BELAJAR TAFSIR AL ISRA AYAT 1

Oleh : K. H. Deden H Muzhoffar Khodam  Pondok Pesantren Darul Hikam  Banjaran
PENDAHULUAN
Peristiwa  Isra’ dan Mi’raj adalah mu’jizat Nabi Muhammad SAW, bisa dibahas secara luas dan mendalam juga bisa ditinjau dari berbagai aspek, namun dalam kesempatan ini penulis membatasi diri hanya menguraikan  pembahasan para ahli tafsir tentang  surat al Isra ayat 1

 سُبْحَانَ الَّذِيْ أَسْرى بِعَبْدِهِ لَيْلاً مِنَ المَسْجِدِالحَرَامِ إِلىَ المَسْجِدِالأَقْصَى الَّذِيْ بَارَكْنَاحَوْلَه لِنُريَه مِنْ أيَاتِنَا إِنَّه هُوَالسَّمِيْعُ البَصِيْرُ  ( ألإِسْرَاء : 1 )

Maha suci Yang telah memperjalankan hambaNya pada suatu malam dari al-Masjid al-Haram ke al-Masjid al-Aqsha yang telah Kami berkati sekitarnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian ayat-ayat kami ; Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

 ‘MAHA SUCI’ (سُبحان)
Awal surat al Isra ini dimulai dengan kata ’subhana’, yang pertama kali timbul dalam benak kita adalah : ”Apa hikmah ayat yang menjadi dasar dari kemu’jizatan Isra N.Muhammad SAW  ini dimulai dengan lafazh ‘Subhana’ ?
‘Subhana’ yang sering diartikan dengan ‘Maha Suci’ adalah suatu ucapan pemujaan terhadap kemahaan Alloh yang tiada bandingnya dalam berbagai sifat dan perbuatanNya, ‘Subhana’ adalah ‘tanzih’ ( pensucian ) dari kekurangan dan ketidak-berdayaan melakukan sesuatu, bahkan didalam Al Quran kata ‘Subhana’ acapkali dipakai ketika menyebutkan sesuatu yang mempesona ajaib luar biasa dan perbuatan itu tidak mungkin dikerjakan oleh siapapun kecuali hanya oleh Alloh Subhanahu Wa Ta’ala.
‘Subhana’ juga kata yang menunjukan pada ketetapan yang berkesinambungan, Alloh itu Maha Suci sebelum ketika dan setelah Dia menciptakan makhluk yang akan mensucikanNya.
Nah, dalam firman-Nya diatas, Alloh SWT menginginkan kita mengetahui bahwa mu’jizat Isra’ dan Mi’raj itu adalah merupakan ‘perbuatan-Nya’ bukan ‘perbuatan’ N.Muhammad SAW, bukan perbuatan makhluk,maka apapun yang terjadi pada peristiwa isra’ dan mi’raj harus dikaitkan dengan kemahaan Alloh dalam irodah dan kekuasaan Nya.
‘YANG TELAH MEMPERJALANKAN’ (أَلَّذِيْ أَسرَى
Kata ‘asro bi…’ artinya telah ‘memperjalankan’ berbeda dengan kata ‘asro’ saja atau ‘saro yang artinya telah berjalan pada waktu malam hari.
Bisa dipahami dari kata-kata ini bahwa ‘Fa’il’ ( Pelaku ) Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW itu adalah Alloh SWT, karena pelakunya Alloh SWT maka mustahil untuk disamakan sifat dan perbuatan Alloh SWT dengan sifat dan perbuatan manusia, oleh karena itu segala sesuatu yang dilakukan oleh Alloh itu diluar daya kekuatan manusia bahkan walaupun akal manusia bisa menerimanya, namun karena keterbatasan akal dan nalar manusia maka tidak semua perbuatan Alloh bisa terjangkau oleh nalar manusia kecuali bagi insan yang telah tercelup oleh keimanan seperti sahabat Abu Bakar Ashshiddiq RA.
Memang benar bahwa Alloh SWt telah menciptakan sistim sunnatulloh yang diberlakukan untuk makhlukNya, seperti api bersifat panas yang bisa membakar, es bersifat dingin, buah mangga jatuh kebawah karena sunnatulloh yang telah ditemukan oleh Newton dalam hukum ‘grafitasi’nya, dsb, namun bagi Alloh SWT yang punya sifat irodah ( Maha berkehendak ) dan qodir ( Maha Kuasa ) sangat bisa dan mungkin melakukan apapun tanpa dibatasi oleh berbagai hukum karena Dialah yang menciptakan dan membatalkan atau mengecualikan hukum, Alloh tidak membutuhkan hukum kausalitas karena Dia sendirilah yang menciptakan hukum sebab akibat.
Alloh SWT telah memberikan contoh yang banyak sekali dalam Al Quran  umpamanya ketika Nabi Ibrohim AS diselamatkan oleh Nya dari kobaran api Raja Namruz, Alloh berfirman dalam surat Al Anbiya ayat 69 yang artinya : “ Kami berfirman : “ hai api ! menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrohim
Juga ketika Nabi Musa AS diselamatkan olehNya Alloh SWT berfirman dalam surat Asysyu’araa ayat 63 yang artinya: “ Lalu kami wahyukan kepada Musa :” Pukullah lautan itu dengan tongkatmu !, maka terbelahlah lautan itu dan tiap – tiap belahan adalah seperti gunung yang besar”.
