Di Sini Ada Nabi Darurat dan Rasul Ad-Hoc

723

Jakarta, NU Online
“Aku Ruwat Sengkolo bersabda. Para peneliti kita suci menyatakan bahwa kiamat akan terjadi pada tahun 2060. Para peneropong jagad raya mengatakan pada 2040. Para pengamat dan penelusur waktu mengatakan pada 2012”
“Aku Ruwat Sengkolo dengan ini menyatakan, apa bedanya kiamat besok-besok dengan sekarang.. Apa? Sudah tidak ada tanda-tanda kehidupan, peradaban sudah mentok, nilai-nilai hakiki susah dicari. Sesungguhnya kiamat sudah berlangsung….”

Itu nukilan dari dialog Ruwat Sengkolo (Joko Kamto).
Bersama kakeknya, Mbah Soimun (Tertib Ruratmo, duda hampir paruh baya itu tinggal di pelosok sebuah desa pinggiran kota.
Tiba-tiba Ruwat menjadi perhatian masyarakat. Ia menjadi sumber gunjingan. Seperti kesurupan, Ruwat mengaku nabi.
“Aku turun ke bumi ini hasil perjanjian ketiga dengan Tuhan. Aku sangat mencintai penduduk Bumi dan tidak tega dengan keberadaan mereka. Tetapi setelah aku menjelma ke sini, aku kebingungan sendiri”.
Dalam kurungan putih di belakang rumahnya, Ruwat meneriakkan sabda-sabda nan sulit dimengerti. Kakeknya bingung, apa yang terjadi pada sang cucu. Keributan itu bahkan membuat Pak Jangkep (Nevi Budianto), bapaknya Ruwat yang merantau di Jakarta, mendadak pulang.
“Penduduk Bumi sekarang ini butuh nabi atau rasul. Kalau tidak ada nabi beneran, nabi darurat lah.. Kalau tidak ada rasul, ya rasul adhoc-lah..”
Guru Ruwat, Ki Janggan (Bambang Susiawan), yang sedang mengursi perguruan, terpaksa muncul juga. Sejumlah anak muda yang kost di sebelah rumah Ruwat, yang juga pemain band (personil LETTO dan Doni Kiai kanjeng) ikut menguping keributan itu.
Alex Sarpin, aktivis dan mahasiswa, tergelitik menganalisis apa yang terjadi pada Ruwat, berdasarkan buku ensiklopedianya yang selalu dibawanya kemana-mana.
Tiba-tiba hadir Brah Abadon (Sabrang ‘Noe’ LETTO) yang tidak menentu sosoknya. Konon utusan Malaikat Isrofil. Sosok Brah muncul dalam dua layar besar.
“Tadi aku mendengar kamu berteriak.. ‘Isrofil.. Bersegeralah meniup terompet’. Apakah kamu keponakan Israofil sehingga mengetahui hal itu!” teriak Brah kepada Ruwat. “Apa kamu sedang melamar untuk menjadi malaikat!”
Keributan memuncak ketika polisi datang menangkap Ruwat karena dituduh meresahkan masyarakat dan melanggar undang-undang. Ruwat dituduh gila, hendak bunuh diri, bertapa mencari persugihan, bahkan diisukan mencalonkan diri menjadi lurah.
Pak Lurah Sangkan (Fajar Suharno) turun tangan.
Pak Jangkep marah karena membela martabat anaknya. Alex mencoba menganalisis. Ki Janggan pasang badan. Brah Abadon melintas-lintas dengan suara langitnya. Mbah Soimun terombang-ambing antara bingung dan geli karena perkembangan pikiran manusia dan zaman yang semakin tak bisa diikutinya.
‘Gimik’ dalam lakon
Ruwat, secara kasat mata berlaku agak gila.  Dia membawa terompet dan berpakaian aneh. Dalam kurungan kain putih, siluet-siluet Ruwat sedang meracau berseliweran.
Tetapi secara muatan, sesungguhnya Ruwat adalah manusia yang bersedih. Sedih melihat masyarakat dan negaranya yang menurutnya sudah terlalu busuk, bobrok, dan hancur, sehingga ilmu, perangkat hukum, revolusi sosial atau apapun tak mungkin mengatasinya.
Ruwat tidak tahu lagi harus bagaimana, lalu protes dengan caranya sendiri.
Kurungan yang berdiri di panggung adalah analogi bahwa setiap manusia memiliki “kurungan”-nya sendiri. Kurungan yang diciptakan diri sendiri, lingkungan, sosial, bahkan produk impor.
“Bagaimana kita bisa menemukan diri, kalau kita terkurung dalam diri kita sendiri?” kata Sabrang ‘Noe’ LETTO saat diwawancara usai Gladi resik di Gedung Kesenian Jakarta, Kamis malam.
Lakon “Nabi darurat Rasul Ad-Hoc” adalah karya terbaru budayawan Emha Ainun Nadjib yang lama menghilang dari panggung teater.
Tampil di pementasan ini sejumlah pentolan aktor Teater Perdikan dan personil Letto, yakni Sabrang Noe, Patub, Ari dan Dedhot. Mereka manggung sekaligus bermain musik. Mereka juga menggarap musik di belakang layar.
Emha, selaku penulis naskah, dengan lugas menggambarkan kerusakan dunia tak akan mampu diperbaiki oleh manusia-manusia yang mutunya sudah tercerai berai.  Butuh manusia setingkat Nabi atau Rasul untuk “meruwat” ke arah perbaikan dunia. Intinya, untuk melakukan perubahan, perlu ada campur tangan Tuhan.
“Ini bukan masalah mengkritisi, ini masalah informasi. Kita merasa ini pernyataan seseorang, kenyataan hidup itu apa sih, drama besar itu apa sih sebenarnya, kiamat, dan lain-lain,” ucap Noe yang terlibat langsung dalam pengerjaan teater ini.
Pada Lakon yang dipersiapkan selama tiga bulan itu, acap muncul dialog-dialog menyentil mengenai banyak soalan bangsa. “Tidak ada satu pun di sini yang fiksi,” tambahnya.
“Negeri kita perlu diruwat. Terlalu banyak penyakit yang tidak bisa disembuhkan…” salah satu potongan dialog Alex saat berbincang dengan Pak Jangkep.
Banyak materi dan dialog ‘berat’ dalam pementasan ini, namun Joko Kamto dan kawan-kawan mampu melafalkannya dengan tutur bahasa yang ringan. Ditambah oleh akting personil LETTO dan Doni Kiai Kanjeng yang mencairkan suasana lewat dialog jenaka dan berkekinian dari mereka.
Penampilan band LETTO dalam beberapa segmen telah mengobati rindu akan tembang-tembang mereka yang menyentuh hati itu.
“Wah kalau mendengarkan Ruwat kaya nonton teater ya,” lontar salah satu personil LETTO dalam dialognya.
Lagu LETTO “Sebelum Cahaya” menutup gladi resik pementasan teater “Nabi Darurat Rasul Ad-Hoc” itu.
Sampai pentas usai, bagian terbesar penonton tetap terjaga, mungkin merenungi dan memaknai pesan dari lakon itu.
Teater ini berdurasi tiga jam, bukan waktu yang singkat untuk lakon yang bermateri ‘berat’. Noe menegaskan, lakon ini dipersembahkan untuk orang-orang yang mencari jati diri.
“Sumur itu penuh air, tetapi kalau orang tidak menimba, dia tidak mendapatkan airnya. Jadi kita sumur di sini,” ujarnya.
Lakon ini telah dipentaskan di Taman Budaya Yogyakarta pada 2 Maret 2012 dan Gedung Kesenian Jakarta 9 Maret ini.  Berikutnya akan menyambangi Surabaya, Semarang, dan Malang.
“Mati-matian manusia menjadi hal yang tidak bisa dibawa mati, sementara yang pasti dalam kehidupan adalah kematian,” kata Noe menutup perbincangan malam itu.
Sumber: http://www.nu.or.id/page/id/dinamic_detil/1/36835/Warta/_Nabi_Darurat__Rasul_Ad_Hoc_.html

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here