HALAL BI HALAL

369

Setelah melaksanakan shalat ‘Idul Fitri pada 1 Syawal, umat Islam Indonesia melanjutkannya dengan mengunjungi tetangga, teman dan keluarga untuk saling bermaaf-maafan. Selang beberapa hari kemudian lembaga swasta dan pemerintah,  secara formal dan tidak formal mengadakan kegiataan halal bihalal. Itulah kebiasaan yang terjadi di masyarakat Indonesia dalam rangka menyambut Hari Raya Idul Fitri. Dan tradisi halal bi halal setelah Hari Raya Idul Fitri ini terus berlangsung sampai sekarang.

Halal bi Halal merupakan tradisi bangsa Indonesia yang tidak ditemukan di bangsa Arab, sebagai negara asalnya agama Islam. Juga kata halal bi halal tidak ditemukan dalam kamus Bahasa Arab. Sedangkan dalam kamus Bahasa Indonesia halal bi halal berarti acara maaf memaafkan pada Hari Raya ‘Idul Fitri. Oleh karena itu, dalam makna “halal bi halal” terdapat unsur silaturahim. Sementara silaturahim berasal dari Bahasa Arab shilat dan rahim. Shilat berarti washl yang berarti menyambung dan menghimpun. Ini berarti hanya yang putus dan terserak yang dituju oleh shilat itu. Sedangkan kata rahim berarti kasih sayang kemudian berkembang berarti pula “peranakan”(kandungan), karena anak yang dikandung selalu mendapatkan curahan kasih sayang. Sabda Rasul saw. “Laysa al-muwashil bil mukafi’ walakin al-muwashil ‘an tashil man qatha’ak” (Bukhari). Artinya “Bukanlah bersilaturahim orang yang membalas kunjungan atau pemberian, tetapi yang bersilaturahim adalah yang menyambung apa yang putus”.

Di dalam Al-Qur’an dan Hadits tidak ditemukan  penjelasan tentang arti halal bi halal. Istilah tersebut memang khas Indonesia bahkan boleh jadi pengertiannya akan kabur di kalangan bukan bangsa Indonesia, walaupun yang bersangkutan paham ajaran agama dan bahasa Arab.

Menurut tinjauan linguistik, Kata “halal” dari segi bahasa terambil dari kata “halla” atau “halala” yang mempunyai berbagai bentuk dan makna sesuai dengan rangkaian kalimatnya.

Makna-makna tersebut antara lain adalah “menyelesaikan problem atau kesulitan” atau “meluruskan benang kusut” atau “mencairkan yang beku”, atau “melepaskan ikatan yang membelenggu”.

Dengan demikian, kalau kita pahami kata halal bihalal dari tinjauan kebahasaan ini, seakan-akan kita menginginkan adanya sesuatu yang mengubah hubungan kita dari yang tadinya keruh menjadi jernih, dari yang beku menjadi cair, dan dari yang terikat menjadi terlepas atau bebas, walaupun ke semua yang disebut di atas belum tentu haram.

Di dalam Al-Qur’an kata “halal” dapat ditemukan dalam enam ayat, yang terdapat dalam lima surah. Dua diantaranya dirangkaikan dengan kata haram, dan dikemukakan dalam konteks kecaman (negatif) al-Nahl:116 dan Yunus:59. Sedangkan keempat sisanya selalu dirangkaikan dengan kata “kulu” (makanlah) dan kata thayibbah (yang baik). QS 2:168, QS 8:69, QS 5:88, QS 16:114

Dalam Al-Qur’an kata “kulu”sering kita jumpai dalam arti “gunakanlah” atau kata “akala” yang berarti “menggunakan”. Perhatikan firman Allah “Innalladzina ya’kuluna amwal al-yatama zhulman…” (Orang-orang yang menggunakan harta anak yatim secara aniaya).