‘KEPADA HAMBANYA’   (بِعَبدِهِ)
Yang dimaksud ‘hambaNya  disini  adalah :
1. Hamba  Alloh  yang  terpilih  yaitu  Nabi  Muhammad SAW
Pada ayat ini seperti dalam ayat-ayat lain dalam Al Quran yang  dimaksud ‘hambanya’ adalah hamba Alloh yang terpilih dan diistimewakan oleh Alloh, adalah luar biasa orang yang termasuk ‘abdihi’, karena sudah pasti orang ini diangkat derajatnya oleh Alloh SWT karena prestasi ibadahnya telah menempati maqom yang luar biasa.
Ternyata  kalau  kita  teliti  bahwa  semua  kata  ‘abduhu’  di dalam  al-Quran  selalu  menunjukan  kepada Nabi Muhammad SAW ( lihat Tafsir al-Mishbah jilid 7 hal. 402 )
Siapapun dari kita  boleh saja  menyatakan  bahwa ‘saya  adalah  hamba Alloh’, kalimat itu tidak istimewa, yang istimewa  adalah bila Alloh SWt sendiri yang menyatakan bahwa orang itu adalah hambaNya seperti dalam ayat diatas khusus ditujukan kepada Nabi Muhammad SAW.
Contoh lain dalam surat Al Kahfi 65,66 yang mengisahkan pertemuan antara nabi Musa As dengan Nabi Khidir AS  yang  artinya :  “ Lalu  mereka  ( Musa  dan  pembantunya )  bertemu  dengan seorang ‘hamba’  diantara ‘hamba – hamba’  Kami yang telah kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi kami. Musa berkata kepada Khidir :” Bolehkah  aku  mengikutimu supaya kamu  mengajarkan kepadaku ilmu yang benar diantara ilmu – ilmu yang telah diajarkan kepadamu ?”
2. Yang dimaksud dengan ‘abdihi’ itu adalah  jasmani  dan ruhaninya, jasad beserta ruhnya.
Jumhur  Ulama  berpendapat  bahwa  peristiwa  Isra Mi’raj  adalah  peristiwa  hakiki  yang  dialami  oleh  Nabi Muhammad SAW dalam keadaan sadar terjaga, bukan  sekedar  mimpi  dalam  tidur  dan  bukan  pula  dalam keadaan bagaimanapun  yang menggambarkan terpisahnya ruh dan jasad namun bukan kematian.
Memang telah terjadi perdebatan sengit sejak orang – orang mendengarkan  kisah perjalanan  Rosululloh SAW dalam Isra’ Mi’raj langsung dari beliau sendiri, namun  ini  juga  yang  menunjukan bahwa  peristiwa Isra’ Mi’raj Rosululloh  SAW  bukan  sekedar  mimpi, karena  tidak  ada  seorangpun  yang membantah atau tidak percayapada kisah  yang  terjadi dalam mimpi, dan kisah Isra’ Mi’raj ini menjadi ujian bagi keimanan seseorang.
‘PADA  MALAM HARI’  (لَيلاً)  
Sepintas terlihat tidak diperlukan lagi kata ‘lailan’  setelah kata ‘asra’ yang artinya adalah perjalanan pada malam hari, namun dalam tafsir al-Jalalain dikatakan bahwa kata ‘lailan’ disini di’nakirohkan’  mengandung makna sedikit atau waktu malam yang sebentar tidak seluruh waktu malam.
Kata orientalis : “kenapa peristiwa isra mi’raj itu terjadi semalam, tidak sesa’at saja’ ? Ulama Tafsir menjawab bahwa memang bagi Alloh bisa saja  ‘ kun fa yakun : jadi ! maka jadilah’, namun bagi Alloh pun boleh saja Dia berkehendak satu malam karena firman Alloh : ‘linuriyahuu min aayaatinaa’ ( agar kami memperlihatkan kepadanya sebagian ayat – ayat Kami ), Ada lagi orang yang bertanya : “Kenapa peristiwa isra mi’raj itu terjadi dimalam hari sehingga hanya Nabi Muhammad sendiri yang melihat tidak di siang hari, sehingga akan jelas terlihat oleh ummatnya ?”
Semua wahyu Alloh / Quran yang diturunkan kepada Nabi kita itu gaib hanya Nabi yang menerima dan memahami hakekat wahyu yang diterimanya, tidak ada seorangpun sahabat Nabi yang bisa menangkap dengan panca indra, oleh karena itu peristiwa isra mi’raj seperti halnya turunnya al-Quran adalah mujizat yang menyangkut keimanan, dan ternyata walaupun banyak sekali mu’jizat-mu’jizat yang diterima oleh para Nabi terdahulu bisa ditangkap oleh panca indra ummatnya namun tidak sedikit dari ummatnya yang masih tidak beriman.
‘DARI AL-MASJID AL-HARAM KE  AL-MESJID AL-AQSHA’  (مِنَ المَسجِدِ الخَرَامِ إِلَى المَسجِدِ الأَقصَى)
Tempat – tempat yang disinggahi selama perjalanan Isra Nabi Muhammad SAW  dari  Mesjid Al Haram ke Mesjid Al Aqsha adalah beliau berangkat  dari al-Masjid al-Haram  di  Makkah al-Mukarromah kemudian singgah di

