Semua orang sudah barang tentu sangat mendambakan memiliki keluarga yang tenteram, nyaman dan mampu mengantarkannya ke pintu kesuksesan dunia dan akhirat. Namun, fakta dunia sebagai dar al ta`ab telah memberikan konsekuensi kepada setiap personal untuk dihadapkan ke dalam bermacam ragam cobaan kehidupan. Demikian pula dalam urusan rumah tangga, setumpuk problem keluarga senantiasa disuguhkan ke hadapan kita menunggu untuk diselesaikan.

 Untuk itu, dalam rangka membantu memberi pemahaman komprehensif tentang hukum keluarga, yang meliputi hukum perkawinan, perceraian serta pemeliharaan anak, serta berupaya turut menghadirkan policy terhadap problem keluarga, maka admin membuka forum diskusi online via facebook yang diikuti oleh facebooker dari berbagai kalangan, di antaranya adalah para akademisi (asatidz/dosen dan santri/mahasiswa), praktisi (Peradilan Agama, KUA), serta masyarakat umum.

Di dalam forum tersebut, insya Allah banyak tersimpan informasi yang sangat bermanfaat bagi kita. Detail Hukum Perkawinan & Perceraian dikupas tuntas dengan pisau analisis komparasi antara Hukum Islam (fiqh) dan Hukum Positif (UU Perkawinan & KHI). Kepada seluruh warga NU, admin mengundang untuk ikut bergabung. Kita dapat turut berbagi pengetahuan dan pengalaman di dalamnya. Berikut link forumnya: Diskusi Hukum Perkawinan & Perceraian Muslim.

100 thoughts on “Forum Konsultasi Hukum Perkawinan & Perceraian Muslim

  1. Assalamu’alaikum wr wb
    Saya mau bertanya, apakah jika seorang suami dalam keadaan marah, mengatakan “silakan mencari suami lain” dapat diartikan telah menjatuhkan talak?
    Terima kasih.
    Wassalam,
    Nisa

    • Wa`alaykumussalam, mohon maaf kami baru bisa kembali terkoneksi setelah ada beberapa kendala.
      Untuk kasus seperti ini, maka termasuk kategori talak dengan shighat kinayah, oleh karenanya ia baru benar-benar dikatakan talak jika saja sewaktu mengucapkan kalimat tersebut, si suami “niat” hendak menalak istrinya, Jika tidak ada niat menalak, maka kalimat tsb tdk memeiliki efek hukum apa-apa. terima kasih!

  2. assalamu’alaikum..
    bagaimana status saya jika suami mengatakan..
    talak satu
    talak dua
    talak tiga
    dalam 3x sms yg berbeda menit..
    sebelumnya suami jg pernah menyuruh untuk mengurus surat perceraian di depan ibu saya.
    bagaimana status hukum talak tsb..
    apakah saya masih bisa rujuk?
    Wassalamu’alaikum

    • Wa`alaykumussalam,
      Secara fikih, talak tersebut dinilai sah dan tidak bisa rujuk karena sudah masuk kategori talak bain kubra. Jika pun ingin kembali lagi, maka anda harus nikah dulu dengan laki2 lain kemudian cerai dan habiskan iddah, baru bisa nikah dengan mantan suami pertama.
      Namun menurut hukum positif, hal tersebut belum dinilai sebagai perceraian, sebelum terlebih dahulu diproses PA dan mendapatkan putusan yang berkekuatan hukum (inkrah).
      Demikian semoga membantu.

  3. assalamu alaikum..boleh minta sarannya,bagaimana hukumnya kalau suami sudah meninggalkan istri dan anakny selama hampir setahun tanpa menafkahi mereka dgn alasan blm memilliki cukup uang?

    • Mohon maaf terlambat direspon, semuanya diserahkan kembali kepada istri tersebut, apa ia ridla dengan kondisi seperti itu atau tidak? Kalau ridla maka tdk ada masalah, dan nanti ketika suami sudah punya, nafkah yg blm dibayar bisa ditagih.
      Tapi kalau tdk ridla, maka istri bisa menuntut cerai dgn mengajukan gugat cerai ke Pengadilan Agama.

  4. 4 thn yg lalu suami menikah lagi dengan ijin sy dengan harapan semua menjadi barokah & ikhlas mengharap ridho Allah. Seiring berjalannya waktu banyak kejadian di luar perkiraan sy yg membuat sy tdk ingin meneruskan pernikahan poligami ini. Apakah keadaan sy bisa dijadikan alasan untuk gugat cerai ?

    • Kalau mnrt KHI Ps. 116, perceraian dpt terjadi jika:
      salah satu pihak berbuat zina atau menjadi pemabuk, pemadat, penjudi dan lain sebagainya yang sukar disembuhkan;
      salah satu pihak mninggalkan pihak lain selama 2 (dua) tahun berturut-turut tanpa izin pihak lain dan tanpa alasan yang sah atau karena hal lain diluar kemampuannya;
      salah satu pihak mendapat hukuman penjara 5 (lima) tahun atau hukuman yang lebih berat setelah perkawinan berlangsung;
      salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan berat yang membahayakan pihak lain;
      sakah satu pihak mendapat cacat badab atau penyakit dengan akibat tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai suami atau isteri;
      Pntara suami dan isteri terus menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga;
      Suami menlanggar taklik talak;
      Peralihan agama tau murtad yang menyebabkan terjadinya ketidak rukunan dalam rumah tangga.

  5. Jadi kalau alasan tidak kuat dengan perkawinan poligami, istri tidak bisa gugat cerai ? Walaupun akibat dari pernikahan poligami tersebut, sering terjadi perselisihan/pertengkaran yg tdk ada harapan untuk hidup rukun lagi ?

    • Kalau hanya semata alasan poligami (sementara awalnya telah menyetujui) itu belum mencukupi, tapi jika dr poligami tsb menimbulkan implikasi sering terjadi perselisihan yg berakibat ketidakrukunan rumah tangga, maka bisa dijadikan alasan gugat cerai.

  6. Assalamualaikum….mohon sarannya….
    Saat saya hamil suami pernah berkata “kamu pulang ke rumah ibu….!!!” (menurut saya dia mengusir tapi dia bilang tidak mengusir karena saat itu hujan maka dia menyuruh saya untuk pulang kerja ke rumah ibu dulu),saat anak saya usia 35hari dia pernah marah besar sampe sms saya “mulai hari ini kita pisah” (suami mengaku kalau ta ada niatan pisah),lalu 1minggu kemudian dia mengatakan “semua telah berakhir kita ketemu di kantor agama dan semua barang akan di kembalikan pada saya”.pada bln juli 2012 saya mengajukan gugatan cerai,meski suami tak pernah menyetujui tapi pengadilan sdh mmutus cerai.saat ini suami sadar akan segala kesalahannya dan mencoba untuk kembali lagi,apakah kami bisa bersama lagi secara agama….???

    • Wa`alaykumussalam,
      Berdasarkan penjelasan anda:
      1. Suami melalui kata2 “berbau” cerai (dlm fiqh dikenal dengan istilah kinayah), ternyata menurutnya ia tdk berniat utk cerai, sementara bahasa kinayah baru memiliki efek hukum jika disertai dgn niat.
      2. Umumnya putusan perceraian dari gugat cerai adalah talak satu khul`iy.
      Dari hal-hal tersebut, maka anda dgn mantan suami anda dapat bersatu lagi melalui perkawinan yang baru dengan mahar baru pula, tidak bisa melalui rujuk.
      Demikian semoga membantu.

  7. assalamualaikum wr. wb.
    pak ustadz saya mau tanya…
    dl saya melakukan pernikahan,,,,
    tetapi calon istri saya tidak hadir dalam pernikahan itu dengan alasan sedang sakit gigi…. yg datang hanya orang tua dan wali nya saja,,,,dan orang tuanya bilang hanya untuk mencari status saja dan saya tidak pernah menandatangani surat nika akan tetapi saya dapat surat duda
    yg saya pertanyakan apa pernikahan saya itu sah???
    dan apa hukum dari pernikahan saya….

    • Wa`alaykumussalam,
      Kalau pada saat itu anda telah melakukan akad nikah bersama wali di hadapan dua orang saksi dengan rukun dan syaratnya terpenuhi, maka anda dinilai telah melakukan pernikahan yang sah. Adapun kehadiran calon pengantin perempuan di majelis akad, itu tidak menjadi bagian dari syarat sah nya akad nikah.

