Bedah Buku Biografi Profesor NU yang Terlupakan

243

PALEMBANG,- Dua masalah penting itu mengemuka dalam bedah buku KH Moh. Tolchah Mansoer, “Biografi Profesor NU yang Terlupakan”, di salah satu Rumah Makan di Palembang, Senin (3/12). Mantan Duta Besar RI di Lebanon, yang juga pernah menjabat Ketua PW IPNU Yogyakarta Abdullah Syarwani, mengatakan, problem dasar dari semua persoalan tersebut hanyalah rendahnya komitmen dan kemauan berjuang. Sebab secara SDM, saat ini banyak kader NU yang mumpuni, banyak kader NU yang berpendidikan tinggi hingga kuliah di luar negeri. Saat ini kader NU juga telah ada di berbagai lini. Tak hanya terpolarisasi di dunia pesantren.
“Problemnya hanya kemauan. Saya pikir SDM NU sudah cukup bagus. Hanya saja memang perlu pelatihan khusus yang dilakukan secara sistematis, terstruktur dan massif di bidang manajemen. Agar para pengurus NU dan Banomnya, termasuk IPNU-IPPNU ini mampu memenej organisasi,”  ujar Abdullah yang pernah dikader langsung oleh KH Tolchah Mansoer, usai bedah buku yang berlangsung selama hampir lima jam itu, kemarin.

Dia mencontohkan dalam hal pendataan kader, menurutnya, sangat mudah dilakukan jika para pengurus IPNU-IPPNU mau melakukannya. Sebab, kata Abdullah, saat dia menjabat Ketua PP IPNU yang masih berpusat di Yogyakarta di tahun 1968 an, fasilitas masih minim, dan kader yang belajar hingga perguruan tinggi pun masih minim.
“Waktu itu dengan fasilitas yang kurang juga kita mampu melakukan pendataan kader secara maksimal. Waktu itu kartu tanda anggota kita cetak sendiri pakai kertas stensilan, kita data seluruh kader. Sekarang dengan fasilitas yang lebih mapan, ditambah SDM yang juga banyak, seharusnya bisa lebih bagus,” tandasnya.
Abdullah juga mengenang proses kaderisasi di bawah KH Tolchah, yang menurutnya, sangat menginspirasi. Sebab Kiai Tolchah, di akhir masa Orde Lama itu merupakan salah satu intelektual NU yang turut mendirikan IPNU, mengayomi para aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan mewarnai gerakan NU hingga melahirkan rekonsiliasi NU dengan Pancasila di tahun 1984.
“Beliau adalah intelektual NU yang selalu menekankan perlunya peningkatan SDM dan pengembangan pendidikan kader NU. Sayangnya karier beliau dijegal karena beliau kritis terhadap Orba,” ujarnya.
Hal sama diungkap Sekjen Partai Persatuan Pembangunan (PPP) M. Romahurmuzy. Putra bungsu dari KH Tolchah Mansoer itu mengakui lemahnya manajemen . “Karena itu, pengetahuan manajemen perlu untuk dilatihkan , ditrainingkan. Problemnya di-SDM. Agar semakin hari mendapat kualitas kader yang semakin baik. Lihat Jepang, tak punya SDA tapi maju. Di kita, SDA banyak tapi SDM-nya lemah, akhirnya tak terkelola dengan baik. Lebih baik tak punya apa-apa tapi punya kapasitas sebagai manusia itu lebih baik,” paparnya.
Ia juga mengkritisi politisasi NU yang kerap terjadi belakangan ini. Sebab NU, kata Roma  adalah organisasi dakwah, berbeda dengan Parpol. “Hanya jangan alergi terhadap politik. Yang penting sekarang bagaimana para tokoh politik yang didukung warga NU tak lupa terhadap basis massanya. Tapi jangan politisasi Banom dan ortom NU, karena akan merusak Khittah NU. Kalau saling memberi manfaat tak mengapa tapi jangan sampai hanya dimanfaatkan. Yang penting memilihlah karena kualitas jangan memilih karena fasilitas dan sebagainya,” paparnya.
Sementara Prof Yahya Umar, Dekan Fakultas Psikologi UIN Sunan Kalijaga yang pernah menjadi santri Kiai Tolchah mengaku miris dengan disorientasi kader IPNU-IPPNU maupun PMII saat ini. Sebab, menurutnya, dibentuknya IPNU dan PMII adalah untuk memotivasi para kader NU untuk bergelut di dunia akademik. Tapi saat ini para aktivis cenderung terobsesi untuk menjadi politisi. “Seharusnya, kalau masuk PMII atau IPNU itu orientasinya ingin jadi intelektual santri. Ingin jadi doctor yang punya latar belakang keislaman yang kuat. Sekarang, malah banyaknya ingin jadi politisi,” ujarnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here