  1. Yatsrib  yang di kemudian hari akan menjadi tempat tinggal beliau yaitu Medinah al Munawwaroh
  2. Madyan  yaitu  dibawah pohon dimana pernah menjadi tempat berteduhnya Nabi Musa AS
  3. Tursina / Bukit Sinai yaitu tempat beribadahnya / tahannutsnya Nabi Musa AS selama 40 hari
  4. Betlehem yaitu tempat kelahiran nabi Isa AS
  5. Al-Masjid al-Aqsha yang artinya mesjid yang terjauh karena mesjid ini adalah mesjid yang paling jauh yang

bisa disinggahi oleh kafilah-kafilah Arab sebelum islam waktu itu, menurut orang Yahudi mesjid ini dibangun oleh Nabi Sulaeman AS, namun menurut Hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim bahwa al-Masjid al-Aqsha itu pertama kali dibangun oleh Nabi Ibrohim AS 40 tahun setelah pembangunan al-Masjid al-Haram ( lihat tafsir al-Mishbah jilid 7 hal 404 )
Di masing-masing tempat tersebut beliau singgah sebentar dan shalat munfarid kecuali di al-Masjid al-Aqsha beliau menjadi Imam shalat berjama’ah yang ma’mumnya adalah arwah para Nabi / Rosul Alloh sebelumnya, ini menjadi tanda bahwa beliau adalah  Sayyidul Mursalin 
 