      • kalau yang masalah saya tidak pernah menandatangani surat/buku nikah itu bagai mana pa????
        karna pernikahan itu karna keterpaksaan… dan setelah akad nikah saya tidak serumah ma dy karna orang tuanya yang meminta… soalnya orang tua nya hanya inginkan stts buat dy… dan punya rencana untuk langsung bercerai…

  8. Saya wanita lajang yg sedang berhubungan dengan lelaki beristri. Kami berencana menikah. Apakah nanti pernikahan kami syah apabila tanpa izin istrinya ? Apakah saya berdosa menyakiti hati wanita lain dengan merebut suaminya ?

    • Secara agama, asalkan terpenuhi rukun & syarat, maka dinilai sah. Namun jika memperhatikan hukum positif (yg berlaku di Indonesia), perkawinan kedua tanpa izin istri pertama dapat dibatalkan, atas pengaduan istri pertama.

    • Kalau untuk itu saya tdk bisa menjawabnya, karena sangat relatif. Yang jelas laki-laki memiliki keleluasaan unt memiliki istri lebih dari satu.

  9. @Sdri. Haidah : sy mengalami suami direbut wanita lain dan rasanya sangat menyakitan. Anda jgn menuntut seorang istri harus ikhlas suaminya anda rebut !

    • Kalau boleh saya berpendapat, sebaiknya tidak perlu digunakan kata “merebut”, ketika tidak menuntut untuk menceraikan salah satunya. Bagaimana kalau kita berusaha memahami “takdir”, menyerahkan sepenuhnya kepada Allah, kalau memang ada yang merasa terzhalimi, Allah pasti akan membantunya dengan berlipat kebaikan.
      Suami selain memang memiliki hak utk beristri lebih dari satu, ia juga pasti punya alasan atas tindakan yang diambilnya. Itu hanya salah satu perspektif saja, semoga Allah menyertai anda!

    • bahkan kalau saja terjadi perceraian, maka perceraian itu sejatinya bagian dari takdir Allah yg jauh-jauh hari sudah ada dalam perencanaan-Nya

  10. Jalani saja kehidupan ini dengan niyat baik, usaha yang sungguh-sungguh untuk mencapai keberhasilan dan ikhlas menerima apapun hasilnya.

  11. Ass Wr.Wb, minta sarannya: Saya Seorang Suami yg tinggal di Bali dan Istri saya di Lumajang, menikah sudah 5 tahun dan dikaruniai anak umur 9 bulan, Istri saya sudah Bekerja sebegai PNS, Karena Istri saya diindikasikan Selingkuh dengan temannya di Kantor PNS KWT Lumajang, Saya sudah hampir 6 bulan tidak pernah menafkahi Bathin, karena Istri pun demikian tidak menafkahi bathin ke Saya, akan tetapi saya tetap memberikan Nafkah Lahir yg saya transfer tiap2 bulan u/ anak saya, tapi Istri Saya selalu bilang kurang, dan katanya tidak tahan dengan saya, Istri saya ingin sekali menggugat Cerai saya, bagaimana solusinya….??

    • Wa`alaykumussalam,
      Ya solusinya itu dengan mediasi, yaitu musyawarah damai. Mediasi terbagi dua, litigasi dan non litigasi. Yang dimaksud non litigasi adalah mediasi yg dilakukan di luar proses hukum, jadi sebelum gugat cerai dilakukan, masing2 pihak keluarga mengirim utusan (hakam) untuk menyelesaikan masalah secara damai. Kemudian yg litigasi, yaitu proses mediasi yg difasilitasi oleh Pengadilan Agama (PA), ini terjadi jika gugatan cerai telah masuk ke PA, sebelum dilakukan sidang, PA akan memanggil pihak2 berperkara ke ruang khusus mediasi.
      Demikian semoga membantu….

  12. assalamualaikum wr wb ustadz, saya seorang mahasiswi yang sudah menikah 6 bulan lalu secara sah, suami saya seorang guru honorer di jawa tengah yang mempunyai usaha trading (belakangan saya baru tau bahwa itu haram). Setelah berlangsung beberapa waktu ternyata orang tua saya merasa tidak rela saya mempunyai imam yang tidak menghormati orang tua saya sesuai dengan adat sopan santun jogja, tidak perhatian pada adik kandung saya yang tuna grahita, dan kemampuan agama serta keinginan belajar tidak seimbang dengan saya. Saya yang bercita-cita menjadi hafidzah sementara suami saya hafalan surat untuk mengimami dan bacaannya tidak lebih baik. surat hafalannya jauh lebih sedikit dibawah saya. BOLEHKAH SAYA MEMINTA KHULU’ dengan alasan: suami berniat memasuki pns dg cara tidak halal (saya tidak mau dinafkahi dari nyogok/trading), dan kurang perhatian rasa hormat dan sayang pada orang tua dan adik saya? SAYA TAKUT BERBUAT KUFUR PADANYA, karena kesulitan berbakti pada kedua pihak (orang tua dan suami) yang tidak sejalan pikirannya. Jazaakallah khairan katsiran, mohon di jawab..

  13. assalamualaikum pak ustadz. saya seorang karyawan swasta dan isteri saya juga karyawan swasta, saya punya anak umur 2 tahun seiring waktu isteri saya ingin menitipkan anak ke tempat orang tua nya, dan saya tidak menyetujui nya, setiap hari isteri saya selalu mengatakan ingin menitip anak yang keinginan nya itu di restui orang tua nya, memang sifat isteri saya itu setiap keinginan selalu saya kabulkan karena jika tidak dia akan membuat rumah seperti neraka, sampai akhirnya dia memesan tiket untuk mengantar anak saya kerumah ortu nya, dan timbul ucapan saya “jika kamu masih tetap antar anak maka kita cerai” dan kalimat itu juga saya beritahukan orang tuanya dengan harapan orang tua nya dapat mencegah keinginan nya. tetapi kenyataan nya anak tetap di titip, dan dalam hati saya, dia sudah saya ceraikan dan saya pergi dari rumah. apakah saya ini salah dan apa seharus nya yang saya lakukan, karena saya sangat menyayangi anak saya, saya tidak ingin anak saya di didik mertua yang perokok tidak sholat, saya sedih memikirkan nasib anak saya, dan satu lagi isteri saya juga tidak pernah sholat, saya selalu ribut jika menyuruh dia sholat. mohon sedikit pencerahan nya

    • Wa`alaykumussalam, Pak Edi yang terhormat, memang benar, apa yang telah anda lakukan itu termasuk Taklik Talak, dan jatuh talak dengan terjadinya perbuatan yang dijadikan taklik tersebut, yaitu “mengantarkan anak utk dititipkan”. Hal tersebut merupakan hak anda sebagai suami, sehingga tidak masuk kategori dosa, namun demi kepastian hukum, maka segala sesuatunya harus diproses terlebih dahulu di Pengadilan Agama.
      Kemudian mengenai hak asuh anak, meski secara hukum baik agama maupun hukum positif, hak asuh anak belum mumayyiz (usia 12 tahun ke bawah) ada pada ibunya dan keluarga ibunya, namun jika anda dapat membuktikan hal-hal yang dapat merugikan terhadap anak bila diasuh oleh mereka, anda bisa mendapatkan hak asuh tersebut setelah melalui proses penetapan dari Pengadilan Agama.
      Semoga bisa membantu.

  14. asm,
    maaf pak ust saya ingin bertanya,jika seorang suami dalam keadaan emosi kepada istri kemudian dia mengatakan “ya sudah lah udahan saja rumah tangga ini” apakah sdh termasuk talak,
    di lain waktu istrinya mengatakan “saya mau pulang” kemuadian si suami mengatakan “silahkan pulang selamanya juga ” apakah itu juga termasuk talak.trmksh

    • Wa`alaykumussalam,
      Kata-kata yang demikian itu termasuk bentuk kinayah, ia belum memiliki efek hukum, terkecuali jika pada waktu mengucapkannya disertai dengan niat menalak. Jadi, jika saat pengucapan disertai niat menalak/menceraikan, maka dari kata-kata tersebut dapat dinilai sebagai penjatuhan talak.

  15. Assalamu’alaikum wr-wb
    semoga kita selalu dalam lindungan Allah SWT .. aamiin
    Pak Ustad, saya mau bertanya ..
    saya menikah dgn seorang perempuan yg sangat saya cintai ..
    dari segi ekonomi, saya seorg lelaki yg bisa dikatakan kurang mampu ..
    sedangkan istri saya org yang mampu ..
    sedikit ada yg janggal dr mahar pernikahan kami .
    untuk mahar berupa mas kawin 20gr dan seperangkat alat sholat, serta seserahan yg saya bawa, itu disediakan oleh istri saya, tanpa sepengetahuan orang kita masing2 ..
    apakah pernikahan kita sah ?
    saya sangat bimbang dan merasa takut sekali ..
    mohon penjelasannya dari semua .. ditunggu ..
    terimakasih ..
    semoga kita selalu dalam Lindungan Allah SWT .. aamiin 🙂
    wassalamu’alaikum wr-wb .

