Garis Besar Perjuangan NU

224

Oleh: Abdul Mun’im DZ

Nahdlatul Ulama sebagai organisasi Islam Ahlussunah wal Jama’ah yang berasaskan Pancasila, tidak hanya hadir untuk warganya sendiri, tetapi juga memiliki tanggung jawab besar dalam kancah kehidupan berbangsa. Sejak awal, NU aktif dalam membentuk negara ini dan akan terus menjaga keselamatannya. Prinsip ini terus dipegangi hingga saat ini, bahkan terus menerus ditegaskan kembali. Apalagi saat negeri ini mengalami keguncangan. Memang NU lahir dari sebuah cita-cita besar, baik yang bersifat nasional maupun internasional.

Dalam dunia Islam yang diguncang radikalisme dan ekstremisme saat ini, NU turun dan memimpin umat  lain dalam dunia Islam yang saat ini sedang mencari arah di tengah pergeseran politik Internasional. Untuk menghindari benturan antar umat Islam dari berbagai madzhab dan aliran, yang saling berebut pengaruh saat ini antara Syi’i (Iran), Wahabi (Saudi Arabia) maupun Sunni (Turki) dan sebagainya. Sebagai organisasi Islam Ahlussunah wal Jama’ah (Aswaja) yang berasaskan Pancasila, maka NU memiliki kesempatan besar sebagai mediator bahkan mampu memimpin dalam mencari solusi bagi masa depan dunia Islam, sebagaimana yang telah dilakukan selama ini.

Di sisi lain, mengingat masih besarnya ketimpangan kehidupan internasional, baik yang bersifat sosial, politik maupun ekonomi, yang diakibatkan oleh beroperasinya kapitalisme global  yang tidak mengenal solidaritas, tidak mengenal kemanusiaan dan tidak mengenal empati pada sesama manusia. Hal itu akan melahirkan ketimpangan dan kesengsaraan yang mengancam perdamaian dunia. Sudah selayaknya NU tetap berperan aktif dalam upaya memperjuangkan tata kehidupan dunia baru yang damai, lebih adil dan lebih sejahtera.

Agar bisa melibatkan diri dalam persoalan besar itu, maka NU berusaha merumuskan strategi yang tepat dan akurat untuk memperbesar peran. Karena itu, positioning NU dalam kancah kehidupan nasional dan internasional perlu jelas, dengan langkah-langkah, mempertegas diri sebagai organisasi Islam Aswaja yang berasaskan Pancasila. Berperan aktif dalam permasalahan bangsa dunia Islam dan dunia internasional pada umumnya.

Di saat yang sama, NU perlu melakukan penataan ke dalam dengan meningkatkan kaderisasi, sekaligus disertai langkah distribusi dan promosi kader ke berbagai lembaga strategis yang ada. Untuk melakukan semua itu perlu penguatan basis ekonomi, agar NU mampu melaksanakan agenda perjuangannya secara bebas dan mandiri sesuai dengan arah dan aspirasinya sendiri. Untuk memperbesar peran ini, juga diperlukan kemampuan untuk mengawal segala macam bentuk kebijakan dan regulasi yang menentukan arah bangsa dan negara ini. Untuk itu dibutuhkan pula langkah terus menerus melakukan konsolidasi agar menjadi organisasi yang kuat dan mandiri. Sejak awal KH. Ahmad Siddiq mengingatkan dalam menggerakan perjuangan NU harus memiliki rancangan atau grand design (skenario agung) di saat yang sama, juga perlu merumuskan grand strategy (strategi agung) sebagai upaya untuk melakukan grand control (pengendalian agung) terhadap proses perkembangan bangsa ini berdasarkan akhlakul karimah sesuai dengan Aswaja untuk mewujudkan masyarakat Pancasila.

Dengan jelasnya garis-garis besar perjuangan NU ini maka dengan sendirinya akan terbentuk kesamaan pola pikir, yang akan berimplikasi kesamaan sikap dan kesamaan langkah atau tindakan, sehingga langkah perjuangan NU tidak saling berseberangan, tetapi semakin berjalan lebih efektif dan berdaya guna. Untuk itu, akan kita hadirkan berbagai piagam dan deklarasi yang mencerminkan langkah-langkah strategis yang telah diambil NU, mulai sebelum organisasi ini berdiri tahun 1926, masa menjadi partai politik, hingga belakangan ini. Ini penting dihadirkan kembali agar gerak NU ke depan tidak terlepas dari sejarah masa lalunya. Dan sekaligus sebagai sumber inspirasi dalam mengambil langkah strategis baru.

Sebagai gerakan sosial dan juga gerakan politik, NU telah memiliki segudang pengalaman, tetapi seringkali pengalaman itu tidak diwarisi oleh generasi berikutnya. Akhirnya pengalaman panjang itu tidak bisa diakumulasi dan dikapitalisasi menjadi pengalaman. Seringkali kader NU bahkan pimpinan NU ketika berpolitik mengalami kebingungan dan limbung karena tidak menemukan pijakan dan rujukan dalam berpolitik. Padahal rujukan itu sebegitu banyak, pengalaman menumpuk, tetapi karena catatan atas pengalaman tersebut tercerai berai dan tidak terdokumentasikan dengan rapi dan tidak mudah didapatkan, akhirnya kader NU berpolitik tanpa rujukan, tanpa tradisi dan tanpa pijakan, maka sikapnya selalu bimbang. Tidak mampu menjadi penentu dalam pengambilan strategi dan kebijakan bangsa.

Berbagai piagam dan deklarasi perjuangan NU dalam bidang politik dan kebangsaan ini disebarkan ulang dengan harapan bahwa piagam ini tidak hanya menjadi dokumen sejarah atau menjadi arsip bahkan fosil, tetapi diharapkan menjadi sumber inspirasi dan sekaligus menjiwai seluruh gerakan NU. Bahkan seperti filosofi para sejarawan bahwa mempelajari fakta historis itu bukan untuk membangun romantisme masa lalu, tetapi sebuah upaya menggali gudang peluru sebagai amunisi menggerakan masa depan. Dengan filosofi seperti itu maka naskah dan piagam ini dipersembahkan pada pembaca agar bisa dijadikan rujukan dan bahan, baik dalam kaderisasi maupun dalam penentuan arah organisasi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here