‘YANG TELAH KAMI BERKATI SEKITARNYA’ (أَلَّذِيْ بَارَكنَا حَولَه)
Kata berkah artinya ‘azziyaadatu fii al-khir’ bertambah-tambah dalam kebaikan, dan berkah itu meliputi berbagai perkara umpamanya dikatakan hartanya berkah ketika makin banyak yang dikeluarkan untuk zakat dan shodaqoh malah hartanya makin banyak lagi, ilmunya berkah ketika ilmu yang di’amalkan atau disampaikan kepada orang lain malah makin banyak dan mendalam, umurnya berkah ketika dalam waktu yang sebentar bisa dicapai karunia-karunia dari Alloh yang tiada ternilai ( Lihat Tafsir Attastari ), demikian pula ada tempat yang diberkahi misalnya Nabi bersabda bahwa barang siapa yang sholat satu roka’at di al-Masjid al-Haram berbanding dengan 100.000 roka’at sholat di luar al- Masjid al-Harom, atau secara indrawi misalnya terlihat bahwa di Mekah itu buah-buahan melimpah ruah walaupun tanah disitu tidak bisa ditanami buah-buahan.
‘AGAR  KAMI MEMPERLIHATKAN  DIANTARA AYAT – AYAT KAMI’ (لِنُرِيَه مِن أتَاتِنَا)
Diantara  maksud  utama  diisrakan  dan  dimi’rajkan  Rosululloh SAW  adalah  agar Alloh SWT  memperlihatkan sebahagian tanda-tanda keagungan dan kekuasaan Alloh SWT kepada Nabi Muhammad SAW.
Adapun tanda-tanda kekeagungan dan kekuasaan Alloh itu  menurut Syekh Mutawalli Asysya’rowi ada dua macam

  1. Ayat – ayat  ardhiyyah  yaitu  yang dilihat Nabi Muhammad SAW  selama perjalanan Isra  diantara langit dan bumi sambil beliau  mengendari hewan Buraq
  2. Ayat – ayat al – kubra  yaitu  yang dilihat Nabi Muhammad SAW selama perjalanan  Mi’raj

Dalam  Hadits  dijelaskan bahwa Buraq itu adalah hewan yang didatangkan dari surga ( dalam bahasa Arab barq itu artinya kilat ) diberikan oleh Alloh kepada Nabi kita agar digunakan sebagai kendaraan dalam perjalanan Isra,
Menurut suatu keterangan  bahwa hewan  ahli  surga itu ada 10 ekor yaitu :
1. Buroq  Nabi Muhammad  SAW
2. Unta Nabi Sholih  AS
3. Anak  sapi  Nabi Ibrohim  AS
4. Domba Gibas Nabi Ismail  AS
5. Burung  Hudhud  Nabi Sulaiman  AS.
6. Semut  Nabi Sulaeman  AS
7. Himar  Nabi Uzair  AS
8. Anjing  Ashabul Kahfi
9. Ikan Paus  Nabi Yunus  AS
10. Sapi  kepunyaan Anak  Bani  Isroil
 
‘SESUNGGUHNYA  DIA MAHA MENDENGAR  LAGI  MAHA MELIHAT’ (إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ)        
Menurut Tafsir al-Futuhat al-Ilahiyyah bahwa maksud Alloh itu Maha Mendengar lagi Maha Melihat adalah bahwa  Alloh itu Maha mengetahui apa yang diucapkan oleh Nabi Muhammad SAW dan Maha Melihat apa yang diperbuat oleh Nabi maka Alloh SWT memberi kenikmatan dengan isra dan mi’raj, bahkan menurut Syekh Albiqo’i bahwa akhir ayat ini menunjukan bahwa Alloh menganugrahkan kepada Nabi Muhamamad SAW pendengaran dan penglihatan yang luar biasa pada waktu Isra dan Mi’raj.
Wallohu a’lamu bi ash-showab.

ألمصادر :

1. ألمعجزة الكبرى ( ألإسراء والمعراج للشيخ ألعلاّمة ألدكتور متولّي ألشعراوي

2. ألإسراء والمعراج للشيخ ألحافظ  إبن حجر ألعسقلاني

3. ألأيات الكبرى فى شرح قصّة الإسراء  للشيخ ألسيوطي

4. تفسير ألمصباح  للشيخ ألدكتور قريش شهاب

1 thought on “BELAJAR TAFSIR AL ISRA AYAT 1

  1. mhn penjelasan ttg hewan anjing dgn asabulkahfi dan sapi dgn sapi anak bani israel yg kok bisa2nya masuk surga berdasarkan sumber tafsirnya dr mana ? bingung ehhhh

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.