    • Wa`alaykumussalam,
      Sah, tidak jadi masalah! Asal prosedurnya calon istri anda memberi brg2 tsb kepada anda, jadi barang itu benar-benar menjadi milik anda, yang kemudian anda jadikan mahar.
      Intinya jangan hanya sekedar sandiwara. Kalau sekedar sandiwara, maka perkawinan dinilai sah, namun anda tetap diharuskan bayar mahar.

  16. Assalamuallaikum Wrb…
    Semoga kita selalu diberikan keberkahan oleh Allah SWT. Amin
    Pak Ustadz Yang Terhormat.
    Saya Mau Bertanya, SY seorang duda anak 1 menikah dengan seorang wanita status janda anak 1. kami menikah dan dikaruniai anak 1. kami bertengkar hebat dan istri pergi dari rumah ke rumah orangtuanya. di rumah orangtuanya istri sy bertengkar dengan orangtuanya lalu pergi ke luar kota tanpa kabar berita dan membawa anak saya tanpa sepengatahuan dan seijin saya. stelah saya mencari2nya selama 1 bulan, sy mengetahui istri sy bekerja di tempat karaoke keluarga. disana istri saya minum alkohol dan berciuman bibir dengan pria lain, sy tidak ridho dunia akhirat ustadz. slama 9 bulan sy kasih nafkah ke istri sy baik lahir maupun batin namun hampir 3 bulan sy tidak bisa kasih nafkah krn sy kondisinya tidak bekerja dan tidak punya penghasilan. apakah istri sy berhak tidak ridho dengan saya, meskipun sy tidak bekerja kondisinya. dan apakah sy boleh tidak meridhoi istri saya krn pergi tanpa pamit dan tidak ijin ke saya dan melakukan perbuatan seperti itu krn tuntutan pekerjaan istri sy. ditambah istri sy mengaku janda ke sahabat2nya agar dikasihani oleh teman2nya dan pria yg menyukainya? hukumnya apa ustadz dan bgmn solusinya? serta apa yg harus sy lakukan? krn keluarga dr istri sy sudah angkat tangan mengenai rumah tangga saya dgn istri saya.
    terima kasih ustadz

    • Wa`alaykumussalam,
      Amiin..wa nahnu minassa`idiin..!!
      1. Ya, isteri berhak untuk menuntut nafkah dari suaminya, seperti apa pun kondisi suami. Namun alangkah lebih baikjika isteri mau memahami kondisi suami.
      2. Anda sebagai suami wajib melarang dan menasihati isteri, jika tidak maka bisa termasuk kelompok dayyus, yaitu suami yang membiarkan isterinya berada dlm kemaksiatan.
      3. Pengakuan janda dari isteri, tidak menimbulkan konsekuensi apa-apa terhadap keabsahan perkawinan, ia masih tetap menjadi isteri anda.
      4. Solusinya, musyawarahkan kembali secara baik-baik dengan isteri anda, perlihatkan kesungguhan anda untuk membina rumah tangga yang baik, termasuk usaha dalam memenuhi kewajiban sebagai suami. Tingkatkan ibadah anda, perbanyaklah berdoa, karena segala sesuatu itu milik Allah, ketika Allah menghendaki, maka segalanya akan menjadi mudah.
      Semoga membantu,

  17. assalamu’alaikum pak ustad
    saya seorang suami sdh menikah selama 8 thn dan dikarunia seorang anak,awal pernikahan kami berjalan harmonis nmuan stlh mmempunyai anak mulai ada percekcokan,di+skarang sdh punya usaha warung klontong persoalan rmh tangga +memanas.kalo mslh ekonomi alhamdulilah cukup karena saya kerja dipabrik,istri jaga warung dirmh skalian ngurus anak,yg jd persoalan istri saya akhir2 ini selalu emosional dan meremehkan saya sebagai suami,contohnya semua pekerjaan dapur dari mulai nyuci,nyapu ,ngepel,sampe urusan masak nyuruh saya.dlm keadaan cape terpaksa saya kerjakan dari pd bertengkar,tp semua pekerjaan yg saya lakukan itu sia2 karena selalu diomeli kurang bersih lah dll.di+ urusan biologis istri saya selalu menolak sampe2 3 malam sy minta ttp istri menolak berhubungan.dan meskipun mau melayani sy kadang kaki istri sy selalu menendang sy karena tdk mau melayani sy. tp istri saya merasa terpaksa dan istri sy cuma melayani sy tidk sewajarnya berhubungan badan (tdk mau dirangsang,dan pasif seolah olah tdk punya gairah sex).persolan tsb sdh berjalan selama 3thn.dlm hati kecil sy sebenarnya sy gak kuat meneruskan rmh tangga ini,tp karena sy melihat anak sy,sy gak tega meninggalkannya dan sama sekali tdk ada keinginan untuk cerai,tp istri selalu bilang kalo sdh tdk ada kecocokan mendingan pisah aja,tp sy tdk menanggapinya takut terpancing emosi keluar kata cerai.sdh sy bicarakn dgn istri secara baik2 tp istri sy ttp aja menanggapinya dgn emosi sehingga tdk pernah ketemu solusinya.akhirnya saya minta bantuan orang tua istri(mertua) saya untuk menasehatinya tp mertua hanya bilang oh ini ada yang gak beres dlm diri istri sy(diraksuki setan/ada yg guna2 karena ga suka sama keluarga saya bahagia).
    mohon maaf kalo pesannya terlalu panjang,saya mohon solusi yang baik untuk saya dan keluarga saya pak ustad.
    terima kasih sebelumnya atas balasan dari pak ustad
    wassalamu’alaikum

    • Wa`alaykumussalam,
      Persoalannya lumayan kompleks, kalau anda ada di wilayah Kab. Bandung, sebaiknya konsultasi langsung saja ke kantor sekretariat di Soreang.

  18. assalamualaikum WR WB
    Pak ustad yang terhormat
    maaf sebelumnya klo cerita saya agak panjang….
    saya mempunyai permaslahan dlm rumah tangga yang bgitu rumit…
    saya sudah menikah selama 5tahun dan mmpunyai 1 anak perempuan….istri sy setiap sy ngjakin hub sex slalu dingin dan tdak ad gairahnya seprti boneka saja,,,itu terhitung sejak 6 blan sy menikah s/d sekarang….
    didalam perjalanan itu sy tetap berusaha dan berupaya untuk mengingatkan dia supaya jgan bersikap dingin kepada sy,,,yg tadinya melayani 1 hari 1x,,berubah menjadi 2 hari 1 kali,1 minggu 1 x,,sampai pernah 1 bulan 1 x,,,,,disitu sy tdak bisa mmbendung hasyrat sy,,,akhirny sy terpaksa masturbasi sendiri..lama2 sy merasa bosan jg,,,kejadian puncaknya permasalhan sy pas sy menyentuh dadanya untuk mengajak hub biologis,,,istri saya malah marah sambil melotot tangan saya langsung dipukulnya sambil berkata “TANGAN LU GREPEAN BaNGETT “…..mulai disitulah hati saya sakitt,,,sy hendak menceraikan tp sy masih melihat anak sy yg masih kecil…
    akhirnya sy berselingkuh dengan teman sekerja sy,,,dia seorang gadis,,,bukan janda dan bukan istri orang,,,pada akhirnya sy jujur sm istri sy dan kluarga sy sndiri klo sy selingkuh,,,sy berfikir mungkin dengan cara seperti itu istri sy bisa berubah,,,ternyata tetap aj istri sy memang dingin,,,istri sy marah besar saat itu,,,terus dia tanya sm sy sudah berrbuat ap,,say jujur sm istri saya klo sy sudah berhub jauh…akhirnya istri sy berkata dari pada sy berbuat dosa terus lebih baik sy diuruh nikah sirih atau resmi,,,,
    waktu trus bejlan..pada akhirnya pihak kluarga selingkuhan sy meminta untuk menikahin anaknya,,karena ortunya tau klo anaknya sudah sy nodai,,,sy bilang klo saya sudah berstatus menikah…
    akhirnya sy minta ijin kembali sm istri sy,,,klo sy mau menikahin,,,tp ternyata ucapan dia itu berubah lagii,,,dia berkata sy gak diberi ijin tuk menikah lagi,,,klo sy mau menikah lagi sy harus menceraikannya dahulu,,,disitu sy bimbang bingung campur aduk…. klo sy ceraikan kasihan anak sy bagaimana nantinya efek dari perceraian…klo sy tinggalin selingkuhan yg telah sy renggut keperawanannya bagaimana masa depan dia,,,dan sy melihat ke anak perempuan sy ,,bagaimana rasanya klo anak sy digituin terus ditinggalin….
    akhirnya diam2 saya menikahin selingkuhan sy dengan identitas bukan nama saya yang sebenarnya… saya nikah resmi dengan rukun dan syarat nikah smua terpenuhi …selingkuhan sy tahu dan kenalnya itu dikerjaan dengan nama Abdul Hamid…sdangkan nama sebenarnya saya Hamid …dan istri sy pun sudah tahu lama klo sy memang mmpunyai 2 KTP dengan nama beda dan status berbeda….
    akhirnya sy berterus terang sm istri saya klo sy sudah menikah lagi..
    yang saya pertanyakan adalah :
    1.sah atau tidak pernikahan sy yg ke 2 menurut syariat agama ?..karna
    2.sah atau tidak pernikahan sy yg ke 2 menurut hukum negara ?
    kata istri pertama sy gak sah menurut agama dan negara..bagaimana solusinya jika memang pernikahan sy yg ke 2 ini tidak sah dan menjadi sah….
    kondisi saat ini sy bingung dan campur aduk,,,yg saya inginkan saat ini adlah mendapat seseorang yang bijaksana adil dan arif yg dpet membantu permasalahn saya…semua ini sy lakukan dengan meminta kepada allah,,,dengan cara allah,,,klo dapat hanya untuk allah…
    terimakasih pak ustad

    • Wa`alaykumussalam,
      1. Sah secara agama, namun bermasalah secara administratif karena ada double identitas.
      2. Seharusnya ditertibkan dengan satu identitas. Anda bisa dituntut pidana karena memiliki dua identitas berbeda.

  19. Asswrwb
    saya sudah bercerai dengan suami krn suami dulu pergi dr rumah&tdk memberi nafkah selama 8bln&4bln tidak memberi nafkah utk anak kami dengan alasan krn orgtua saya sudah menzolimi dia dengan tidak adil memberi materi dg dirinya dan menantu yg lain.
    skrg saya dlm masa iddah dan suami mengajak rujuk krn dia tdk sanggup jauh dr anak kami yg berumur 2 th.namun orgtua terutama ibu saya&kk2 saya tidak setuju karna mantan suami dianggap tidak punya akhlak krn dulu menteng menghina orgtua saya(ayah saya di sms dg sebutan ‘setan’.ibu saya ‘tonggos’)
    skrg dia beralasan semua itu krn dia sedang stress dg masalah yg dulu dia hadapi namun tetap masih merasa bahwa ayah saya tidak adil memberi bantua kepada semua menantunya(intinya dia irian)
    mantan suami tipe berwatak keras,tidak suka dinasehati meskipun olrh ibu kandungnya sendiri.krn semua keluarganya sudah menasehati bahwa apa yg dia pikir ttg ortua saya hanya kesalahpahaman&hanya perasaan dia.
    saya sekarang sangat tersiksa jauh dr anak krn anak sudah beberapa hari dengan mantan suami.dia ingin dlm seminggu beberapa hari anak dia bawa.
    saya ingin rujuk karna kasihan anak kami dioper sana sini
    namun saya takut tidak ada rido ibu karna ibu saya masih sakit hati dg semua hinaannya dulu
    apa yg harus aya lakukan?
    Mohon nasehatnya.trimakasih
    wass

    • Wa`alaykumussalam,
      Kalau memeang sudah jelas prilakunya seperti itu, lebih baik dipertimbangkan matang2 untuk kembali lagi.
      Sebenarnya nurani anda sendiri sudah bisa memberikan pilihan, namun terkadang keragu-raguan bisa menyebabkan anda terombang-ambing dalam menentukan sikap.
      Untuk mendapatkan keyakinan, silahkan anda shalat istikharah, mohon bantuan kepada Allah Swt. supaya dibimbing ke arah jalan yang ashlah dan aslam.

  20. SAYA (iqsya, samara) seorang gadis perempuan bersuamikan duda beranak (Karto, samaran). Kami sama-sama sudah punya rumah: masalah yang saya alami: 1) sejak akad nikah suami saya tidak mau bermalam di rumah SAYA dan tidak mau bersosialisasi dengan keluarga SAYA dengan alasan capek atau males padahal suami saya selama ini sempat berkunjung di berbagai tempat bahkan bermalam di berbagai tempat (info dari temen dan tetangga saya), 2) sudah hampir 3 bulan (80 hari) berturut-turut suami saya tidak memberi nafkah (uang belanja) tetapi pernah berhubungan badan (maaf malam pertama) dengan saya itu pun suami saya datang ke rumah saya jam 21.00 sehabis menggauli saya jam 23.00 dia langsung pulang (tidak bermalam di rumah saya), 3) suami saya mengendaki saya pindah tempat mengikuti dia tetapi segala urusan administrasi pindah tempat suami saya tidak mau mengurus dengan alas an sibuk padahal menurut pimpinan dia bekerja tidak sesibuk yang katakana oleh suami saya, 4) suami saya menghendaki saya datang ke rumahnya dengan datang sendiri tanpa dijemput atau suami mau menjemput saya tetapi tidak dirumah saya melainkan di tempat kerja saya langsung di ajak ke rumahnya. berdasarkan uraian kasus di atas pertanyaan saya:
    1) apakah pernikahan ini masih perlu dipertahankan sementara pihak keluarga saya sudah mengajak islah (musyawarah) menyelesaikan masalah tetapi pihak suami tetap tidak mau merubah sikapnya? 2) bagaimana sikap suami yang demikian?, 3) apakah saya sudah syah mengajukan gugatan cerai demi hukum dengan alasan suami melanggar sighot ta’lik (3 bulan tidak memberi nafkah)

    • Sebenarnya, setelah akad perkawinan dilangsungkan, maka istri berkewajiban untuk mengikuti kehendak suami (selama sesuai aturan hukum), termasuk pindah rumah. Jika tidak mau maka istri tersebut dinilai nusyuz karena menolak pergi bersama suaminya. Adapun teknis jemput-menjemput itu bukanlah persoalan.
      Untuk pertanyaan pertama, semuanya kembali kepada anda, kalau mnrt saya, selama suami beritikad baik, seyogianya ikuti kehendak dia. Kalau setelah pindah rumah, suami tetap tidak memenuhi kewajibannya, barulah anda pertimbangkan kembali utk gugat cerai.
      Mengenai sikap suami sprti itu, saya tidak memahaminya secara komprehensif, selama tdk mendengar sendiri alasan dari suami tersebut. Bisa saja ia memiliki alasan yang logis, atau karena memang wataknya yg sulit bersosialisasi.

      • trima ksih atas penjelasann…mengenai pertanyaan sy yang kedua…sikap suami yang sudah berkali-kali sy undang datang ke rumah sy selalu beralasan sibuk padahal realitanya tidak sibuk (suami tidak menghormati mertua yang disejajarkan dengan orang tuanya) bagaimana, terus bila 3 bln atau lebih tidak mau menyelesaikan masalah dan tidak memberi nafkah ini bagaimana berarti sudah melanggar sighot ta’liq, apakah = jatuh talak

        • Saya tidak begitu memahami kondisi sebenarnya, sehingga sulit utk memberikan penjelasan lanjut, karena setidaknya saya pun perlu mendengar alasan dari suami anda tersebut.
          Adapun masalah nafkah, jika suami tidak membayarnya dalam situasi istri tdk mau diajak tinggal di rumah suami, maka tidak menjadi masalah, karena dalam kondisi seperti itu, hak nafkah istri dari suaminya menjadi gugur.

  21. ass. adakah contact person atau email agar saya bisa berkonsultasi lebih pribadi? karena saya ingin menanyakan beberapa hal yg sangat pribadi tentang kehidupan rumah tangga saya. wass

    • Wa`alaykumussalam,
      Itu bagian dari kalimat kinayah, kalau pada saat pengucapan kalimat tsb diniati talak, maka jatuh talak.

  22. kang admin sy usul selain membahas tentang perkawinan dan perceraian, gimana kalau forum ini di tambah tentang waris, karena fenomena yang terjadi, kalau bicara/ bertanya tentang waris kepada ustadz/ah di daerah, banyak yang tidak bisa menjawab ataupun kalau menjawab, jawabnnya sedikit ngawur…

  23. Bila itu talak dan ingin rujuk kembali, apakah bisa cukup dengan komitmen antara suami istri aja atau harus bagaimana?
    Terima kasih

    • Dalam aturan agama, rujuk itu sepenuhnya hak suami, jadi rujuk sah kalau suami menginginkannya tanpa perlu persetujuan siapa pun. Namun dalam hokum positif, rujuk memerlukan persetujuan istri.
      Jika talak telah melalui proses peradilan agama dan telah memiliki akta cerai, maka untuk rujuk supaya bias kembali memiliki akta nikah, harus mengajukan melalui KUA, nanti dari KUA membawa akta rujuk yang kemudian dibawa ke Pengadilan Agama untuk mengambil kembali akta nikah.

  24. assalamualaikum wr wb…maaf p’ustad agak panjang kronologisnya
    Pada tanggal 14 Februari 2013 saya baru pulang dari Papua untuk masa cuti 3 minggu ,pada tanggal tersebut terjadi percekcokan dan perselisihan pendapat dengan istri sampai pagi namun tidak ada unsur KDRT
    Pagi harinya 15 Februari 2013 percekcokan berakhir dan datanglah orangtua istri Bapak mertua untuk mengetahui dan melerai percekcokan kami dan diberi nasehat dan masukan sehingga ada keputusan untuk beberapa hari istri tinggal di orang tua
    Karena kehilafan dan kesalahan saya akhirnya pada tanggal 17 Februari 2013 istri saya jemput untuk kembali pulang tapi istri selalu menolak terus saya lakukan beberapa hari kedepan agar istri mau kembali ke saya
    Pada tanggal 17 Februari 2013 pagi hari istri kembali tapi dengan berat hati maka saya buatlah surat pernyataan cerai dengan kesepakatan bersama bila saya tinggalkan istri selama 3 bulan tanpa nafkah silahkan diajukan ke pengadilan dan istri menyanggupi
    Sore hari pada tanggal 23 Februari 2013 istri kembali lagi dan campur serta tinggal kembali bersama saya dan seperti biasanya layaknya suamiistri dengan permintaan maaf saya atas kehilafan dan kesalahan saya selama ini serta berdamai dan berjanji tidak mengulangi lagi istri menyanggupinya dan berkata ” Ya “begitu juga pihak keluarga istri dan ini sudah disaksikan pihak keluarga
    Berjalan kehidupan kami berdua sampai sekarang
    Pada tanggal 6 maret 2013 saya berangkat lagi ke papua tapi saya batalkan dan berangkat ke Semarang untuk bekerja di sana tapi selama saya di semarang saya kondisi badan sakit-sakitan terus dan sempat masuk rumah sakit
    Pada minggu ke tiga bulan maret 2013 istri melalui sms melakukan gugatan cerai dalam kondisi saya sakit dan berada diruang ICU tapi saya tidak tanggapi hanya teman saya yang menanggapi agar istri tidak melakukan hal tersebut sampai kondisi saya sehat dan sudah kembali dan teman menyarankan agar istri menjenguk saya di Rumah sakit semarang tapi istritidak menanggapi
    Akhirnya saya sembuh tanpa adanya kunjungan istri saya putuskan kembali ke Jakarta dan berangkat ke papua dengan alasan kondisi pekerjaan tidak cocok dengan kondisi badan jadi saya kembali ke pekerjaan semula
    Saya berangkat langsung ke papua tanggal 25 Maret 2013 namun kembali lagi saya sakit dan dapat kabar dari istri melalui sms bahwa saya syah cerai berdasarkan agama dan kata orang tua bapak Unyuh juarsah dan dari pihak KUA
    Dalam kondisi ini saya pastikan kebenarannya dan saya hubungi adik istri untuk bisa bicara lewat telpon ke Bapa mertua saya
    Dan apa jawaban bapak mertua”Ya syah dan selesai …”dan bapak mertua menanyakan kapan saya pulang
    Betapa syok juga perasaan dan kecewanya saya kepada bapak mertua padahal sebelum berangkat ke semarang saya sudah sampaikan masalah tersebut dan jawaban bapak mertua sebelumnya tidak perlu di tanggapi nyatanya sekarang terbalik apa yang saya perkirakan
    Dalam kondisi dirawat diklinik tempat kerja di papua saya dapat kabar bapak kandung saya sakit maka saya putuska pulang tanggal 4 April 2013 ke Jakarta dan sebelumnya mampir ke tempat orangtua dimana istri tinggal sekarangnamun saya tidak bisa menemui istri dan rujuk lewat orangtua ( bapak mertua ) tapi tanggapanya tidak diterima akal sehat
    Sambil saya mengurusi orang tua tanggal 7 april melayangkan surat pernyatan rujuk tapi tidak menemui istri hanya ibu mertua
    Dan sampai sekarang saya belum temui istri hanya komunikasi lewat sms dan istri tetap kekeh bawa saya bukan suami saya dan saya akui itu dan sampai sekarang istri belum mengurusnya di pengadilan agama sesuai pernyataan istri saya hanya disuruh menunggu panggilan saja
    Karena penasaran atas tidakan istri saya cari ketrangan ke pengadilan agama cimahi yang menjadi daerah yuridis area padalarang namun nihil tidak ada nama gugatan Tina Marlina Binti Unyuh Juarsah
    Bagaimana menanggapi kasus saya?dan dimana masa iddah?dan apakah saya masih suami yang syah dan saya masih memberi nafkah istri?Apakah rujuk saya syah lewat orangtua dan surat pernyataan rujuk?

    • Wa`alaykumussalam wa rahmatullahi wa barakatuh,
      Pa Jaenal yg kami hormati, Talak itu baru jatuh/ jika diucapkan oleh suami. Selama suami tidak mengucapkan talak, atau menulis dan mengirimkan pernyataan talak, maka tidak ada yg namanya talak. Kalau tdk ada talak, berarti masih sah sebagai suami istri.

  25. Assalammualaikum …p’ustad maaf ada tambahan lagi
    P,ustad sy dapat kabar untuk undangan sidang diPA cimahi,alasan sy tidak datang tepat waktu karena sy berada dipedalaman Kalimantan dan dari perusahaan menolak karena bisa dijadwalkan lagi dan bisapun dengan ongkos sendiri tapi memakan waktu hingga 2 minggu serta sulit akses kebandara maupun pelabuhan
    Apakah ketidakhadiran sy PA cimahi bisa memutuskan sy syah cerai dngan bukti surat pernyataan sy yang diajukan istri tanpa harus kehadiran saya dan penjelasan sy atau siding ditunda hingga sy bisa hadir?karena bnyak kasus dibandung istri belum syah cerai secara agama dan hukum akta cerai sudah bisa diputuskan/diterbitkan sy khawatir istri main instan dan hanya terima beres yg sangat dilarang agama dan hukum.Dan sy ingin tahu alasan istri yng kuat kenapa sdh tidak nyaman dan hati tidak dipakasakan selama ini sy tidak zina,selingkuh,judi,minuman dll yang merusak iman saya
    Memang sy yng persilahkan istri mengurus sampai sekarang sy hanya beri nafkah materi dan karena pihak keluarga sy tidak muhrim untuk campur
    P’Ustad sy masih syng istri dan niat sy rujuk kalau sudah sh cerai tp istri keberatan dan tidak mau lg dengan alasn kelakuan sy dan sy masih sabar dan berusaha menbujuk istri ,saya tidak mau pisah dan tidak mau dibenci Alloh karena ikuti nafsu,dan saya ingin ajak istri dan keluaraga dunia/akhirat dan tidak meninggalkan didunia dengan godaan istri saat ini dan sy terus beriktiar agar istri sadar
    Mohon p’ustad solusi nya atau bisa dibalas lewat e-mail atau telpon yang bisa dihubungi

    • Jika istri sudah mengajukan gugat cerai, dan PA telah melayangkan surat panggilan/relaas, maka jika tidak hadir, sidang akan diputus verstek yg intinya menerima gugatan istri dan PA menjatuhkan talak satu. Namun suami sebagai tergugat, bisa mengajukan pengunduran sidang dengan disertai alasan yang tepat, seperti sakit. Dengan itu, maka sidang bisa ditunda.
      Coba lagi komunikasikan antar keluarga, dan jangan lupa berdoa kepada Allah minta diberikan jalan yg terbaik. Namun ketika apada akhirnya tetap mesti cerai, hadapi dan terima dengan ikhlas, yakinlah Allah akan mengganti dengan yang jauh lebih baik!

