GEBYAR MUHARRAM DI PACET

562

Sejak lama masyarakat Indonesia merayakan dengan meriah pergantian tahun masehi, sejak siang sudah mempersiapkan diri untuk menyambutnya, sepanjang malam diisi dengan kegiatan-kegiatan yang menggembirakan bahkan detik-detik pergantian tahun baru ini disiarkan langsung oleh stasion-stasion televisi dengan dentuman meriam dan kembang api yang meriah. Tanpa umat Islam sadari bahwa kebiasaan itu bukan berasal dari tradisi masyarakat Muslim.

Alhamdulillah, sekarang masyarakat Muslim sudah banyak yang menyadari bahwa sebenarnya tahun baru umat Islam adalah tahun hijriyah, perhitungan tahun berdasarkan hijrah Nabi Muhammad SAW. Dari Mekah ke Medinah. Sekarang, peringatan atau menyambut pergantian tahun baru hijriyah banyak dirayakan di daerah-daerah, walaupun belum semeriah penyambutan pergantian tahun baru masehi. Tapi, kecenderungan itu sudah menjadi nilai positif bagi generasi muda Islam yang selama ini terkecoh oleh publikasi media yang menyesatkan tentang tahun baru yang seharusnya diperingati oleh masyarakat Muslim.

Dalam rangka menyambut pergantian tahun 1433 H. ke tahun 1434 H. MWC NU Pacet pada malam tanggal 1 Muharram 1434 H. melakukan pawai obor. Santri-santri pesantren dan murid-murid madrasah yang berada di bawah naungan Nahdlatul Ulama beramai-ramai turun ke jalan dengan obornya masing-masing, sehingga sepanjang jalan Pacet penuh dengan cahaya api dari obor. Mudah-Masyarakat sepanjang jalan menyambutnya dengan antusias.

Gebyar Muharram 1434 H. dilanjutkan oleh MWC Pacet dengan menampilkan para sesepuh pelaku sejarah NU di Kecamatan Paacet pada tanggal 10 Muharram 1434 H. yang bertepatan dengan Sabtu, 24 Nopember 2012 M. di Pondok Pesantren An-Nur Maruyung Pimpinan Ustadz Idham Kholid, S.Ag. Ketua Tanfidziyah MWCNU Pacet. Sebelum pelaksanan pengajian dan pemaparan sejarah NU didahului dengan karnaval kesenian. Santri pondok pesantren dan madrasah dari desa-desa se Kecamatan Pacet kembali turun ke jalan dengan memamerkan beberapa karya kesenian seperti nasidz, marawis dan sisingaan.

Dalam sambutannya, Ustadz Idham Kholid, S.Ag. sebagai Ketua MWCNU Pacet mengatakan bahwa kegiatan ini dilaksanakan agar para generasi muda NU mengetahui tentang sejarah NU di Pacet, jasa para sesepuh NU dalam melakukan amar ma’ruf nahi munkar berdasarkan ajaran Islam Ahlussunah wal Jama’ah.  Kehadiran tokoh sejarah NU juga diharapkan bisa memotivasi para pengurus NU di tingkat ranting dan MWC Pacet agar bisa bersama-sama menggerakan organisasi NU sehingga keberadaan NU dirasakan manfaatnya oleh masyarakat sekitar.

Pada kesempatan ini juga Ustadz Idham mengucapkan terimakasih yang sebanyak-banyaknya kepada para donatur yang telah membantu MWCNU Pacet dalam merehabilitasi 30 rumah korban kebakaran yang menelan biaya sekitar Rp. 300.000.000-,. (Tiga ratus juta rupiah). Sehingga dalam jangka waktu sekitar  50 hari rehabilitasi bisa diselesaikan tanpa menunggu bantuan dari Pemerintah daerah Kabupaten Bandung.

Sesepuh NU Pacet KH. Mulyadi dan KH. Ohan Burhanudin menyatakan bahwa para pengurus NU di tingkat ranting dan MWC harus menjaga dan melestarikan tradisi Islam Aswaja yang ditandai dengan KTSM (Kunut, Tahlilan, Sholawatan, Marhabaan). Para pengurus NU Pacet juga harus hati-hati terhadap hama dan orang yang tidak senang melihat NU teus berkembang. Orang-orang yang tidak suka terhadap NU mereka mencoba menghilangkan tradisi KTSM dengan menyebut tradisi itu tidak ada dasarnya dari Al-Qur’an dan Hadits. Padahal bagi kita orang NU amalan KTSM itu sangat diajarkan oleh Rasulullah SAW.

KH. Mulyadi dan KH. Ohan Burhanudin juga berpesan bahwa agama itu bukan sekedar cerita tapi amal nyata. Untuk itu, pengurus NU harus terus berkarya dan bekerja untuk bangsa dan negara. Para pengurus NU harus saling membantu, saling menolong dan saling mengasihi.

Pada kegiatan ini juga hadir Rois Syuriah PCNU Kabupaten Bandung KH. A. Saifuddin Kamil dan mengapresiasi kegiatan yang dilakukan oleh Pengurus MWCNU Pacet. NU ini organisasi keagamaan yang menjaga moral masyarakat dengan melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar berdasarkan ajaran Islam Ahlussunah wal Jama’ah. Peringatan Hari Besar Islam seperti penyambutan tahun baru hijriyah, rajaban, muludan adalah tradisi Islam Ahlussunah wal Jama’ah yang diajarkan dan dilaksanakan oleh para ulama penyebar agama Islam di Indonesia.

Masyarakat tidak perlu ragu dan takut dalam mengamalkan ajaran Islam berdasarkan tradisi Ahlussunah wal Jama’ah  karena itu benar dan berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits melalui ijma’ dan qiyas.  Dengan melaksanakan dan menjaga tradisi Islam Ahlussunah wal Jama’ah diharapkan NU bisa jaya dan besar di Pacet dan di Kabupaten Bandung khususnya, di Indonesia dan Internasional umumnya. Amin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here