Prof. Abdul Halim Mahmud memahami kata “makan” pada firman Allah yang berbunyi “Wa la ta’kulu mimma lam yudzkar ismu Allah ‘alayh”. (Janganlah makan sesuatu yang tidak disebut di dalamnya nama Allah) sebagai larangan makan dan melakukan aktifitas apa saja yang tidak didasari oleh keridhaan Allah swt. Dengan demikian, seluruh aktifitas yang dilakukan hendaknya bersifat halal.

Seperti telah dikemukakan di atas, keempat kata halal yang bukan konteks kecaman itu, disamping dirangkaikan dengan kata “kulu”, juga dirangkaikan dengan kata “thayyib” yang berarti “baik lagi menyenangkan”. Ini mengandung kesan bahwa boleh jadi ada yang halal tetapi tidak thayyib. Kesan ini diperkuat oleh Nabi SAW. Dengan sabdanya “Abghadh al-halal ila Allah al-thalaq” (Halal yang paling dibenci oleh Allah adalah talak, pemutusan hubungan).

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa halal yang dituntut adalah halal yang thayyib, yang baik lagi menyenangkan. Dengan kata lain, Al-Qur’an menuntut agar setiap aktifitas yang dilakukan oleh setiap Muslim harus merupakan sesuatu yang baik dan menyenangkan semua pihak.

Inilah agaknya yang menjadi sebab mengapa Al-Qur’an tidak hanya menuntut dari seseorang untuk memaafkan orang lain, tetapi lebih dari itu, yakni berbuat baik terhadap orang yang pernah melakukan kesalahan terhadapnya. Dan dari sini pula dapat dipahami mengapa, dalam Al-Qur’an, dari 18 kali Allah SWT. menyebutkan cinta-Nya terhadap orang-orang yang memiliki sifat-sifat terpuji, dengan menggunakan kata “yuhibb” di lima tempat, diantaranya ditujukan kepada “al-muhsinin” (Orang-orang yang memperlakukan orang lain lebih baik dari pada  perlakuan orang itu atasnya, atau berbuat baik kepada yang bersalah, dan berbuat lebih baik atas orang yang telah berbuat baik).

Dari sini pula diperoleh kesan bahwa halal bihalal bukan saja menuntut seseorang agar memaafkan orang lain, tetapi juga agar berbuat baik terhadap siapapun. Itulah landasan filosofis dari semua aktifitas manusia yang dituntut oleh Al-Qur’an, dan itu juga yang harus menjadi landasan filosofis bagi setiap yang melaksanakan halal bihalal. Hal tersebut sekaligus juga berarti bahwa hakikat yang dituju oleh acara halal bihalal tidak harus dibatasi waktunya seusai hari Raya Idul Fitri, tetapi setiap saat serta menyangkut segala aktivitas manusia. Walaupun memang harus diakui bahwa acara maaf memaafkan dan silaturahim itu sangat sesuai dengan hakikat Idul Fitri.

Id berarti kembali dan fithr berarti agama yang benar atau kesucian atau asal kejadian. Kesucian adalah gabungan tiga unsur: benar, baik dan indah, sehingga seseorang yang ber’Idul Fitri dalam arti kembali ke kesuciannya akan selalu berbuat yang indah, benar dan baik. Bahkan lewat kesucian jiwanya itu, ia akan memandang segalanya dengan pandangan positif. Ia selalu berusaha mencari sisi yang baik, benar dan indah. Mencari yang indah melahirkan seni, mencari yang baik menimbulkan etika, mencari yang benar menghasilkan ilmu. Dengan pandangan demikian, ia akan menutup mata terhadap kesalahan, kejelekan dan keburukan orang lain. Kalaupun itu terlihat, selalu dicarinya nilai-nilai positif dalam sikap negatif tersebut. Dan kalaupun itu tidak ditemukan, ia akan memberinya maaf bahkan berbuat baik kepada yang melakukan kesalahan.

Ngomong-ngomong, kapan PCNU mau mengadakan halal bi halal yah!?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here