  26. assalammualaikum wr wb…p’ustad mohon penjelasannya dalam islam silsilah orang yang bisa dinikahi?
    Ini terjadi pada saudara saya,jadi anggaplah begini p’ustad saya punya istri pertama dan telah bercerai lalu istri pertama menikah dan punya anak laki-laki dari suaminya lalu saya menikah dengan istri yang ke-2 lalu punya anak perempuan,bolehkah anak laki-laki istri pertama hasil dari suminya menikah dengan anak perempuan saya?
    Maaf ini tidak terjadi pada keluarga saya hanya mohon penjelasan untuk saudara saya yang akan menikah….
    wasalam

  27. assalammualaikum, saya mohon untuk di bantu penjelasan dari surat al baqarah ayat 232.
    karena permasalahan saya berkaitan dengan ini, lantaran orang tua laki2 dari istri saya melarang untuk rujuk.
    pertanyaan nya, apakah salah jika kami cukup dengan dasar persetujuan dari kami berdua kemudian rujuk tanpa perlu minta persetujuan si wali yang justru malah menghambat?
    karena pada surat tersebut justru yang salah adalah wali yang menghambat rujuk nya pasangan suami istri dan di sebut pula bahwa “apabila mereka (lelaki dan perempuan itu) bersetuju sesama sendiri dengan cara yang baik (yang dibenarkan oleh Syarak)”
    mohon diberi jawaban yang bijak juga dengan saran untuk pemecahan masalahnya.
    terimakasih banyak, wasalam

    • Wa’alaykumussalam.
      Selama masih dalam masa ‘iddah (belum lewat masa 90 hari setelah cerai-versi KHI), maka utk rujuk tidak diperlukan persetujuan wali. Karena dlm kondisi tsb sejatinya perempuan tsb masih dalam “ikatan” suaminya.
      Sedangkan dlm QS.2:232 itu berbicara dlm kasus setelah habis iddah, oleh karenanya ditegaskan bahwa wali tdk boleh melarang perkawinan anak perempuannya yg telah janda, baik dgn mantannya atau dgn laki-laki lain, sepanjang perempuan tsb telah setuju dgn calonnya. Ini masuk konsep bahwa janda lebih berhak atas dirinya sesuai dgn hadis الثيب احق بنفسها. Beda jika ia masih perawan yg memerlukan persetujuan walinya.
      Demikian utk sementara, semoga bisa membantu.

  28. terimakasih atas respon nya, saya faham penjelasan nya, beberapa pertanyaan lagi apabila setelah masa iddah namun wali melarang dan tidak mau mewalikan anak perempuannya bgmna? apakah bisa dengan wali hakim? saya pernah membaca dalam hadist bahwa apabila terjadi sengketa dengan wali nya, maka wali nya adalah wali hakim.
    terakhir, jadi apabila calon nya sudah setuju berarti tidak salah kan apabila melangkahi wali (jika ia tidak mengizinkan) nya atau menikah dengan wali hakim?

    • Jika wali menolak menikahkan, maka terlebih dahulu ajukan ke PA perihal penolakan walintsb, nanti setelahnPA mengeluarkan putusan wali ‘adhal, maka perwalian dialihkan ke wali hakim (dari KUA).
      Ya tidak salah selama prosedur di atas telah ditempuh.

  29. Assalammualaikum wr wb
    Pak ustad saya punya dilema sudah 2 tahun menikah dan belum dikaruniai anak karena istri saya hanya melayani saya 1 bulan sekali saya sangat sabar tapi saya menderita bathin…entah apa yang ada dipikiran istri kenapa mau menikah dengan saya karena dia mengatakan pernikahan hanya status betapa saya syok mendengarnya?apakah istri saya tidak bisa menjalankan amanahnya sebagai istri?saya sudah lakukan pendekatan ke istri dan dia selalu mengatakan carilah yang lebih baik…apakah istri saya sudah berdosa?apakah tindakan saya?apakah saya harus memutuskan pernikahan saya karena istri yang hanya main-main menikah?
    terimakasih pak ustad mohon saran…

    • Wa’alaykumussalam,
      Tingkah istri seperti itu (menolak berhubungan intim tanpa ada alasan yg jelas semisal sakit) bukan saja berdosa, namun juga telah menyebabkan ia dilaknat oleh para malaikat dan penghuni bumi. Jika memang sudah tidak bisa diperbaiki, maka solusi terbaik adalah diceraikan saja.

  30. Assalammualaikum…p’ustad
    dengan sengaja saya sudah dikatakan cerai baik kata mertua maupun KUA dan saya berusaha rujuk ke istri tapi ditolak istri dan mertua dengan alasan innalilahi wa innalilahi rojiun..
    Saya pernah temui mertua dan katakan bahwa nabi punya anak perempuan diceraikan oleh menantu,nabi marah dan langsung menemui sang menantu untuk segera merujuk anaknya kembali…
    apakah peranan orangtua dalam rumahtangga saya dan apakah rujuk harus berhubungan intim dan apakah rujuk istri menolak tidak sah rujuknya?terimakasih p’ustadz…

    • Wa’alaykumussalam,
      Banyak yg tdk bisa saya pahami dari pertanyaan saudara, tapi yg jelas rujuk itu adalah hak suami, tidak ada yg bisa menghalanginya meskipun itu istri yg bersangkutan, apalagi mertua. Dan ketika suami menyatakan rujuk, maka otomatis secara agama sdh berarti dalam ikatan suami-istri kembali. Semua itu jika rujuk dilakukan atas talak 1 atau tlak 2, yg belum lebih dari 90 hari setelah penjatuhan talak.

  31. Assalamualaikum wr wb,p’usdatz saya mau tanya dulu memang tidak
    ada hujan dan tidak ada angin ternyata saya dinyatakan oleh PA
    sudah cerai talak 1 karena istri yang mengurus perceraian dan
    terbitlah akte cerai bahkan sudah terdaftar dan sah cerai…
    tiba -tiba istri menyadari kesalahannya dan mau rujuk kembali,apakah saya dan istri harus nikah ulang lagi p’ustadz untuk kembali bersatu?
    mohon penjelasannya p’ustadz
    terimakasih

    • Wa’alaykumussalam,
      Secara umum, putusan PA ttg perceraian yg diajukan oleh istri (gugat cerai) masuk kategori bain sughra, oleh karenanya jika ingin balik lagi mesti ada akad & mahar baru.
      Demikian semoga membantu.

  32. Asslamkm ustadz,saya menikah dengan duda beranak 3,dan semua anak2nya ikut dengan ibunya,dari pernikahan kami mempunyai anak laki laki umur setahun,sy sendiri sblmnya adalah single parents dari seorang anak perempuan umur 9 tahun,ini menyangkut masalah keuangan,skg ini kondisi keuangan kami sedang carut marut karena bangkrut,biaya hidup pun terasa sulit sekali,sedangkan suami harus menafkahi anak2nya yg tinggal bersama mantan istri,yang jd pertanyaan,suami sellalu berusaha untuk mengirim uang ke anak2nya,tetapi rumahtangga yang dijalani saat ini tidak dia pikirkan,sedangkan sya hanya seorang ibu rt,sya hnya ingin suami berlaku adil ,sprti lebaran,anak2nya minta uang tuk berlebaran sedangkan kami disini untuk makan aja sulit kasarnya bgt,tapi suami bela belain mengirim uang tanpa sepengetahuan saya,salahkah sy klu sy mnt suami berlaku adil?mohon pencerahannya,trimksh,wassalamu’alaikum wr wb

    • Wa’alaykumussalam,
      Kalau dikatakan salah, ya tidak! Coba saja dibicarakan lagi dengan suami, mudah2an bisa sama2 mengerti.

  33. Assalamualaikum pak..
    saya mau tanya suami sudah berulangkali kalau bertengkar mengatakan kita udahan aja atau udahan aja ya…trus saya tanya maksudnya apa dia jawab ga tau ah pusing atau terserahlah..setelah reda marahnya saya tanya maksud dia td apa dia bilang lagi emosi aja karena kesel..itu uda jatuh talak belum ya pak?soalnya saya sayang banget ma suami..makasih atas penjelasannya…

    • Wa’alaykumussalam,
      Berhubung kata udahan itu masih mutliinterpretable, maka masuk kategori bahasa kinayah/sindiran, sedangkan jika talak memakai bahasa kinayah, maka jatuh dan tidaknya itu tergantung niat pada saat pengucapan, jika niatnya cerai, maka jatuhlah talak.

  34. Assalamu’alaikum Wr.Wb
    saya ryan, 34 th mempunyai anak 2 dan telah menikah selama 9 th. saya mempunyai persoalan, 1 minggu lalu saya dikaget kan bahwa istri saya mempunyai hutang sebesar 400 juta, tanpa sepengetahuan saya. kehidupan saya sehari- hari sebagai pegawai sebuah perusahaan dan istri saya bekerja juga. setiap bulan gaji saya ditransfer langsung ke atm saya yang dipegang istri saya.
    awal mulanya cerita istri saya bahwa iya pinjam uang secara diam- diam sebanyak 26 juta dengan alasan bisnis dengan keuntungan 6 juta per dua minggu lalu uang itu sebenarnya untuk membayar hutang adik nya sebesar 10 juta kepada orang yang sama . dalam waktu 2 minggu dibayarlah keuntungan tersebut, dalam hitungan 4 minggu uang tersebut habis namun hutang pokok tidak habis dan terus berbunga. untuk menutupi hutang sebelumnya akhirnya ia pun pinjam uang lagi dengan orang yang sama sebesar 50 juta dengan keuntungan 10 juta per dua minggu untuk menutup hutang 26 juta ditambah 6 juta keuntungan nya dan pinjaman berikutnya berkali lipat, makin lama hutang nya tidak tertutupi lagi sampai pokok modalnya 400 juta dan keuntungan nya 600 juta. orang tersebut mengadu sama saya sebagai suaminya kalau tidak bertanggung jawab ia akan laporkan ke polisi.
    saya bicara untuk secara kekeluargaan pasti saya bertanggung jawab.
    setelah pulang dari rumah si pemodal, saya minta penjelasan bahwa sebenarnya uang kemana karena kondisi saya tidak punya rumah ( sewa rumah) tidak ada kendaraan mewah atau uang tabungan/deposito, kemana uang itu perginya ? istri saya menjawab “bahwa semua uang tersebut sudah dibayarkan berupa keuntung per 2 minggu. untuk solusi sementaranya bahwa saya akan cari pijaman 60 jt dari bank untuk mencicil hutang tersebut.
    pertanyaan saya.
    1. sebagai suami saya tidak mau istri saya di penjara , pasti saya akan terbawa di kantor polisi karena sebagai suami harus bertanggung jawab walau pun saya sama sekali tidak tahu karena uang itu via transfer. apa yang saya harus lakukan mengingat anak- anak saya masih sangat kecil apa ada solusi/ saran nya
    2.untuk masalah jaminan keluarga siapa yang harus menjamin karena kami merantau, apakah orang tua istri atau orang tua saya. kalau orang tua saya, yang saya takutkan adalah perceraian karena prinsipnya orang tua saya adalah siapa berbuat maka dialah yang bertanggung jawab,
    saya masih berpikiran bahwa saya masih mencintai istri dari anak anak saya. jika terjadi sudah bercerai lalu masuk penjara .(betapa kejam dan tidak punya hatinya saya, apa yang saya harus katakan sama anak anak saya kelak) mohon solusi nya secara islam
    3. Si pemodal sudah mempengaruh saya bahwa istri kamu bukan istri yang baik, dari pada kamu bertanggung jawab atas perbuatan dan kebohongan istrimu lebih baik kamu relakan saja di penjara. mohon solusi nya dari sudut pandang islam
    4.apakan salah saya melindungi kesalahan istri saya sebagai suami melihat kondisi istri yang sudah tertekan jiwanya dengan segala ancaman dari si pemodal serta berusaha mencari pinjaman, karena saya ikhlas dan yakin jika kita berusaha Allah SWT akan memberikan jalan keluar yang sangat indah bagi keluarga saya. mohon secara hukum islam
    Mohon doa dan Solusi nya dari sudut pandang islam agar saya bertambah yakin dan tepat apa yang saya harus perbuat sebagai suami, karena yang pasti sekarang hutang harus tetap dibayar.
    Wassalamu’alaikum
    24 agustus 2013

    • Wa’alaykumussalam,
      Bapak Ryan, saya sangat prihatin dengan kondisi keluarga anda, tapi selama kita ada dalam koridor agama, insya Allah pastimakan ada jalannya.
      Tampaknya ini sudah berkaitan dengan masalah hukum perdata, jadi saya tidak bisa membantu lebih dalam, cuman saran saya coba anda hubungi LBH setempat untuk memberikan pendampingan hukum atas kasus tersebut.
      Jika anda ada di Bandung, saya bisa sarankan utk mendatangi salah satu firma hukum yg bisa membantu anda. Jangan lupa lebih dekatkan keluarga anda kepada Tuhan.
      Demikian semoga bisa membantu.

  35. Assalamu”alaikum Wr. Wb
    Saya sudah menikah sejak tahun 2005 dan mempunyai 2 anak, saya sering bekerja diluar kota, pada awal tahun 2011 saya bekerja diluar kota dan setiap bulan saya kembali kerumah, pada waktu itu saya sering bertengkar dengan isteri saya, tapi saya tetep sayang dan cinta terhadap isteri saya, pada bulan oktober 2011 saya melakukan kesalahan dengan melakukan hubungan terhadap wanita lain, waktu itu saya dalam kondisi yg tidak stabil dan saya melakukan kesalahan yg teramat besar. Setelah sekian lama wanita tersebut hamil, saya sangat bingung waktu itu, setelah kedua orang tua wanita tersebut mengetahui mereka marah dan tidak terima, meskipun saya punya hubungan baik dengan keluarga mereka, kasus ini dilaporkan ke isteri saya dan isteri saya sangat shok, sampe akhirnya saya dan isteri saya mengakui kesalahan masing”,
    Isteri saya memberikan ijin kepada saya untuk menikahinya dengan cara siri, tp pihak orang tua dari wanita tersebut tidak rela, mereka menginginkan saya untuk bercerai,dan menikahi putrinya, atau saya dilaporkan ke pihak berwajib karena wanita tersebut masih dibawah umur, tp saya sangat sadar dengan kesalahan yg saya perbuat dan saya siap bertanggung jawab dengan menikahinya, pada saat itu saya bingun bagaimana caranya untuk membuat surat ijin poligami.
    Akhirnya saya dan orang tua wanita tersebut sepakat untuk memberikan uang jaminan sebesar 80jt.
    kitapun berdamai.
    anak itu pun lahir pada bulan juli 2012, sejak itu saya selalu memberikan bantuan berupa uang asuransi sebesar 400rb minimal tiap bulannya.
    Sekarang masalah ini mumcul lagi, saya bingung pak Ustad, karena saya diancam akan diperkarakan jika saya tidak menikahi anaknya karena sekarang usianya blm 18th.
    padahal selama ini saya cukup memperhatikan mereka, mereka menuntut status anak saya tersebut, dan saya harus menikahinya dengan cara poligami.
    yang jadi pertanyaan saya apakah diijinkan oleh Pengadilan Agama untuk saya berpoligami?
    Saat ini sya sudah mendapatkan persetujuan isteri saya untuk menikah lagi karena isteri saya tidak ingin saya masuk penjara.
    Tapi kondisi saya sedang jatuh pak Ustad, saya hanya bisa mencukupi kebutuhan keluarga saya, apakah dalam kondisi ini saya bisa mengajukan permohonan poligami, meskipun isteri saya sudah menyetujuinya demi kebaikan smua, dan walaupun harus berbagi, asalkan saya tidak dipenjara.
    Demikian Pak Ustad, mohon sarannya. agar saya terhindar dari masalah besar ini.
    Wassalamu”allaikum Wr. Wb
    Balas

    • Wa’alaykumussalam,
      Izin poligami bisa dikeluarkan, terutama ketika istri menyetujui. Jika melihat kasus anda, harusnya PA mengeluarkn izin tsb, silahkan saja anda proses.
      Namun yg perlu diperhatikan adlah, meski anda menikahi wanita tsb secara sah, jika menikahnya setelah anak yg dikandung lahir, maka status anak tsb tidak bisa dipandang sebgai anak sah dari anda.
      Jika tujuan perkawinan tsb demi ‘status anak’, maka tidak ada manfaatnya karena ia sudah lahir sblm perkawinan, lain hal jika perkawinannya dilakukan sebelum anak lahir.
      Karena anak sah dlm definisi KHI Ps. 99/a, adalah anak yang dilahirkan dalam atau akibat perkawinan yang sah. Oleh karenanya anak tsb tdk bisa dinasabkan kepada anda, ia tdk saling mewarisi dan jika perempuan tdk bisa dinikahkan oleh anda.

  36. Assalamualaikum wr.wb
    Saya menikah 2tahun, blm dikaruniai anak, saya dan suami tinggal terpisah karena pekerjaan masing2, bertemu kadang 2minggu skali. Kami sering bertengkar, dan saya sering bilang ingin berpisah, tapi suami hanya diam. Sekarang dia tidak pernah pulang kerumah sudah 3bulan,komunikasi tidak lancar, waktu saya menanyakan kenapa dia seperti itu katanya dia ingin sendiri dulu, saya memberinya waktu dan batas waktu untuk dia menyendiri/tidak pulang. Setelah batas waktu yang ditentukan habis saya menanyakan bagaimana kelanjutannya, dia bilang perasaan terhadap saya sudah tidak ada, jika melanjutkan pernikahan dia kawatir akan membuat saya tidak bahagia, apakah kalimat itu termasuk talak? Sekarang saya menyesal, dan memohon dia pulang kembali, tapi dia bilang sudah tidak bisa, apa yang harus saya lakukan, apakah saya sudah masuk masa iddah? Terimakasih.
    Wassalamualaikum wr.wb.

