Bahtsul Masail PCNU Kab. Bandung Menjawab Kritikan al-Mubarakfuriy dlm Kitab Tuhfatul Ahwadzi

285

20140126_110319-1-1Minggu, 26 Januari 2014 PCNU Kab. Bandung melakukan kegiatan rutin Bahtsul Masail tentang kritikan al-Mubarokfuriy terhadap sholat taraweh 20 rokaat dalam kitab Tuhfatul Ahwadzi. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Pondok Pesantren Assa’adah Kecamatan Banjaran kab. Bandung. Kegiatan tersebut dihadiri oleh pengurus PCNU, Lembaga, Lajnah dan Banom. Turut hadir dalam kegiatan tersebut wakil ketua dan wakil sekretaris PW PERGUNU Jawa Barat. Pada kesempatan itu, seluruh peserta bahtsul masail membacakan do’a serta tahlil untuk mendiang Rois Aam PBNU KH Dr Sahal Mahfud yg dipimpin oleh Rois Syuriah PCNU Kab. Bandung KH Asep Saifuddin Kamil.
Menurut Sekretaris PCNU Kab. Bandung H Usep Dedi Rostandi, MA “MUI Kab. Bandung akan bedah dalil tetang rokaat shalat taraweh yang akan diikuti oleh semua ormas yang ada di kab. Bandung. Oleh karena itu, PCNU kab. Bandung harus mempersiapkan secara matang dalil-dalil yang mempertegas amaliah NU dalam hal ini shalat taraweh 20 rakaat, yang selama ini banyak orang NU yang tidah tahu akan dalil tersebut”.
Dalam kesempatan Wakil Ketua PW PERGUNU Jawa Barat H Saepuloh, M.Pd kegiatan Bahtsul Masail ini harus terus dilakukan karena banyak manfaat yang dapat diambil oleh pengurus serta warga NU diantaranya memperluas wawasan serta dapat memperteguh keyakinan akan amaliah yang selama ini dilakukan. PERGUNU Jawa Barat akan terus berupaya meningkatkan wawasan keilmuan asatid di madrasah dan pondok pesantren.
Dalam kegiatan ini, PCNU Kab. Bandung menghadirkan narasumber dari UIN Bandung Harry Yuniardi, M.Ag yang merupakan Wakil Sekretaris PW PERGUNU Jawa Barat. Menurut beliau “taraweh 8 rokaat mulai pada abad 11 Masehi oleh al-Shan’aniy yang membid’ahkan shalat taraweh 20 rakaat. Ditambah menurut al-Mubarakfuriy yang menilai semua informasi tentang shalat taraweh 20 rakaat yang dilakukan oleh para sahabat dan atau tabiin dianggap lemah. Padahal para ulama, baik ulama hadist atau ulama fiqh menempatkan hadis riwayat A’isyah Rah yang mereka gunakan untuk shalat taraweh di dalam pemabahasan shalat witir.”
 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here