Anggaran Dasar NU

478

Alhamdulillah Muktamar ke-32 Nahdlatul Ulama di Makasar tahun 2010 berhasil menyempurnakan AD/ART yang selama ini dirasa masih butuh adanya penyempurnaan. Dengan adanya ketetapan yang baru ini maka NU telah memiliki dasar, arah dan tujuan yang lebih jelas sehingga NU diharapkan menjadi organisasi yang tidak saja tertib dalam berorganisasi, tetapi juga jelas dalam menyikapi berbagai masalah. Ketetapan yang baru ini juga berfungsi sebagai pedoman dalam merumuskan dan menjalankan program kerja organisasi, karena semuanya telah ada petunjuk yang jelas dan pasti.

Mukadimah

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Bahwa agama Islam adalah rahmat bagi seluruh alam di mana ajarannya mendorong kegiatan para pemeluknya untuk mewujudkan kemaslahatan dan kesejahteraan hidup di dunia dan akhirat.
Bahwa para ulama Ahli Sunnah wal-Jamaah Indonesia terpanggil untuk melanjutkan dakwah Islamiah dan melaksanakan amar ma’ruf nahi mungkar dengan mengorganisasikan kegiatan-kegiatannya dalam satu wadah yang bernama Nahdlatul Ulama yang bertujuan untuk mengamalkan ajaran Islam menurut paham Ahli Sunnah wal-Jamaah.

Bahwa kemaslahatan dan kesejahteraan warga Nahdlatul Ulama menuju khaira ummah adalah bagian mutlak dari kemaslahatan dan kesejahteraan masyarakat Indonesia. Maka dengan rahmat Allah Subhanahu wa Ta`ala dalam perjuangan mencapai masyarakat adil dan makmur yang menjadi cita-cita seluruh masyarakat Indonesia, Perkumpulan/ Jam’iyah Nahdlatul Ulama beraqidah/berasas Islam menganut faham Ahlussunnah wal Jama’ah dalam bidang aqidah mengikuti madzhab Imam Abu Hasan Al-Asy’ari dan Imam Abu Mansur al-Maturidi; dalam bidang fiqih mengikuti salah satu dari Madzhab empat (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali) dan dalam bidang tasawuf mengikuti Madzhab Imam al-Junaid al-Baghdadi dan Abu Hamid al-Ghazali.

Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, Nahdlatul Ulama berdasar kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan dan Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Bahwa Ketuhanan Yang Maha Esa dalam pancasila bagi umat Islam adalah keyakinan Tauhid  bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah Subhanahu wa Taala.

Bahwa cita-cita bangsa Indonesia  dapat diwujudkan secara utuh apabila seluruh potensi nasional diberdayakan dan difungsikan secara baik, dan Nahdlatul Ulama berkeyakinan bahwa keterlibatannya secara penuh dalam proses perjuangan  pembangunan nasional merupakan suatu keharusan.

Bahwa untuk mewujudkan hubungan antar bangsa yang adil, damai dan menusiawi menuntut saling pengertian dan saling memerlukan, maka Nahdlatul Ulama bertekad untuk mengembangkan ukhuwah Islamiah, ukhuwah Wathoniyah dan ukhuwah Insaniyah yang mengemban kepentingan nasional dan internasional dengan berpegang teguh pada prinsip-prinsip al-ikhlas (ketulusan), al-‘adl (keadilan), at-tawassuth (moderasi), at-tawazun (keseimbangan) dan at-tasamuh (toleransi).

Bahwa perkumpulan/Jam’iyyah Nahdlatul Ulama tetap menjunjung tinggi semangat yang melatarbelakangi berdirinya dan prinsip-prinsip yang ada dalam Qanun asasi.

Menyadari hal-hal di atas, Perkumpulan/ Jam’iyyah sebagai suatu organisasi maka disusunlah Anggaran Dasar Nahdlatul Ulama sebagai berikut:

ANGGARAN DASAR

NAHDLATUL ULAMA

BAB I

NAMA, KEDUDUKAN DAN STATUS

Pasal 1

(1) Perkumpulan/Jam’iyah ini bernama Nahdlatul Ulama disingkat NU.

(2) Nahdlatul Ulama didirikan di Surabaya pada tanggal 16 Rajab 1344 H bertepatan dengan tanggal 31 Januari 1926 M untuk waktu    yang tak terbatas.

Pasal 2

Nahdlatul Ulama berkedudukan di Jakarta, Ibukota Negara Republik Indonesia yang merupakan tempat kedudukan Pengurus Besarnya.

Pasal 3

(1) Nahdlatul Ulama sebagai Badan Hukum Perkumpulan bergerak dalam bidang keagamaan, pendidikan, dan sosial.

(2) Nahdlatul Ulama memiliki hak-hak secara hukum sebagai Badan Hukum Perkumpulan termasuk di dalamnya hak atas tanah dan aset-aset lainnya.

BAB II

PEDOMAN, AQIDAH DAN ASAS

Pasal 4

Nahdlatul Ulama berpedoman kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah, Al-Ijma’ dan Al-Qiyas.

Pasal 5

Nahdlatul Ulama  beraqidah Islam menurut faham Ahlusunnah wal-Jama’ah dalam bidang aqidah mengikuti madzhab Imam
Abu Hasan Al-Asy’ari dan Imam Abu Mansur al-Maturidi; dalam bidang fiqih mengikuti salah satu dari Madzhab Empat (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali); dan dalam bidang tasawuf mangikuti madzhab Imam al-Junaid al-Bagdadi dan Abu Hamid al-Ghazali.

Pasal 6

Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, Nahdlatul Ulama berasakan kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

BAB III

LAMBANG

Pasal 7

Lambang Nahdlatul Ulama berupa gambar bola dunia yang dilingkari tali tersimpul, dikitari oleh 9 (sembilan) bintang, 5 (lima) bintang terletak melingkar di atas garis khatulistiwa yang tersebar diantaranya terletak di tengah atas, sedang 4 (empat) bintang lainnya terletak melingkar di bawah garis khatulistiwa, dengan tulisan NAHDLATUL ULAMA dalam huruf Arab yang melintang dari sebelah kanan bola dunia ke sebelah kiri, semua terlukis dengan warna putih di atas dasar hijau.

BAB IV

TUJUAN DAN USAHA

Pasal 8

(1) Nahdlatul Ulama adalah perkumpulan/ Jam’iyyah diniyyah islamiyah ijtima’iyyah (organisasi sosial keagamaan Islam) untuk menciptakan kemaslahatan masyarakat, kemajuan bangsa dan ketinggian harkat dan martabat manusia.

(2) Tujuan Nahdlatul Ulama adalah berlakunya ajaran Islam yang menganut faham Ahlusunnah wal-Jama’ah untuk terwujudnya tatanan masyarakat yang berkeadilan demi kemaslahatan, kesejahteraan umat dan demi terciptanya rahmat bagi semesta.

Pasal 9

Untuk mewujudkan tujuan sebagaimana Pasal 8 di atas, maka Nahdlatul Ulama melaksanakan usaha-usaha sebagai berikut:

  1. Di bidang agama, mengupayakan terlaksananya ajaran Islam yang menganut faham Ahlusunnah wal-Jama’ah.
  2. Di bidang pendidikan, pengajaran dan kebudayaan mengupayakan terwujudnya penyelengaraan pendidikan dan pengajaran serta pengembangan kebudayaan yang sesuai  ajaran Islam untuk membina umat agar menjadi muslim yang taqwa, berbudi luhur, berpengetahuan luas dan terampil, serta berguna bagi agama, bangsa dan negara.
  3. Di bidang sosial, mengupayakan dan mendorong pemberdayaan di bidang kesehatan, kemaslahatan dan ketahanan keluarga, dan pendampingan masyarakat yang terpinggirkan (mustadl’afin).
  4. Di bidang ekonomi, mengupayakan peningkatan pendapatan masyarakat dan lapangan kerja/usaha untuk kemakmuran yang merata.
  5. Mengembangkan usaha-usaha lain melalui kerjasama dengan pihak dalam dan luar negeri yang bermanfaat bagi masyarakat banyak guna terwujudnya Khaira Ummah.

BAB V

KEANGGOTAAN, HAK DAN KEWAJIBAN

Pasal 10

(1) Keanggotaan Nahdlatul Ulama terdiri dari anggota biasa, anggota luar biasa dan anggota kehormatan.
(2)Ketentuan untuk menjadi anggota dan pemberhentian keanggotaan diatur dalam Anggaran Rumah Tangga.

Pasal 11

Ketentuan mengenai hak dan kewajiban  anggota serta lain-lainnya diatur dalam Anggaran Rumah Tangga.
 

BAB VI

STRUKTUR DAN PERANGKAT ORGANISASI

 Pasal 12

Struktur Organisasi Nahdlatul Ulama terdiri dari:
1. Pengurus Besar
2. Pengurus Wilayah
3. Pengurus Cabang
4. Pengurus Majelis Wakil Cabang
5. Pengurus Ranting
6. Pengurus Anak Ranting

Pasal 13

Untuk melaksanakan tujuan dan usaha-usaha sebagaimana dimaksud pasal 8 dan 9,  Nahdlatul Ulama membentuk perangkat organisasi yang meliputi:  Lembaga, Lajnah dan Badan Otonom yang merupakan bagian tak terpisahkan dari kesatuan organisatoris jam’iyah Nahdlatul Ulama.

BAB VII

KEPENGURUSAN DAN MASA KHIDMAT

 Pasal 14

(1) Kepengurusan  terdiri dari Mustasyar, Syuriyah dan Tanfidziyah.

(2) Mustasyar adalah penasehat yang terdapat di Pengurus Besar, Pengurus Wilayah, Pengurus Cabang/Pengurus Cabang Istimewa, dan pengurus Majelis Wakil Cabang.

(3) Syuriyah adalah pimpinan tertinggi Nahdlatul Ulama.
(4) Tanfidziyah adalah pelaksana.
(5) Ketentuan mengenai susunan dan komposisi kepengurusan diatur dalam Anggaran Rumah Tangga.

Pasal 15

(1) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama terdiri dari:

  1. Mustasyar Pengurus Besar.
  2.  Pengurus Besar Harian Syuriyah.
  3.  Pengurus Besar Lengkap Syuriyah.
  4.  Pengurus Besar Harian Tandfidziyah.
  5.  Pengurus Besar Lengkap Tandfidziyah.
  6.  Pengurus Besar Pleno.

(2) Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama terdiri dari:

  1. Mustasyar Pengurus Wilayah.
  2. Pengurus Wilayah Harian Syuriyah.
  3. Pengurus Wilayah Lengkap Syuriyah.
  4. Pengurus Wilayah Harian Tanfidziyah.
  5. Pengurus Wilayah Lengkap Tanfidziyah
  6. Pengurus Wilayah Pleno.

(3) Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama terdiri dari:

  1. Mustasyar Pengurus Cabang.
  2. Pengurus Cabang Harian Syuriyah.
  3. Pengurus Cabang Lengkap Syuriyah.
  4. Pengurus Cabang Harian Tanfidziyah.
  5. Pengurus Cabang Lengkap Tanfidziyah.
  6. Pengurus Cabang Pleno.

(4) Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama terdiri dari:

  1. Mustasyar Pengurus Cabang.
  2. Pengurus Cabang Harian Syuriyah.
  3. Pengurus Cabang Lengkap Syuriyah.
  4. Pengurus Cabang Harian Tanfidziyah.
  5. Pengurus Cabang Lengkap Tanfidziyah.
  6. Pengurus Cabang Pleno.

(5) Pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama terdiri atas:

  1. Mustasyar Pengurus Majelis Wakil Cabang.
  2. Pengurus Majelis Wakil Cabang Harian Syuriyah.
  3. Pengurus Majelis Wakil Cabang Lengkap Syuriyah.
  4. Pengurus Majelis Wakil Cabang Harian Tanfidziyah.
  5. Pengurus Majelis Wakil Cabang Lengkap Tanfidziyah.
  6. Pengurus Majelis Wakil Cabang Pleno.

(6) Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama terdiri dari:

  1. Pengurus Ranting Harian Syuriyah.
  2. Pengurus Ranting Lengkap Syuriyah.
  3. Pengurus Ranting Harian Tanfidziyah.
  4. Pengurus Ranting Lengkap Tanfidziyah.
  5. Pengurus Ranting Pleno.

(7) Pengurus Anak Ranting Nahdlatul Ulama terdiri dari:

  1. Pengurus Anak Ranting Harian Syuriyah.
  2. Pengurus Anak Ranting Lengkap Syuriyah.
  3. Pengurus Anak Ranting Harian Tanfidziyah.
  4. Pengurus Anak Ranting Lengkap Tanfidziyah.
  5. Pengurus Anak Ranting Pleno.

(8) Ketentuan mengenai susunan dan komposisi pengurus diatur dalam Anggaran Rumah Tangga.

Pasal 16

(1) Masa Khidmat Kepengurusan sebagaimana dimaksud pada pasal 14 adalah lima tahun dalam satu periode di semua tingkatan, kecuali Pengurus Cabang Istimewa selama 2 (dua) tahun.

(2) Masa jabatan pengurus Lembaga dan Lajnah disesuaikan dengan jabatan Pengurus Nahdlatul Ulama di tingkat masing-masing.
(3) Masa Khidmat Ketua Umum Pengurus Badan Otonom adalah 2 (dua) periode, kecuali Ketua Umum Pengurus Badan Otonom yang berbasis usia adalah 1 (satu) periode.

BAB VIII

TUGAS DAN WEWENANG

Pasal 17

Mustasyar bertugas dan berwenang memberikan nasehat kepada Pengurus Nahdlatul Ulama menurut tingkatannya baik diminta ataupun tidak.

Pasal 18

Syuriyah bertugas dan berwenang membina dan mengawasi pelaksanaan keputusan-keputusan organisasi sesuai tingkatannya.

Pasal 19

Tanfidziyah mempunyai tugas dan wewenang menjalankan pelaksanaan keputusan-keputusan organisasi sesuai tingkatannya.

Pasal 20

Ketentuan tentang rincian wewenang dan tugas sesuai pasal 17, 18 dan 19 diatur lebih lanjut dalam Anggaran Rumah Tangga.

BAB IX

PERMUSYAWARATAN

Pasal 21

Permusyawaratan di lingkungan Nahdlatul Ulama meliputi
(1) Permusyawaratan Tingkat Nasional
(2) Permusyawaratan Tingkat Daerah.

 Pasal 22

Permusyawaratan tingkat nasional yang dimaksud pada pasal 21 terdiri dari:

  1. Muktamar
  2. Muktamar Luar Biasa
  3. Musyawarah Nasional Alim-Ulama
  4. Konferensi Besar

Pasal 23

Permusyawaratan  tingkat daerah yang dimaksud pada pasal 21 terdiri dari:

  1. Konferensi Wilayah
  2. Musyawarah Kerja Wilayah
  3. Konferensi Cabang/Konferensi Cabang Istimewa
  4. Musyawarah Kerja Cabang/Musyawarah Kerja Cabang Istimewa
  5. Konferensi Majelis Wakil Cabang
  6. Musyawarah Majelis Wakil Cabang
  7. Musyawarah Ranting
  8. Musyawarah Anak Ranting

Pasal 24

(1) Permusyawaratan di lingkungan  Badan Otonom Nahdlatul Ulama meliputi permusyawaratan Tingkat Nasional dan Tingkat Daerah.
(2) Permusyawaratan sebagaimana dimaksud pada ayat 1 (satu) pasal ini terdiri dari :

  1. Kongres
  2. Rapat Kerja

(3) Permusyawaratan  Badan Otonom merujuk kepada dan tidak boleh bertentangan dengan Anggaran Dasar,  Anggaran Rumah Tangga, Peraturan-peraturan Organisasi Nahdlatul Ulama dan peraturan-peraturan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.

(4) Badan Otonom harus meratifikasi hasil permusyawaratan Nahdlatul Ulama.

Pasal 25

Ketentuan lebih lanjut mengenai permusyawaratan diatur dalam Anggaran Rumah Tangga.

BAB X

RAPAT-RAPAT

Pasal 26

Rapat adalah suatu pertemuan yang dapat membuat keputusan dan ketetapan organisasi yang dilakukan di masing-masing tingkat kepengurusan.

Pasal 27

Rapat-rapat di lingkungan Nahdlatul Ulama terdiri dari:

  1. Rapat Pleno
  2. Rapat Harian Syuriyah dan Tanfidziyah
  3. Rapat Harian Syuriyah
  4. Rapat Harian Tanfidziyah
  5. Rapat-rapat lain yang dianggap perlu.

Pasal 28

Ketentuan lebih lanjut tentang rapat-rapat sebagaimana tersebut pada pasal 27 akan diatur dalam Anggaran Rumah Tangga.

BAB XI

KEUANGAN DAN KEKAYAAN

 Pasal 29

(1) Keuangan Nahdlatul Ulama digali dari sumber-sumber dana di lingkungan Nahdlatul Ulama, umat Islam, maupun sumber-sumber lain yang halal dan tidak mengikat.
(2) Sumber dana  Nahdlatul Ulama diperoleh dari:

  1. Uang pangkal
  2. Uang I’anah Syahriyah
  3. Sumbangan
  4. Usaha-usaha lain yang halal.

(3) Ketentuan penerimaan dan pemanfaatan keuangan yang termaktub dalam ayat 1 (satu) dan ayat 2 (dua) pasal ini diatur lebih lanjut dalam Anggaran Rumah Tangga.

 Pasal 30

Kekayaan organisasi adalah inventaris dan aset organisasi yang berupa harta benda bergerak dan atau harta benda tidak bergerak yang dimiliki/ dikuasai oleh Organisasi/ Perkumpulan Nahdlatul Ulama.

BAB XII

PERUBAHAN

 Pasal 31

(1) Anggaran Dasar ini hanya dapat diubah oleh keputusan Muktamar yang sah yang dihadiri sedikitnya dua pertiga dari jumlah  Pengurus Wilayah dan Pengurus Cabang/Pengurus Cabang Istimewa yang sah dan sedikitnya disetujui oleh dua pertiga dari jumlah suara yang sah.

(2) Dalam hal Muktamar yang dimaksud ayat 1 (satu) pasal ini tidak dapat diadakan karena tidak tercapai quorum, maka ditunda selambat-lambatnya 1 (satu) bulan dan selanjutnya dengan memenuhi syarat dan ketentuan yang sama Muktamar dapat dimulai dan dapat mengambil keputusan yang sah.

 BAB XIII

PEMBUBARAN ORGANISASI

Pasal 32

(1) Pembubaran Perkumpulan/ Jam’iyyah Nahdlatul Ulama sebagai suatu organisasi hanya dapat dilakukan apabila mendapat persetujuan dari seluruh anggota dan pengurus di semua tingkatan.

(2) Apabila Nahdlatul Ulama dibubarkan, maka segala kekayaannya diserahkan kepada organisasi atau badan amal yang sefaham dengan persetujuan dari seluruh anggota dan pengurus di semua tingkatan.

BAB XIV

PENUTUP

 Pasal 33

Muqaddimah Qanun Asasy oleh Rais Akbar Hadratus Syaikh Kiai Haji Muhammad Hasyim Asy’ari dan Naskah Khittah Nahdlatul Ulama merupakan bagian tak terpisahkan dari Anggaran Dasar ini.
 
Ditetapkan di Jakarta, 6 Jumadil Akhir 143 1/ 20 Mei 2010

2 COMMENTS

    • Maksudnya download halaman ini? Kalau maksudnya itu paling tinggal diblok kemudian copy-paste ke dokumen word.
      Mungkin itu kang….

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here