    • Wa’alaykumussalam,
      Dalam Fiqh Munakahat, pernyataan suami seperti itu masuk kategori talak kinayah (sindiran yg maknanya bersayap), sah tidaknya menjadi talak yg memiliki efek hukum (perkawinan jadi putus) tergantung niat suami saat mengucapkan, jika pada saat pengucapan diniati talak, maka jatuhlah talaknya.
      Massa iddah, jika memang itu diniati talak, maka terhitung sejak sesaat setelah suami mengucapkan kata2 tersebut.
      Tapi langkah pertama mnrt saya, konfirmasi saja kepada suami, apakah kata2 tersebut diniati talak atau apa?
      Demikian yang dapat saya sampaikan.
      Wassalam

  37. pak ustad sy mau tanya….suami yg berlaku kasar pd isyri dan tidak mau memberi nafkah batin pada istrinya…apakah bisa itu akan bercerai??mohon penjelas…anya ustad

  38. Assalamu alakum pak ustadzıpak ustadz saya mau bertanya kemarin saya bertengkar dengan istri lewat telepon terus dalam keadaan marah saya bilang sama istri saya kalu kamu tidak suka sama orang tuaku atau benci mending kita pisah.apakah kata kata saya sudah jatuh talak.terima kasih

    • Wa`alaykumussalam,
      Dalam fiqh Syafi`iyah, kalimat “pisah” itu terjemahan dari “فراق”, dan itu bagian dari kalimat “sharih” (jelas). Oleh karenanya, meskipun tdk ada niat cerai, ketika kalimat tsb diucapkan suami kpd istrinya, maka seketika jatuhlah talak.
      Jika saja, setelah itu, suami merasa menyesal, solusinya lakukan saja rujuk, selama belum melebihi masa iddah.
      Demikian scr singkat, semoga bisa membantu.
      Wassalam.
      Marja’:
      فَالصَّرِيحُ الطَّلَاقُ وَالسَّرَاحُ وَالْفِرَاقُ (أسنى المطالب في شرح روض الطالب, 3\269)

  39. Assalamu alaikum pak ustadz.mohon maaf pak saya mau bertanya saya mau menambahkan pertanyaan yang kemaren karna saya belum jelas dengan kata saya.waktu itu saya bilangsama istri kalo kamu tidak suka sama orang tuaku mending kita pisah.kemarin kata pak ustad bahwa kata kata saya itu jelas nusyuz ata tidak jelas.jadi apakah kata kata saya belum termasuk talak.dan pada waktu saya bilang istri saya dalam keadaan haid.saya mohon pak ustadz menjelaskan ulang apakah kata kata saya sudah jatuh talak apa belum.trima kasih waalaikum salam.

    • Wa`alaykumussalam,
      Pada saat anda mengucapkan kata2 tersebut, berarti istri anda sedang dlm keadaan tidak menyukai mertuanya kan? Kalau iya, berarti sah jatuh talaknya.
      Adapun masalah kondisi istri yang sedang haid, meski talak haram dijatuhkan pada saat itu, tapi tetap saja sah jatuh talak, cuman hukumnya dosa bagi suaminya, kecuali kalau suaminya tdk tahu bahwa istrinya sedang haid.

  40. Assalamu’alaikum wr.wb
    Pak ustadz, mohon atas pencerahnya.
    Saya sudah menikah selama 2th 5bln & saya dikaruniai 1 ank. Rumah tangga kami sering sekali mengalmi percekcokan, permasalahnya yang dominan yaitu tidak kecocokan istri saya dengan ibu saya, sehingga istri saya sering melakukan pergi dari rumah (pulang kerumah orang tuannya) dengan membawa anak saya tanpa seijin n sepengetahuan saya di saat saya bekerja.
    Istri sering mengecam saya untuk pisah rumah dengan ibu saya & dia juga sering memberi pilihan “saya(istri) atau ibu kamu yg keluar dari rumah” disitu saya sulit mengambil keputusan karena saya disini masih ngontrak & ibu saya seorang janda tua yang tidak memiliki penghasilan apa2 yang hanya numpang hidup.
    Istri saya pergi tanpa seijin saya sudah ada 6x, 1- ke 4x nya saya selalu mengalah & berusaha sabar untuk mengajaknya pulang & menjemput istri saya ke orang tuannya.
    Ke 5xnya dia pergi saya sempat berkata “kita sudahi rumah tangga kita disini, kita cerai” kata2 itu saya lontarkan lewat telephon karena saya sudah kehilangan kesabaran & kesokharinya dia mengambil barang2 miliknya dia berserta barang2 anak saya dibawa kerumah orang tuanya, masalah ini bertahan selama 28 hari sampai pihak keluarga besar istri saya datang untuk mengklarifikasi yang berujung rujukan kembali.
    Hal tersebut terjadi kembali yang ke 6x perginya istri saya tanpa ijin & sepengetahuan saya (sampai saat ini sudah ada 54 hari dia pergi), sampai2 saya berdosa sekali & mengorbankan ibu saya untuk menyuruh ibu saya tingal bersama adik kandungnya yang berada dibatam, hal itu saya lakukan demi istri & anak saya…tapi sampai saat ini istri saya tak kunjung pulang, dengan hilangnya kesabar saya & tidak sangup lagi menahan tersiksanya batin saya, saya mengucapkan talak berkali kali ke istri saya….
    Menurut pak ustadz apa yg harus saya lakukan??
    Apakah saya harus mengurus percerain ke PA??
    Apakah saya masih berhak menafkahi istri saya selama belum diperosesnya perceraian??
    Apakah saya akan mendapatkan hak asuh anak saya??
    Dengan ini saya mohon pencerahannya dari pak ustadz…
    Wassalammualaikum wr.wb.

    • Wa`alaikumussalam, Pa Ipang yang budiman, saya turut prihatin atas permasalahan rumah tanga yang sedang bapak hadapi. Untuk kasus seperti itu, memang secara agama sudah dinilai sah talaknya, jika saja pengucapan kata talaknya sudah lebih dari 3 kali, maka perkawinan tersebut sudah cerai dengan talak bain kubra, berarti bapak dengan mantan istri tidak bisa rujuk lagi, kalaupun mau kembali maka mantan istri bapak harus menikah dulu dengan laki-laki lain, kemudian bercerai, selesai masa idah baru bisa menikah lagi dengan bapak.
      Namun meski demikian, karena kata talak yang diucapkan bapak tidak di dalam persidangan, maka belum memiliki kekuatan hukum, sehingga secara administrasi negara, bapak masih teriakt perkawinan dgn istri. Oleh karenanya harus segera diurus ke PA supaya mendapat kepastian status perkawinan.
      Mengenai kewajiban menafkahi, secara agama hanya wajib sampai 3 bulan setelah mengucapkan kata talak yang ketiga (nafkah idah), mengenai hak asuh anak, jika anak di bawah usia 12 tahun, hak asuhnya ada pada ibunya, namun biaya pengasuhan tetap dari bapak, namun jika sdh lebih dr 12 tahun, diserahkan kepada pilihan anaknya, apakah mau diasuh sama ibunya atau bapaknya.
      Itu mungkin yg dapat saya sampaikan, mohon maaf kalau masih kurang jelas, silahkan bisa dipertanyakan lagi.
      Wassalam,

  41. Assalamu’alaikum wr.wb
    Pak ustadz, sy mau bertanya..
    Suami saya (duda cerai) kemudian menikah dengan saya, tetapi memalsukan data dengan mengaku lajang sebelum menikah. Hal ini diketahui oleh saya sebelumnya, dikarenakan dari awal orang tua saya mengira dia bujangan, karena takut mereka marah dan tidak merestui, akhirnya sy meminta suami saya memalsukan data dan mengaku lajang. Pernikahan saya dihadiri orang tua dan juga saksi. Saksi pun mengetahui status suami saya sudah duda. Yang tidak tahu hanya orang tua saya saja.
    Pertanyaan saya,
    1. Apakah pernikahan saya tetap sah?
    2. Jika ingin memperbarui/merubah data yang sebenarnya bagaimana cara dan prosesnya? Apakah tinggal datang ke KUA dan membawa saksi, atau tetap perlu kehadiran orang tua. Mohon detail penjelasannya pak ustadz.
    Terima kasih

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.