Beragama dan Rasa Aman

oleh : Hasan Basri (Ketua Instruktur PC GP Ansor Kab. Bandung)

Di penghujung tahun 2020 tepatnya tanggal 30 Desember pemerintah Indonesia mengeluarkan keputusan besar yang dituangkan dalam SKB (Surat Keputusan Bersama) para mentri tentang pelarangan kegiatan FPI dan penggunaan atribut atau simbol FPI di seluruh tanah air Indonesia tentu keputusan besar ini menuai pro kontra diantara yang mendukung penuh dan menolak.

Ada 7 alasan pemerintah membubarkan dan melarang kegiatan FPI yang secara dejure sudah tidak memiliki SKT (Surat Keterangan Terdaftar) sejak bulan Juli 2019.
dari 7 alasan yang menjadi argument pembubaran, dalam tulisan ini saya ingin menyoroti dan memggarisbawahi alasan nomer 5 dan nomer 6. secara lengkap di kutip dari SKB Para Mentei yang beredar di media masa bunyinya sebagai berikut:

Lima, pengurus dan atau anggota FPI maupun yang pernah bergabung dengan FPI berdasar kan data sebanyak 35 orang terlibat tindak pidana tertentu (tipidter), dan 29 orang di antaranya telah dijatuhi pidana. Selain itu, 206 orang terlibat berbagai tindak pidana umum lainnya dan 100 di antaranya telah dijatuhi pidana.

Enam, jika menurut penilaian atau dugaaannya sendiri terjadi pelanggaran ketentuan hukum, maka pengurus dan atau anggota FPI kerap kali melakukan berbagai tindakan razia atau sweeping di tengah masyarakat, yang sebenarnya hal tersebut menjadi tugas dan wewenang aparat penegak hukum.

Inti dari alasan nomer 5 dan nomer 6 adalah karena pengurus atau anggota FPI kerap kali melakukan tindakan melanggar hukum maka alasan keamanan menjadi salah satu alasan kuat bagi pemerintah mengambil tindakan tegas. tidak ada alasan yang menggambarkan bahwa pemerintah anti Islam, bukan karena FPI beraliran sesat, yang oleh karenanya dalam press confrance tidak ada MUI yang mendampingi, karena tidak berkaitan dengan kesesatan aliran idiologis FPI.

Sesuai dengan judul di atas saya ingin mengutip pendapat al habib Ali Zainal ‘Abidin bin Abdurrohman al Jufri dalam buku Al Insaniayah Qobla Tadayun. berkaitan dengan hubungan beragama dan keamanan. menarik dalam tulian ini saya kutip suatu kisah di zaman Nabi.
pada suatu ketika datang seorang Arab Badui kepada Rasul bertanya tentang risalah Islam.
ia bertanya kepada Nabi Muhammad SAW
siapa engkau?
saya rasulullah
siapa yang mengutus engkau
yang mengutus saya adalah Allah
dengan apa engkau di utus?
( saya di utus dengan membawa risalah supaya engkau menyambungkan silaturahmi, memelihara darah, dan memberikan rasa aman, menghancurkan berhala, dan beribadah kepada Allah yang Maha Esa dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu) ( HR. Ahmad)

menarik kita renungkan cerita hadits di atas. sebagaimana kita ketahui bahwa asal risalah adalah Tauhid dan akidah sebagaimana dalam firman Allah disebutkan:

(قُلۡ إِنَّمَاۤ أَنَا۠ بَشَرࣱ مِّثۡلُكُمۡ یُوحَىٰۤ إِلَیَّ أَنَّمَاۤ إِلَـٰهُكُمۡ إِلَـٰهࣱ وَ ٰ⁠حِدࣱۖ
[Surat Al-Kahfi 110]
namun dalam hadits yang disebutkan di atas justru Nabi Muhammad ketika menjelaskan risalah yang dibawanya kepada orang awam itu mendahulukan 3 perkara sebelum menjelaskan ketauhidan.
ketiga perkara itu adalah:

  1. silaturahmi
    dengan bersilaturahmi maka akan tercipta KEAMANAN SOSIAL, saling pengertian, terhindarnya ujaran kebencian, dan merekatkan harmonisasi sesama anak bangsa
  2. memelihara darah
    dengan memelihara darah, Islam ingin memastikan terciptanya KEAMANAN HIDUP, berkehidupann yang aman, damai, saling mencintai sesama anak bangsa, saling toleransi walaupun penuh perbedaan
  3. keamanan jalan yang ditafsirkan sebagai keamanan umum oleh Habib Ali Al Jufri

mendahulukannya Nabi ketiga keamanan tersebut sebelum menjelaskan ketauhidan inilah yang disebut oleh Habib Ali Al Jufri sebagai الانسانية قبل التدين, kemanusiaan sebelum beragama, coba perhatikan kalimat beragama bukan agama karena agama suatu hal dan keberagamaan adalah suatu hal lain. beragama adalah internalisasi nilai-nilai agama yang terpatri dan tercermin dari sanubari dan tindakan orang yang melaksanakan agama, dimana nilai agama tersebut bisa disalahgunakan dan disalahartikan oleh orang mengaku beragama.

dalam buku itu Habib Ali menjelaskan logika sederhana kenapa hadits di atas mendahulukan tiga keamanan sebelum ketauhidan. karena dengan terciptanya keamanan sosial, keamanan kehidupan, dan keamanan umum, akan secar otomatis tercipta kebebasan yang hakiki, bukan pengekangan, dia akan dengan mudah melaksanakan kewajiban agamnya sebagai hamba Tuhan, maka keimanannya akan terasa kuat dalam sanubarinya. akalnya akan bisa berfikir dengan sehat dan logis ketika keamanan tercipta, stabilitas jiwa dan bernegara juga tidak akan terkendala rasa takut, tampa rasa aman dan kedamain bagaimana mungkin dia bisa melaksanakan ketauhidan yang nyaman.

Maka siapapun yang beragama tapi tidak menghiraukaun aspek-aspek dasar kemanusiaan, membuat resah, menteror dan memprovokasi sehingga hilangnya rasa keamanan dan kenyamanan maka bangunan keimanan dalam hatinya adalah bangunan keimanan yang rapuh yang berada di ujung jurang.

(و مهما توهم صاحبه رسوخ ايمانه و هو غير بال بالروابط الانسانية ولا بحرمة الدماء ولا بحق الامان فلا يكون بناء الايمان في قلبه الا علي شفا جرف)
oleh karenanya penting bagi kita menyiapkan dan menguatkan fitrah-fitrah kemanusiaan, menjaga keamanan dan merawatnya, terciptanya kedamaian sehingga keberagamaan kita menjadi benar, jiwa kita tenang dan kita bisa mengabdi keharibaan Allah dalam beribadah dengan hati yang bersih, tampa menyekutukannya, terjauh dari sifat ogoisme, riya, sum’ah, sombong, merasa paling benar, jauh dari hawa nafsu, dan merasakan hakikat Ilmu Allah SWT.
wallahu A’lam bishshowab.

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.