Tanfidziah MWCNU Rancaekek, K Ending Jauharuddin, S.Pd.I, memaparkan bahwa selain ber-halal bihalal, acara ini juga bertujuan untuk konsolidasi organisasi. Karena itu acara ini juga dihadiri oleh para pengurus NU Tingkat Ranting, Badan Otonom (Banom) dan Lembaga yang ada di lingkungan NU Rancaekek. Seluruh kepengurusan NU serta semua lembaga dan Banom yang ada di lingkungan kecamatan Rancaekek diharapkan semakin merapatkan barisan dan meningkatkan kualitas gerakannya dalam menghadapi berbagai tantangan jaman.

Di dalam kesempatan ini, sebagai tuan rumah, pimpinan Pondok Pesantrena Al-Hikmah, KH. Ayi Rahman mengemukakan bahwa kaum nahdliyin di Rancaekek harus semakin bersatu dalam wadah NU. Menurut beliau, Ahlusunnah Waljama’ah an-Nahdliyah memiliki manhaj dan karakteristik yang berbeda dengan yang lain. Nahdlatul Ulama mengikuti manhaj Abu Hasan Al-Asy’ari dan Abu Mansur Al-Maturidi dalam bidang teologi. Kemudian dalam bidang fikih mengikuti empat madzhab; Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali. Sementara dalam bidang tasawuf, mengembangkan metode Al-Ghazali dan Junaid Al-Baghdadi, yang mengintegrasikan antara tasawuf dengan syariat.

KH. Ayi lebih jauh mengemukakan bahwa diantara karakteristik ahlussunnah waljama’ah ala NU adalah “Islam ramah”, bukan “Islam marah”. Artinya, NU selalu mengedepankan prinsip hikmah dan mau’idhah hasanah dalam menghadapi dan menyikapi berbagai hal. Karakteristik lainnya adalah selalu berusaha mengedepankan tabayyun dalam menghadapi dan menyikapi berbagai fenomena dan informasi. Sikap ini semakin penting di dalam era medsos seperti sekarang ini.

Setelah acara resmi berakhir, dilanjutkan dengan acara santap siang dan konsolidasi organisasi. Di dalam acara ini dibicarakan langkah-langkah kegiatan dan pengembangan organisasi di masa yang akan datang. Diantara hal yang dibicarakan adalah rencana penyelenggaraan peringatan Tahun baru 1441 Hijriyah dan peringatan Hari Santri Nasional.

Keorganisasian NU di wilayah kecamatan Rancaekek memang sedang berjuang mengokohkan dasar-dasar ke-NU-annya. Berbagai pembinaan dilakukan diberbagai lini kehidupan. Mengingat organisasi NU di wilayah ini relatif tertinggal dibanding wilayah lainnya, maka pengurus saat ini juga sedang giat mengembangkan sayap dengan meraup aktifis yang lebih banyak, melengkapi Banom dan Lembaga yang belum ada, serta melengkapi kepengurusan di tingkat ranting.

Tampilkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Close
Close
%d blogger menyukai ini: